
Dyana Pov,
Toko selalu ramai di bulan Ramadhan sehingga banyak menyita waktuku. Sedari pagi banyak pembeli yang sudah mengantri untuk membayar. Kasir sangat sibuk. Begitupun aku yang harus segera menyelesaikan laporan keuangan juga. Jika bulan sebelumnya aku akan merekap laporan seminggu sekali. Sekarang setiap hari harus bisa menyelesaikannya.
Aku tak khawatir membiarkan Rina sendiri, dia cepat sekali belajar dan memahami. Namun meski begitu aku menyuruh Lutvi untuk menemani dan memantaunya. Karena aku harus menyelesaikan tugasku yang lain. Tidak bisa terus bersamanya.
Pukul setengah sembilan aku sudah selesai merekap laporan di bantu teman yang lain, yang bertugas di kasir juga. Usai menyimpan uang di brankas dan memastikan sudah terkunci dengan benar, aku menutup toko.
Seperti biasa sebelum tutup toko kita akan evaluasi kinerja hari ini, setelah itu berdoa agar diberikan keselamatan ketika pulang, serta semoga yang kita lakukan hari ini membawa berkah dalam ibadah mencari rezeki.
"Hari Raya kurang seminggu, sudah bisa dipastikan toko akan semakin ramai, tetap jaga kesehatan, jaga emosi, istirahat yang cukup, semangat puasanya dan terimakasih kalian hari ini sangat baik dalam melayani pelanggan. Pertahankan kualitas kerja kalian," seru koordinatorku dengan antusias.
Setelah beberapa evaluasi yang disampaikan kita merapatkan barisan membentuk lingkaran dan menyatukan tangan.
"Indofashion Aziziah," seru Fajar yang sekarang merupakan leader di tim pakaian cowok.
"Islamic dan Barokah," serentak semua menyahut dengan semangat seraya mengangkat tangan ke udara. Bersorak gembira.
Semua keluar dengan senyum bahagia. Akhirnya setelah pertempuran hari ini, bisa pulang dan merebahkan badan di kasur. Semua bersuka cita saling bercanda seraya berjalan ke parkiran. Penat yang tak terasa ketika kita memiliki teman yang bisa menyemangati.
Aku, Rina dan Lutvi perlahan-lahan menuruni tangga sambil bercerita. Menceritakan kegiatan hari ini. Menceritakan betapa sibuk dan lelahnya tubuh ini.
"Tadi aku seneng banget tau mbak, bisa jual hijab 2 kodi, katanya mau di buat THR nanti," Rina antusias bercerita, karena ini pengalaman baru untuknya, dan ia bangga bisa menjual banyak.
"Wah, bagus donk, lebih semangat lagi ya, biar stok bisa cepet habis," aku menyemangatinya.
"Kamu harus pinter-pinter ngomong buat promosi, tawarkan barang dengan ramah dan detail, tunjukkan kualitas dan sisipkan beberapa pendapat pribadi, misalnya warna hijab ini lebih cocok untuk jenis kulit seperti anda, dan biarkan mereka mencoba, terkadang itu bisa menjadi referensi untuk pembeli, lalu pembeli nggak ragu-ragu lagi untuk membelinya." aku menasehati Rina berdasar pengalaman yang telah ku pelajari.
"hufft, hari ini aku malah sebel banget, tau nggak ada ibu-ibu rewel banget dilayani, minta ini itu semua aku tawarin nggak ada yang bener, minta warna lain aku ambilin salah, selalu minta yang nggak ada di stok, dan setelah semua yang aku tunjukin dia malah beli yang dari display an. Menyebalkan," Lutvi bercerita penuh emosi seraya menghentakkan kaki juga. Dia mendengus kesal.
"Tadi stok di tempatku sampai berantakan soalnya aku harus bongkar-bongkar mencari yang dia mau," Lutvi melanjutkan bicaranya.
"Hahha sabarlah Pil," aku merangkulnya. Dan kita bertiga tertawa.
"Hay, sudah selesai kerjanya," Uje yang baru turun dari asrama cowok menghampiriku. Kita langsung berhenti tertawa.
"Loh kamu disini, sejak kapan?" aku bertanya.
"Tadi sore dianterin pak Rifai, katanya butuh tambahan personil," Uje menjelaskan.
"Loh, tadi aku kok nggak lihat kamu," aku heran.
"ohh itu tadi aku di gudang, menata barang," Uje ikut berjalan menuruni tangga.
"Haha pacar baru ya yung," Lutvi menggodaku. Sebab dia belum tau jika aku sudah baikan dengan Danial.
Aku hanya tertawa, "Apaan sih,,"
"Iya, kemarin di gudang mesra banget," Rina menimpali. Uje hanya tersenyum menyeringai.
"Kalian ini ada-ada aja," aku menuruni tangga duluan.
"Emang kenapa kemarin di gudang?" Lutvi menyahuti perkataan Rina. Dia penasaran.
__ADS_1
"Itu kata pak Arif mereka pelukan di gudang," Rina sengaja mengeraskan suaranya, sambil perlahan menuruni tangga mengikutiku.
"Siapa yang pelukan?" Uje berusaha membantah.
"Pelukan apanya, fitnah deh," aku menoleh memelototi Rina, sedikit malu juga, teringat akan kecerobohanku.
"Hehe, upps.." Rina membungkam mulutnya dengan tangannya sendiri.
"ciiee sayungg.. udah dapat barang baru nihh," Lutvi semakin menggodaku.
"Kalian tuh ga tau cerita sebenarnya, siapa juga yang pelukan," aku menyenggol lengan Lutvi yang sudah berjalan disisiku.
"Aku balik ke atas dulu ya," Uje menaiki tangga dan menoleh tersenyum padaku. Dia geleng-geleng kepala mendengar candaan Rina dan Lutvi.
Tiba-tiba Lutvi diam dan menutup mulutnya, dia mengodeku dengan matanya. Aku nggak paham dan memberi isyarat balik bertanya dengan mataku juga.
"Yung, aku masuk dulu sama Rina," Lutfi menggandeng tangan Rina berlalu memasuki asrama. Aku bingung dengan sikap mereka.
Saat aku menoleh, tak jauh dari tempatku berdiri Danial sedang memperhatikanku. Aku kaget sejak kapan dia disini. Dia tak memberitahuku jika akan datang. Danial membalikkan tubuhnya dan berjalan melangkah pergi keluar gerbang. Dia berjalan menjauhi tokoku.
Aku mengejarnya, dia pasti salah paham. Aku menyebrang jalan menuju taman depan toko. Danial berjalan ke arah air mancur.
"Danial," Aku berteriak agar dia berhenti. Dia terdiam di tempatnya. Aku dengan langkah tegas menghampirinya. Aku berdiri di depannya, dan dia hanya diam memandang jauh.
"Kamu salah paham," aku berusaha menjelaskan. Danial mengeluarkan ponsel dari sakunya. Dia menunjukkan fotoku saat bersama dengan Uje. Entah kapan dia bisa dapat foto seperti itu.
"Tadinya aku mau minta penjelasan untuk foto ini," Danial mulai membuka suara.
"Tapi sepertinya sudah nggak ada yang perlu dijelasin," Danial nampak putus asa.
"Oh, namanya Uje," Danial berdehem.
"Kamu salah paham," aku memegang tangan Danial.
"Kenapa dengan tanganmu?" aku baru menyadari tangannya yang terluka.
"Gapapa kok," Danial menyerahkan plastik di tangannya padaku.
"Jangan lupa makan," Danial melepas pegangan tanganku dan melangkah ingin pergi.
"Tanganmu kenapa?" aku ulangi pertanyaanku. Dia berusaha melangkah menjauhiku saat aku mencoba memegang tangannya kembali. Dia melepaskan tanganku dengan lembut. Dia berjalan menjauh dariku.
"Kamu tidak mempercayaiku?" aku berkata tegas padanya. Danial hanya diam dan menghela nafas.
Aku berbalik badan dan memeluknya dari belakang.
"Aku sungguh nggak ada apa-apa sama Uje, aku mohon percaya padaku. Ini hanya salah paham,"
"Lalu foto ini?" Danial berbalik menghadapku.
"Darimana kamu mendapat foto itu?" aku balik bertanya.
"Kamu belum menjawab pertanyaanku." Dia memandangku.
__ADS_1
"Waktu itu aku mau kembali ke gudang timur, tiba-tiba saja lampu merah, Uje rem mendadak, aku juga nggak sengaja memeluknya, karena takut akan terjatuh." aku langsung menjelaskan apa adanya pada Danial.
"Jangan bilang kamu cemburu ya?" Aku mulai menggoda Danial yang mulai tenang.
"Menurutmu?" Danial bertanya lagi.
"Maaf, maaf juga aku jarang menghubungimu, toko ramai sekali, aku sangat sibuk," aku berusaha membujuknya.
"Sibuk atau bukan prioritas?" Danial menatap mataku.
"Jangan berpikiran negatif," Aku mencubit hidung Danial yang lebih beberapa centimeter dari hidungku.
"aww.. " Danial berteriak. Aku ketawa.
"Jangan marah lagi ya," aku menatap balik manik mata yang menenangkan itu.
"Bukan berarti aku izinin kamu deket-deket lagi sama si Uje itu," Danial mengingatkanku.
"Siap boss ku,," aku hormat padanya layaknya komandan upacara.
"Nggak usah cemburu, yang kemarin di gudang itu karena dia menahan tumpukan baju yang mau roboh mengenaiku," aku memicingkan mataku seraya menjelaskan intinya.
"Kamu gapapa kan tapi, ada yang sakit nggak?" Danial nampak khawatir.
"Nggak papa kok, nih aku sehat bugar kaya gini," aku tunjukkan muscle di lenganku padanya.
"Tapi itu tanganmu kenapa Dan?" aku bertanya kesekian kalinya.
"Tadi jatuh, semua gara-gara kamu tau," Danial duduk di bangku kayu di pinggir air mancur.
"Kok bisa jatuh gara-gara aku?" aku mengikutinya dan duduk di depannya.
"Kamu nyalahin aku?" aku pura-pura cemberut.
"Iya abisnya aku mikirin kamu terus, dari kemarin nggak ada kabar, malah dapat foto gini lagi akunya," Danial mendengus kesal.
"Kamu harus minta maaf nih sama tanganku, jadi sakitkan," Danial mengarahkan tangannya ke depan mukaku.
"cupp.." aku cium tangannya. Sikap manjanya mulai lagi. Seorang laki-laki segagah apapun kalau bersama orang yang dicintainya akan berubah kekanak-kanakan.
"Udah nggak sakit lagi kan?" aku tersenyum. Danial tersenyum juga.
Gemiricik air mancur menjadi sound music romance di taman ini. Langit dark blue yang menghiasi angkasa, meski hanya ada satu dua bintang namun syahdu sekali. Menenangkan.
"Makan dulu gih," Danial menyuruhku.
"Kamu kesini nggak bilang-bilang?" aku menanyakan kenapa dia kesini malam-malam.
"Malam-malam lagi, dengan tangan terluka, kamu naik apa?" aku terus nyerocos.
"Buka mulutmu?" Danial menyodorkan sesendok nasi goreng. Akupun melahapnya.
"Nah, makan, daripada ngomel?" Danial tersenyum.
__ADS_1
"Motor kamu mana?" aku mencari-cari sepanjang parkiran taman.
"Aku naik bus," Danial menjawab yang membuatku memelototkan mataku.