
Geara Pov,
Sesudah putus dari Danial, aku berpacaran dengan Azam. Awalnya Danial masih menghubungiku. Namun mulai aku abaikan sebab aku tak mau selalu dihantui perasaan yang sulit untuk dilupakan. Aku mencoba berpaling dan membuka hatiku untuk Azam.
Azam adalah salah seorang teman ku di sekolah menengah. Berkali-kali dia menyatakan perasaan kepadaku namun aku lebih memilih Danial pada saat itu. Akhirnya rencana cuma harapan saja, aku dan Danial tidak mendapatkan restu dari orang tuanya.
Azam selalu sabar menungguku untuk mencintainya, akupun berusaha memberikan kebahagiaan untuknya. Aku memutuskan menerimanya. Namun sulit sekali untuk benar-benar melepas Danial. Rasanya aku dan Azam hanya cocok untuk menjadi teman. Sebisa mungkin aku menyisihkan tempat untuk Azam dihatiku, saat itu juga aku merasa jahat sebab membohongi perasaanku.
"Aku mau kita putus," aku memutuskan Azam, dari awal aku telah jahat padanya, aku tidak ingin berlarut lama.
Azam tulus padaku, aku sangat berterimakasih. Aku nggak bisa selalu memanfaatkan perasaannya yang mau mengalah dan lebih banyak mengerti akan diriku.
"Aku minta maaf Zam," aku menangis dihadapannya.
"Kamu nggak salah Ge, aku yang memaksamu untuk mencintaiku," Azam baik banget, sangat-sangat baik sehingga aku merasa malu padanya.
"Tapi Zam, ini semua salahku, yang memanfaatkan perasaanmu, kamu datang saat aku patah hati, dan kamu bisa perlahan membuatku nyaman, namun setelah lama aku berpikir dan merasa, kita hanya cocok untuk sahabatan saja, maaf aku egois," aku menunduk.
Sakit rasanya, mengucapkan kata yang menyakitkan, pada orang yang telah menyembuhkan sakitmu sebelumnya. Bodoh sekali aku, menyakiti seorang yang sangat tulus mencintai. Sedangkan Danial, aku tau dia sudah memiliki pengganti. Tapi tidak selamanya aku bisa terus berpura-pura. Perasaan beda alurnya dengan logika. Hati lebih banyak berperan jika menyangkut cinta.
Bagaimana bisa aku melepaskan orang setulus Azam, hanya demi masa lalu yang sudah lama terkenang. Hanya demi masa silam yang terus membayang. Hanya demi dia yang mungkin sudah tidak menganggap aku ada bahkan sudah menemukan tambatan hatinya.
Mungkin ini waktunya aku sendiri saja, mengobati luka yang menganga. Sebab melepas seorang yang tulus hanya untuk sebuah harapan yang pupus, ya, aku bodoh, bodoh sekali. Sudah tau aku dan Danial yang sudah pasti tidak bisa bersama malah berusaha putar balik mengharap hatinya kembali.
"Azam," aku menangis memeluknya.
"Gapapa Ge, kalau aku nggak bisa menggandeng tanganmu, ingat aku selalu ada dibelakangmu, aku akan tetap menjagamu," Aku semakin menangis tersedu-sedu. Terbuat dari apa hati Azam yang begitu lembut. Sementara aku sadar telah menyia-nyiakannya.
***
Flashback on,
"Dan, ketemu yuk," aku rindu sekali padanya, ternyata mengabaikannya tidak bisa membuatku melupakannya.
"Aku di Kopi Bima sekarang," pesan dari Danial menggetarkan ponselku. Tak ku sangka dia akan membalas pesanku.
__ADS_1
Danial yang sedang dilanda rasa cemburu kepada Dyana hanya karena melihat sebuah foto, membalas pesan Gea dan memenuhi permintaannya untuk bertemu.
"Aku kesana sekarang," tanpa berpikir panjang, aku berencana menemui Danial. Usai berganti baju aku gas motorku menuju Bima. Sekitar dua puluh menit aku sudah memakirkan motorku di depan kedai.
"Kamu sendirian?" Aku menjumpai Danial yang duduk di pojokan.
"Sendirian, tadi ketemu Andi sih, tapi dia kencan sama pacarnya," Danial masih seperti biasanya, ramah dan friendly. Dia sama sekali nggak berubah, bersikap sewajarnya terhadap siapapun.
"Mau pesen apa?" Danial menanyaiku. Perbedaan status hubungan kita sekarang, nggak membuat Danial berubah sikap terhadapku.
"Masih suka cappucino?" Danial bertanya lagi, aku jawab dengan anggukan. Lalu dia memanggil barista dan memesannya.
"Kamu ngapain ngajakin ketemu?" Danial menelisik maksudku.
"Aku nggak bisa lupain kamu," aku jujur sama Danial tentang perasaanku.
"Kamu juga tau kan aku sudah punya pacar," Danial tegas mengucapkan kata-kata itu.
"Aku tau, aku juga dengar kamu sudah putus dengannya," informasi yang ku dapat dari salah satu teman Danial.
"Aku sayang sama dia," Danial terang-terangan menghujam perasaanku.
"Aku sudah putus dengan Azam," aku sekedar memberitahu Danial.
"Ge, sebenarnya aku ga mau lepasin kamu juga, tapi karna orang tuaku aku harus menyakitimu, tapi dengan Dyana, aku tau orang tuaku tidak setuju. Namun aku ingin berjuang untuknya. Mungkin kisah kita emang cuman seperti ini akhirnya." Danial menggenggam tanganku. Memastikan aku merasa bahwa kita tidak mungkin untuk bersama.
"Kamu tetap orang yang pernah aku sayangi Ge, kamu tetap menjadi kamu yang bisa menenangkan aku dulu, mungkin aku sekarang lagi ada sedikit masalah dengan Dyana, namun bukan berarti aku akan kembali kepadamu" Danial jujur akan perasaannya.
Aku mendengar cerita Danial dengan seksama. Mungkin ini jalan takdirku. Belum bisa dibersamakan dengan orang yang ku cintai. Aku tidak menyesal juga melepas Azam. Karena mungkin hatiku belum sepenuhnya siap untuk sebuah jalinan cinta yang baru.
"Aku bahagia kalau kamu bisa bahagia Dan walau bukan bersamaku." Klasik memang aku berbicara seperti itu. Lagi-lagi hati dan mulutku tak sinkron. Ketika bersamakupun Danial hanya memikirkan Dyana.
"Aku pulang dulu ya Dan," aku pamit, setidaknya aku lega telah meluahkan perasaanku yang sebenarnya.
"Aku anterin," Danial mengambil bill di meja dan membayarnya di kasir. Aku tunggu dia di parkiran. Danial keluar sambil menenteng plastik coklat.
__ADS_1
"Untukmu," Danial menyodorkan plastiknya. Aku buka sedikit dan lihat isinya, sepotong strudel kesukaanku.
"Aku minta maaf ya, hatiku bukan untukmu lagi, " Danial memakai helmnya. Aku tersenyum, rasanya aku benar-benar ikhlas sekarang melepasnya.
Meski pernah menjatuhkan harga diriku sendiri. Aku bangga pernah mencintainya, seseorang yang tidak mudah tergoda dan hanya mempertahankan satu cinta.
Sepanjang jalan aku banyak berpikir, Danial mengikutiku dari belakang. Aku sesekali memandangi kaca spion, nampak wajahnya yang tenang.
"Terimakasih pernah mencintaiku di masa lalu Dan." Aku membatin, seraya memasuki gerbang rumahku. Danial berhenti di depan rumahku. Aku parkir motor di teras dan memandangnya. Dia tersenyum menenangkan. Aku membalas senyumnya dengan keikhlasan. Lantas Danial memutar arah motornya dan kembali pulang.
Flash back off,
***
Dyana Pov,
"Masa lalumu?" Aku mengulang kata Danial.
"Iya, kamu jangan berpikir macam-macam," Danial mengingatkanku.
"Tapi aku denger dia putus dari pacarnya, dan kamu juga memutuskanku kemarin," Aku meluahkan perasaanku.
"Sebenarnya aku sempet ketemu Gea kemarin, dia ngajakin balikan," Danial jujur padaku. Deg, hatiku seperti dihujam mendengarnya.
"Kamu jangan khawatir, aku udah janji bakal perjuangin kamu kan," Danial melanjutkan kata-katanya.
"Dia hanya masa laluku." Danial memastikan dia dan Gea memang sudah selesai. Terkadang aku emang sering overthinking sebab kita Ldr an.
"Kamu nggak usah janji, janji yang nggak ditepatin hanya akan nyakitin," aku tidak berharap dia menjanjikan apapun.
"Paham kok, aku nggak bisa menjanjikan materi dan segalanya, tapi aku akan memastikan kamu selalu bahagia." Danial tersenyum lembut.
"Aku akan perjuangin kamu sebisaku," aku hanya tersenyum dan mengangguk.
Usai video call yang berlangsung lumayan lama itu, aku menuruni tangga dan kembali ke asrama.
__ADS_1
Di tempat lain, Uje yang tak sengaja mencuri dengar percakapan Danial dan Dyana nampak kecewa. Ia yang sebenarnya masih menyimpan rasa pada Dyana harus dipaksa mundur dengan kenyataan ini. Banyak sekali cinta sebelah tangan yang sia-sia.
Terkadang gitu, ketika kita suka, belum tentu dia akan suka, ketika sama-sama suka nggak boleh bersama, yah, alur cinta memang semaunya.