
Pagiku begitu menyenangkan saat aku mendapat notifikasi dari Danial. Aku langsung menyambar ponselku dan membaca pesan darinya.
"Selamat pagi, happy anniversary sayang," pesan singkat yang mampu membuat senyumku mengembang.
"Happy anniversary juga sayang," aku balas bersama emoticon kiss yang banyak.
Rasanya selama satu tahun yang aku jalani bersama Danial benar-benar mampu membuatku ngebucin badai. Membuatku seolah dia tak pernah tergantikan. Membuatku percaya bahwa dia akan berjuang. Membuatku merasa kita akan sampai pada pernikahan. Mungkin aku terlalu meninggikan harapanku padanya, sampai lupa bahwa kecewa sangat terasa sakitnya. Bahwa sebenarnya sulit sekali mendapatkan restu dari orang tuanya. Sebab adat yang berbeda dan kepercayaan keluarganya yang sakral akan tradisi dan budaya.
Danial melakukan panggilan videonya saat aku baru saja membalas pesannya. Wajahnya memenuhi layar ponselku dengan senyum yang terkembang sempurna.
"Ya udah, cepet siap-siap aku jemput," Suruh Danial saat aku baru mengangkatnya.
"Mau kemana?" aku bingung. Aku memang sudah merencanakan cutiku untuk bertemu dia. Namun belum tau tujuannya kemana.
"Udah, pokoknya aku jemput," Danial langsung mematikan panggilannya.
****
"Dan, kamu udah mikirin untuk lebih serius?" aku membuka obrolan ketika dia sudah duduk disampingku.
Setiap sebulan sekali kita selalu berusaha untuk bertemu. Dan hari ini kita disini, di Goa Lowo. Danial selalu mengajakku ke tempat yang belum pernah ku kunjungi sebelumnya. Bersamanya aku selalu traveling, menjelajahi sisi lain dari tempat-tempat yang ada di bumi. Menikmati pesona alam yang disuguhkan oleh Tuhan.
"Dari awal aku serius sama kamu Na," Danial menunjukkan keseriusannya.
"Buat apa aku ajak kamu ke tempat kerjaku, bertemu teman-temanku, bahkan kedua orang tuaku." Danial memegang tanganku erat.
"Kalau aku nggak serius sama kamu," Danial menatap mataku.
"Tapi sampai kapan ayahmu akan setuju dengan kita?" Aku mulai meragukan itu, sebab akan percuma jika hubungan nggak sampai pada pernikahan. Semakin aku mencintainya, semakin kecewa jika harus melepasnya kelak.
"Aku tau kamu masih berusaha membujuk ayahmu," aku menatap mata Danial yang mulai sayu.
__ADS_1
"Benar kata Dyana, aku nggak tau sampai kapan ayahku akan mau menyetujuinya, aku nggak mungkin terus menggantungkan harapan Dyana tanpa memberinya kepastian," Danial berpacu dengan hati dan pikirannya yang mulai lelah seperti ini.
"Aku akan membicarakan dengan ayahku lagi," Danial mencoba menenangkanku.
"Bukan aku memaksamu untuk segera menikahiku, aku hanya ingin kepastian, komitmen yang sebenarnya," Aku khawatir dengan kelanjutan hubunganku. Sampai kapan akupun juga belum tau.
Aku tidak ingin egois seperti ini, namun aku juga nggak bisa terus-terusan begini. Rasanya berat sekali menjalani kisah ini.
"Aku paham sekali maumu Na," Danial memandang jauh entah kemana. Dia nampak mulai kacau.
"Maafkan aku Dan, aku nggak bermaksud membuatmu bimbang," Aku bersandar dipundaknya.
"Satu yang kamu tau, aku nggak akan menikahi lelaki yang keluarganya tidak merestui," Aku meneteskan air mataku tanpa menyadarinya.
Danial menolehku dan mengusap air mataku. Aku tak bisa lagi memendam perasaanku. Sungguh menyedihkan jika dua orang saling mencintai namun tak bisa dibersamakan oleh keadaan yang melukai.
"Kamu jangan nangis ya," Danial berkata lembut. Aura dinding Goa yang sejuk menambah pilu suasana. Tetesan air dari dinding Goa yang membasahi lantai. Seperti menguar aroma sendu yang menancap di kalbu. Bersama dengan jatuhnya air mataku. Mata Danial juga berkaca-kaca terpantul oleh cahaya remang di dalam Goa. Sesaat hanya ada keheningan diantara kita.
***
Sepulang mengantar Dyana, aku benar-benar memikirkan ucapannya.
"Dia tidak akan menikahi lelaki yang nggak direstui keluarganya," kalimat itu seperti sudah terpatri di otakku.
"Ayah, ada yang ingin aku bicarakan denganmu," Aku memberanikan diri dihadapan ayahku.
"Ada apa?" Ayah dan ibu sedang menikmati jamuan makan malam.
"Usiaku kan sudah semakin bertambah, bagaimana tentang pernikahan yah," aku meletakkan sendokku, menanti jawaban ayah.
Aku hanya ingin menyinggung sedikit tentang masalah itu. Bukan bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mulai terbuka dengan orang tuaku. Sebagai lelaki dewasa sepentasnya lah aku mencoba membuka obrolan itu.
__ADS_1
"Kamu mau segera menikah?" Suara ayah mulai mendingin.
"Bukan begitukah? Sebelumnya pula aku tak berani. Tapi karena dorongan Dyana, seorang wanita seuasiaku, wanita lemah lembut yang kupacari setahun ini. Wanita sabar yang mampu membuatku berani. Wanita yang dengan sabar menghiburku ketika aku datang dengan cerita pertengakaran keluargaku. Aku harus memberanikan diri." Tekadku dalam hati.
"Bagaimana menurut ayah?" Aku sudah yakin akan keputusanku.
"Boleh saja jika kau mau menikah," Suara ayah mulai menanggapiku.
"Tapi tak boleh kau menikah dengan perempuan itu, kau punya batas dengan dia. Batas yang tak nampak. Dan jika kau langkahi batas itu, kau tau sendiri kan yang kakekmu ceritakan?"
Aku mencoba mengingat cerita kakek sekian tahun yang lalu. Ketika kakak memutuskan untuk menikahi kekasihnya. Dan tidak ku sangka bahwa aku akan mengalaminya. Hanya karena menjadi anak pertama maka aku tak leluasa memilih istri untuk aku nikahi. Menurut adatku aku tak boleh menikahi wanita yang lahir sebagai anak pertama. Alasannya karena aku terlahir sebagai anak ketiga. Pernikahan seperti itu akan dikatakan sebagai Pernikahan Lusan yang maksudnya ke telu dan kepisan, artinya diadatku tak boleh seorang anak pertama menikah dengan anak nomer tiga.
"Selalu itu lagi yang ayah bahas," aku sudah kehabisan kata-kata bagaimana membujuk ayah.
"Tapi jika itu jodohku bagaimana Ayah?” Ayahku tak pernah menjawab. Ibuku yang biasanya berwujud bidadari cantik nan pengertian, saat itu ngedumel. Tidak lagi berkata lembut seperti sebelumnya. Padahal aku tau ibu sangat menyukai Dyana. Mungkin karena ibu tak bisa menghalangi kehendak ayah. Makanya ibu bersikap seperti itu sekarang.
"Kamu sudah disekolahkan tinggi juga tak bisa menghargai warisan leluhur mau jadi apa kelak, sarjana goblok?" Perkataan ayah semakin menghujamku.
"Bagaimana jika hanya dia yang diutus Tuhan untuk menjadi jodohku yah?" Aku masih selalu bertanya itu.
“Yah jelas berarti dia bukan jodohmu, jelas sekali kau dipertemukan dengan rintangan.” Itulah jawaban ayahku.
Dilema warisan adat yang kadang membuatku termangu. Memikirkannya, lalu entahlah apalagi. Bukan hanya terjadi padaku. Aku yakin banyak sekali pasangan sepertiku. Yang tak jadi menikah gara-gara adat. Atau ada yang segera memutuskan hubungan cinta kasih selagi mereka sadar. Agar tak sakit hati nantinya.
"Kenapa Tuhan, ini begitu sulit diantara kami," aku membatin pilu.
Terlintas cerita kakekku lagi, jika aku nekad ingin menikah. Sungguh merepotkan untuk anak ketiga sepertiku. Jika pernikahan itu tetap dilakukan, menurut adat keluarga akan terjadi petaka besar. Ada salah satu dari keluarga yang tidak kuat. Bisa sakit-sakitan, bahkan meninggal atau cerai untuk pengantin. Entahlah, mau tidak percaya itu benar adanya. Karena kebetulan atau apa itu benar terjadinya di beberapa tetanggaku. Atau memang leluhurku tak suka hingga mereka mengirimkan kutuk itu untuk sanak turun? Entah.
Rasanya aku sulit untuk mengikuti aturan adat yang berlaku. Aku menghormati adat tapi aku tidak mau terlalu patuh. Aku hanya menganggap semua sudah digariskan oleh Tuhan. Banyak sekali hal yang harus aku pertimbangkan.
"Ayah mau pernikahanmu besar-besaran. Kau juga harus diruat bagaimana mau menikah diam-diam.” kata ayahku yang sebenarnya dia mengetahui ada jalan keluar.
__ADS_1
"Ahhhh.." Aku tidak tau lagi bagaimana harus bersikap. Aku sudah tidak selera menyelesaikan makanku.
"Aku ke kamar dulu ya," aku bangkit dan mendorong kursiku seperti semula. Lalu melangkah menuju kamar. Salah satu tempat yang ada di rumah, dimana aku bisa menemukan ketenangan dan kebebasan.