Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Nemo


__ADS_3

Cuaca panas sekali hari ini. Terik matahari serasa di atas kepala. Mendidihkan otak yang dipenuhi berbagai macam pertanyaan. Namun belum menemukan jawaban. Sebuah truk bermuatan berbelok mencari tempat parkir. Di akhir minggu sudah menjadi rutinitas toko untuk menambah stok barang di gudang. Weekend selalu menjadi hari paling sibuk diantara hari lainnya. Ramai orang berlalu lalang, memilih pakaian mana yang cocok untuk dikenakan. Karena sebentar lagi lebaran akan tiba.


Beberapa karyawan sudah atur posisi untuk memindahkan muatan. Walau puasa, kita tak lelah semangat untuk bekerja. Malah banyak sekali canda tawa tercipta ketika bongkar barang. Ini kegiatan yang paling ditunggu-tunggu, sebab biasanya selalu ada orang baru dari toko pusat yang ikut serta. Para cewek menantikan hal itu, kebanyakannya ada cowok baru yang akan membantu.


"Eh, yang datang dari cabang mana?" Lutfi dan Dina antusias sekali. Emang setiap akhir pekan, seseorang dari toko cabang akan observasi untuk strategi marketing yang lebih baik. Jadi misal ada barang di toko A belum laku, akan dipindahkan ke cabang B yang sekiranya akan laku. Dan yang observasi selalu berganti orang. Inilah kesempatan bagi cewek-cewek untuk berkenalan.


"Yung, kamu sadar nggak lagi diperhatiin?" Lutfi menyikut lenganku.


"Hah, sama siapa?" aku bingung menoleh kearah manapun, tak menjumpai apapun.


"Tuh, yang di dalam truk, tengok deh spionnya ke arahmu trus?" Lutfi memegang dagunya, seolah berpikir.


"haha kebanyakan mikir loh" aku ketawa dan menepuk jidatnya.


"Yung, aku mau minta tolong ya, nanti pas istirahat aku mau keluar," aku melanjutkan perkataanku.


"Kemana yung?" Upil penasaran.


"Udah, pokok nanti kalau aku telat, cariin alasan ya," pintaku.


"Kamu nih, mau kemana sih?" Upil mendesakku.


"Ceritanya nanti aja," aku senyum simpul.


Setelah semua pekerjaan selesai waktu istirahat tiba. Aku cepat-cepat ganti baju dan segera keluar.


"Bunda Maya kemana?" Aku tanya Upil.


"Tadi ke atas katanya ngambil kunci motor,"


"Bund, lama banget sih?" Aku send message ke dia. Aku terburu-buru, karena waktu istirahat cuma dua jam saja.


"Kuncinya kebawa Fendi, Na," balasan dari bunda Maya.


Aku bingung mau pinjem motor siapa untuk keluar. Aku nggak jadi keluar bareng Bunda.


"Dan, aku nggak ada motor?" Aku bilang Danial. Rencananya kita mau ketemuan. Biasanya setiap bulan aku selalu mengambil cuti untuk bertemu dia. Berhubung lagi Ramadhan toko tak memperkenankan karyawannya cuti. Danial bilang dia mau menemuiku di toko.


"Ya udah aku jemput." Danial diperjalanan menjemputku.


"Aku tunggu di luar," aku mengiyakan Danial menjemputku.


Panas terik serasa membakar kulit, aku berdiri di bawah pohon disamping toko. Aku menunggu lama sementara waktu terus berjalan. Jam istirahatku hanya tinggal satu jam lagi. Ku lihat dari kejauhan motor yang ku kenal sedang melaju. Aku tersenyum, dia yang ku tunggu.


Aku menduduki jok belakang sambil memeluknya. Aroma yang ku rindu setelah beberapa minggu berlalu. Dia mengelus tanganku yang melingkar erat di perutnya. Kita mengitari kota Blitar walau hanya sekejap saja. Tiba-tiba matahari yang terik meredup dan rintik hujan berguguran, menemani kami bersenda gurau di tengah perjalanan. Ia melajukan motornya pelan hingga tiba pada tujuan. Kita berjalan di taman alun-alun kota Blitar.


"Wooii.. lama banget loe, darimana?" Seorang lelaki seumuran dia berteriak dari gazebo yang menghadap air mancur.


"Siapa?" aku menoleh ke Danial.


"Temenku," Danial tertawa.


"Jadi kamu ninggalin temenmu sendirian disini dan jemput aku,"

__ADS_1


Kita menghampiri sosok itu. Aku duduk di sebelah teman Danial, sementara Danial berdiri di depanku. Dia melempar sebuah tas ransel hitam padaku.


"Aku mau ke toilet dulu," Danial permisi meninggalkanku bersama temannya.


"Lama ya tadi nunggunya?" Aku tidak enak hati.


"Haha enggak kok, santai aja, buka mbak tasnya." Dia menyuruhku. Aku bingung tapi tetap membukanya. Nampak seekor boneka Nemo. Aku tidak menyangka, cara dia memberikanku hadiah. Aku tersenyum tersipu memikirkannya. Dia romantis, dengan cara yang humoris.


Tak lama Danial berjalan ke arahku. Aku tersenyum padanya sambil memegang bonekanya. Aku menggoyang-goyangkan bonekanya menunjukkan padanya. Dari kejauhan dia tersenyum juga sambil menggaruk kepalanya yang tak gatal. Aku menjadi budak cinta untuk beberapa saat.


"Kamu beneran belikan aku? Aku kira cuma pamer foto aja,"


Flash back on,


Aku lihat story whatsapp Danial sedang menggendong sebuah boneka Teddy Bear warna merah. Aku mengkhayalkannya, mungkinkah dia akan memberikannya padaku. Aku kege-eran duluan, aku berharap. Ketika bertemu bulan lalu, dia tidak memberikan apapun. Mungkin aku yang mikirnya kejauhan.


"Banyak boneka dari gudang Dan, aku mau beli nemo, tapi nemonya kecil, nggak jadi deh," Aku mengutarakan kekecewaanku pada Danial.


"Kamu suka nemo?" Danial bertanya.


"Iya Dan, aku nyari-nyari susah banget, giliran ada cuma kecil, ya udah deh jadinya aku beli boneka banana,"


"Haha, kok jadi banana," Danial menertawaiku.


"Iya abisnya aku nyari yang gedhe biar bisa di peluk,"


"sini aku peluk," Danial membalas chat ku beserta emoticon laughing.


Aku balas dengan emoticon cemberut karena dia menertawaiku.


"Bulan ini nggak bisa, soalnya Ramadhan nggak ada cuti," aku sedih.


"Ya udah entar aku yang kesana,"


"Kamu beneran?" aku senang.


Berhari-hari berlalu Danial mengirimiku gambar boneka Nemo.


"Loh kan pamer, mentang-mentang aku kepengen," Aku membalas pesannya bersama emoticon jengkel.


"Kamu mau?" Danial menertawaiku menggunakan emoticon juga.


"Pasti deh nyuri gambar dari google," Aku menebaknya.


"Biarin, ciee ada yang kepingin Nemo tapi nggak ada, nggak kesampaian" Danial menggodaku.


"Resek loe,"


Flash back off


"Kok bisa dapat nemo, aku nyari nggak ketemu-ketemu,"


"Iya donk, Danial," Dia membanggakan diri.

__ADS_1


"Iya mbak, tiga toko dia datangi baru dapat, katanya harus dapat," temennya menyambar obrolan kami. Danial menyenggol lengan temannya.


"Apa sih," Danial mengelak.


"Makasih ya Dan, udah ngusahain, bikin aku seneng, jadi baper deh,"


"Ya udah, aku anterin balik, entar kamu telat," Danial menarik lenganku.


"Entar deh, aku masih kangen," Aku enggan berdiri.


"Udah jam berapa ini," Danial melirik jamnya. Akunya santai dia yang gusar. Akhirnya aku nurut untuk balik, aku nggak peduli walaupun telat.


"Ini bawanya gimana?" Aku memegang nemo dan mengarahkan ke wajahnya.


"Gendong aja," Danial menaiki motornya.


"Pinjem tasnya ya," aku bilang pada temannya.


"Tapi bawa balik ya tasnya," temannya menyeringai.


"Haha gampang deh," aku acungkan ibu jariku.


Sesampai di samping toko aku bingung gimana bawanya. Aku malu kalau ada temenku yang lihat. Bisa-bisa kena sesi wawancara lagi. Akhirnya aku lepas jaketku dan membungkus bonekanya dengan jaketku. Selepas Danial berpamitan aku langsung lari di parkiran, cepat-cepat menuju kamar. Dan kembali bekerja.


***


"Cie yang kencan dapat boneka," Bunda Maya menggodaku.


"Haha apaan sih Bund," aku malu.


Bunda Maya adalah ketua asrama. Sejak kepindahanku dari toko pusat, dia mengajariku banyak hal. Dia juga menjadi temen ceritaku. Terkadang kita video call berempat, bersama Danial, Bunda dan suaminya. Persahabatan kita terjalin erat. Bunda mudah sekali akrab dengan Danial.


"Sampai rumah jam berapa?" Aku khawatir pada Danial. Aku kirim pesan padanya.


"Tadi jam lima, abis makan terus pulang," Danial tertawa.


"Kamu nggak puasa?" aku menanyainya.


"Nggak, tadi niatnya puasa sih, tapi si Andi bilang laper, ngajakin makan," Danial dengan santainya menjelaskan.


"Owh gitu, makan dimana?" aku menanyainya, aku juga menganggap itu biasa.


"Tadi di Pinka."


"Besok puasa ya, jangan nakal lagi," Aku memberitahunya bersama emoticon ketawa.


Aku tidak mempermasalahkan tentang perilaku Danial, ya walaupun aku tau itu tidak baik. Aku menasehatinya, kalau dia mau berubah ya syukur, kalau belum ya didoain aja. Menurutku itu urusan dia sama Tuhannya. Aku hanya perlu mengingatkan, soal berubah itu semua tergantung dirinya. Itu pilihannya. Semua orang pasti berbuat dosa, cuma beda cara aja dalam melakukannya. Akupun sama, masih belajar menjadi lebih baik. Karena godaan nafsu duniawi tidak semudah itu diperangi. Akupun juga tidak munafik, bila-bila masa juga pernah meninggalkan sholat ataupun puasa. Tak payah mengjudge orang kalau kita tau surga belum tentu milik orang baik, bisa jadi pendosa yang bertobat akan menempatinya dan orang yang sombong dengan amalannya malah dibukakan pintu neraka. Tugas kita hanya belajar dan memperbaiki diri. Tapi namanya manusia juga pasti khilaf bukan?


Ketika bersama Danial, banyak sekali aku tersadarkan. Bahwa yang putih belum tentu suci dan yang hitam belum tentu kelam. Seperti kain kafan putih tapi menakutkan, kakbah yang hitam selalu menjadi idaman. Banyak sahabatku yang katanya orang dia nakal dan buruk, namun selalu ada saat aku terpuruk. Dan terkadang sahabat yang terlihat baik, malah membuat sakit. Ia menjelekkanmu di belakang. Dia seperti sengaja mengupas kisah hidupmu untuk mengetahui kelemahanmu kemudian menghancurkanmu. Akupun juga orang yang banyak melakukan kesalahan.


Malam itu aku berkhayal terlalu tinggi. Banyak teori menari-nari hingga matapun terpejam tanpa disadari, terjaga ke alam bawah sadar menjumpai mimpi-mimpi yang tak terkejar.


"Selamat pagi comell," ucapan dari Danial membuatku semangat menjalani hari ini.

__ADS_1


"Pagi juga kesayangan," Aku bisa berubah seratus delapan puluh derajat ketika berhadapan dengannya. Berubah menjadi budak alay yang sangat kekanak-kanakan. Mungkin ini yang dinamakan bunga masih mekar-mekarnya. Gelora cinta masih membara. Ketika percintaan kita masih dalam tahap mesra-mesranya.


__ADS_2