Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Basecamp


__ADS_3

Danial Pov


Aku parkir motorku di teras rumah Andi, bersama motor temanku yang lain. Rumah Andi selalu ramai setiap hari. Orang tuanya yang tinggal di luar kota membuat Andi tinggal sendirian. Dia tak mau ikut orang tuanya karena dia tak mau pindah sekolah sewaktu SMA.


Dia menyukai lingkungan disini dan tentunya karena banyak sahabatnya juga disini. Dia yang sedari lahir tinggal disini sangat sulit jika harus beradaptasi di lingkungan lain lagi. Karena kita ngumpulnya selalu disini, sehingga rumahnya dijadikan basecamp.


Aku masuk ke kamar Andi dan melempar jaketku. Aku rebahkan tubuhku di kasur yang berukuran king size itu lalu memejamkan mataku.


"Kenapa lo?" Andi bersuara seraya asyik memainkan PS4 nya bersama Dicko.


"Gue putus, tapi gue sayang," aku menjawabnya lesu.


"Kenapa lo putus?" Dicko menghentikan permainannya.


"Ayah nggak ngebolehin," Aku mendudukkan diriku.


"Adat lagi?" Dicko menatapku memastikan. Aku cuma berdehem dan mengangguk.


"Trus rencana Lo apaan, lo putusin Dyana gitu aja?" Andi menyahut.


"Gue bingung, gue sayang sama dia, gue bakal cari jalan keluarnya. Gue nggak mau kehilangan dia seperti gue kehilangan Gea." Aku memantapkan hatiku.


"Semangat ya Dan," Andi menepuk punggungku.


"Lo tanya pak Ahmad deh Dan, diakan Mudin di kampung ini," Dicko memberi saran.


drrt drtt..


Ku raih ponselku yang bergetar di saku. Ku usap layar dengan senang karena itu pesan dari Dyana.


"Beneran kamu mau ngusahain hubungan kita?" Setelah lama menunggu akhirnya Dyana membalas pesanku.


Aku langsung video call dia. Rasanya teduh melihat wajahnya, namun terlihat sekali raut kesedihan. Dan hanya beberapa kata dari Dyana lantas ia mengakhiri panggilanku. Aku lempar ponselku, aku usap kasar wajahku. Bagaimana aku harus menjelaskan. Aku bingung.


"Pak Ahmad ya?" aku bertanya kepada Andi serius.


"Coba deh, siapa tau ada jalan keluarnya?" Andi balik bertanya seraya mengernyitkan dahi.

__ADS_1


"Thanks ya," aku menepuk pundak Andi dan beranjak dari kasurnya.


"Gue pergi dulu," lari keluar buru-buru. Andi dan Dicko celingukan saling pandang. Lalu melanjutkan gamenya.


"Dani tuh kalau pacaran gagal mulu ya, kasian banget," Dicko mengutarakan isi hatinya.


"Iya, dulu kek apa dia pas ditinggal Gea, sekarang udah mulai membaik ada-ada aja," Andi menimpali.


Danial memacu motornya pulang. Sepanjang jalan dia memikirkan saran Andi. Ia tak bisa hanya berdiam diri. Ia harus mencari solusi.


"Le, kamu sudah pulang," Mama Danial berpapasan di ruang makan saat ia akan memasuki kamar.


"Makan dulu Le," ajak mama Danial, beserta tatapan ayahnya yang seolah menyuruhnya duduk.


"Sudah kenyang buk, makan dirumah Andi," lalu Danial memasuki kamarnya.


***


Dyana Pov


"Pil, lagi galau nih," aku merengek mengirim pesan pada Lutfi.


"Ngaffe yuk," aku gabut dirumah. Pengen keluar pengen tenang. Aku ajak Lutfi untuk menemaniku. Aku butuh dia untuk mendengarkan curhatanku.


Pukul tiga sore Lutfi sudah berada di depan rumahku. Aku keluar dan duduk di jok belakang. Motor beat nya melaju mengangkut kita menjauhi rumah. Kita mengelilingi kota yang belum tau mau pergi ke kaffe mana. Aku hanya berusaha menikmati hari ini untuk melepas penatku. Berbaur bersama angin yang ku harap bisa melenyapkan luapan sedihku.


"Kemana nih yung?" Lutfi bingung dengan tujuan, apalagi aku, lebih tak tau.


"Terserah deh, pokoknya gue pengen tenang yung," aku pasrahkan Upil untuk memilih tempat.


Satu jam sudah kita hanya menyusuri jalanan. Beradu dengan kepadatan kendaraan di jam pulang kerja. Akhirnya Lutfi mengajakku ke Bukit Jaas Permai. Disana kita bisa melihat pemandangan kota dari atas. Suasana kaffe yang modern namun dipenuhi banyak tanaman hias sungguh menyejukkan. Suasana sepi mengelilingi, hanya beberapa pasang mata yang menduduki bangku kayu, karena bukan hari weekend.


Tak lama makanan yang kita pesan diantarkan. Pelayan dengan ramah dan cekatan meletakkan satu-satu piring dari nampan ke atas meja.


"Silahkan dinikmati," Seraya meletakkan cangkir terakhir dan bill lalu beranjak pergi.


Ketika senja mulai mewarnai langit, aku sedang duduk dihadapan milk tea yang menguar aroma manis. Memandang langit jauh yang berwarna orange. Lutfi duduk disampingku sembari menyeduh milk shake nya. Alunan piano mengiringi, menghibur hati-hati yang sepi.

__ADS_1


"Gimana ceritanya sih yung, kok bisa putus?" Lutfi membuka percakapan.


Aku menghela nafas, menyesap milk tea dalam-dalam dan meletakkan cangkirnya. Aku menoleh pada Lutfi.


"Adat jawa pil, aku sendiri masih menerka-nerka."


"Sabar ya yung, kamu kuat kok," Lutfi mengusap bahuku. Karena dia paling tau bagaimana kisah cintaku. Yang selalu pupus terhunus keadaan. Selalu gagal. Aku bersandar di bahu Lutfi seraya bercerita segalanya.


Setidaknya, meskipun hatiku retak berulang kali, masih ada sahabat yang akan menenangkan keluh kesahku. Sore ini, langit indah namun mataku berkaca-kaca memandangnya.


Sudah lama kita hanya duduk tenang. Saling menguatkan. Lutfi tak bosan menemaniku hingga lampu temaram di bawah sana mulai menghiasi. Sudah jam delapan malam namun kita masih belum beranjak. Setelah menghabiskan burger akhirnya kita berencana pulang. Kita menembus jalanan malam dan menyibak kedinginan. Setidaknya perasaanku sedikit lega.


"Makasih ya yung, hati-hati dijalan" Lutfi tersenyum dan melajukan motornya. Menjauh dari rumahku.


Aku rebahkan tubuhku di atas sprei biru. Aku peluk nemo pemberian Danial. Rasanya aku kangen sekali dengannya. Kamarku yang dipenuhi hiasan-hiasan berbau pantai sungguh menenangkan. Langit-langit biru dan tembok orange dengan berbagai stiker ikan menghiasi. Disudut kamar ada nakas dengan berbagai miniatur ikan menjadi pelengkapnya. Tak lupa aquarium mini bergemericik di sebelah tempat tidurku.


Aku raih ponselku, memandangi fotoku dan Danial ketika bersama. Sebuah foto yang menunjukkan ekspresi senang namun tidak dengan hatiku sekarang. Foto yang selalu ceria dan nampak mesra namun sekarang aku terluka. Begitulah foto, akan terlalu terlihat sama ekspresinya namun dalam perasaan bisa saja berbeda. Dan perlahan aku terlelap.


***


Sudah dua hari aku mendiamkan Danial. Aku selalu memikirkan ucapannya.


"Benarkah dia akan berjuang?" akhirnya aku tak tahan juga untuk menghubunginya.


"Dan..." aku kirim pesan untuknya.


Aku ingin memperbaiki hubungan ini. Setelah dia video call kemarin dan ku matikan begitu saja dengan alasan ingin tenang. Aku mulai sadar bahwa aku tak boleh egois juga, sebab aku sayang, aku nggak ingin ini terus berlarut-larut.


"Sudah baikkah perasaanmu?" Danial membalas dengan cepat.


"Sudah bisa untuk bicara, aku udah mikirin."


"Aku minta maaf ya Dyana, aku akan cari jalan keluarnya." Danial membujukku.


"Kita belum putuskan?" Danial meminta pernyataanku.


Danial menyesali apa yang pernah dia ucapkan. Sebenarnya dia tidak ingin memutuskan hubungan ini. Tapi kekacauan dipikirannya membuatnya mengucapkan kata-kata yang menyakiti. Tanpa disadarinya.

__ADS_1


"Aku harap kedepannya kita baik-baik saja ya," Aku mengutarakan perasaanku. Dan malam itu hubungan kita kembali baik.


__ADS_2