Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Whatsapp


__ADS_3

Sungguh tenang langit malam ini, hanya ada satu bintang. Sepi, sungguh tepat dengan keadaanku saat ini. Kesepian dan kesendirian. Aku menatap jauh, entah apa yang ku pikirkan. Cuplikan-cuplikan kelam seperti terangkai kembali. Tak mau hilang. Seperti kaca yang pecah tak bisa utuh lagi. Seperti itulah keadaan keluargaku. Ayah yang sangat aku sayangi lebih memilih menikah lagi dan meninggalkan ibu.


Sudah lama aku termenung di balkon. Aku malas untuk masuk ke kamar, aku terdiam. Merasakan angin yang mengibas rambutku. Sudah lebih dari 15 tahun sejak perceraian orang tuaku, tapi rasanya luka itu belum sembuh sepenuhnya.


Aku lebih memilih tinggal sama ibu, walau keadaan ekonomi terlampau sulit. Ibu yang merjuangin aku, nyekolahin aku, selalu nyemangatin aku dan mendukung keputusanku. Aku bangga padanya. Dia setegar itu, yang tak pernah mau membagi sakitnya denganku.


Ayahku, dia nampak telah bahagia dengan keluarga barunya. Mungkin dia sudah lupa denganku. Atau hanya perasaanku saja yang menganggap seperti itu, karena kita jarang berkomunikasi. Jika pikiranku positif, mungkin dia lagi sibuk, kerja di rantau, bisa juga dia terkekang oleh istrinya, sebab istrinya tak suka padaku. Namun pikiran negatif menyertai juga, bahwa dia telah menelantarkanku, dia tidak peduli lagi denganku, tak pernah memberi kabar. Sesekali pertemuan kita hanya memindah jarum dari menit ke menit, tak pernah lama. Ah, sudahlah aku nggak mau memikirkannya. Mungkin kelak kita bisa berjumpa, disaat semua luka telah sembuh sepenuhnya, ya sepenuhnya, aku harap begitu. Dan semuanya akan biasa saja, semua baik-baik saja.


****


Drrtt..drrt.. Hp ku bergetar, membuyarkan anganku.


Ada WA masuk, nomor baru. Biasanya aku malas membalas, paling cuma iseng fikirku. Namun entah kenapa jariku mengetik balasan padanya.


“Siapa?”


Singkat aja aku balas, tak lama muncul balasan darinya.


“Danial”


Langsung to the point , “Nama yang unik.” Akupun tersenyum dan menyebut satu nama itu.


Singkat, jarang-jarang ada yang to the point kalau ngechat aku, palingan kebanyakan kata-kata basi, misal boleh kenalan nggak, namanya siapa, bla-bla dan sederet pertanyaan yang nggak penting.


“Hmm.. dingin,” gumamku lantas aku masuk kamar dan jatuh ke kasur. Tiba-tiba aku sudah lupa akan kesedihanku. Tentang pikiran kacau yang tak sengaja datang memenuhi otakku, flashback ke masa lalu.


Drrt.. drrt.. WA masuk lagi.


“Boleh kenalan nggak?”


Danial.. danial.. pikirku membayangkan dia seperti apa, sebab tak ada picture diprofilnya. Namun dalam bayanganku dia memiliki suara yang khas dan menyenangkan. Entah kenapa aku berpikir seperti itu.


"Boleh, aku Dyana."


Malam itu aku chat sama dia hingga larut malam bahkan sampai ketiduran, dan endingnya bangun kesiangan. Hufft. Padahal baru pertama chatingan sama dia.


“Selamat pagi, jangan lupa sarapan, nanti mati.” Text dari Danial dengan emoticon smile.


“Cihh.. ini cowo usil banget sih,” batinku kesel tapi senyum-senyum sendiri. Unik.


“Iya ini udah sarapan, mau kerja dulu aku.”


“Iya, semangat ya.” Danial memberi balasan.


Aku tersenyum membacanya.


Danial menjadi pengalih perhatianku, setelah aku merasa kecewa dengan Kak Fariz. Bukan maksud menjadikan dia pelampiasan, tapi dia memang datang di waktu yang tepat.


“Kamu udah punya pacar belum?”


Setiap malam aku chatingan sama Danial, dia selalu saja punya topik untuk dibahas, hal-hal sepele, yang garing nggak penting bagi sebagian orang, malah bikin kita nyambung dan ketawa ria.

__ADS_1


“Baru aja putus Dan.. hahah” aku ketawa getir dia tanya kaya gitu.


“Lah, kenapa putus dulu, harusnya jangan dulu lah, nah kan jadi jomblo sekarang” Dia kasih emoticon sedih banyak banget.


“haha.. ngejek aku ya, emot nya banyak banget!!” aku balas dengan emot marah.


“Haha, nggak ngejek kok, gitu aja keluar sungunya.”


“Hufft resek luu...” balas ku cuek.


“kalo kamu jomblo, saingan aku banyak buat dapetin kamu, kalo punya pacar kan Cuma atuk, pacar kamu ajah”


Aku senyum-senyum baca balasan dia, emang nih anak humoris abis. Alay.


“Ohh, trus kalo aku punya pacar kamu ngajak selingkuh, wah nggak bener nih! Ahhaha"


“yaa kalo kamu mau selingkuh gapapa hhha, kalo aku ditolak kan malu.”


Chatingan sama dia selalu membuatku tertawa. Terkadang aku penasaran seperti apa parasnya.


“Hhh kamu udah menang kok, nggak usah seleksi aku pilih kamu deh.”


Balasku asal, terkadang kita sama-sama saling menggoda. Tapi kita tau kalo ini Cuma hiburan semata.


***


Sebulan berlalu, Danial Cuma berani chat aja, tapi udah ada profile picture nya. Ternyata dia manis, hidungnya khas abis, apalagi dia humoris. Entah mengapa aku suka. Mungkinkah aku jatuh cinta?


Dering ponselku menggema, Danial video call, aku deg-deg an gila, bingung angkat nggak ya, salah tingkah hanya dengan video call aja, mungkin jiwa bucin ku kambuh lagi setelah patah berulang kali.


“Hai.. selamat malam calon pacar” aku ketawa.


“Pede banget lo, siapa juga pacarmu,”


“Kamulah, bukannya udah aku tembak kemarin,”


“Udah pasti sekarang aku jadi mayat kalo kamu tembak,”


Kita sama-sama ketawa ngakak.


“Baru pulang kerja ya,”


“Iya nih, capek banget,”


“Cepet ganti baju sana, cuci muka, cuci kaki, cuci Baju, cuci piring,”


“Hah, kok cuci piring,” berbagai macam emoticon selalu menghiasi teks kami.


“Iya tadi aku lihat kamu makan piringnya masih dimeja tuh,”


Dia arahin kameranya ke mejanya, emang ada piring, kebiasaan kalau malam dia selalu makan indomie.

__ADS_1


“Itu mah piring lo.. rese.”


“Kan kamu calon istriku, bantuin nyuci donk sayang.”


“Kamu cari istri apa pembantu. Hahah”


“Aku nyari kamu aja nggak dapet-dapet,”


“Kok aku?”


“Iya untuk jadi bidadari surgaku.”


“Aduhhh alayyy deh.. siapa yang ngajarin, gombal”


“Dilan,”


“Kebanyakan nonton film,”


“iya film DILAN,”


“DILAN apa, Milea?” tanyaku.


“ya DILAN dilanda rindu ingin segera bertemu kamu.”


Kita ngakak abis, kita video call an hampir 2 jam. Sampai aku ngantuk dan ku tutup telfonnya.


***


“Eecciee.. yang semalem telfonan sampe ketiduran, gebetan baru nih gimana tuh yang dilantai atas,”


Lutfi menegurku yang sedang memasak, hari ini jadwalku piket masakin anak asrama.


Aku bekerja disebuah toko baju yang lumayan terkenal, karena memiliki lebih dari 11 cabang diberbagai kota. Pertama aku hanya bantu-bantu di toko pusat, lalu seminggu kemudian aku dipindahtugaskan di kota proklamator. Untuk pertama kalinya aku bekerja dan sudah jauh dari orang tua. Sedari lulus SMA sebenarnya aku ingin bekerja, tapi orang tuaku melarang, katanya istirahat aja dulu di rumah.


Saking bosannya aku nekat bilang sama ibuku ingin bekerja, karena tiap hari nggak ada kegiatan, palingan Cuma di kamar nonton drama korea, kalo nggak gitu hp an nggak jelas, buka medsos. Jadi niatku ingin melamar pekerjaan, aku bertekad harus kerja karena aku sudah bosan nggak ada kegiatan.


Teman-temanku semua pada kerja, jadi aku nggak ada temen kluyuran lagi. Sebenarnya ingin lanjut kuliah sih akunya, tapi karena orang tua broken home, biaya menjadi masalah, semua saling menyalahkan siapa yamg harus mengurusiku. Ayahku harus mensupport keluarganya, hingga lupa akan kehadiranku. Ibuku, aku nggak ingin terlalu membebaninya lagi. Walaupun ayah tiriku ingin membiayaiku, tapi aku harus banyak berpikir, banyak perasaan yang harus ku pertimbangkan. Ayah tiriku juga punya anak perempuan se-usiaku, dia nggak kuliah, dia ingin langsung kerja. Kalau akunya kuliah, akan semakin banyak kebenciannya padaku, kecemburuan dia selama ini sudah membuat hubungan dia dan ayahnya merenggang. Padahal sebisa mungkin aku nggak merepotkan ayah tiriku. Tapi dia hanya berkesimpulan dengan apa yang dia lihat, tanpa mau tau penjelasan apapun.


Akhirnya atas saran ibuku, aku melamar kerja di toko ini, dan diterima.


“Heleh.. potong aja tuh bawangnya yang bener pil,” aku biasa manggil Lutfi dengan sebutan Upil, kita udah sahabatan deket banget. Teman tidur, teman kemana-mana, teman ghibah bahkan kita makan aja sepiring berdua.


“Udahlah yung, pacarin aja, cakep juga tuh.” Upil biasa manggil aku Suyung.


“Ahh.. apaan sih, belum juga kenal, Cuma chatingan doang mah belum ngaruh..” kataku sambil goreng ayam.


“Yung nanti ada cowo baru, dateng dari toko pusat, katanya anak-anak sih keren, ala-ala boyband korea.” Upil antusias.


“hah.. basi.. cakepan Danial.”


“Lohh... kan.. udah jatuh cinta, katanya nggak ngaruh,”

__ADS_1


Kita ketawa bareng, kita emang orang paling receh di asrama.


“Gapapa kalo ganteng,” kataku malu-malu.


__ADS_2