Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Anak Baru


__ADS_3

“Ayo cepet, itu barang di truk masih banyak banget,” kataku memberi arahan, seraya aku membantu angkat barang juga.


Aku dipercaya koordinatorku untuk menjadi leader. Jalan karirku mulai ada peningkatan, awalnya aku Cuma di display, dan tak lama aku sudah bertanggung jawab dengan input dan output stok barang di gudang. God Bless me.


Aku berada di lantai dua saat aku melihat seorang cowok turun dari truk. Teman-temanku antusias menyambut dia. Dia jalan ke arahku. Aku biasa aja, karena dia Fajar, teman baikku di toko pusat. Aku sudah mengenalnya.


“Loh, kamu pindah kesini juga, seneng banget deh.” Ujarku dari atas.


“Iya, nyusulin kamu.” Dia menghampiriku.


“Rese Lo, ga pantes buat gombal.”


Kita ketawa, aku emang udah sahabatan banget sama dia, meski kenal belum lama. Semua temanku yang melihat keakrabanku dengan Fajar, langsung pada deketin aku minta dikenalin sama Fajar.


“Tuh fans loh..”


Aku menunjuk teman-temanku, lalu pergi meninggalkannya. Masih banyak tugas yang harus aku kerjakan. Diapun menuju kantor koordinatorku untuk laporan.


Flash back on


“Dyana..Dyana..”


Umi manggil aku dari lantai bawah, umi adalah panggilanku pada bosku. Dia baik dan ramah. Semua pegawainya udah kaya saudaranya sendiri.


“Kamu kemas semua bajumu ya, kamu pindah ke kota Blitar, nanti kamu berangkat sama Pak Rifai, sekalian antar pesanan kesana.”


“Pindah umi? Mendadak banget,”


Aku kaget, baru seminggu kerja di toko pusat, udah mau dipindahin. Tapi aku lega juga. Aku langsung ke atas mengemas barangku.


***


“Mbak, aku mau dibawa ke Blitar,” kataku pada Indah teman pertamaku disini. Teman sekamar juga.


“Yah, aku nggak ada temen tidur lagi donk mbak,”


Indah menyayangkan kepindahanku. Dia sudah satu bulan disini dan belum dipindah. Dia berharap segera dipindahkan juga. Toko pusat adalah tempat training anak baru, untuk dipindah ke toko cabang.


“Sabar ya, semoga kamu juga cepet dipindahin, biar ga diperlakukan semena-mena sama Nofia." ujarku menyemangati.


Nofia adalah senior yang sukanya Cuma nyuruh, tapi pinter banget cari muka kalau dihadapan Umi.


Aku kenal sama Fajar ketika Nofia menyuruhku mengangkat karung berat banget, padahal biasanya itu tugas cowok, dan Fajar menggantikanku. Sepenglihatanku Nofia suka sama Fajar, tapi nggak direspon, sejak itu Nofia mulai cari masalah denganku.


Aku hanya anak baru, menurut dia aku sudah merebut semua perhatian orang di toko pusat. Padahal aku nggak tau apa, aku nggak bermaksud juga. Aku biasa saja. Mungkin karena aku friendly makanya mudah dapet temen. Aku juga orang yang mudah beradaptasi pada lingkungan baru.


Seminggu kemudian aku dapat kabar, kalau aku mau dipindahin ke kota Blitar. Aku seneng banget, aku nggak betah di gudang karena ada aja ulah Nofia. Keberuntunganku akhirnya datang. Namun aku berat ninggalin Fajar, dia satu-satunya teman yang paling akrab denganku, yang saat itu Cuma anak baru.


Biasanya, waktu malam sehabis kerja, kita ramai-ramai masak indomie di dapur umum. Itu adalah tempat nongkrong paling seru di toko pusat. Banyak candaan dan obrolan menarik. Kedekatan kita mulai terjalin dari situ entah bagaimana mulanya.


Flash back off


“Fajar beneran cakep ya, bener kata anak-anak,” ujar Upil padaku.

__ADS_1


“Entar deh aku comblangin. Haha.. Terusin tuh nyatet stoknya.” Aku menunjuk tumpukan barang yang baru datang. Akhirnya aku dan Upil menyelesaikan tugas setelah 2 jam.


Fajar menghampiriku dengan segelas jus avocado kesukaanku. Biasanya dulu pas di toko pusat dia sering banget beliin aku jus. Banyak teman yang mengira kita pacaran, tapi aku dan dia Cuma cocok buat sahabatan aja.


“Wah, cantik banget tuh, siapa sih?” Fajar antusias.


“Itu Kak Lily, partnerku di display, yang ngajarin aku.”


“Kenalin donk,” Fajar merajuk meminta bantuanku.


“Males ah.. usaha sendiri donk, wekk”


***


Bulan-bulan berlalu, banyak kisah yang terangkai. Entah bagaimana ceritanya, aku bisa dekat dengan salah satu asisten supervisorku juga. Namanya Kak Fariz. Dia salah satu idola juga. Banyak cewek suka sama dia. Ada yang bilang dia playboy, namun aku menepis semua itu.


Aku selalu melihat sesuatu dari banyak sisi. Terkadang cerita orang sama kenyataan itu berbanding terbalik, nggak semua benar. Penilaianku pada Kak Fariz sejauh ini, dia memang baik, atau mungkin karena aku memiliki perasaan padanya juga, jadi apapun yang dia lakukan selalu menarik dihadapanku. Aku suka dia.


Apalagi aku orangnya selalu masa bodoh dengan kata orang, bagiku selama orang itu baik sama aku, kenapa aku harus ikut membencinya seperti orang lain. Aku tak membedakan dalam berteman, ya meski katanya kalau teman baik akan membawa pengaruh yang baik juga. Namun temanku yang katanya orang bad attitude pun bisa menasehatiku, setiap orang pasti memiliki sisi baik, meski hanya sedikit saja. Aku akan bersikap seperti apa mereka bersikap. Cara pandang dan cara berfikir orang itu berbeda. Sehingga persepsi yang terlahir juga akan berbeda hasilnya. Selama semua dilihat positif, hasilnya juga akan bagus. Semua tergantung orangnya, bagaimana dia menyikapinya.


“Heii..yoo nglamunin siapa?” kak Lily mengagetkanku saat aku lagi ngerapiin baju.


“Ehh.. nggak kok Kak, cuman mikirin sesuatu aja.”


“apa sih, cerita donk.. “ kak Lily memaksa ingin tau.


“Kak Fariz, dia nembak aku,” aku bilang malu-malu.


“Trus.. trus.. kamu terima nggak?” Dia langsung antusias.


“Aku masih bingung kak, belum mikir.” aku nyengir bodoh.


“Owh.. pikirin baik-baik, jangan sampai nyesel.” Kak Lily langsung meninggalkanku. Karena ada tugas yang harus dikerjain.


Aku merasa sikap kak Lily jadi aneh, tapi aku masa bodoh, mungkin cuma perasaanku saja.


***


“Eh.. denger nggak, ada gosip baru, kayanya Fariz deket deh sama Ulya.”


Aku mendengar suara orang yang sedang bergosip di ruang ganti.


Deg.. aku kaget mendengarnya, bukannya baru semalem ya Kak Fariz bilang sayang sama aku, tapi kok katanya dia deket sama Ulya, pikiranku langsung kemana-mana.


“Iya gue lihat di lantai bawah Kak Fariz ngasih makanan ke Ulya.”


“Wah, hebat bener tuh anak baru, udah bisa deketin kak Fariz aja.”


“haha.. tau deh.. Kak Fariz ganteng gitu, jelaslah banyak yang suka.”


“Alah, jangan beramsumsi dulu, siapa tau kak Fariz hanya dititipin suruh beliin, biasanya kan anak-anak gitu, suka nitip sama Kak Fariz”


“Ini beda nuy, soalnya nggak Cuma ngasih makanan, dia juga ngasih kotak, kaya kado gitu.”

__ADS_1


Aku bergegas pergi, takut ketahuan kalau aku sedang menguping pembicaraan mereka.


Ulya adalah anak baru yang ku training. Koordinatorku diskusi sama aku, gimana kalau Ulya ditugasin dikasir, aku setuju.


Setelah Ulya masuk kasir, tugasku lebih fokus di bendahara. Aku berusaha seteliti mungkin agar tak menimbulkan masalah. Karena uang selalu bersifat sensitif. Apalagi aku belum lama bekerja disini, tapi aku merasa jalan karirku alhamdullillah mulus. Aku sudah banyak dipercaya koordinatorku. Aku diajari banyak hal, katanya biar bisa ditempatin dimana aja.


***


Kak Fariz selalu bertanya padaku, soal dia menyatakan perasaannya. Aku bingung mau jawab apa, setelah mendengar gosip itu aku bimbang.


“Apa aku tanya kak Fariz aja ya” batinku.


“Tapi kenapa sih kak, hubungan kita harus backstreet kaya gini?”


“Soalnya disini ada peraturan, nggak boleh ada yang pacaran.” Kata Kak Fariz menjelaskan.


Dan pada waktu itu, karena aku udah suka sama Kak Fariz. Aku menepis semua gosip itu, aku mau menerimanya walau harus sembunyi. Aku tak peduli akan predikat playboy yang disandangnya. Sedikitpun aku tak curiga.


Ketika kita berdua kak Fariz sangat romantis. Dia perhatian sama aku. Aku sudah cukup senang, mungkin karena aku jarang merasakan kasih sayang ayah, jadi aku mudah terbuai oleh kak Fariz yang menurutku bersifat dewasa dan penyayang. Walau hubungan kita diam-diam, aku yakin kalau Kak Fariz bisa dipercaya.


Sejak aku cerita hubunganku dengan kak Fariz pada Kak Lily, Kak Lily berubah sikap, dia mulai menghindariku. Bahkan dia meminta pindah tempat tugas sama koordinatorku.


Aku tak tahu apa alasannya. Aku hanya bingung saja. Ya walau kita masih saling menyapa, tapi aku merasa kita nggak sedekat dulu.


***


Setelah sebulan lebih Kak Lily menghindariku, aku baru tau dari Fajar kalau ternyata kak Lily juga suka sama Kak Fariz.


Malam itu toko tutup lebih awal, aku tak langsung turun ke kamar, tapi aku menghampiri Fajar yang sedang duduk di balkon lantai dua. Raut wajahnya tak mengukir satu senyum pun, beda dari biasanya.


“Ngapain lo kucel gitu,” aku menepuk keras-keras bahunya.


“Aww.. sakit tau, bego!” Fajar marah sama aku.


“Haha.. boyband kok ngelamun,” aku ketawain dia.


“Gue tadi nembak Lily, tapi ditolak.”


“Kok bisa kenapa?” aku serius memandang Fajar.


“Dia bilang nyaman sama aku, katanya aku perhatian ini itu semua, tapi kita nggak bisa pacaran, dia suka sama Fariz. Aku suruh dia milih dia cuma diem aja.”


Deg.. aku langsung kikuk, situasi ini nggak biasa. Hubunganku sama kak Fariz Cuma backstreet, jadi Fajar pun tak tau.


“Trus?” aku bingung mau jawab apa lagi.


“Lily dan Fariz sebenarnya sama-sama suka, tapi nggak tau kenapa katanya nggak bisa bersama gitu,” Fajar bernada serius.


“Ya udah, masih banyak kok cewe lain, tuh Upil juga cantik haha,” aku bercandain dia. Aku berusaha menghangatkan suasana. Fajar begitu menyukai Lily, aku bisa merasakan itu. Hatiku sendiri bertanya-tanya, aku berpikir tentang kak Fariz.


“Udah ah, aku balik ke kamar udah malem,” Aku bingung mau ngobrol apalagi sama Fajar.


Aku meninggalkan Fajar sendirian. Aku sendiripun tak karuan. Aku turuni tangga demi tangga dengan pikiran kacau. Sampai kamar aku langsung rebahkan tubuhku hingga akhirnya terlelap.

__ADS_1


__ADS_2