Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Agensi


__ADS_3

Malam ini terakhir aku bekerja di toko ini. Sebuah tempat dimana aku menemukan banyak teman dan pengalaman. Banyak pembelajaran juga tanggung jawab. Rasanya aku akan merindukan tempat ini.


"Pasti aku akan merindukan kalian," aku berpamitan dan memeluk teman-temanku.


"Hati-hati ya yung," Lutvi menangis sesenggukan. Akupun ikut terharu.


"Kamu harus semangat yung, siapa tau kamu disana bisa menemukan pengganti. Seperti Kimtaeh Yung versi seiman misalnya," ditengah tangisnya Upil masih saja bisa bercanda. Aku hanya tersenyum di saat mataku juga berkaca-kaca.


Dua hari setelahnya, mobil jemputan sudah terparkir di depan rumahku. Aku nggak tau ini keputusan benar atau salah, aku hanya mengikuti naluriku.


"Buk, aku berangkat ya," aku mencium tangan ibuku.


"Jaga diri baik-baik," ibuku memelukku.


Lambaian tangan terlihat dari kaca mobil yang perlahan meninggalkan pelataran rumahku. Aku bersandar di kaca jendela ketika sosok ibuku sudah tak terlihat lagi. Ketika roda semakin menjauh dari mulanya.


"Ibu, sulungmu ini masih perlu banyak belajar, membutuhkan banyak pengalaman. Mungkin setelah dipatahkan memang harus keluar dari zona nyaman. Mencoba hal yang belum pernah ku lakukan sebelumnya. Semoga dengan pilihan ini aku bisa segera mengikhlaskan kepergiannya."


"Ibu, sulungmu ini yang tak pernah bepergian jauh, yang ketika hujan enggan berteduh, yang di depan toko menangis minta mobil-mobilan, yang selalunya makan coklat hingga gigi berubah menjadi warna gelap. Tidak menyangka mengambil keputusan untuk meninggalkan tanah kelahiran menuju negeri sebrang yang belum tau kondisinya seperti apa. Hanya karena putus cinta."


"Ibu, sulungmu ini yang keras kepala, sekarang terlalu rapuh terbawa perasaan, oleh masalah sepele yang banyak remaja merasakan juga. Namun ibu aku benar-benar belum bisa untuk melupakannya. Maafkan aku ibu yang harus meninggalkan masa tuamu dengan berada diperantauan. Hanya doa yang ku harapkan darimu yang menuntunku selalu mengingat Tuhan dan juga dirimu."


Diperjalanan ke agensi, otakku merangkai harapan-harapan. Semoga aku tidak pernah menyesal dengan pilihan yang tak pernah terpikirkan sebelumnya. Otak berlarian membayangkan entah apa yang akan terjadi selanjutnya.


"Aku harus semangat!" Aku memantrai diriku sendiri agar tetap tegar.


"Silahkan masuk," Ujar seorang berbaju batik warna biru yang langsung menyuruhku duduk. Lalu ia mengeluarkan berkas setelah sedikit berbasa-basi. Aku menulis semua keterangan yang dibutuhkan di formulir. Aku benar-benar resmi untuk mengikuti semua proses yang berlaku.


Usai meneguk teh hangatnya, Bu Mamik berpamitan pulang. Ia meninggalkanku untuk menginap disini dan mengikuti pembelajaran.


"Benar-benar hal baru," aku memandang lantai atas dan berjalan menaiki tangga menuju asrama seraya menenteng tasku.

__ADS_1


"Hai," sapaku kepada orang-orang yang tengah asyik bercengkrama. Dengan berbagai usia dan beda warna kulit, semua berada di dalam satu ruangan ini.


Terdapat beberapa kasur bertingkat dan sebuah wardrobe berlaci. Ada kipas angin yang mendengung, karena cuaca memang panas. Beberapa menikmati snacks nya karena ini tepat waktu istirahat makan siang sebelum pembelajaran dilanjutkan.


"Hai, masuk," sapa seorang yang menghampiriku. Yang tebakanku dia seusiaku. Kesan pertama ketika aku melihatnya dia friendly.


"Kinasih," Dia mengulurkan tangannya.


"Dyana," aku membalas dan tersenyum ramah.


Aku merasa semua hal yang terjadi jauh lebih baik dari yang ku bayangkan. Jauh lebih mudah dari yang ku perkirakan. Ketika aku mendengar suasana agensi itu seperti apa, banyak kisah negatif yang ku dengar. Atau mungkin ini memang rezekiku, selalu dipertemukan dengan orang baik. Aku sangat bersyukur, tidak selalu patah hati itu mengecewakan.


"Sini duduk, ikut makan sama kita-kita," Kinasih membantu meletakkan tasku di laci dan kita duduk melingkar menikmati makanan.


***


"Nanti kamu interview agen ya," Ucap bu Tutik, salah satu guru bahasa Cantonis disini. Nggak terasa sudah seminggu ku lalui dengan belajar memasak dan bahasa.


"Cosan Sing-sang, Dhai-dhai," Aku tersenyum menyapa.


"Ngo kiu Dyana," Setelah beberapa percakapan akhirnya selesai juga. Pernah grogi namun bisa ku atasi.


"Kamu kenapa sih mau jadi tkw?" Tanya Kinasih saat kita berdua sedang makan.


"Ceritanya panjang," aku sedikit tertawa.


"Kalau kamu?" aku penasaran tentang Kinasih.


"Aku baru aja diceraikan," Kinasih tersenyum hambar.


"Benarkah? Bukankah kamu seumuranku," aku terkejut.

__ADS_1


"Iya, setelah lulus SMA aku menikah sama pacarku, lalu mertuaku menuntutku segera hamil, namun sudah hampir dua tahun belum dikaruniai momongan. Setelah periksa, ada sedikit masalah di kandunganku, lalu mertuaku menyuruh kita bercerai saja, dan mirisnya suamiku penakut. Dia nurut sama ibunya. Ya gitu deh pokoknya.." Kinasih hanya bercerita sekilas.


"Mungkin luar negeri akan membuka pikiranku," ucap Kinasih selanjutnya.


"Ternyata nggak cuma aku ya yang berpikiran begitu, seolah cuma ini satu-satunya jalan pelarian," aku menerawang jauh.


"Emang masalahmu apa?" Kinasih ganti bertanya.


"Orang tuaku bercerai sejak aku kecil, dan sekarang ketika aku menjalin hubungan, seolah menemukan kasih sayang yang hilang dari ayahku, aku tidak diizinkan bersama dengannya hanya karena adat," aku mengeluh, ingin kesal namun tidak bisa.


"Mungkin karena keluargaku yang berantakan juga kali ya, hahah aku ditolak," aku tersenyum pahit.


"Sudahlah, semua akan indah jika masanya tiba," Kinasih mengucapkan kata-kata terpasrah yang selalu orang lain ungkapkan. Aku hanya tersenyum menanggapinya.


"Demo besar yang kadang diselipi aksi anarkis melanda Hong Kong. Demo yang selalu diadakan tiap akhir pekan oleh ribuan hingga ratusan ribu orang ini sudah berlangsung lama.


Demo pertama kali dipicu oleh rencana Hong Kong memberlakukan Rancangan Undang-Undang (RUU) Ekstradisi. Akibat serangkaian demo, RUU Ekstradisi telah ditangguhkan pada awal Juli lalu oleh Pemimpin Eksekutif Hong Kong Carrie Lam. Sayangnya, hal ini tidak membuat demo berhenti begitu saja.


Tuntutan para pendemo kian menyebar, bukan lagi hanya membatalkan penerapan RUU Ekstradisi, tapi juga menuntut pengunduran diri Lam dari jabatannya.


Demo yang sudah memasuki minggu ke-11 telah membawa dampak buruk bagi Hong Kong. Demo ini telah membuat sejumlah negara mengeluarkan status "travel warning" atau peringatan perjalanan ke pusat bisnis tersebut.


Selama beberapa pekan terakhir, sistem trasnportasi Hong Kong baik darat maupun udara juga lumpuh akibat demo. Senin kemarin, Bandara Internasional Hong Kong lumpuh total. Semua penerbangan dibatalkan karena bandara tersebut dipadati setidaknya 5.000 pendemo."


Suara berita Tv yang berada di ruang tengah terdengar nyaring. Membuat aku dan Kinasih lebih memperhatikannya. Kita berjalan untuk menontonnya.


"Nggak bisa terbang?" aku dan Kinasih saling berpandangan.


"Lalu bagaimana dengan kita?" aku memastikannya ke Kinasih.


"Aku pengen cepat-cepat pergi," ujar Kinasih.

__ADS_1


"Sama aku juga," aku sedikit khawatir akan prosesku.


__ADS_2