
Lebaran akan datang sebantar lagi. Toko akan ramai sekali. Banyak persiapan yang harus dilakukan. Ini tahun kedua aku bekerja disini. Aku mulai menyibukkan diri agar segera terlupa dengan masalah percintaanku. Aku berusaha menikmati hari-hariku dengan bekerja. Aku layani customer sebaik mungkin. Aku berusaha bagaimana bisa menjual produk dengan cepat dan melebihi target.
Aku suka marketing, karena bukan hanya soal kita menjual dan orang beli sehingga kita dapat untung. Akan tetapi bagaimana kita bisa paham selera konsumen, barang apa yang laku dipasaran, bagaimana strategi penjualan, cara memperoleh bahan baku yang murah sehingga bisa cepat balik modal, bertemu dengan berbagai macam orang dengan jenis profesi yang berbeda, tingkatan usia yang tidak sama, dan itu semua memiliki cara pelayanan yang berbeda juga.
Terkadang kita bisa berbagi pengalaman dan memperoleh hikmah, jika ada konsumen yang bercerita tentang kehidupannya, kiat suksesnya atau sekedar bercanda. Sungguh menyenangkan setiap hari bertemu orang yang berbeda-beda. Banyak menciptakan topik untuk dibahas. Dari yang sepele hingga yang berbobot. Menyatakan argumen dan saling diskusi. Meski dalam obrolan singkat dan bukan waktu yang lama selalu ada hal baru yang didapat. Bagaimana cara kita bicara dengan seseorang, semua punya etika masing-masing. Semua hal yang menyangkut kehidupan manusia tak bisa terlepas dari bidang ekonomi. Aku menikmati pekerjaanku.
“Dik saya mau pesan barang untuk souvenir haji, kira-kira apa ya?”
Seorang lelaki paruh baya bersama istrinya menghampiriku. Ku sambut mereka dengan senyuman ramah. Aku promosikan semua produk yang sekiranya cocok.
“Bagaimana jika sajadah?” aku mencoba merekomendasikan.
“Soal harga terjangkau, jangan khawatir nanti masih ada diskon untuk pembelian dalam jumlah banyak, dan materialnya lumayan bagus.”
“Bagaimana dengan brand ini?” Aku menunjukkan satu contoh.
“Ini terbuat dari katun polyester, size nya sedang dan mudah dibawa kemana-mana karena ringan, jika ingin bepergian jauh tak butuh banyak space, model tali tampar menambah kesannya.”
“Atau brand ini terbuat dari bludru, lebih empuk dan lembut.”
“Ada juga yang berbahan busa dan kanvas, bapak mau pilih yang mana?”
Aku menjelaskan panjang lebar hingga akhirnya dia menjatuhkan pada satu pilihan.
“Saya pilih yang katun, 1000 potong bisa ya?”
“Saya tanyakan koordinator saya dulu ya, kita cek dulu di toko pusat, sekalian potongan harganya,”
Aku bergegas mencari koordinatorku. Hari ini aku semangat sekali bekerja. Setelah mendapat informasi aku kembali dan memberitahukannya.
“Ada pak, minggu depan barang akan dikirim kesini, dipotong 5000 per bijinya, bagaimana?”
“Ok..ok.. saya DP dulu, nanti sisanya kalau barangnya ada,”
“Baik pak, tidak masalah, saya buatkan notanya,”
“Terimakasih pak,”
__ADS_1
Aku menyerahkan notanya.
Suasana hatiku sekarang sudah mulai tenang. Walaupun terkadang masih memikirkan kak Fariz. Aku berusaha mengalihkan pikiranku dengan menyibukkan diri.
“Mbak ada mukena yang bagus nggak, saya mau buat mahar?” seorang lelaki meminta bantuanku.
“Hmm.. dulu aku pernah memikirkan untuk menikah dengan kak Fariz, namun baru saja ingin mencoba sudah harus berakhir.” Aku membatin, begitu bahagianya mungkin wanita itu, akan dinikahi oleh orang yang dicintainya.
“Ada beberapa pilihan Kak, kakak mau yang seperti apa,”
“Yang cocok buat dia gimana ya, dia orangnya kalem, tak banyak bicara, dan sedikit pemalu.”
“Mungkin jenis prada bagus, modelnya elegan, bahannya dari sutra, nyaman dikenakan,” aku menunjukkan mukena warna putih dengan renda coklat dan sedikit swaroski di bagian bawahnya.
“Atau katun ini, bordirnya tidak ramai dan warnanya juga soft.”
“Semua bagus nih jadi bingung, boleh kamu coba, dia tingginya sama kaya kamu,”
Dia menyuruhku mencobanya untuk mengetahui ukurannya. Aku coba ketiga mukena pilihannya.
“Andai aku yang diposisi itu, mungkin aku bahagia.” Aku membayangkannya seraya berkaca di cermin.
“Baiklah saya ambil yang ini, bisa bantu bungkusnya sekali?” Dia memilih mukena prada.
“Bisa, biasanya butuh waktu sekitar seminggu, acaranya kapan ya kak?” aku bertanya memastikan.
“Masih bulan depan,”
“Mau model yang mana?” aku menunjukkan album foto dengan berbagai model mahar.
“Model masjid dan bunga ini nampak kalem,” aku merekomendasikan.
“Atau ini saja dua merpati,” aku memberinya pilihan.
“Hmm, model masjid aja deh,”
Setelah dia memutuskan pilihannya, aku buatkan nota pembayaran dan pengambilan barang sekaligus.
__ADS_1
“Makasih ya Kak, semoga lancar acaranya.” Aku mendoakan. Kakaknya Cuma senyum lalu pergi.
“Pil, jangan lupa ya, nanti barang dateng kamu handel,” aku memperingatkan Lutfi. Lalu aku berkeliling mengecek barang yang lain.
“Nas, barang pesanan sudah sampai yang kemarin? aku serahin ke kamu ya,”
“Udah di packing di gudang, nanti tinggal kirim ke alamatnya,” jawab anas, lelaki berambut keriting namun sangat humoris.
Aku sangat sibuk hari ini, banyak hal yang harus ku kerjakan, dan pastikan semua selesai dengan baik.
“Din, nanti kamu urus ya display, kamu arahin anak baru, kamu bagi tugas buat pajang barang baru,”
Sementara semua orang sibuk, aku juga menyelesaikan laporanku. Hari ini weekend, menjadi hari yang selalu sibuk. Aku harus merekap laporan keuangan mingguan dan menyerahkan pada Umi.
***
Akhirnya jam tutup toko tiba juga. Hari ini sangat melelahkan. Aku rebahkan tubuhku di kasur. Aku kacau lagi karena rindu. Sungguh rindu ini menyiksaku. Padahal sudah beberapa bulan berlalu namun perasaan itu masih mengusik. Rindu yang sudah tak seharusnya aku miliki lagi.
Ketika aku sendirian selalu saja ada pikiran yang tak ingin aku pikirkan menghampiri. Aku mainin hp ku karena bosan melanda. Sebisa mungkin ku alihkan perhatianku.
"Grub apa sih ini?" salah satu temanku membuat grub di Whatsapp. Aku sama sekali tidak mengenal setiap anggotanya.
Sebab tak ada chat di whatsappku, Iseng-iseng aku buka facebook untuk melepas kejenuhan. Aku scroll layar sekedar jadi penonton kebahagiaan orang lain, atau membaca luapan kesedihan orang-orang.
Malam ini terlalu banyak yang ku pikirkan, tentang kak Fariz, tentang keluargaku, tentang cintaku yang harus ku paksa berhenti. Aku hanya bisa menerima semua, jalanin aja pikirku. Walau semua tidaklah mudah. Wajar bukan jika manusia memiliki rasa bersedih. Aku berusaha menghibur diriku sendiri.
Drrtt..drrt.. Hp ku bergetar, membuyarkan anganku.
Ada WA masuk, nomor baru. Biasanya aku malas membalas, paling cuma iseng fikirku. Namun entah kenapa jariku mengetik balasan padanya.
“Siapa?”
Singkat aja aku balas, tak lama muncul balasan darinya.
“Danial”
Langsung to the point , “Nama yang unik.” Akupun tersenyum dan menyebut satu nama itu.
__ADS_1
Dia dengan jujur bilang dapat number ku dari grub barusan. Entah mengapa aku ingin menanggapi dia. Toh aku sekarang juga sendiri setelah tidak bersama kak Fariz lagi. Mungkin sudah waktunya aku membuka hati untuk seseorang. Sudah waktunya cintaku berpindah tuan.
Mulai malam itu, Danial menemaniku chatingan, terkadang video call an, atau cuma sekedar telefon biasa. Aku mulai menjadikan dia teman cerita. Dan ini awal dari semua kisah cintaku yang sesungguhnya.