
Dyana Pov,
Hingga malam Danial tak memberiku penjelasan. Aku menunggu balasan pesan darinya dan yang ada hanya centang dua biru.
"Ada apa denganmu Dan?" aku menggumam. Aku enggan memasuki asrama.
Aku masih terpaku menduduki tangga di depan toko. Memandang hujan yang membuat lenggang jalanan. Hanya lampu merah yang berkedip, sesaat berubah hijau walau tidak ada satupun kendaraan yang lewat.
Aku sering mengecek ponselku berharap mendapat balasan namun nihil. Aku pandangi salah satu foto di galery ku. Wajah Danial memenuhi layarku. Aku usap perlahan, berharap dia ada disampingku sekarang.
Mata yang membulat tajam, hidung yang lancip melebihi punyaku, bibir yang mungil, sangat tampan menurutku. Suaranya yang serak membuatku rindu. Semua yang ada pada dirinya. Aku sangat menyukainya. Sikapnya yang slengekan menjadi ciri khasnya. Aku tak bosan dengan apa yang ada pada dirinya. Semuanya.
Aku teringat waktu pertama kali berjumpa, dengan beraninya dia mendatangi rumahku. Meminta izin makcikku untuk mengajakku keluar. Semua itu belum pernah ku rasakan, bersama lelaki sebelum dia. Aku merasa telah menemukan dia yang bisa menjadi pengisi hatiku, memberikan kasih sayang yang hilang dari sosok ayahku. Dia yang berbeda cara dalam mencintaiku. Aku sungguh nyaman. Dia yang hadir tepat disaat aku terluka, yang benar-benar mampu membuatku melupakan masa laluku bersama kak Fariz dulunya.
"Dan, aku harap hubungan kita tetap baik-baik saja." aku menggumam lirih dengan hati yang gusar.
Entah mengapa aku sangat rindu padanya malam ini, padahal hanya hari ini dia tak menghubungiku. Aku masih bisa berpikir positif sebelumnya, namun karena dia yang memprivasi story nya dariku membuatku curiga. Dia bukan dia yang biasanya.
"Yung, masuk yuk, dingin di luar," Upil yang berada di ujung tangga meneriakiku.
"Kamu duluan deh, aku masih ingin disini," aku mengabaikannya.
Hujan yang enggan berhenti bersamaan dengan air mataku yang jatuh berderai. Perasaanku sungguh kelam malam ini.
"Yung, ayo masuk," Upil berteriak lagi. Akhirnya aku mengalah, menuruni tangga dengan tatapan kosong.
Aww. . tak sadar aku terpeleset karena air yang membasahi lantai akibat hujan. Lutvi terburu-buru menghampiriku dan memapahku berdiri. Aku tak bisa fokus, pikiranku melayang ke Danial.
"Hati-hati yung," Lutvi membantuku berjalan ke asrama, lalu mengompres kakiku yang hanya sedikit terkilir.
"Maafkan aku yung," Lutvi membatin, bersalah.
"Dan, Dyana terkilir, dia jatuh dari tangga." Lutvi mengirim teks pada Danial, untuk memberitahunya.
Danial yang sudah memejamkan mata mencoba untuk tertidur, terganggu oleh deringan ponselnya. Sesaat membaca pesan Lutvi, ia langsung terduduk.
"Tolong kamu jaga dia ya, besok aku akan menemui dia, menjelaskan segalanya." Danial menjadi kepikiran akan Dyana. Dia ingin cepat menyelesaikan masalahnya. Dia minta tolong pada Lutvi yang ia tahu adalah teman dekat Dyana untuk merawat Dyana.
Danial tak tenang, bagaimanapun ia sangat menyayangi Dyana, meski ia menjadi pengecut dengan sekali lagi akan melukainya.
****
__ADS_1
"Kamu nggak usah kerja ya yung," Lutvi menyuruhku istirahat.
Aku hanya berdiam diri di asrama. Tak ada satupun pesan juga dari Danial. Aku tidak tau kenapa, semua tidak ada penjelasan. Selama ini komunikasi kita berjalan baik. Namun nampaknya sekarang mulai merenggang.
"Haruskah hubunganku berakhir?" aku bertanya-tanya. Mengingat sulit sekali orang tuanya memberikan restunya untukku.
"Beginikah akhirnya?" Aku pasrah akan keadaan. Entah kenapa feelingku menjurus kesana. Tiba-tiba suara notifikasi dari ponselku terdengar.
"Keluarlah!"
"Danial?" aku mulai tersenyum. Terburu-buru aku meraih jaketku dan sedikit menyeret kakiku yang masih sakit.
"Dimana?" aku yang antusias sudah berada di gerbang, mengedarkan pandanganku mencarinya. Aku melihat Danial di seberang jalan, dia yang melihatku bergegas menghampiriku.
"Naik," aku menurutinya tanpa banyak berkata. Perlahan aku menarik kembali senyumku. Nampak sikap Danial sangat dingin. Selama perjalanan hanya senyap. Danial sangat berbeda, dia cuek sekali padaku, tidak seperti biasanya setiap kali kita berjumpa.
"Maafkan aku Na," batin Danial berperang selama perjalanan.
Dia memarkirkan motornya di alun-alun kota. Dia menggandeng tanganku, membawaku duduk di sekitaran pohon beringin. Aku hanya menurutinya.
"Masih sakit?" Danial memegangi kakiku.
"Udah nggak kok," Aku berpura-pura, agar ia tak khawatir.
"Ada yang mau aku omongin sama kamu," Danial menatapku sayu.
"Kalau masalah kamu pergi sama teman-temanmu, aku ga masalah kok," Aku menjawabnya begitu, mungkin itu yang ingin ia jelaskan. Walau sebenarnya aku sedikit kecewa.
"Bukan itu," Danial memalingkan wajahnya.
"Lantas?" aku balik bertanya.
"Hubungan kita," Danial mulai resah.
"Kenapa dengan hubungan kita?" aku pura-pura tidak paham, walau sebenarnya aku tau intinya. Mungkin Danial ingin putus denganku. Terlihat dari sikapnya yang mulai berubah dalam memperlakukanku.
"Aku.. aku mau kita.." Danial ragu-ragu.
"Putus?" aku melanjutkan kalimatnya.
"Maafkan aku Na," Danial merasa bersalah.
__ADS_1
"Hmm.. gapapa kok Dan, aku cukup paham dan mengerti dengan kondisi kita," aku enggan menatap Danial. Aku takut aku nggak mampu menahan air mataku.
"Aku benar-benar minta maaf, aku menyerah sekarang," Suara Danial serak.
"Aku tau kok, mungkin karena aku dari keluarga broken home juga, aku belum cukup baik untukmu Dan," aku melepas pegangan tangan Danial.
"Bukan itu maksudku, ibuku sangat menyukaimu sebenarnya," Danial berusaha menjelaskan.
"Ini soal adat, nggak ada hubungannya sama keluargamu," ia melanjutkan.
"Keluargaku juga menjadi salah satu faktornya Dan, pasti ayahmu beranggapan anak broken home itu kebanyakan ga bener, nakal, ga bisa jaga diri, dan one day, juga bakal mengulangi kesalahan orang tuanya," aku mulai insecure dengan keadaanku. Aku overthinking.
"Tapi kamu wanita kuat yang pernah ku temui, kamu tegar dan sabar menghadapi apapun." Danial meraih tanganku lagi.
"Mudah membuat lelaki jatuh cinta padaku Dan, tapi sulit untuk membuat keluarganya menerimaku juga, aku sangat paham itu, pernikahan pasti memperhatikan bibit, bebet, bobot, sebagaimana keluargamu yang sangat menjunjung tinggi tradisi. Aku bisa paham itu Dan, kamu nggak usah khawatir denganku." mataku mulai berkaca-kaca.
"Kita masih bisa sahabatan kan," aku memberikan jari kelingkingku. Aku berusaha setegar mungkin.
"Jangan tinggalin aku, aku perlu waktu." Tangisku pecah. Aku nggak sanggup lagi menahannya. Berpura-pura kuat di hadapannya. Rasa ini seperti terpatri untuknya. Baru kali ini aku benar-benar merasa jatuh cinta hingga takut kehilangannya.
"Aku bakal selalu nemenin kamu, menghubungimu walau nggak seintens dulu," Danial menyetujui jika kita bersahabat.
"Kamu juga nggak boleh kecewain lagi orang tuamu, dia sudah kecewa dengan kakakmu, kamu anak lelaki terakhirnya, satu-satunya harapannya, buatlah dia bangga." Rasanya aku harus menelan semua egoku dengan berkata seperti ini. Aku harus menerima kenyataan bahwa aku harus melepaskannya kali ini.
Aku cukup sadar diri, bahwa restu yang sulit terpenuhi, hanya akan melambungkanku ke awan lalu menghempaskanku ke bumi. Aku cukup tau itu. Sebab Danial tidak bisa memastikan juga tentang pernikahan. Aku nggak mau menghabiskan waktu dengan orang yang salah walau teramat menyedihkan melepaskannya seperti ini.
Dihadapannya aku pura-pura tegar dan sabar menerima keputusan ini. Aku belum cukup mampu untuk benar-benar membiarkannya pergi. Mungkin jika dia menjadi sahabatku, aku masih bisa melihatnya dan merasakan sedikit perhatiannya. Walau aku tau itu menyakiti dan membodohi diriku sendiri. Bersikap seolah semua baik-baik saja, seolah semua seperti biasanya, tidak ada yang berubah dari hubungan ini. Aku seperti ini hanya untuk menahannya disisiku sampai aku benar-benar bisa berdamai dengan hatiku sendiri.
Sudah cukup aku dipatahkan oleh keluarga dan dihancurkan oleh cinta. Aku sudah puas selalu gagal dalam menjalin ikatan. Aku merasa seperti kesulitan menemukan lelaki yang tepat untukku. Selalu saja ada yang membuat hubungan ini harus berakhir dan tak bisa diperbaiki.
"Aku minta maaf," Danial menunduk.
"Kamu nggak perlu minta maaf, nggak ada yang salah," aku berusaha tegar.
"Aku sangat mencintaimu Na," Danial memelukku.
"Aku juga Dan, tapi kita nggak bisa memaksakan keadaan. Aku cukup tau diri," lalu hanya ada keheningan yang terjadi.
"Ah sebenarnya aku sangat malu dengan Dyana. Namun kepribadiannya yang tidak dimiliki wanita lain itu dengan legawa menerima keputusan keluargaku. Katanya kita masih bisa sahabatan. Ya sekarang dia bisa berkata demikian. Tapi aku paling tahu dia, di lubuk hatinya yang terdalam menyimpan sejuta kekecewaan. Dia selalu pandai menutupi perasaannya." Dalam diam aku bicara, sambil memandang wajahnya yang pias. Suara hati Danial berbicara.
"Kamu sudah meminta putus dua kali denganku Dan, mungkin memang lebih baik aku lepaskan. Toh aku juga nggak tau sampai kapan orang tuamu akan luluh," Aku sudah pasrah. Sebisa mungkin aku pendam perasaanku yang sesungguhnya. Aku nggak boleh lemah dihadapannya." Aku lirik Danial hanya membisu.
__ADS_1
"I want you still around me Dan," Hatiku berkata demikian. Meski bukan lagi sebagai pasangan.