
Aku masih malas membuka mataku, dering ponsel yang berbunyi sedari tadi aku abaikan. Aku lelah sekali setelah kemarin bertempur dengan pelanggan. Weekend ku selalu saja dipenuhi dengan kerja dan kerja. Peraturan toko yang tidak membolehkan karyawannya cuti di akhir pekan membuatku sedikit jengkel. Sebab akhir pekan itu adalah kesempatan terbaik untuk penjualan. Akan banyak orang yang keluar di hari itu dan menghabiskan waktu untuk berbelanja bersama keluarganya. Sehingga keuntungan sudah dipastikan akan naik persentasenya.
Berbeda dengan karyawan seperti kita yang harus merelakan waktu berakhir pekan dengan bekerja, dan mengganti cuti di hari biasa untuk bertemu keluarga. Bertolak belakang sekali. Sungguh hal yang tidak mengenakan tapi harus dilakukan.
"Ada hal penting yang mau aku omongin nih sama kamu," chat dari Danial membangunkanku. Setelah sepuluh panggilan darinya tak ku indahkan. Akhirnya aku beranjak dari tempat tidurku.
"Ada apa?" aku kirim balasan bersama emoticon sleepy padanya. Rasanya hari ini aku tidak ingin bekerja, namun aku harus membunuh rasa malasku. Seraya berjalan ke dapur mengambil air putih.
"Jalan yuk!" Tak lama balasan darinya muncul. Danial mengajakku kencan lagi.
"Mantai yuk!" Aku luapkan ideku padanya. Entah kenapa aku nggak pernah bosan kalau harus bolak-balik mantai. Seketika kantukku di telan bumi.
Seminggu kemudian aku pulang ke kotaku. Aku mengambil cutiku yang sudah ku rencanakan untuk berkencan. Singkat cerita Danial udah ada di depan rumahku aja. Dia menjemputku dan ini pertama kalinya aku pakai kaos couple an sama dia. Aku sengaja beli kaos couple warna toska dengannya. Meski agak malu dia mau menurutiku yang masih kaya anak kecil. Menurutnya ini kekanak-kanakan tapi dia memakainya juga. Aku padukan kaosku dengan pasmina warna biru yang senada dengan cardiganku. Sementara Danial memakai kaos couple tersebut bersama celana pendek warna hitam, tak lupa jam tangan g-shock melengkapi style nya. Danial berpamitan pada ibuku lalu kita memulai perjalanan setelah mendapat izinnya.
"Hati-hati di jalan, jangan pulang malam-malam," ibuku berpesan.
"Iya buk, pulang pagi aja," Danial berkata saat agak jauh dari rumahku. Aku tepuk bahu dia dan kita tertawa.
Bersamanya aku merasa selalu bahagia, hingga aku pernah merasa takut kalau kemunculannya tidak untuk tinggal. Namun aku menepis semua kenegatifan yang mungkin terjadi.
***
Suara ombak memecah kesunyian, kita berjalan di pasir putih di bawah cemara yang rindang. Sungguh indah pantainya. Dan karena masih termasuk wisata yang baru dibuka, sehingga tak banyak pengunjung yang datang. Apalagi ini bukan weekend dan akses untuk menuju kesini membutuhkan waktu relatif lama, sekitar dua jam dari rumahku. Dan kita harus membelah pegunungan dan jalan berkelok untuk sampai. Dengan banyak pohon di kanan kirinya., Sungguh perjuangan untuk sebuah pemandangan yang tak biasa.
"Aku mau bilang sesuatu," Danial memegang tanganku. Aku merasakan getaran di tubuhnya, seolah ragu untuk bicara. Lantas kita menghentikan langkah, setelah beberapa menit yang lalu memanjakan kaki dengan pasir yang lembut.
"Mungkinkah dia mau melamarku, ahha aku ini kebanyakan nonton film," aku menepis khayalanku, namun entah mengapa perasaanku tidak tenang. Aku takut.
"Katanya mau ngomong?" Aku menegurnya yang terdiam beberapa saat.
"Aku mau putus," Danial mengucapkan kata-kata itu.
Rasanya aku seperti dejavu, hal seperti ini aku pernah mengalaminya. Seperti kala itu, suasana ini, kata-kata ini, tak pernah aku lupakan dari memoriku. Lagi, lagi dan terjadi lagi. Keadaan ini terulang kembali. Aku kira dia akan memberiku kejutan yang indah. Namun ternyata ini lebih mengejutkan dari yang ku bayangkan. Hal yang tak pernah terduga sebelumnya.
"Nggak mungkinkan? Bercandakan?" aku mengelak. Aku melepaskan tangannya, aku tatap wajahnya. Aku tidak menemukan ini candaan, matanya berbicara serius. Nampak nanar mata itu.
"Ah sudahlah," Aku berjalan menjauhinya, menyusuri tepi pantai, aku berusaha menahannya namun air mataku mengkhianatiku. Dia jatuh tak henti-hentinya, sungguh tidak bisa berkompromi.
"Kenapa harus bilang putus di tempat seindah ini?" Aku mengumpat kesal.
__ADS_1
Danial mengejarku, ia berusaha meraih tanganku, namun ku tepis semula. Aku mengacuhkannya dan terus berjalan menjauhinya. Tiba-tiba dia berlari didepanku dan memelukku. Aku hanya bisa diam. Rasanya ucapanku tersekat di tenggorokan, air mataku telah mewakili semua perasaanku. Aku terperosok di atas pasir-pasir. Lalu Danial duduk sejajar denganku. Terlalu lama kita cuma diam. Hingga akhirnya Danial memulai percakapannya lagi. Jiwaku terkoyak lagi.
"Maafin aku!" Danial menatap kosong di kejauhan. Aku menolehnya, entah apa yang harus aku lakukan untuk menanggapinya. Suaranya terdengar parau.
"Aku minta putus bukan berarti aku nggak sayang kamu, tapi karna aku terlalu menyayangimu." Danial melanjutkan.
"Entahlah Dan, Aku sungguh bingung. Bukannya selama ini kita baik-baik saja?" aku menunduk dalam.
"Kamu mau dengar satu cerita," Danial menolehku, mata kita saling berpandangan. Seketika aku mengalihkannya. Danial menatap ombak yang bergemuruh. Dia menggenggam tanganku.
Flash back,
"Kamu mau jadi anak durhaka?" Suara Ayahku menggema di seluruh isi rumah. Dia sangat marah dengan keputusan kakakku.
"Kalau kamu tetap menikahi dia, pergi dari rumah ini," Ayah naik pitam.
"Baik, aku akan pergi, sesegera mungkin, bahwa aku akan tetap menikahi dia," kakakku sangat keras kepala. Dia sudah mengemas semua barang-barangnya.
"Le, jangan pergi," Mamaku menangis terisak. Ia memegangi tangan kakakku namun di tepis seketika.
"Ma aku mencintai dia, setidaknya kalau ayah menentang, semoga mama restui kami," Kakak memohon.
"Aku mohon, kalau ayah menentang setidaknya mama bisa merestui kami," Kakak melepas tangan mama dan berlalu pergi meninggalkan mama yang memohon dengan tangisannya.
"Dasar anak durhaka, kalau ada malapetaka bagaimana?" Ayahku mengumpat, amarahnya belum reda. Mama hanya sesenggukan geleng-geleng kepala ketika tubuh kakakku sudah jauh tak terlihat lagi.
Kakak mengikuti kata hatinya, dia memperjuangkan cintanya walau harus pergi dari rumah. Dia tak memedulikan perasaan ayah dan mama. Dia lupa denganku juga, bagaimana yang harus kehilangan kakak laki-laki satu-satunya. Dia yang mengajariku banyak hal dan menjadi panutanku. Dia yang rela mengalah ketika ayah memarahiku. Dia yang membela semua perilaku nakalku. Aku sedih juga dengan kepergiannya.
Sementara kakak perempuanku hanya bisa menangis dan mengelus punggung mama. Dia hanya bisa menemani mama untuk menguatkannya. Sebab keputusan kakak nggak pernah bisa dirubah. Dia orang yang tegas, jika ingin sesuatu harus mendapatkannya.
Wanita yang kakak cintai orang Sunda, katanya pernikahan suku Jawa dan suku Sunda tak diperkenankan. Banyak sebagian masyarakat yang mempercayai itu. Konon, jika ada dua orang dari suku-suku itu menikah, kehidupan mereka nggak akan bahagia dan sering diterpa masalah.
Mitos ini tercipta setelah tragedi Perang Bubat yang terjadi pada 1357 Masehi atau sekitar abad ke-14. Perang yang terjadi pada masa Majapahit diperintah oleh Hayam Wuruk itu bermula ketika sang raja berniat mempersunting Dyah Pitaloka Citraresmi, putri Kerajaan Pajajaran. Hayam Wuruk jatuh cinta pada sang putri setelah melihat lukisan seorang seniman bernama Sungging Prabangkara.
Kerajaan Majapahit lantas mengirim surat lamaran pada Maharaja Linggabuana. Rombongan Kerajaan Pajajaran kemudian berangkat ke Kerajaan Majapahit dan diterima di Pesanggrahan Bubat. Sayangnya, Gajah Mada yang saat itu menjabat sebagai mahapatih kemudian berniat menyerang mereka. Ini dia lakukan untuk memenuhi Sumpah Palapa dengan menaklukkan kerajaan-kerajaan di seluruh Nusantara.
Akibat serangan itu, rombongan Kerajaan Sunda yang hanya diiringi sedikit pasukan kalah. Semua anggota keluarga Dyah Pitaloka meninggal. Lantaran nggak kuat menahan kesedihan, Dyah Pitaloka nggak jadi menikah dan justru melakukan tindakan bunuh diri. Dengan tewasnya anggota keluarga Kerajaan Pajajaran, Pangeran Niskalawantu Kancana yang ditinggal di istana kemudian diangkat jadi penerus tahta.
Peristiwa itu merusak hubungan kedua kerajaan. Kerajaan Pajajaran kemudian melarang penduduk menikah dengan orang dari luar kerajaan. Sebagian menafsirkan aturan ini sebagai larangan untuk nggak menikah dengan orang dari Kerajaan Majapahit atau orang Jawa.
__ADS_1
Hingga kini, sentimen itu masih tersisa. Meski ada pula versi lain yang mengatakan sebenarnya Gajah Mada ingin menyatukan Kerajaan Majapahit dengan Kerajaan Padjajaran melalui pernikahan. Namun karena merasa masih punya tanggung jawab untuk memenuhi titah ayah Hayam Wuruk, niat itu lantas pupus.
Ayahku menentang pernikahan itu, ia takut akan terjadi malapetaka. Itu juga akan mempermalukan keluarga karena ia seorang ketua kampung. Banyak orang yang meminta dicarikan hari baik pernikahan kepadanya. Agar terhindar dari hal-hal yang tidak diinginkan. Bagaimana pendapat masyarakat jika keluarga ayah sendiri menentangnya, itu akan mencemari nama keluarga sendiri.
Flash back off
"Tapi itu kan legenda, cerita lama Dan, apa hubungannya dengan kita?" Aku menoleh Danial memastikan.
"Dyana banyak yang kamu belum tau tentang adat jawa." Danial menggenggam tanganku.
"Kamu anak pertama dan aku anak ketiga, itu juga dilarang." Danial menatapku sendu.
"Aku menghormati adat, tapi aku nggak percaya akan hal itu Dan, ini zaman modern, kenapa masih harus dikait-kaitkan dengan hal seperti itu yang terjadi ribuan tahun silam.." Aku mengajukan argumenku.
"Menurutku, jodoh, rezeki, mati sudah diatur sama Allah, hal seperti itu nggak bisa dijadikan patokan untuk menentukan kita bisa cocok atau nggak, semua tergantung diri kita masing-masing." aku mengutarakan pikiranku lagi.
"Kamu benar, tapi aku juga tidak bisa menentang aturan keluarga."
"Aku nggak mau bahas lagi," Aku meninggalkan Danial menuju motornya.
"Aku mau pulang," aku berteriak karna Danial tak bergeming. Lalu dia segera beranjak dan menghampiriku.
"Kamu tenang dulu ya Na," Danial memohon padaku.
Sepanjang jalan senyap tak bersuara. Aku sungguh dilema. Aku tak memeluk Danial sama sekali. Sesampainya di depan rumah, Danial pamit pergi namun tak ku tanggapi. Aku abaikan dia, terlihat dia tersenyum hambar seakan enggan meninggalkanku.
"Nggak mampir dulu Le," ibuku menawari Danial untuk singgah.
"Makasih buk, udah mau malam," Dia tersenyum dan melajukan motornya menjauh dari rumahku.
"Kok kayanya sedih gitu abis kencan?" Ibuku bertanya.
"Apaan sih buk," aku abaikan dan langsung masuk serta mengunci pintu kamar. Aku sesenggukan hingga melewatkan makan malam.
"Aku berharap tidurmu nyenyak." Pesan dari Danial semalam yang baru ku buka pagi ini.
"Iya nyenyak banget sampai mataku lebam." aku mengumpat kesal.
"Jangan khawatir," aku hanya membalas singkat pada akhirnya.
__ADS_1