Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Pillow Case


__ADS_3

Aku berusaha menenangkan diriku, berpikir positif dengan apa yang terjadi. Aku bertekad memberi kesempatan untuk hubungan ini. Kita sama-sama akan memulai untuk sesuatu yang baru. Mungkin aku masih ragu, namun rasa nyamanku ketika bersamanya meminimalisir semua itu.


“Kamu masih marah?” kak Fariz menyapaku. Aku berhenti mencatat laporan.


“Nggak kok, aku bertekad memulainya denganmu, semoga kamu tidak mengecewakan,” aku balas datar, bagaimanapun dia masih punya perasaan untuk wanita lain, apapun itu alasannya, dia masih belum sepenuhnya menerimaku. Tapi aku yakin ingin bersamanya.


“Aku akan berusaha sebaik mungkin, beri aku kesempatan,”


Aku tersenyum menanggapinya. Aku merasa lega, semua yang berkecamuk perlahan menemukan ketenangan. Bagi orang lain mungkin ini tidak mudah, aku Cuma merasa, sabar akan menjadi indah nantinya. Tidak ada awal yang mudah dalam suatu komitmen, setidaknya, itu yang ku percayai.


Kak Fariz begitu mudah menaklukkanku, atau aku yang mudah tergoda, aku hanya menikmati setiap rasa yang ada.


“Couple an yuk,” tiba-tiba kak Fariz ngajakin.


“Hah, kaya anak kecil,” aku menyepelekan.


“Hmm.. ehhh.. couple an apa tapi, t-shirt?” aku penasaran juga.


“Pillowcase?”


Aku tidak pernah berpikir untuk couple an pillowcase, dia memiliki selera yang unik, atau dia tipikal cowok lebay, aku memikirkannya saja ingin ketawa. Dia selalu punya cara untuk tidak membuat bosan dalam kisah ini. Dan aku menyukainya. Terlepas dari perasaannya yang masih memikirkan wanita lain.


“Nanti kamu deh yang pilih,” dia menyarankan.


“Ok.. siap bozz.. biar nyenyak tidurnya,” aku jadi ikutan alay.


***


Aku turun ke lantai bawah, ke counter bedsheet dan blanket. Aku iseng-iseng pilih pillowcase, aku rasa lucu juga kali ya, kita tidur dengan pillowcase samaan. Cinta emang kadang nggak pake logika, serasa anak kecil yang selalu berbunga-bunga.


Kak Lily melihat kehadiranku, nampak sekali dia masih menghindariku.

__ADS_1


“Kak Lily, bantuin aku pilih pillowcase donk buat kak Fariz,” aku sengaja minta bantuannya, aku harap ini bisa menyadarkan dia, walau aku tau dia terluka, namun aku berharap bisa akrab dengannya, aku berharap dia sadar, untuk segera melupakan perasaannya. Aku ingin membantunya terlepas dari perasaannya. Bolehkah aku egois sekali ini saja?


“Kok aku, kamu pilih sendirilah,” dia cuek tapi masih mau menanggapiku.


“Aku udah tau semuanya kok kak, tentang kalian bertiga.” Dia menolehku ingin tau maksudku yang tiba-tiba berkata seperti itu.


“Aku tau kakak memiliki perasaan bersalah yang mendalam, namun sebenarnya kakak nggak salah, kejadian itu takdir, tapi kalau kalian berdua berpikir tidak mungkin bersama, kenapa kalian nggak melepas satu sama lain, kalian berdua pantas bahagia juga, bukan larut dalam ketidaksengajaan yang terjadi, cinta nggak bisa dipaksaain, nggak tau harus ditujukan pada siapa, Kak Ari suka kakak, kalaupun dia masih hidup, aku rasa kakak nggak akan menerimanya, sebab kakak sayang sama kak Fariz,” aku menghela nafas, kak Lily mendengarkanku dalam diam.


“Dengan kejadian ini, kalian berdua merasa nggak bisa satu sama lain, perasaan bersalah karena kak Ari nyelametin kak Fariz, kalau aku yang ada diposisi itu pasti aku lakuin juga, aku akan selamatin dia, meskipun aku nggak ada rasa apa-apa, ini soal kemanusiaan dan betapa aku tau persahabatan kalian itu solid,”


“Jika kebersamaan kalian menjadikan perasaan bersalah, coba untuk lepaskan, ikhlaskan, biarkan kak Fariz menjalaninya denganku, aku tau aku egois, aku juga sayang sama Kak Fariz, mungkinkah aku ini orang jahat, tapi mungkin ini bentuk dari penghargaan didalam persahabatan kalian, bahwa kak Ari berkorban demi cintanya padamu, menyelamatkan kak Fariz. Kakak juga bisa memulainya dengan orang baru yang akan hadir dalam hidupmu juga. Aku paham untuk sekarang kamu masih terluka kak, aku cuman nggak mau, kalau kalian bersama tapi masih diliputi perasaan bersalah, kalian nggak akan bahagia, mending nggak usah memulai, maaf kak”


Aku berhenti bicara. Aku wanita, aku tau perasaannya, namun rasaku juga menuntut balasan. Jahatkah aku?


Flash back on


Aku mencari-cari informasi ketika kak Fariz menceritakan kejadian geng motor itu, aku nggak ingin ini menjadi pengganjal dalam hubunganku. Aku nggak ingin juga kak Lily merasa bersalah terus-menerus. Aku nggak mau dia menahan Kak Fariz disisinya, tanpa tau endingnya.


Aku tau kak Rendy dari koordinatorku, aku beralasan bahwa aku dengar pernah ada perkelahian geng motor yang menewaskan salah satu karyawan toko, berita ini bukan lagi rahasia, sehingga koordinatorku menceritakan semuanya atas keingintahuanku.


“Kak aku Dyana, pacar kak Fariz, ada hal yang mau aku tanyain, bisa ketemuan nggak?” aku chat ngajakin ketemu. Setelah menunggu seminggu akhirnya kita sama-sama dapat cuti. Kita bertemu di Gellatto, salah satu caffe terkenal di kota Blitar.


“Dyana ya?” seorang cowok dengan jaket biru menyapaku.


“Kak Rendy?” tanyaku memastikan.


Singkat kata kak Rendy menceritakan semuanya, akupun juga menceritakan masalahku. Kak Rendy memberikan sebuah surat terakhir kak Ari padaku.


Dear Lily,


Malam ini harusnya menjadi malam terindah untukku, aku berencana memberikan kalung ini untukmu, bahwa aku benar menyayangimu dan ingin menjadikanmu bukan hanya sekedar teman.

__ADS_1


Sikapmu yang selalu menyemangatiku, selalu perhatian, selalu ada ketika aku butuh, telah salah ku tafsirkan, cuma aku yang menganggap ini lebih dari sahabat. Cuma aku yang menginginkan hubungan ini lebih. Cuma aku yang memiliki perasaan ini.


Aku mendengar ketika kamu bercengkrama di koridor bersama temanmu, kamu begitu menyukai Fariz, malam itu aku ingin mengungkapkan perasaanku, dengan konsekuensi mungkin kamu akan membenciku yang telah merusak persahabatan ini.


Aku dan Fariz sahabat sejak kecil, dari sekolah hingga kita lulus dan sama-sama mendapat pekerjaan disini, aku nggak menyangka kita menyukai wanita yang sama. Fariz sendiri memberitahukan itu padaku. Dan aku berusaha menyimpan rasa ini rapat-rapat, untukku sendiri.


Malam itu, aku bertekad menyatakan perasaanku, namun bukan untuk memilikimu, hanya sebagai pemberitahuan saja, lalu aku bisa pamit dan merelakan kalian berdua. Sebab aku sudah tau jawabannya, kamu akan menolakku, yang hanya cinta sebelah tangan saja.


Tak pernah ada dipikiranku, ketika aku diperjalanan ke rumahmu, terlihat Fariz yang sedang dikepung geng motor, Fariz anak baik, aku mengenal dia lebih dari siapapun, tidak mungkin dia terlibat sesuatu seperti itu. Dengan tanggap aku mengambil tusukan untuknya, aku rela berkorban karena dia lelaki yang akan membuatmu bahagia. Bukankah dibersamakan dengan orang yang dicinta adalah doa yang selalu kau baca? Akupun ingin kau bahagia, dengan begitu aku juga bahagia..


“Ari menulis itu saat dia di ICU, mungkin itu yang dinamakan kekuatan cinta, dengan berdarah-darah dia masih menyempatkan menulis surat, atau mungkin dia ingin menjelaskan sesuatu sebab dia tau ajalnya semakin dekat, dia tak ingin ada kesalahpahaman, sebab Fariz telah mengetahui bahwa dia menyukai Lily, akupun nggak habis pikir, aku kasian sama Ari, namun Fariz terbelenggu juga.” Kak Rendy berucap.


Aku terharu membaca suratnya, sungguh pilu.


“Waktu itu setelah Ari tertusuk, salah satu orang di geng itu nonjok Fariz sampai pingsan, sehingga Fariz nggak tau kepergian Ari, mungkin itu yang membuat dia merasa bersalah, penyesalan yang dia buat sendiri, kalau Ari tau pasti juga sedih.” Kak Rendy melanjutkan ceritanya.


“Fariz udah baca surat ini, dia minta gue simpan baik-baik, dia nggak mau Lily tau, karena itu akan semakin membuat dia bersalah. Fariz selalu menolak Lily, dia Cuma ingin menjaganya saja untuk Ari, bukan memiliki cintanya. Itu yang dia bilang padaku, tapi nggak tau perasaan Fariz sebenarnya, mungkin dia menyembunyikan perasaannya, aku tau betul Fariz, dia nggak pernah mau jujur kalau menyangkut kebahagiaan sahabatnya, Fariz merasa kepergian Ari karenanya, Fariz rela mengalah untuk Ari, namun Ari malah pergi dengan bertaruh nyawa, sebelum Fariz memberitahukan semuanya, dia akan merelakan Lily juga.”


Aku tak bisa mengatakan apa-apa, cinta itu egois, memperumit keadaan yang ada. Seperti perasaanku, yang nggak mau mengalah juga. Aku beda dengan Kak Fariz yang begitu tegar untuk mengalah, bagiku cinta ini harus ku perjuangkan. Kak Fariz menyatakan mau mencoba ini denganku, aku percaya waktu akan mengubah semuanya, aku berharap kak Fariz akan sepenuhnya menjadikanku satu-satunya.


"Tapi kamu bilang Fariz ingin menyayangimu, maka lakukanlah, semoga kehadiranmu bisa memperbaiki Lily dan Fariz sehingga tidak saling menyalahkan. mereka merasa jika bersama seperti bahagia diatas duka, meski aku tau Ari tidak menginginkan itu jika dia masih hidup." Kak Rendy mendukungku.


"mungkin benar, mereka tidak usah memulai," kak Rendy menyatakan argumennya.


***


Aku memberikan surat itu sama kak Lily, kak Lily menangis. Aku tenangkan dia. Semoga aku benar mengambil langkah ini, semoga ketika dia sadar dan merasa tak bersalah lagi, dia akan merelakan perasaan kak Fariz untukku. Semoga dia bisa membuka hatinya untuk orang lain.


Flash back off


Setelah lama memilih akhirnya aku menemukan pillow case yang ku cari. Aku menjatuhkan pilihan pada pillow case dengan warna dark blue bergambar manchester united. Klub bola kesukaan kak Fariz. Itu couple an pertamaku dengan kak Fariz.

__ADS_1


Aku memberikan satu untuk kak Fariz. Saat video call dia pakai, sungguh lucu sekali. Semoga jadi awal yang menyenangkan dalam cerita cintaku kali ini. Maafkan aku kak Lily.


__ADS_2