Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Waktu Pertama Kali


__ADS_3

“Kapan nih kita bisa ketemuan?”


Aku baru pulang dari Malang, rasanya penat sekali tubuhku. Aku pulang ke Kotaku, aku mengambil cuti sakit. Padahal aku malas bekerja saja. Ingin menyendiri untuk sementara, mencari ketenangan.


“Kalau mau ketemu dateng ke rumah, kalau ngajak jalan izin sama orang tuaku,” kataku tegas, aku nggak mau yang Cuma ketemu dipinggir jalan, lagian baru pertama, harus waspada, harus jaga diri, walau entah mengapa hatiku tetap mempercayai dia. Ya tiba-tiba aku menemukan sedikit kenyamanan berhubungan dengan dia walau hanya lewat maya.


“Benarkah dia akan menjemputku di rumah?” Aku membatin, akhirnya aku menerima ajakannya.


Paginya ada chat masuk dari dia. Samar-samar ku baca pesannya. Rasa kantuk masih menyelimutiku.


“Aku dijalan kerumahmu nih, tapi nyasar.”


Aku beranjak dan memastikan lagi pesannya, setelah semalam aku kirim alamat ke dia, dia beneran ingin menjemputku. Rumah kita beda kota, normalnya butuh waktu sekitar satu jam untuk sampai rumahku. Dia telfon aku sambil cengengesan, aku ketawa ngakak denger dia ngomong yang katanya salah jalan. Lalu ku kirim maps ke dia. Setelahnya aku cepat-cepat mandi dan makan sekeping roti.


Aku deg-degan sendiri menunggunya. Aku tiduran di sofa sambil buka tutup layar ponsel, berharap dia segera datang.


“Katanya mau keluar, kok belum berangkat?” makcikku tanya.


“Masih nungguin temen,” kataku senyum-senyum malu.


“Temen apa temen, rapi gitu dandannya,” Makcik ku menggodaku.


“Temenlah, untuk sekarang sih, nggak tau kalau nanti,” haha aku tertawa lalu pergi turun ambil minum. Aku berusaha menghindari topik dengan makcikku. Aku bisa dibuat tersipu nantinya. Sebab makcikku suka sekali menggodaku jika ada cowo yang mau ngajak aku jalan.


Aku menunggu dia sedari pagi, dan dia datang ketika matahari tengah sampai di atas kepala. Awal-awal udah bikin aku bete. Namun ketika melihat wajahnya untuk pertama kalinya, semua kesalku langsung berubah membaik.


***


Kita berangkat setelah mendapat izin dari makcikku. Sepanjang perjalanan kita hanya diam sebelum akhirnya menemukan topik yang membuat kita tak berhenti bicara.


Kita memasuki gerbang pantai dan langsung disambut oleh teman-temannya yang menggoda kami. Aku baru tahu kalau dia mengajakku ke tempat kerjanya. Aku terbawa perasaan.


“Kalau aku nggak serius sama seseorang, nggak akan aku ajak kesini, karena ini tempat kerjaku.” Dia menyatakan keseriusannya.

__ADS_1


Awalnya aku hanya mengira dia bercanda, ketika dia mencoba mengajakku pacaran, karena waktu itu kita belum pernah ketemu. Nggak nyangka, pas aku bilang sama dia untuk jalanin aja dulu, dia malah menunjukkan bukti. Aku mulai membuka hatiku pelan-pelan. Masih sulit untuk mempercayai seorang laki-laki setelah aku pernah tersakiti.


Dia berhenti di salah satu gazebo yang menghadap ke pantai. Aku duduk melepas penat, masih bingung juga mau berbuat apa, mau ngomong apa, menatapnya saja aku malu. Setelah meletakkan helmnya, dia senyum dan pergi.


Aneh, pikirku, dia beda dengan yang lain. Aku tersenyum melihat kepergiannya.


Terdengar notifikasi hp, aku lirik disebelahku, hp dia. Aku iseng scrooll layar, nampak walpaper dia animasi seorang wanita dibawah payung, berteduh dari hujan, dengan caption,


“jangan takut hujan, hujan datang bersama ceritanya sendiri, jangan takut hujan, hujan akan menceritakan kenangan hari ini, jangan takut hujan, setelah hujan akan ada pelangi.. “


aku tersentuh. Seperti hari ini, yang suatu saat nanti akan aku ceritakan kembali. Caption nya tepat banget, seperti moment hari ini, semoga menjadi keindahan pada diri. Apakah ini pelangi yang ku harapkan? Aku tersenyum bersama rintik hujan yang bergemericik merdu. Suasananya santai.


Tak lama dia datang dengan nampan berisi makanan. Pelan-pelan ku letak balik hp dia. Dia menyuguhkan semangkok bakso padaku.


“Aku belum belikan kamu minum, nggak tau kamu suka apa, tapi kalau bakso saat kaya gini pasti kamu suka.” Dia senyum dengan kepedeannya.


“Sok tahu” kataku mengejek. Tapi emang iya sih, kalau hujan mendera paling enak bakso yang hangat dan pedas, hehe.


“aku nggak suka kopi, tapi suka yang manis.” Kataku.


Dia punya tingkahnya sendiri, sering bercanda, apa adanya, humoris banget pokoknya. Ini pertama kalinya aku menemukan seorang laki-laki yang langsung menunjukkan bukti, bukan hanya omongan belaka. Baru pertama kenal sudah memberikan kesan yang sulit ku lupa. Jumpa pertama yang menyenangkan.


Usai makan, dia nyalakan rokoknya. Dia merokok disampingku dengan santainya. Sesekali kita ngobrol meski masih bingung mau ngomongin apa. Padahal kalau di telfon atau chat kita serasa sangat akrab. Mungkin masih pertama kali bertemu sehingga masih jaga image.


“Naik ATV yuk!” dia mengajakku.


“Aku takut, aku nggak bisa nyetir,” aku ragu-ragu.


“Itu gampang nanti aku ajarin, kamu jadi penumpang aja dulu,”


Aku jalan di pesisir pantai bersamanya. Sesekali kita bercanda. Kita berfoto dan merekam setiap hal yang menurutku berkesan. Dia menggenggam tanganku hingga kita sampai di tempat penyewaan ATV.


“Kamu tunggu sini,”

__ADS_1


Aku menunggunya di pinggir pantai, dia berlari ke arah seorang paruh baya. Dia nampak akrab, mungkin itu temannya, pikirku.


“Naik,” dia menyuruhku naik. Setelah dia membawa ATV ke depanku. Akupun mengikuti ajakannya.


Aku duduk dibelakangnya, aku menikmati kebersamaan ini. Aku berpetualang, aku melihat sisi lain setelah mengenalnya. Aku merasa aku bisa mengikis semua ketakutan yang selalu menghantuiku. Sedikit demi sedikit aku meluapkan apa yang ku alami dalam kehidupanku, aku mulai terbuka padanya.


Kita berkeliling pesisir sambil mengendarai ATV. Dia mengajariku memandu, pertama kalinya buatku, aku takut. Namun dia terus memaksaku, akhirnya aku bisa memacunya dengan baik. Sungguh menyenangkan, aku tambah kecepatannya dan aku melaju kencang. Aku merasa bebas. Aku terbang dari semua masalah pelik yang selalu mengisi hariku.


Mentari mulai berada di ufuk barat langit berwarna kemerah-merahan dan burung terbang keperaduannya. Dia mengajakku pulang dikala senja mulai menepi. Aku menikmati hari ini. Lewat adzan maghrib kita sampai di rumahku. Setelah sebelumnya dia menunaikan sholat di masjid, aku menemaninya, karena aku sedang tak bisa menunaikannya.


Setelah mengantarku, dia berpamitan pada makcikku. Aku menyukai hari ini, seperti aku yang mulai menyukai dia.


"Makasih hari ini, hati-hati di jalan" aku message dia.


"Yang penting kamu seneng,"


Aku memikirkan dia semalaman. Aku terbawa perasaan hanya dengan sebuah perhatian kecil. Semudah itu dia membuatku nyaman. Bahkan aku tak peduli kak Fariz lagi. Malam itu aku terlelap, aku tidur dengan nyenyak.


***


Hari ini aku bangun pagi sekali. Aku harus segera kembali ke toko. Sudah seminggu aku tak masuk, koordinatorku selalu menanyakanku.


"Buk cepetan anterin aku, nanti ketinggalan bus," aku merengek.


"Siapa tadi yang dibangunin susah," ibuku mengomel.


"iya.. iya buk, abisnya tadi kebawa mimpi, indah banget," aku ketawa.


Tiga puluh menit aku disini, menunggu bus yang tak kunjung sampai.


"Hati-hati di jalan," Danial message aku.


"Maaf nggak bisa nganter,"

__ADS_1


"Nggak papa, aku udah dianterin ibuk, nunggu bus lama banget," aku balas message dia.


Selama perjalanan Danial menemaniku chatingan, sebelum akhirnya dia berangkat bekerja juga. Setelah dua jam, aku sampai di Kota tempatku bekerja.


__ADS_2