
Danial Pov,
Aku sungguh tak habis fikir, baru semalam juga baikan. Dyana sudah bisa mesra dengan cowo lain. Perasaanku kacau, aku cemburu. Salahku juga bilang putus padanya. Tetapi bukankah kita sudah baikan juga.
"aargghh.." aku usap kasar wajahku. Aku menjadi tak menentu.
"Tenang Dan, tenang, ini cuma potret," aku mengusap dadaku.
"Apa yang bisa dijelaskan dari potret?" Aku menerka-nerka.
"Pasti ini tidak seperti yang kamu fikirkan," Aku berbicara sendiri. Berusaha berpikir positif.
"Lebih baik ku tanyakan pada Dyana saja," Aku bergegas mengecek ponselku.
"Kamu lagi apa?" Aku memberinya pesan. Aku baru menyadarinya bahwa sedari pagi dia belum mengabariku. Tak lama centang dua biru sudah terlihat.
"Aku mau balik ke Blitar," Dyana membalasku cepat.
"Dia sudah sembuhkah dari sakitnya?" aku sejenak memikirkannya lagi.
"Kok nggak bilang, kan aku bisa anterin," Aku menawarkan untuk mengantarnya. Aku khawatir.
"Gapapa kok, tadi dianterin ibuk ke gudang."
"Kamu nginep situ?" Aku merasa sikap Dyana cuek, ataukah karena aku melihat foto itu jadi mempengaruhi penilaianku terhadapnya. Ataukah rasa cemburu teramat mengganggu sebab aku teramat mencintainya.
Biasanya aku dan Dyana juga seperti ini. Chat sewajarnya, jarang manggil sayang atau panggilan lain umumnya orang pacaran, seperti umumnya yang teman-temanku biasa lakukan. Aku yang slengekan namun romantis kata Dyana. Dyana yang terlihat cuek namun diam-diam perhatian di belakangku.
Aku dan Dyana memiliki kisah kita sendiri. Aku juga jarang mencampuri privasinya, asal dia mengabariku itu sudah cukup. Begitupun dia, karena kita sama-sama berpikir bahwa kita juga memiliki kesibukan masing-masing. Dia punya teman dan beberapa kegiatan lainnya. Akupun sama. Begitu halnya hubungan kita, kita pandai-pandai meluangkan waktu saja. Kita saling terbuka.
Apalagi beda kota, aku hanya bisa mempercayainya. Jarak dan waktu masih terbagi untuk saat ini, sehingga kita sama-sama harus saling mengerti.
Namun perasaanku saat ini seperti menuntut penjelasan secepatnya. Perasaanku egois karena ternodai cemburu. Banyak prasangka negatif di benakku, hanya karena melihat sebuah foto, yang menurutku memang sedikit mesra juga. Yang belum jelas ku tau apa arti sebenarnya.
__ADS_1
Aku menunggu balasannya, namun tak jua ada notification dari ponselku. Aku pandangi terus layarku tak juga menyala. Aku mengecek pesanku padanya, apakah tidak terkirim, pikirku. Dan yang ku temui hanya centang dua biru. Menandakan pesanku sudah terbaca namun dia enggan membalasnya.
Aku hampir frustasi dibuatnya. Aku menanti balasannya, meminta klarifikasi darinya. Aku berharap ini tidak seperti yang ku bayangkan.
Lama aku menunggu tak jua dibalas, aku memutuskan keluar. Rasanya penat sendiri berharap akan segera mendapat pesannya, dengan sejuta pikiran negatif yang berputar-putar. Membuatku berprasangka saja.
Motorku berhenti di sebuah kedai kopi. Aku berjalan ke pojokan, cuman disana ada bangku kosong. Barista membawakan secangkir espresso kehadapanku. Kopi dengan penyeduhan tekanan tinggi yang beraroma khas. Uapnya menguar di udara, sedikit menenangkan perasaanku.
"Eh.. ngapain loe sendirian disini?" Andi menggebrak meja membuyarkan lamunanku.
"Gabut," aku jawab cuek dan menyeduh kopiku.
"Loe bisa patah hati juga ya bro," Andi menarik kursi dan duduk dihadapanku. Aku hanya memelototkan mataku.
"Loe tanya Dyana lah, minta penjelasan biar loe nggak uring-uringan." Andi menyarankan.
"Gimana mau tanya kalau chat gue aja nggak di balas," aku mendengus kesal melempar hp ku di meja.
"Ya udah samperin aja sana ke Blitar," Andi berdiri dan melangkah pergi.
"Mau kemana loe?" Aku setengah berteriak pada Andi.
"Kencan," Andi terkekeh.
"Rese banget, gue patah hati malah dia lagi ngebucin," aku kesal menahannya.
***
Dyana Pov,
Hari ini Rina ditugaskan bersamaku, sebab kita sudah lumayan nyambung dengan beberapa obrolan. Sehingga koordinator berpikir aku saja yang melatihnya. Memberitahu dan mengenalkan barang apa saja disini dan menunjukkan bagaimana memberikan pelayanan yang baik kepada customer.
"Pertama kamu lihat-lihat saja barang di stok, nanti kalau kamu sudah hafal letaknya aku ajarin gimana berkomunikasi dengan baik pada customer." Aku menyuruh Rina untuk mengecek etalase hijab, dia ditugaskan untuk menghandle mukena dan hijab. Sebab bulan ramadhan, tempat ini yang paling ramai, sehingga membutuhkan tambahan personil.
__ADS_1
"Mbak ada pashmina satin?" seorang wanita menghampiriku yang sedang menata display.
"Mau warna apa mbak?" aku tersenyum melayaninya.
"Maroon mbak," Lalu aku mengambilkan beberapa pashmina dengan brand dan material yang berbeda-beda. Setelah menemukan yang diinginkannya, dia berlalu ke tempat lain untuk menemukan outfit lain yang cocok dengannya.
Hari ini toko ramai sekali. Rina juga sudah pandai mengatur emosinya ketika berhadapan dengan customer yang menguras tenaga dan terlalu sulit permintaannya. Padahal baru sehari namun Rina sudah bisa adaptasi dengan baik, di tengah ramainya customer sambil berpuasa juga.
Usai menutup toko, aku duduk di ayunan. Rasanya penat sekali. Aku sandarkan kepalaku menikmati semilir angin dan riuhnya kendaraan di jalanan. Meski hampir pukul sebelas malam namun kendaraan memadati jalanan, di alun-alun kota diadakan acara bersholawat akbar.
Tokoku yang letaknya sangat strategis berada di jalur menuju kota, membuat tak pernah sepi akan suara motor dan mobil yang bising berlalu lalang. Taman di depan toko yang baru saja diresmikan juga selalu dipenuhi pasangan muda-mudi yang saling bercengkrama, bersama sahabat maupun pacar masing-masing. Ramai di luar, namun sunyi dihatiku.
Aku hanya memandang jauh ke taman, ke jalanan, mengayunkan pelan kakiku, hingga teringat akan Danial yang seharian ku abaikan. Cuma chat dia tadi pagi yang menyemangatiku. Setelah itu aku disibukkan oleh aktivitas yang membuatku tak ada waktu untuk sekedar memikirkan Danial.
Ketika waktu istirahat tiba, aku langsung menyanggah piringku dan mengisi keroncongan perutku. Lalu aku sebisa mungkin untuk tidur sekejap, sebab jam tutup toko harus mundur lebih lama lagi di bulan Ramadhan. Sehingga tak ada waktu untuk sekedar mengechat Danial dengan jam istirahat yang terbatas. Aku sudah lelah.
Aku suka sekali sendirian, memberikan waktu pada diriku untuk tenang. Memikirkan sesuatu yang sebenarnya tak pernah ingin ku pikirkan lagi. Seperti sekelebat masa lalu yang kelam yang bisa saja tiba-tiba menghampiri. Memenuhi otakku yang akhirnya hanya melahirkan kegundahan hati.
Untuk menghubungi Danial malam ini pun aku sungguh tak ada mood. Entah kenapa rasanya aku malas sekali menggunakan ponselku. Aku ingin sendiri tanpa gangguan. Hatiku dilanda kerisauan yang tak ku tahu penyebabnya. Tiba-tiba saja merasa seperti itu. Tiba-tiba saja tak tenang. Tiba-tiba saja malas akan banyak hal.
Aku memejamkan mataku mendengar alunan musik merdu melalui earbuds ku. Aku ingin damai.
"Yung, masuk dulu, udah malem," Lutvi mengagetkanku.
"Ohh,," aku mengerjapkan mataku.
"Kamu ada masalah yung?" Lutvi menduduki tempat kosong di sampingku.
"Nggak ada kok yung, ingin sendiri aja, ingin tenang," aku bicara apa adanya.
"Beneran?" Lutvi memastikan.
"Iya, cuman malas ngapa-ngapain aja," lalu aku beranjak dari dudukku.
__ADS_1
"Kalau ada apa-apa cerita ya yung," Lutvi mengingatkanku. Lalu kita berdua memasuki asrama.