Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Cake Tart


__ADS_3

Mem ku memasukkan earphone ke keranjang belanjaan. Dia sibuk melihat-lihat pernik hiasan ruangan yang lucu-lucu. Sementara aku lihat-lihat novel karena suka banget membaca. Salah satu novel karya Heather McElhatton yang berjudul A Milion Little Mistakes menarik perhatianku dan aku baca sekilas sinopsisnya.


"Your life is what you make it." Salah satu kalimat yang tiba-tiba menyadarkanku.


"Kenapa selama ini aku begitu terpuruk, memikirkan Danial yang memang bukan ditakdirkan menjadi milikku."


"Ataukah mungkin hanya perasaanku saja yang meyakini bahwa dia akan kembali tapi entah waktunya kapan,"


"Kenapa aku yang sudah pergi sejauh ini masih saja mengingat dan merindukannya, atau aku hanya rindu akan kenangannya? Sebab belum ada sosok pengganti dirinya?"


Akhirnya aku masukkan novel itu ke keranjang belanjaan. Jiwa antusiasku memenuhi pikiran ingin segera melibas habis halaman demi halaman. Mencerna uraian yang dipaparkan author. Kelihatannya akan banyak tips yang bermakna untuk hidupku melihat dari sinopsisnya yang membuatku sedikit tertampar untuk tidak terpuruk lagi.


"Mungkin saja aku benar-benar bisa move on selepas ini? Ya walau sebenarnya move on itu tergantung pada niat hati."


"You want another things?" Seru mem ku yang menyadarkanku dari rumitnya pikiranku sendiri. Dia masih sibuk juga memilih barang-barang lain yang menarik keinginannya untuk membeli. Lalu dia menunjukkan sebuah boneka yang berjajar diantara lampu duduk dan berbagai mainan yang didominasi warna pink.


"Panda," aku menggumam. Semua benda disini nampaknya hanya tercipta untuk mengingat kenangan lamaku. Aku mendengus.


"You like a panda?" tanya memku yang mendengar gumamanku.


Flash back on,


Pagi itu aku terburu-buru mengecek kalender yang tergantung di sisi kanan kasir. Entah kenapa kalau Danial yang ngajak bertemu aku selalu antusias, merasa tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan itu.


Tanggal empat sudah diisi oleh Dina dan Anas. Meskipun aku meminta Anas untuk pindah hari cuti, aku tetap tidak diizinkan libur tanggal itu, dikarenakan aku sama Dina satu tempat tugas.


"Ya udah deh, aku cuti tanggal enam boleh ya," Aku memohon pada Bunda Maya, orang yang memberi izin karyawan untuk libur.


"Boleh deh, tapi tanggal enam saja ya, soalnya kalau kamu langsung ambil dua hari cuti seperti biasanya nggak bisa,"


"Emang kenapa bund?" awalnya aku emang akan langsung mengambil cutiku berturut-turut. Aku sudah punya rencana, setelah menemui Danial aku akan ke rumah kakekku.


"Itu hari Sabtu ada kiriman barang dadakan dari Yogyakarta, akhir bulan ini ada Festival Djadoel di alun-alun kota," jelas Bunda Maya.


"Iya deh, aku usahain langsung balik kesini pas malamnya." Akhirnya aku berhasil mendapat izin libur.


Toko dipadati pelanggan menjelang malam. Ketika aku baru keluar dari kantor Bunda Maya, antrian di kasir sudah mengular. Sudah banyak plastik yang berisi baju dibawa keluar dari toko oleh pelanggan. Aku langsung menuruni tangga membantu pelayanan di kasir yang sedikit kewalahan.


"Ini barangnya, terimakasih," Meskipun lelah tapi harus selalu tersenyum. Meskipun suaraku mulai serak sebab tak berhenti bercakap harus selalu terdengar ramah.


Ditengah keramaian, salah satu tempat tugas terjadi masalah. Dari jauh aku bisa melihat seorang pelanggan yang komplain kepada salah satu karyawan, yang ku tahu dia karyawan baru.


"Ul, gantiin aku ya, aku mau kesana sebentar," aku menyuruh Ulya yang bertugas di display ke kasir, membantu mengambilkan barang pelanggan. Aku berlari menuju tempat grosir baju, Risma si karyawan baru menangis.

__ADS_1


"Maaf, ada yang bisa saya bantu?" aku menengahi pertikaian mereka.


"Dari tadi saya minta warna lain, katanya semuanya habis, sebenarnya niat melayani atau tidak?" Marahnya dengan beberapa baju di tangannya.


"Coba saya carikan dulu ya bu," aku mengambil baju dari tangannya.


Aku sibuk mencari, mengeluarkan beberapa stok dan ternyata tidak ketemu. Memang stok baju ini sudah habis. Akhirnya aku berinisiatif mencari model yang mirip namun beda merk adanya.


"Maaf sebelumnya, model baju ini warna lainnya sudah di pajang semua." Aku memberitahunya.


"Bagaimana jika ibu lihat model ini, sedikit berbeda namun bahannya tidak kalah kualitasnya. Ibu bisa mencobanya untuk memastikan. Pilihan warnanya juga masih lengkap, warna dusty sangat cocok dengan kulit ibu," aku berusaha meredakan kekesalannya.


"Kamu mintalah maaf," Aku menyuruh Risma yang masih bekerja dua minggu ini untuk meminta maaf pada pelanggan.


"Maafkan saya bu, saya akan memperbaiki pelayanan saya." Risma menunduk.


"Maaf, dia karyawan baru, saya akan lebih memperhatikan dia," aku tersenyum menjelaskan.


"Dia masih belum hafal betul letak stok barang," lanjutku lagi.


"Baiklah, saya juga minta maaf, tadi sempat membentak kamu," Akhirnya Risma dan pelanggan itu saling tersenyum. Rasanya sedikit lega, bisa mengatasinya.


"Saya ambil ini tiga ya, saya juga mau dress yang di manekin itu," Tunjuknya ke salah satu manekin yang berdiri di samping tangga.


****


Masih setengah enam pagi aku sudah merapat di halte, menunggu bus yang akan membawaku kepada Danial. Aku gembira akhirnya bisa melepas rindu lagi dengannya. Dia menjemputku di tempat biasa, lalu membawaku ke rumahnya.


Sampai di halaman rumah Danial, seorang temannya sibuk mencuci motornya, padahal jalanan becek sebab gerimis belum juga mereda.


"Eh, mbak," sapanya sambil tersenyum. Akupun membalasnya malu. Sebab ini pertama kalinya aku bertemu langsung dengan teman Danial. Dulu hanya bersimpangan saja saat Danial membawaku ke tempat kerjanya.


"Rajin banget temen kamu, musim hujan nyuci motor," aku sedikit tertawa menepuk pundak Danial.


"Mungkin dia lagi gabut, nggak ada kerjaan," Danial memarkirkan motornya sambil nyengir.


"Masuk," ajak Danial yang membiarkan temannya di luar.


"Kok sepi, pada kemana?" Suasana senyap mengelilingi.


"Pada ke rumah kakak, ada acara, entar malem aku susulin kesana,"


"Owh, itu temenmu biasa disini gitu ya? Padahal nggak ada orang," keherananku merajai.

__ADS_1


"Rumah aku mah bebas, biasa dia juga nginep disini, ngacak-ngacak kamarku." Danial rebahan di sofa.


"Ke dalam dulu ya, mau cuci muka," Danial berlalu.


"Jangan lama-lama," aku sedikit berteriak saat orangnya sudah nggak kelihatan.


Aku hanya scrool layar ponsel dan memilih musik yang enak didengarkan sembari menunggu Danial. Aku amati juga rumahnya, sebuah foto masa kecil Danial terpampang di dalam lemari kaca. Aku bangun dari dudukku, melihat-lihat koleksi gelas dan cangkir dengan ornamen unik yang di tata rapi bersama beberapa foto keluarga.


"Happy Birthday to you.. happy birthday to you," Suara Danial mengagetkanku. Aku menolehnya yang sedang membawa kue tart dengan lilin angka dua dan satu.


"aww.." refleks aku menutup mulutku, rasanya seperti nggak percaya dia memberi kejutan di hari ulang tahunku yang sebenarnya sudah lewat dua hari.


"Jadi kamu nyuruh aku cuti tanggal empat untuk ini?" Aku yang terkejut namun bahagia. Senyum Danial juga terpapar manis di setiap sudut bibirnya. Aku kira dia lupa hari ulang tahunku, sebab nggak ada ucapan sama sekali darinya, sementara aku juga hanya diam nggak berniat memberi tahunya.


Aku memeluk Danial, aku sudah nggak tau mau ngomong apalagi. Bahasa tubuh sudah cukup mewakili bahwa aku benar-benar bahagia. Lalu Danial mengecup keningku.


"Aku kira kamu lupa hari ulang tahunku," aku mendongakkan wajahku.


"Tiup lilin dulu sayang, berat ini kuenya," Aku yang masih dipelukannya, perlahan melepaskannya sebab tangan Danial yang satu harus menahan kue berukuran medium itu. Suasana romantis pudar seketika. Namun momen ini yang paling langka, setidaknya aku rasa begitu.


Danial meletakkan kue berkrim vanilla dengan hiasan coklat berbentuk kupu-kupu di atas meja, kita duduk bersebelahan sambil meniup lilin bersama. Terdapat buah cerry diantara lilin yang terdiri dari dua angka itu.


"Semoga kamu orang pertama yang ku lihat setelah aku bangun dan orang terakhir yang ku pandang sebelum aku tidur." Harapanku dalam hati bersamaan padamnya lilin itu.


"Semoga kamu yang ku sayang, nantinya kamu yang ku pinang." harapan mendalam Danial yang berbaur dengan asap di udara.


"Aamiin," ucapku dan Danial bersamaan. Kita tersenyum saling pandang.


"Duh, akunya udah tua," aku memandang lilin yang menunjukkan kepala dua itu.


"Ya udah diganti aja," Danial mencabut lilin angka satu dan memindahkannya ke depan angka dua.


"Haha jadi dua belas donk," kita tertawa.


Danial dengan jahilnya menaruh krim di hidungku. Aku membalasnya tepat di pipinya. Danial menyuapiku buah cerry.


"Aku ambil tissue dulu ya di kamar," Danial bangkit meninggalkanku dengan wajah cemong penuh krim vanilla. Aku tersipu sendiri. Benar-benar surprize yang mengejutkan.


Flash back off,


"You like panda?" tanya memku sekali lagi.


"Ahh ya, i like a panda, last time my ex boyfriend give me panda for my birthday present." Mem hanya tersenyum.

__ADS_1


"You still loving your ex boyfriend yah, from just know i notice you daydreaming?" Aku malu mendengar mem berbicara seperti itu. Akhirnya aku ajak dia jalan-jalan mengelilingi toko lagi.


__ADS_2