Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Purnama Di Langit Singapura


__ADS_3

Sudah banyak malam terlewati, menikmati keindahan dari ketinggian lantai delapan. Lampu-lampu yang berkelip diantara pepohonan. Entah kenapa ada rindu yang menyeruak. Perasaan ingin mendengar suaranya meski untuk sesaat. Menatap wajahnya walau terhalang layar kaca.


"Aku sungguh merindukanmu Dan," aku membatin menatap langit.


"Purnama, hmm,"


"Mungkinkah kamu juga sedang memandang langit? mengutarakan perasaan, berkeluh kesah. Mungkinkah kamu juga merindukanku?" Aku hanya mengingat sekilas bayang-bayang semu. Perlahan mataku berkaca-kaca dan meneteskan air mata.


"Sesulit inikah move on? Kenapa melupakanmu sesakit ini? Aku kira aku akan baik-baik saja setelah jauh. Aku kira aku tidak akan merindukanmu seiring berjalannya waktu. Ternyata aku masih belum terbiasa."


"Kitanya udah nggak ada, tapi mungkin ingin bertemu masih ada, ingin memeluk masih ada, hikss .." air mata itu lolos dari mataku.


drrt..drtt .. Tanpa melihat aku mengangkat panggilan itu.


"Hallo.." Mungkin suara serakku sebab menangis terdengar jelas.


"Kamu kenapa?" suara lembut memasuki telingaku, suara yang tak asing, suara yang sangat ku hafal jelas, suara yang bisa menenangkanku, tapi kini suara itu yang semakin membuatku sakit menahan rindu.


"Danial?" aku mengusap air mataku, sebisa mungkin mencoba tenang.


"Kamu nangis?" Danial khawatir.


"Enggak kok, cuma dingin diluar, banyak angin," aku berpura-pura. Danial mengalihkan ke panggilan video.


"Angkat?" Suruh Danial sebab lama aku tak menekan tombolnya. Aku tengah berpikir, dimana aku tidak ingin dia melihat mataku yang lebam akibat basah dari air mataku.


"Telfon gini aja juga bisa kok, kenapa? Tumben menghubungiku?"


"Angkat dulu videonya?" Danial masih memaksaku mengalihkan ke panggilan video.


"Kenapa?" aku bertanya lagi, enggan sekali meski aku rindu melihat wajahnya.


"Angkat cepet," Akhirnya aku menuruti keinginannya dengan sedikit terpaksa.


"Kamu kenapa menangis?" serunya saat menjumpai mataku sembab.


"Nggak papa," aku berusaha tersenyum.


"Kita udah lama ya ga sama-sama," aku membuka obrolan, flashback sekejap ke masa lalu. Aku tidak tahan ingin mengutarakannya.

__ADS_1


"Jangan diingat-ingat," suara Danial tersirat kesedihan juga.


"Cuma teringat," aku berpura-pura tersenyum.


"Jangan menangis," Danial mengingatkanku.


"Kenapa ya Dan kisah kita jadi kaya gini," keharuan memenuhi lubuk hatiku.


"Kamu jangan seperti ini, aku juga sedih melihatmu kaya gini," Dia masih perhatian seperti dulu.


"Boleh nggak sih aku egois, aku ingin kamu, aku ingin kita kaya dulu," aku sesenggukan.


"Tapi kamu tahu kan, adat melarang kita, dan aku nggak mungkin mengecewakan orang tuaku, aku sudah dijodohkan." Kata-kata itu terdengar menghujam.


"Maaf Dyana, dengan seperti ini mungkin kamu sudah tidak berharap denganku. Aku harap kamu melupakannya. Aku ingin kamu segera bahagia, maaf telah membohongimu lagi, yang artinya semakin mematahkan hatimu dengan ucapanku ini. Meski sebenarnya hanya kamu juga yang aku inginkan." Batin Danial bersuara yang artinya orang diseberang tak bisa mendengarnya.


"Memang benar, aku hanya kalah dengan satu wanita pilihan ibumu, dan kenyataannya kamu juga menyerah dan melepaskanku." Isakku padanya. Rasanya aku seperti ingin marah. Ingin meluapkan semua perasaan yang terpendam. Mengungkap semua kepura-puraan yang aku baik-baik saja.


Awalnya, dengan aku memohon dia dengan tidak pergi, meski harus berteman saja, dia akan luluh dan kembali, kenyataannya seperti ini malah saling menyakiti. Aku berbohong jika sudah tidak memiliki perasaan padanya. Begini pintarnya aku yang berharap tulus menyembunyikan hal sebenarnya. Seolah aku rela namun sebenarnya sangat mengharapkannya kembali.


Kesepakatan yang sudah dijalani bahwa kita hanya berteman, ternyata menyiksa diriku sendiri. Dia sudah benar-benar menyerah. Dia menganggap kita benar-benar teman sekarang. Aku keliru masih berharap hanya dengan sikapnya yang masih perhatian padaku.


Flash Back on,


Danial Pov,


Di rumah kakek ramai sekali orang duduk bersila, membaca sholawat dengan dilagukan. Ya, hari ini diadakan kenduri untuk memperingati hari meninggalnya nenek. Semua keluarga berkumpul termasuk pakdhe, paman dan mak cik semua hadir bersama anak cucu mereka. Ayahku tiga bersaudara, ia nomor dua. Nenek sudah lama meninggal ketika Pakdhe masih remaja.


Sedikit cerita ku dengar dari paman, nenek meninggal tak lama setelah pakdhe menikah. Istri pakdhe, yang sering ku panggil Bi Minah ternyata anak ketiga. Sehingga banyak orang mengaitkan-ngaitkan dengan adat yang sudah lama dipercayai. Semacam tradisi yang tidak bisa diganggu gugat bahwa anak pertama dan ketiga tidak diizinkan menikah menurut adat Jawa. Meskipun dilain sisi, bahwa kematian itu merupakan takdir Allah yang sudah digariskan. Tidak ada satupun manusia yang tahu, dan tidak sepatutnya dikaitkan seperti itu.


Setelah lima tahun menikah baru Bi Minah dikaruniai seorang putri. Sulit hamilnya disangkut-pautkan dengan adat, sebab mereka melanggarnya. Banyak argumen masyarakat yang seolah dikuatkan dengan fakta tersebut. Padahal anak itu titipan, kita tidak mengetahui asal-usulnya. Alhamdullillahnya pernikahan mereka langgeng sampai sekarang.


Sebab itu, anak pertama dan ketiga benar-benar harus dibatalkan pernikahannya bagi keluarga yang mempercayai tradisi ini. Keluargaku tidak ingin mengulangi hal semacam itu. Walaupun dalam pikiranku, zaman sudah berubah. Namun aku juga tidak bisa egois dengan orang tuaku, sebab dia yang telah membesarkanku. Banyak pertimbangan jika harus melawan. Seperti yang Dyana juga bilang.


"Awal yang nggak baik, nggak akan berakhir baik."


Aku ingin ketika menikah, perempuanku mencintaiku dan keluargaku juga bisa menerimanya. Tidak bertentangan dengan adat, meski awalnya aku keras kepala, semakin kesini aku semakin tersadar walaupun sebenarnya cinta juga harus rela melepasnya.


Flash back off,

__ADS_1


"Ya mungkin kejahatan terbesarku adalah tidak menginginkan kamu bahagia jika kebahagiaan itu bukan berasal dariku Dan," aku pasrah.


"Na, kamu bakal dapet yang bakal sayang sama kamu lebih dari yang ku lakukan,"


"Aku tidak perlu lebih Dan, cukup kamu sudah selesai," nampaknya memang tak ada harapan.


"Kamu jangan terpaku dengan masa lalu Na," Danial menasehatiku.


"Kamu nggak tau Dan, gimana sulitnya bagiku membangun kepercayaan terhadap laki-laki. Sebab aku banyak kehilangan kasih sayang dari laki-laki yang ku cintai pertama kali. Kamu tau sendiri ayahku sudah tidak peduli lagi." hiks..hikss ..


"Na, kamu nggak boleh gitu, mungkin ayahmu sedang sibuk,"


Otakku nggak bisa diajak berpikir jernih. Kebucinan yang menyakitkan ini seolah membuat semua hal menjadi negatif untukku dan menderita overthinking parah.


"Na, aku paham kamu, tapi kamu harus bangkit. Nggak cuma kamu yang broken home, banyak diluar sana yang lebih menderita dari padamu."


"Ya, memang benar, tapi aku bukan mereka yang bisa sekuat itu. Aku punya batas akan diriku sendiri. Seberapa beban yang mampu ku hadapi hanya aku yang tahu."


"Na, sudah jangan sedih, kamu pandang langit deh," Danial mencoba mengalihkan pembicaraanku.


"Purnama," aku menggumam pelan.


"Lihat dunia masih indahkan? Cahaya purnama ini yang akan menuntun jalanmu ke depan. Semua nggak akan gelap lagi," Danial berusaha menghiburku. Melupakan bahwa kita punya kenangan bersama. Menghapus semua bahwa kita pernah bertukar cinta.


"Kamu nggak akan sendirian, akan banyak bintang disekelilingmu Na nantinya," Danial tersenyum simpul.


"Maafkan aku Na," hanya kalimat itu yang banyak memenuhi pikirannya.


"Maaf Dan, tadi aku benar-benar marah, nggak bisa menerima keadaan kita sehingga bicara kaya gini," perlahan pikiranku mulai tenang.


"Aku ini memang plin-plan, tak punya pendirian." hufft aku menghela nafas.


"Berulang kali mengucap kata rela namun kenyataannya masih sedikit kecewa dan belum menerima. Dasar aku!" batinku dan tersenyum lagi pada Danial.


"Aku paham kesulitanmu Na, jangan khawatir." tenang Danial padaku.


"Iya Dan, semua tentang kita hanya tertinggal rindu."


Tak lama Danial mengakhiri panggilannya setelah memastikan aku tidak akan menangis lagi. Aku masih menatap langit, dengan taburan bintang dan purnama. Aku menitipkan doa semoga semua akan baik-baik saja. Semoga rasi bintangku akan menemukan ujungnya. Semoga kelak tidak akan lagi menghabiskan waktu dengan orang yang salah.

__ADS_1


"Selang beberapa tahun dari sekarang, kamu akan melihatku bahagia Dan. Melihatmu tidak lagi sakit, mengingatmu tidak lagi melukai, memikirkanmu tidak membuatku patah hati lagi." Aku bertekad dan berlalu ke kamarku, pergi tidur.


__ADS_2