
Seperti biasanya, kita mengulangi beberapa aktivitas yang sama seperti kemarin. Membuka toko, menyapu, menata display, melayani customer. Begitu setiap harinya. Terkadang penat dan bosan namun tetap semangat menjalaninya. Sebab di setiap harinya selalu saja ada hal yang berkah dan bisa dijadikan pelajaran dalam hidup. Setiap hari itu tidak akan pernah sama walau kita mengulang aktivitas yang sama.
Aku memulai pekerjaanku dengan keliling ke seluruh tempat tugas, mengambil rekapan catatan barang yang perlu minta tambahan dari gudang. Aku turun ke lantai satu, nampak sekali ramai, banyak remaja-remaja berburu kaos karena ada banyak sale. Sesekali akupun juga ikut membantu melayani pelanggan.
"Semangat-semangat." Aku menepuk pundak Lutvi yang nampak lesu. Dia terduduk di belakang dekat dengan ruang penyimpanan barang. Sementara di kasir ramai pelanggan yang membayar.
"Kamu kenapa Pil kok disini?" aku bertanya lagi seraya menempatkan telapak tanganku di keningnya. Dia nampak seperti orang sakit.
"Nggak enak badan yung, kepalaku pusing banget," Nampak mata Lutvi juga sayu.
"Kamu istirahat aja, nggak usah kerja." aku menyuruhnya kembali ke asrama. Lutvi nampak enggan, Ia masih ingin bekerja.
"Udah gapapa, nanti aku yang iizinin ke koordinator." aku menenangkannya.
"Tapi yung, aku ada jadwal masak juga buat buka puasa,"
"Udah nanti aku yang gantiin masak," aku membawa Upil berjalan menuju asrama.
"Din, aku bawa Lutvi istirahat dulu ya," Aku memberitahu Dina untuk menghandle semuanya. Setelah Lutvi terbaring di kamar aku mencari koordinatorku.
Aku dan koordinatorku mengubah jadwal hari ini yang tadinya sudah tersusun rapi. Sebab hal mendadak seperti ini di kala keadaan ramai sungguh merepotkan. Istirahatku harus diundur satu jam untuk mem back up lantai bawah yang kurang personil. Aku pula harus masak makanan buka puasa untuk seluruh karyawan toko.
Di toko ku kita di suruh masak sendiri, biasanya bergantian dan ada jadwalnya. Sehingga selain bekerja kita juga dilatih tanggung jawab. Mengurusi seluruh barang dan juga karyawannya. Aku yang baru saja ditunjuk jadi leader asrama banyak sekali belajar. Sebab Bunda Maya harus dipindahkan ke cabang lain. Ada hal darurat yang butuh penyelesaiannya sehingga aku menggantikannya beberapa hari ke depan sebelum dia kembali.
"Ya udah nanti kamu aja yang masak, ajakin Rina saja untuk membantu." koordinatorku berseru lalu melangkah menaiki tangga menuju lantai tiga.
Aku mencari Rina di display, dia sedang melayani pelanggan. Aku menunggunya selesai lantas menghampirinya.
"Rin, kamu bantu aku masak ya, Lutvi lagi sakit," Rina hanya mengangguk mengiyakan, lalu aku suruh Tika untuk menggantikan Rina menjaga display.
Sampai di dapur kita bingung mau masak apa, ada telur dan tahu sebagai bahan utamanya.
"Di masak apa nih Rin," aku minta pendapatnya.
"Terserah kamu aja deh mbak," Rina hanya nurut sambil membantuku mengupas bawang.
"Atau telur balado kaya yang mbak masak jumat kemarin, kata anak-anak enak banget," Rina yang ceria antusias banget dengan idenya.
"Hmm.. ya udah deh, telur balado aja sama tahu nanti bikin es buah juga aja, simple deh," aku tersenyum pada Rina.
Kita sibuk berpacu dengan bahan makanan mentah juga panci dan spatula. Sambil masak kita banyak bercengkrama.
"Mbak sebenarnya ada yang mau aku tanyain sih," Rina ragu-ragu.
__ADS_1
"Apa emangnya?" aku menolehnya.
"Aku punya temen nih, katanya dia itu temannya mantan mbak,"
"Mantan? mantan aku yang mana?" aku tertawa menggodanya.
"Yang kerja di pantai,"
"Danial?" aku mengecilkan api lantas memandang Rina.
"Iya mbak," Rina terkekeh malu karena menanyakan hal itu.
"Siapa nama temanmu?" Aku bertanya.
"Ara mbak, Geara," Rina mengulangi.
"Kok dia tau kalu aku punya mantan yang kerja di pantai?" aku menyelidik.
"Kemarin kan aku bilang, aku dipindah ke Blitar, terus Ara bilang jika pacar temannya disini, lalu aku tanya siapa gitu, eh nggak taunya mbak," Rina menjelaskan.
"Tapi ya mbak, kalu aku lihat Ara tuh kaya suka gitu sama Danial," Rina berargumen.
"Kok kamu bisa mikir gitu," aku heran tapi penasaran.
"Emang mbak udah putus ya sama Danial, kenapa?" Rina ingin tahu.
"Aku belum putus sama dia, emang kemarin ada sedikit masalah saja." Aku memberitahu Rina.
"Oalah.. gitu ya mbak," Rina setengah kaget.
Aku berdesir, aku menangkap arti lain dari kalimat Rina. Ketika Gea putus, Danial juga memutuskanku. Aku kebawa perasaan, sangat sensitif. Aku cemburukah? Atau aku tidak terima karena pernah diputuskan, meskipun sekarang sudah baik-baik saja.
"Rin, kamu mandi duluan gih, udah jam lima ini, nanti sisanya aku beresin," Aku menyuruh Rina mandi duluan, kita harus mandi gantian karena sebentar lagi adzan maghrib akan berkumandang. Aku mengalihkan pembicaraan juga dari Rina, rasanya hatiku seperti dihantui masa lalu Danial.
Tak lama Rina sudah rapi, aku bergegas mengambil handukku dan mandi.
"Rin ini tinggal masukin es batu aja, aku mandi dulu ya," aku menunjuk es buah yang sudah ku sajikan di gelas, ada sekitar 30 gelas yang ku siapkan. Dan berjalan ke kamar mandi.
"Iya mbak, beres deh," Rina mengacungkan jempolnya.
***
"Wah sedap nih bau-baunya," Uje mengendus layaknya kucing, dia emang orang super jail.
__ADS_1
"Siapa dulu yang masak," Aku julurkan lidahku padanya. Aku sengaja menyombongkan diri.
"Yeee.." Uje mencubit hidungku.
"Aww.. ish rese deh," aku cubit pinggangnya yang membuat Uje mengaduh.
Semua yang melihat pada ketawa. Semua mengambil kursi lipat yang disediakan untuk makan di dapur, dan mengambil tempat di sekitar lorong. Suasana riuh sekali, saling bercanda tawa. Asyiknya ketika buka puasa disini, kita nggak sendirian, kita makan sama-sama sambil sesekali bercerita.
"Yung, makan dulu gih," aku membawa nampan berisi makanan ke kamar. Lutvi nampak lemas, aku sarankan untuk tidak berpuasa dia tetap kekeh mau nunggu sampai buka. Lutvi bangun dari tidurnya dan duduk bersender di pintu loker.
"Mau aku suapin?" Lutvi geleng-geleng, tidak mau. Akhirnya setelah memastikan Lutvi makan, aku pergi ke dapur.
Kita buka puasa secara bergantian, sebab toko senantiasa buka. Lalu setelah sift kedua selesai berbuka, barulah kita tutup toko. Aku dan Rina dengan sigap membersihkan dapur juga. Terdengar suara pintu toko tertarik ke bawah. Inilah waktunya menunaikan sholat tarawih berjamaah di toko, tepatnya di lantai tiga. Kita mengundang pak Kyai untuk menjadi imam sholat.
Usai menjalankan sholat tarawih, kita melanjutkan aktivitas sampai pukul sepuluh. Malam ini sungguh lelah sekali, setiap hari harus bertempur dengan pelanggan yang selalu bertambah jumlahnya. Hari Raya sebentar lagi akan tiba.
Aku istirahat sejenak di balkon, pikiranku mengarah ke Danial.
"Geara siapakah dia?" aku memandang langit mencari jawaban yang sudah pasti tidak akan ku temukan.
drrtt..drtt..
Ponsel di sakuku bergetar, tertulis nama Danial di layar, seperti telepati saja, dipikirkan langsung menelpon.
"Hay," aku tersenyum ketika wajahnya muncul dilayar.
"Udah istirahat?" Danial bertanya.
"Udah selesai kerjanya, tapi masih di balkon ini," aku menunjukkan sekitarku setelah mengganti front cameraku menjadi back camera.
"Lihat deh, purnama.." aku mengarahkan ponselku ke langit.
"Iya bagus ya, sempurna." Danial mengucap kagum.
Aku pandang senyum yang selalu menenangkan itu, rasanya aku nggak mau kehilangan dia.
"Geara itu siapa sih?" to the point aku menjejas dia dengan pertanyaan yang sangat mengangguku ini. Sangat penasaran.
"Kamu tau dari mana nama itu?" Danial balik bertanya heran.
"Siapa kamu?" aku mengulangi namun dengan nada lembut.
"Masa laluku," Danial berkata singkat.
__ADS_1