Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Rumah Danial


__ADS_3

Kecanggungan masih berlalu beberapa waktu hingga akhirnya ibuku datang.


"Eh, nak Danial, sudah lama?" sapa ibuku dan Danial menyalaminya.


"Belum kok buk, minal aidzin wal faidzin ya buk," ucap Danial ramah.


"Sama-sama, ayo dimakan apa yang ada, nggak usah malu," ibuku menawarkan.


"Nak Azam kerja dimana sekarang," ibuku mengganti menyapa Azam. Ibu sudah mengenal Azam sejak kita masih SMA. Sebab hubungan keluargaku dengan keluarga Azam sangat dekat.


"Saya kerja di kantor pegadaian buk," Azam tersenyum.


"Le, ayo pulang, bapak di tunggu Om Hendra di rumah," ajak ayah Azam.


"Pamit dulu ya," Ayah Azam menyalami ibu dan ayahku. Aku menyalaminya juga.


Selepas Azam dan ayahnya pulang. Danial meminta izin pada ibuku, untuk mengajakku ke rumahnya.


"Buk aku berangkat ya," aku pamitan.


"Jangan pulang malam sangat ya, hati-hati di jalan," ibuku berpesan.


"Kita pamit ya bu," Danial menyalami orang tuaku.


"Lihat yah, anak kita sudah dewasa," ibu berujar pada ayahku yang hanya di balas senyuman, saat aku sudah meninggalkan pelataran rumah.


"Ramai sekali ya," aku membuka percakapan. Danial hanya diam mengelus tanganku yang berada dipinggangnya. Kendaraan berlalu lalang memecah gemerlap lampu jalanan. Banyak sekali dekorasi khas lebaran di sekelilingnya. Janur, ketupat, dan berbagai spanduk ucapan idul fitri berdiri kokoh.


"Semoga ayah segera luluh kalau aku sering membawa Dyana ke rumah," Danial membatin dalam hatinya.


"Kok diam aja kenapa?" Aku menyadarkan Danial.


"Nggak papa kok, aku seneng deh lebaran kali ini aku denganmu," Danial melajukan motornya pelan, menikmati angin untuk mengusir rasa gundahnya.


"Sebenarnya aku tau yang kamu pikirkan Dan, akupun sebenarnya juga takut, ketika selayaknya aku tidak diterima oleh keluargamu, apa yang harus aku lakukan," Aku resah juga dalam hati.


"Berhenti di taman Sekartaji yuk," aku mengajak Danial, berhubung rumahnya melewati taman itu.


"Boleh," Tak lama motor Danial sudah berhenti di parkiran. Aku melepas helm ku begitu juga Danial.


"Apa sih yang mengganggu pikiranmu?" aku bertanya pada Danial.

__ADS_1


"Nggak ada apa-apa, kamu tenang ya," Danial menangkup wajahku di antara kedua tangannya.


"Kamu jujur sama aku, aku begitu nggak tau malu nggak sih, sudah tau orang tuamu belum menyetujui hubungan kita, tapi aku kekeh berkunjung ke rumahmu," Aku melepas tangan Danial dari wajahku.


Aku tatap jauh ke dasar kolam yang menggambarkan bayanganku dan Danial. Nampak begitu dekat terpantul di air yang tenang. Namun sebenarnya ada jarak yang jauh yang tak terlihat di antara kita.


"Shhtt.. kamu jangan ngomong begitu," Danial menempelkan telunjuknya di bibirku.


"Aku yang mengajakmu bertemu orang tuaku, aku akan melindungimu, untuk meluluhkan hati ayahku. Aku ingin memperjuangkan hubungan kita. Kamu jangan khawatir ya."


"Seharusnya aku menolak ajakanmu saja." Aku gusar saat ini. Aku ragu tidak mampu menghadapi tanggapan keluarga Danial.


"Yuk, jalan, kamu nggak usah mikir macam-macam." Danial mengecup keningku pelan. Akupun memeluknya.


Aku sudah sampai di depan pintu kayu berukiran itu, rasanya langkahku berat sekali untuk memasuki rumah Danial. Perasaanku berlarian overthinking akan sesuatu.


"Eh.. nak Dyana, masuk," ibu Danial menyambutku ramah. Aku tersenyum lantas menyalaminya.


"Duduk sini," ibu Danial menunjuk ke kursi kosong di hadapannya.


"Makasih ya buk," aku duduk, berusaha mengusir rasa grogi yang membuat jantungku berdetak lebih cepat.


Ayah Danial keluar dari dalam, dia tersenyum padaku. Akupun membalas dan menyalaminya. Dia duduk dihadapanku. Sedikit ketakutan memudar dengan sendirinya ketika ayah Danial menyapaku.


Beberapa obrolan ringan sedikit menenangkanku bersamaan dengan ibu Danial yang menyuguhkan teh hangat kepadaku. Tak lama ayah Danial masuk ke dalam, meninggalkanku dan Danial di ruang tamu bercat putih itu.


"Dan, mungkinkah ayahmu mulai menerimaku?" aku bingung memikirkannya.


"Aku berharap begitu," Danial memegang tanganku dengan wajah yang penuh harapan.


Sesekali kita mengabadikan momen kebersamaan seraya mencicipi nastar yang dibuat oleh ibu Danial sendiri.


"Ibu kamu pintar banget ya buat kue, enak tau, aku harus belajar nih darinya." aku menikmati gigitan demi gigitan nastar yang manis.


"Nggak usah, kamu belajar mencintaiku saja," Danial menoel hidungku.


"Itu mah nggak usah belajar, aku udah lulus," kita bercanda hingga lupa waktu.


"Udah isya nih, anterin pulang," aku meminta Danial. Akhirnya aku berpamitan dengan kedua orang tua Danial. Setidaknya perasaanku sedikit lebih lega sekarang.


****

__ADS_1


Danial Pov,


"Kamu itu ya, dibilangin orang tua nggak pernah mau nurut," jejas ayah saat aku baru memarkirkan motorku.


"Apa sih maksud ayah?" aku bingung.


"Kamu tau kamu sama dia itu nggak mungkin bisa menikah?" suara ayahku menggema diseluruh sudut rumah.


"Pak, anak kita baru pulang, kita bicarakan besok saja," ibuku mengelus tangan ayah untuk meredakan emosinya.


"Yah, semua ada jalan keluarnya," aku tetap kekeh.


"Lebih baik kamu putus sekarang daripada lebih sakit hati nantinya," ujar ayah sungguh menghujam perasaanku.


"Dasar anak keras kepala," lanjutnya lagi.


"Aku akan perjuangin Dyana sampai ayah luluh, atau ayah emang nggak suka sama Dyana?" cercahku emosi juga.


"Bukan masalah suka atau nggak, tapi masalah kamu sama dia ada batas yang tak terlihat."


"Apa yah, jangan menghubungkan tradisi yang sebenarnya sekarang ini juga sudah mulai tergeser dengan hal modern," Akhirnya aku bisa mengutarakan argumenku.


"Terserah kamu," ayah berjalan memasuki kamarnya meninggalkanku yang kecewa dengan sikapnya.


Ayah berhenti di depan pintu dan memandangku,


"Aku tidak melarang kalau kamu mau berteman sama dia, tapi jangan pernah sekalipun kamu mengungkit soal pernikahan." Ayah menutup pintunya.


"Aku menghormati adat, namun Allah yang menentukan kan? Aku yakin kalau kita nggak meyakini hal buruk akan terjadi, hanya hal baik saja yang akan menghampiri. Bukankah ucapan adalah doa?" aku masih yakin dengan pemikiranku.


"Apapun caranya, aku harus memperjuangkan Dyana," aku memasuki kamarku dan merebahkan tubuhku. Berusaha merilekskan pikiran-pikiran yang seolah hanya menemukan jalan buntu.


"Kak, aku sekarang bingung, disisi lain aku nggak mau mengecewakan ayah, namun aku juga sangat menginginkan Dyana, ingin hanya dia yang akan menemaniku kelak. Ingin dia yang menjadi satu-satunya wanita dalam hidupku. Aku sudah sering kehilangan, haruskah kali ini aku juga harus rela melepaskan?" Aku kepikiran kakak, dia sudah lama sekali nggak pernah menghubungiku lagi.


"Bagaimana aku menjelaskan kepada Dyana, aku nggak mungkin memberinya harapan yang terlalu tinggi jika aku nggak mampu mewujudkannya. Aku nggak bisa menjalani hubungan yang tak akan sampai pada pernikahan."


"Dalam setiap hubungan yang terjalin, hanya ada satu tujuan akhir, yaitu perpisahan. Entah sebaik apapun hubungan, nggak pernah bertengkar sekalipun. Semua juga akan berpisah, hanya saja masa dan caranya yang berbeda."


"Entah perpisahan dengan cara baik ataupun cara buruk, semuanya tetap memiliki rasa sakitnya."


"Di dunia ini nggak ada dua orang yang akan sama-sama terus, aku paham, tapi apa salah jika aku ingin untuk saat ini, dia yang akan berada disisiku,"

__ADS_1


"huuuaahhhh.." aku menggeram menahan amarah.


"Apakah benar-benar nggak ada yang bisa aku lakukan?" Aku memandang langit kamarku, yang pekat akan kesunyian seperti apa yang ada dalam hatiku. Bimbang.


__ADS_2