
Aku baru turun dari bus, aku jalan ke zebra cross di depan tokoku. Aku menunggu lampu merah berubah hijau, seketika itu gerbang toko sudah terbuka. Aku telah melewatkan beberapa menit jam operasional. Aku telat. Samar-samar nampak dua orang berdiri di depan gerbang. Kak Fariz dan kak Lily lagi.
"Ngapain sih tu orang selalu bermesraan di depan gue," aku ngedumel. Ya walaupun aku berbesar hati membiarkan mereka bersama, tapi namanya aku juga pernah suka, sedikit jengkel juga. Aku menyebrang jalan ke asrama untuk berganti seragam. Aku cepat-cepat bersiap dan naik ke toko.
"Yung... oleh-olehnya mana?" Lutfi menepuk pundakku ketika aku sedang absen.
"Ada dibawah, keripik kesukaanmu," aku sibuk bolak-balik kertas absen.
"wahh asikk nih, sayung emang paling baik deh." Lutfi memelukku manja.
"apaan sih yung, geli tau," aku berusaha melepasnya, Lutfi emang suka banget bercanda. Tak sadar aku menabrak seseorang ketika hampir jatuh, saat kakiku menyenggol meja yang membuat keseimbangan tubuhku terbengkalai.
"eh.." Kak Fariz menangkapku. Aku langsung cepat-cepat bangun.
"sorry.." aku berucap seraya menjauhkan diri.
"Lain kali hati-hati." Dia memberitahuku.
"oh, ok.. Pil ke atas yuk, ada banyak barang yang harus di cek." Aku mengalihkan perhatian dan pergi meninggalkan kak Fariz.
"Kamu nggak papa yung?" Upil menanyaiku seraya beriringan menaiki tangga.
"Nggak papa kok, cuman kaki gue agak keseleo deh kayanya," aku merintih.
Lepas malam tiba, aku baringkan tubuhku, penat sekali rasanya. Kakiku juga belum membaik.
"Mbak, aku mau minta cuti, kakiku keseleo." aku whatsapp koordinatorku.
"iya, semoga lekas membaik, kamu mau pulang kapan?"
"Besok mbak, makasih."
"Hati-hati di jalan," koordinatorku mengizinkan.
"Padahal aku baru sampai tadi pagi, udah minta izin pulang lagi. hufft gara-gara kak Fariz nih, sebell," aku menggumam kesal.
__ADS_1
drrtt..drrtt..
"Gimana, udah sayang belum sama aku?" chat dari Danial membuyarkan kekesalanku, malah aku tersenyum tanpa sengaja.
"haha apaan sih?" aku malu memikirkannya.
"Aku tau kamu belum percaya sama aku," dia membalas beserta emoticon sedih.
"Ya gimana ya,," aku bingung mau balas apa.
"Sayang itu nggak bisa instant, apalagi kita baru kenal. Aku pernah beneran sayang sama seseorang tapi aku dikecewakan, jalanin aja dulu." balasku lagi. Aku meluahkan perasaan bimbangku.
"Tuh kan mikirnya negatif, laki-laki itu nggak sama." Dia selalu berpikiran positif menghadapiku.
"Pikiran negatif itu tercipta karena kita terlalu takut kehilangan. Kita pernah percaya namun dikhianati, pernah sayang tapi dikecewakan, pernah menjadikan dia satu-satunya yang akan membuatmu bahagia, malah dia juga satu-satunya yang paling melukakan perasaan." aku menjelaskan alasanku.
"Aku paham, tapi aku udah seneng kamu udah mau membuka hatimu untukku. Aku yakin nanti kamu juga sayang sama aku."
"Jalanin aja dulu, tapi yang aku tau aku udah mulai nyaman sama kamu untuk sekarang." aku jujur padanya.
Kurang lebih dia sudah bisa membuatku lupa akan air mata, dia bisa mengalihkan perhatianku hanya untuknya, dia bisa merubah opini-opini yang ada dalam pikiranku.
Deg.. deg.. secepat itu dia ingin memperkenalkan aku pada orang tuanya. Aku merasa ini halusinasi. Oh..
"Benarkah?"
"Iya, kapan kamu ada waktu?"
"Sebenarnya besok aku mau pulang, kakiku sakit, tadi jatuh dan keseleo."
"Makanya jangan mikirin aku terus, nggak fokus kan jalannya," Dia menertawaiku dengan emoticon smile.
"Dia sedang menggodakukah?" Aku ngedumel geram.
"Ye... pede banget. rese loe," aku balas chat dia, jengkel rasanya. Bukannya dia harusnya khawatir apa. Tapi aku tersipu.
__ADS_1
Semalaman aku habiskan dengan chatingan. Sampai aku tertidur.
"yung bangun, katanya mau pulang," Lutfi sudah bangun sejak adzan subuh. Biasanya kalau mau pulang, aku harus bangun pagi biar dapat bus.
"huuuammm masih ngantuk pil," akhirnya ku paksa bangun, meski aku susah jalan aku nekat ingin pulang.
Aku duduk di halte, menunggu bus datang. Banyak kesibukan di pagi hari. Kendaraan lalu lalang melintasi jalanan kota. Anak sekolah ramai bergerombol, jalan kaki dengan suka ria. Ada juga yang bersepeda sambil bercengkrama.
Flash back on,
Aku memacukan motor dengan santai, meski aku tau sudah telat berangkat sekolah. Aku menghampiri temanku yang biasanya berangkat bareng. Sepanjang perjalanan dia ngedumel karna aku telat.
"Cepetan kita udah telat," dia khawatir sekali.
"Yelah santai aja lagi," aku meremehkan.
Sesampainya di sekolah, gerbang depan udah mau ditutup. Nasib baik kita masih diizinin masuk, namun motorku harus di taruh di depan UKS karena parkiran sudah di kunci. Niatnya mempermalukan aku karena telat, tapi nggak ngaruh sama sekali padaku. Kunci motor diminta guru. Sepulang sekolah harus diambil di ruang BK. Banyak murid tengah push up di lapangan. Namun aku melarikan diri ke kelas, izinnya ke toilet. ehhe.
Sampai di kelas masih lagi kena ceramah, guru Biologi tercerewet tepat di mata pelajaran pertama, membosankan. Akupun langsung duduk setelah mendapat izin masuk. Guru BK yang sering menghukumkupun sudah malas lagi nampaknya mencariku, sebab aku yang selalu lari dari hukuman. Senakal-nakalnya aku, masih wajar lah ya, namanya anak sekolah. Menurutku masih taraf ringan. hehe.
Flash back off
Aku tersenyum sendiri mengingat hal itu. Ketika banyak sekali budak-budak berseragam bersuka ria menuju sekolah, tapi langsung hilang senyum ketika bunyi bel masuk kelas berbunyi. Masa sekolah, masa yang paling indah, aku membenarkan itu. Akupun mengalami hal yang sama.
Bagaimana antusiasnya ketika jam kosong. Bahagia ketika guru yang ngajar nggak datang. Pulang cepet menjadi hal termenyenangkan. Ada cinta monyet, suka temen sendiri tapi nggak jadian, ada pertengkaran, saling melabrak gara-gara rebutan cowok, diam-diam suka tapi takut mau bilang. Gimana serunya jajan bareng di kantin dan anak kutu buku udah jadiin perpustakaan kaya rumahku istanaku.
Banyak sekali cerita dimana event-event sekolah diadakan, mulai dari pentas seni hingga berbagai kompetisi untuk memperingati acara tertentu. Bagaimana terharunya suasana wisuda dan perpisahan dengan teman yang selayaknya keluarga. Dimana kita nggak usah mikirin kerja biar dapat duit, tinggal bilang mama atau papa, ingin ini ingin itu. Masa dimana hal tersulit cuma PR Matematika, bukan lagi sakit hati soal cinta.
Ngomong tentang cinta, aku jadi teringat Danial. Entah kenapa tiba-tiba teringat masa sekolah, bersamaan bus yang ku tunggu telah tiba di depanku, dan akupun menaikinya.
Dalam bus aku jadi memikirkan Danial, tentang ajakannya menemui orang tuanya.
"Aku diperjalanan pulang." aku memberitahu Danial.
"Iya aku jemput di terminal,"
__ADS_1
Sebelumnya aku udah bilang ibuku, soal aku mau pulang lagi karena keseleo. Aku juga cerita tentang ke rumah orang tua Danial, meski ibu menyuruhku pulang terlebih dahulu, dengan keadaan kakiku ibu khawatir. Namun aku tetap memilih ke rumah Danial, aku harus memanfaatkan kesempatan dengan baik. Ini pertama kalinya, dalam kisah cintaku, merasa benar-benar diinginkan dan diperjuangkan.
Hal yang tak pernah ku duga, bahwa aku mengenalnya belum lama, tak cuma omong kosong atau janji-janji manis, dia membuktikan keseriusannya. Ya setidaknya aku menganggap sikap Danial seperti itu.