
Danial Pov..
"Le, bangun," ibuku menggedor pintu tak berhenti-berhenti.
Aku yang mendengarnya sedikit malas untuk membuka pintu. Setelah berguling ke kanan kiri akhirnya ku paksa bangun.
"Ada apa sih buk," aku menguap sambil mengangkat tangan ke atas. Rasa kantuk mengunciku untuk bergerak. Sungguh malas.
Semalam aku tidur telat, pukul 12 lewat baru mataku bisa terpejam. DVD Fortnite menyita perhatianku. Tanganku sibuk mengutak-atik joystik hingga akhirnya game yang ku mainkan memilihku menjadi pemenangnya. Baru aku bisa pergi ke kasurku.
Aku yang kalau nge game sampai lupa waktu, terkadang membuat Dyana ngambek.
Flash back on,
"Di rumahmu nggak ada orang?" Dyana bertanya saat sampai di kamarku. Kebetulan orang tuaku sedang ke rumah saudaraku, ada acara hajatan.
Dyana sudah terbiasa di rumahku sejak aku kenalkan dia ke orang tuaku. Sebelum dia tau kalau ayahku tidak merestui hubungan kita. Sebab ibuku sangat welcome padanya, sangat menyukainya. Sehingga dia biasa saja, terkadang juga membantu ibuku di dapur, menganggap seperti rumah sendiri.
"ohh.. laper nih," Dyana melempar tas nya ke kasur dan duduk memegangi perutnya.
"Mau mie instant?" aku menawarkan, Dyana hanya mengangguk.
Aku pergi ke dapur, berkutat dengan pan dan spatula. Aku rebus mie seraya menggoreng telur setengah matang kesukaan Dyana, jangan sampai telurnya pecah atau aku harus memasak ulang. Sepuluh menit sudah siap dihidangkan dengan taburan bawang goreng diatasnya. Aku bawa nampan ke kamar. Aku suguhkan semangkok mie rebus padanya.
Seraya dia menikmati makannya, aku sibuk mengoperasikan joystikku, aku terlalu fokus pada game hingga tak mendengar Dyana memanggilku.
"Dan, air," Dyana menahan pedas. Dia mengibaskan tangannya di depan bibirnya yang memerah.
"Dan.. dan.." seketika layar tv ku mati. Aku menoleh pada Dyana yang tengah memegang kendali remote kontrolku.
"PS terrruuss..." Dyana ngambek sambil menahan pedas. Nada suaranya penuh tekanan. Dia memonyongkan bibirnya.
"Apa?" aku menoleh dan bertanya, yang memang aku nggak peka apa yang diinginkannya.
"Air," Dyana cemberut.
"Ohh.." Aku beranjak ke dapur, mengambilkan segelas jus orange untuknya. Setelah memberikannya, aku nyalakan lagi layar dan berkutat dengan game lagi.
Dyana sudah selesai makan, dia mengutak-utik layar handphonenya, entah apa yang dia buat. Aku melihatnya sekilas saja dan fokus pada game ku lagi.
"Dan boring nih, ngapain ya enaknya," Dyana membuka obrolan.
"Hehh .. apa?" aku hanya berdehem tanpa menolehnya.
"Aku bosen," Dyana mengulangi perkataanya.
"Bentar, tanggung nihh," aku masih sibuk menyelesaikan misiku di level terakhir.
__ADS_1
"Terserah," Dyana menggebrak kasur dan keluar kamar. Secepat kilat aku letak joystikku dan berlari mengejarnya.
"Aku mau pulang," Dyana kesal. Dia melangkah keluar rumah. Memandangi bunga-bunga yang mulai menguncup.
"Jangan marah ya, iya aku salah, aku minta maaf," ku raih tangan dia dan menggenggamnya lembut.
"Abisnya kalau nge game jadi cuek sama aku," Dia masih kesal, nada suaranya terlihat jelas.
"Ya udah, ayuk masuk dulu," aku bawa dia masuk kamarku lagi.
Dia hanya diam mengikuti langkahku. Aku masuk kamar duluan. Aku duduk di karpet. Dia hanya memandangiku sambil cemberut.
"Sini," aku menyuruhnya masuk. Dyana tetap tak berkutik. Aku berdiri dan menyeretnya masuk dengan kelembutan. Aku duduk di karpet, Dyana tetap tak bergeming, dia masih berdiri menahan kesal. Aku tarik tangannya dan dia duduk di depanku.
Aku ambil remote kontrol dan menyalakan layar Tv ku.
"Sini aku ajarin," Aku menyerahkan joystik dan memegang lembut tangannya. Memeluknya dari belakang.
"Udah jangan marah lagi, aku ajarin kamu nge game," aku pilih game yang mudah. Lantas Dyana menerbitkan senyumnya. Sungguh imut sekali aku melihatnya.
"Tembak" aku menginstruksikan.
"Kanan, maju, tembak lagi," kita seru banget bermain game. Dyana juga menyukainya. Hingga kita menang menyelesaikan misi terakhir. Dyana menolehku dan aku memeluknya lagi.
Rasanya senyumku tak bisa luntur, setelah rindu yang akhirnya bisa berbaur. Rasanya menunggu sebulan adalah waktu yang lama, hingga akhirnya bisa bersua. Hari itu kita menghabiskan waktu dengan ceria dan mengesankan. Dyana mulai menerima hobbyku.
Flash back off,
"Kamu kenapa? Senyum-senyum sendiri," ibuku heran melihatku dan menggelengkan kepalanya. Aku cengar-cengir sendiri, menyadari tingkahku.
"Cepet mandi sana, anterin ke pasar." ibuku berlalu pergi. Aku menggaruk belakang kepalaku yang tak gatal. Aku masuk lagi ke kamarku dan merebahkan tubuhku.
"Jangan tidur lagi, mandi sana," baru aku mau memejamkan mataku. Suara ibuku memekakkan telinga. Dia udah mulai ngedumel.
"hehhh.. iya iya bukk.." aku beranjak meraih handukku dan pergi mandi.
***
"Kamu mandi apa tidur? Lama banget? lihat udah jam berapa? Udah siang ini, tengok matahari udah tinggi, ibu mau beli ayam sama sayur, kamu kelamaan nanti keburu abis. Kalaupun masih ada udah nggak fresh, kamu tau makanan segar itu sehat, punya anak laki susah banget suruh nganterin ke pasar, selalu sajabada alasan, pokoknya hari ini kamu anterin, kakakmu lagi sibuk nganterin anaknya sekolah, nggak bisa kesini." Aku hanya diam mendengar omelan ibuku yang bla-bla panjang lebar.
Padahal ini masih pukul tujuh dan dia melebih-lebihkan seolah matahari udah di jam dua belas saja. Aku starter mesin motorku, setelah jok belakang terisi aku melajukannya menuju pasar.
Ibuku sibuk tawar sana, tawar sini. Beli ini itu, tanganku sudah lenguh membawa belanjaanya. Dua jam sudah dia mondar-mandir kesana kemari memborong bahan-bahan masakan untuk memenuhi kulkas di dapurnya.
Saat sampai depan rumah, Andi dan Dicko sudah menungguku.
"hahhaha.. Loe ke pasar," Andi menertawaiku. Sebab dia tau aku paling jarang mau kalau diajak ke pasar. Ibuku hanya tersenyum melihatku malu.
__ADS_1
"Buk pinjam Dani nya boleh," Dicko mengajakku keluar. Ibuku hanya tersenyum menyeringai.
"Haish.. dasar anak muda," begitu kira-kira ibuku membatin.
Andi dan Dicko membantuku mengangkat barang belanjaan dan meletakkannya di meja dapur.
"Buk keluar dulu ya," Aku pamit sama ibuku, begitu juga Andi dan Dicko yang menyalami tangannya.
"Mau kemana?" aku bertanya pada Dicko.
"Entar juga loe tau," Dicko menyeret tanganku dan merebut kunciku.
"Naik," Dicko menyuruhku.
Tak lama Dicko melajukan motorku. Aku hanya diam pasrah mau dibawa kemana. Andi mengikuti dari belakang. Kita memasuki gerbang pantai dan menuju gazebo tempat biasa kita nongkrong.
"Ada hal penting yang mau aku omongin sama loe," Dicko memegang tanganku serius.
"hih,, ayan ya loe," aku lepas tanganku dan memegang jidatnya. Andi yang melihat hanya geleng-geleng tersenyum. Andi memberikan handphonenya padaku.
"Apaan sih?" aku bingung tak tau apa maksudnya seraya menggoyangkan ponselnya.
"Lihatlah sendiri," Andi duduk di gazebo, sementara Dicko berdiri disampingku.
Aku nyalakan layar ponselnya dan nampak gambar Dyana dan seorang laki-laki, nampak mesra.
"Maksudnya apa ini?" Rasanya hatiku seperti ditikam.
"Kemarin gue double date sama Dicko, nggak taunya dapat pemandangan," Andi menjelaskan.
"Loe udah beneran putus ya sama Dyana?" Dicko beralih bertanya padaku. Andi dan Dicko belum tau kalau aku baikan sama Dyana.
"Cepet banget dia udah dapat gebetan baru aja," Andi nampak berpikir.
"Aku udah baikan sama dia," aku memberi penjelasan yang membuat Andi dan Dicko syok.
"Secepat itu?" Andi melongo.
"Jangan bilang Dyana selingkuh ya Dan," Dicko heran dengan ekspresi wajah bodohnya.
"Hmm.." ku tatap jauh ke pantai yang beradu dengan ombak. Entah kenapa perasaanku seperti berbeda dari biasanya, perih. Tidak tenang.
"Apa maksudnya ini?" aku bertanya-tanya sendiri.
"Gue mau pulang," aku starter motorku dan meninggalkan Andi serta Dicko.
"Dan, loe jangan ngebut," Andi memperingatkanku dengan teriakannya, namun ku abaikan.
__ADS_1
"Ndi, gimana nih?" Dicko bingung.
"Mana gue tahu," Andi mengendikkan bahunya. Mereka saling pandang nggak jelas.