
Hari ini aku kembali ke Kota Proklamator, kembali melakukan rutinitasku melayani pelanggan. Aku sudah bilang ke Bu Mamik bahwa aku akan mengundurkan diri terlebih dahulu dari pekerjaanku. Mungkin dua minggu lagi aku baru bisa berangkat ke Agensi yang berada di Kota Reog.
"Yung tadi katanya nyari koordinator, udah ada di kantornya tuh," Upil memberitahuku.
"Iya nanti aku kesana, sekalian ngasih laporan," jelasku pada Upil.
"Emang kenapa sih yung?" Tingkat kekepoan Upil yang tinggi sedang dalam mode on.
"Kamu nggak ada masalahkan?" Upil mengernyitkan dahinya.
"Sebenarnya aku mau resign yung," aku jujur pada Upil.
"Hah, kenapa? Kamu nggak nyaman disini lagi," Upil kaget.
"Nggak gitu yung, aku pengen keluar dari zona nyaman aja," Aku masih sibuk dengan laporanku.
"Yung, kamu nggak bisa menghindari masalah, masalah itu dihadapi, masak kamu putus sama Danial gitu aja mau resign," Upil nggak terima dengan keputusanku.
"Gitu aja?" aku menoleh Upil, memastikan.
"Pil, perasaanku ini terlalu menyiksa, ketika aku disini, setiap bagian dari tempat ini menyisakan kenangan bersamanya, setiap hari aku selalu mengingatnya. Kamu ingat saat dia menjemputku, memberi bunga tulip, kasih kejutan boneka nemo, bawain nasi goreng, ya meskipun itu semua sederhana tapi mampu membuatku terkesan yung. Ya walaupun aku nggak bisa nyalahin tempat ini, sebab ia benda mati yang nggak mengerti apapun, namun yang pernah ku lalui disini dengannya sungguh membuatku sesak." aku menjelaskan panjang lebar.
"Aku juga nggak mau diposisi ini, seolah cuma aku yang terluka dan tersakiti, aku aja yang merasa bucin dan rindu setengah mati. Aku yang kelihatan alay hanya dengan diputuskan dan ditinggal pergi menjadi uring-uringan seperti ini. Tapi hati, ia tak bisa memungkiri yung," Aku meneteskan air mataku.
"Maafkan aku yung, aku nggak tau sedalam itu kamu mencintainya. Lantas apa rencanamu kedepannya?" Lutvi ikut merasakan sedihku.
"Aku mau ke luar negeri yung," Perkataanku yang membuat Upil melotot.
"Hah, kamu jangan bercanda yung?" Upil kaget dan langsung memegang kedua bahuku dengan tangannya. Ia memastikan bahwa ia tidak salah mendengar. Rencana konyol yang nggak pernah terlintas sebelumnya dipikiranku juga.
"Aku serius yung," aku meyakinkannya.
"Pikirin baik-baik yung," Upil pasrah akan keputusanku.
__ADS_1
"Aku punya temen yung, dia kerja di Bali di restoran, aku bisa bilang dia biar bantu kamu kerja disana, kalau mau menghindar nggak usah jauh-jauh ke luar negeri yung," Upil memberikan sebuah ide.
"Aku sudah nekad yung, makasih tawarannya." aku memeluk Upil erat. Dia sahabat yang selalu ada saat aku butuh. Dia paham sekali denganku. Aku beruntung memiliki dia.
"Rehatkan dirimu sejenak, kamu nggak bisa menghindari selamanya. Kamu harus menghadapinya yung, ikhlaskan." Upil mengelus lembut punggungku. Aku hanya mengangguk pelan.
***
Danial Pov,
Aku kepikiran Dyana, entah apa yang dia lakukan sekarang. Bisa-bisanya aku sebucin ini. Semua jadi sepi, banyak yang berubah. Kerja juga jadi sedikit nggak semangat. Seolah ada yang hilang di separuh hidupku.
"Wooii.. lo tuh bengong aja kerjaannya," Andi yang sedari tadi ngegame dengan Dicko membuyarkan lamunanku. Sejak pagi mereka sudah memenuhi kamarku dengan beberapa plastik snack.
"Apa sih, tuh tembak aja terus nanti kalah lo," aku menyuruh Andi fokus pada gamenya. Sementara aku menyesap kopi di sudut jendela.
Terlihat kopi dipekarangan rumah masih menghias dengan kembangnya yang putih indah. Ini memang musim kopi kembang. Indah untuk menyambut pengantin baru yang membuka jendela dipagi hari. Dan aku mengharap bisa menunjukkan itu pada Dyana kelak. Aku ingin membukakan jendela dikamarku, aku ajak dia memandang lapang pegunungan hijau yang tertutup Pedut tipis. Menceritakan tentangnya kembang kopi. Menghirup aromanya yang membuat siapapun gerangan ingin kembali. Kelak ingin aku memeluknya erat. Menatap gelayut awan hitam yang sepintas akan jatuh menimpa atap kamarku. Dan akan aku ajak dia tertawa. Menatap rintik hujan dengan seksama. Mungkin romantis pikirku.
Aku dan Dyana bagaikan bulan dan matahari, tidak pernah bisa bersatu meski sama-sama bersinar. Beda masa dan beda waktu kemunculannya. Keindahan bulan akan tergantikan dengan kehadiran matahari. Seperti aku dan dia, keindahannya akan memudar sebab cinta yang tak direstui.
"Udahlah, ikhlasin, jangan terus dipikirin," Seru Dicko dengan santainya.
"Kalau melupakannya semudah itu, nggak perlu aku susah-susah nyari jalan keluar biar bisa bersama dengannya, karena aku tau ini sulit untukku bisa lupa makanya aku memperjuangkannya, walau harus dipaksa kandas setelahnya." Aku memandang jauh.
"Wahh.. bisa juga lo romantis, tingkat kebucinan lo gue kasih poin seratus deh," Dicko menepuk punggungku. Kedua temanku hanya berusaha menghiburku.
"Tenang Dan, ponakan gue cantik-cantik, entar gue kenalin ke elu," Andi menyeringai.
"Nggak usah, terimakasih, tega-teganya loe obral keponakan loe," aku hanya bergidik.
"Haha gaya loe," Andi tertawa.
"Nih!" Dicko pun menyerahkan joystik nya, mengajakku ngegame. Melampiaskan kegalauanku. Mereka tertawa, membuat gaduh di kamarku. Rasanya aku sedikit bisa terlupa dengan masalahku. Terimakasih telah memberi sahabat seperti mereka kepadaku.
__ADS_1
***
Dyana Pov,
Tok..tokk..
Aku mengetuk ruangan koordinatorku. Aku memasuki setelah mendengar isyarat dia mengizinkannya.
"Ada apa Na?" tanyanya padaku.
"Bu ini laporan penjualan dan stok, sudah saya rekap semua." Aku menyerahkan berkas yang telah selesai ku kerjakan.
"Dan saya minta maaf sebelumnya, saya mau memberikan surat resign saya." Aku menyerahkan surat padanya.
"Loh, kenapa kok tiba-tiba mau resign?" tanya koordinatorku keheranan. Dia menerima suratku dan membuka amplopnya. Yang dia tau selama ini kerjaku baik-baik saja tidak ada masalah.
"Sebenarnya saya sangat menyukai bekerja disini, namun ada masalah pribadi yang mengharuskan saya untuk berhenti bu," Aku bingung mau beralasan apa.
"Ya sudah saya akan pikirkan lagi, tapi minggu depan mungkin kamu bisa keluar," seru koordinatorku.
"Iya bu, saya paham," aku mengangguk.
"Iya nanti saya atur lagi gimana pembagian tempat tugas, untuk merecover pekerjaan kamu," Koordinatorku memahami.
"Terimakasih ya bu," aku berpamitan keluar yang diikuti senyumannya.
"Hufft.. lega, aku kira akan sulit mendapatkan kata iya, ketika aku resign di tengah sibuk-sibuknya toko dan keterbatasan personil." aku membatin.
"Gimana yung?" Upil yang melihatku keluar dari ruangan koordinatorku menghampiriku.
"Beres yung," aku tersenyum padanya.
"Semoga pilihanmu baik untuk masa depanmu yung, banyakin sabar ya," Lutvi menggandeng tanganku menuju asrama. Kita berjalan bersama untuk mengistirahatkan tubuh sejenak.
__ADS_1