Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Pertemuan Kedua


__ADS_3

Aku baru turun dari bus, aku lihat seorang di kedai kopi seberang jalan melambaikan tangan padaku. Aku tersenyum ke arahnya lalu berjalan menghampirinya.


"Sudah lama menunggu?" Aku bertanya padanya.


"Udah dari kemarin, udah habis lima cangkir kopi, bayarin gih,"


"Yah dompetku ketinggalan," aku terima candaan dia.


"haha tuh kan alasan lagi,"


"Buk ngutang dulu ya, apa dia nih aku gadaiin," dia teriak ke penjualnya sambil menunjukku, aku senggol lengan dia. Si penjualpun ikut tertawa. Setelah Danial membayar, dia memacu motornya pulang.


Sepanjang perjalanan hatiku serasa terbang. Detak jantung tak beraturan, karena aku gugup dan senang secara bersamaan. Seusai Danial menjemputku diterminal, perjalanan ke rumahnya terasa jauh bagiku. Mungkin ini untuk pertama kalinya aku kerumahnya, dipertemuanku yang kedua dengannya.


"Loh kok berhenti disini ngapain." Danial membelokkan motornya di minimarket.


"Mau beli kucing," Dia menarik tanganku ngajak masuk.


"Kamu mau apa? Dirumahku nggak ada makanan," ujarnya asal.


Aku malu sekali, dia menyuruhku mengambil snack apa yang aku mau. Bersama dia seolah aku sudah mengenalnya lama, dia friendly sekali. Tak perlu jaga image atau sok kecakepan, dia apa adanya. Rasa nyamanku bertambah lagi.


"Aku ambil ini aja," aku mengambil bearbrand kesukaanku, dia pun ikutan ngambil, dan beberapa snack lain. Aku cuma menunggunya di depan pintu keluar ketika dia membayar di kasir. Mas kasirnya ikut tertawa ketika melayani kami. Danial sungguh orang yang bisa mencairkan suasana.


Sesampainya di rumahnya, aku bingung mau ngapain, ini pertama kalinya aku ke rumah cowok. Mamanya keluar dari dalam rumah dan menyambutku. Aku tersenyum malu.


Tak lama keakraban kami sudah tercipta. Mamanya menerimaku dengan sangat baik. Seketika Danial meninggalkanku dengan mamanya.


"Diajak kesini mau bantuin masak ya?" mama Danial tersenyum sambil mengelus tanganku.


Aku tak tahu selepas maghrib ada acara kenduri disini. Aku sungguh malu, Danial tak bicara apa-apa padaku. Inikah yang ia maksud mengenalkanku pada keluarganya. Beberapa saudaranya juga menyapaku. Antara canggung dan bahagia. Susah untuk dilukiskan.


Aku bingung mau jawab gimana. Tak lama Danial keluar dari ruangan lain dan berjalan ke arahku. Ia merebahkan tubuhnya disampingku.


"Jangan nanti bau asap." Danial membantuku menjawab pada akhirnya. Akupun tersenyum.


"Gapapa lagi aku bisa bantu," aku berkata pada Danial.


Kita ngobrol beberapa topik, meski pertama kalinya tapi mamanya sangat menghargaiku. Suka bercanda juga orangnya.


"Loh, ini siapa?" Kakak perempuan Danial baru pulang dari bekerja. Ia memasuki pintu lantas menyapaku. Aku salami tangannya. Nampak sekali keharmonisan di dalam keluarganya. Tanpa terasa aku membandingkan dengan keluargaku. Seonggok foto keluarga saja aku tidak punya. Dalam hati aku tersenyum walau pedih.


"Haha beginikah keluarga utuh?? membahagiakan." aku membatin.


Aku merasa asing dengan perasaan ini. Semua orang baik melayaniku. Menegurku dengan keramahan serta menerima hadirku yang masih baru diantara mereka. Aku menyudahi pikiranku, ketika kakak perempuan Danial mulai berbincang lagi.


"Namanya siapa, rumahnya mana?" Kakak Danial mengintrogasiku dengan keramahan.

__ADS_1


Setelah aku memperkenalkan diri, kita berlanjut dengan beberapa obrolan ringan yang menyenangkan. Baru pertama kali aku bertemu dengan mereka, namun sudah disambut hangat. Betapa menyenangkannya Danial bisa berada di tengah keluarga seperti ini.


Mama dan kakak Danial meninggalkan kami berdua. Mereka sangat pengertian untuk memberikan kami waktu bersama.


"Itu di belakang sibuk, beneran nih aku nggak boleh bantu?" Aku merajuk.


"Udah disini aja nemenin aku," Danial tidur dipangkuanku.


"Ihh.. malu tau kalau ada yang lihat," Aku menyuruhnya bangun. Danial pun duduk disampingku.


"Cobain deh enak tau," aku minum bearbrand favoritku. Danial meneguk sedikit. Raut wajah terpaksa nampak dengan jelas.


"Kenapa?" aku bertanya bingung.


"Nggak enak banget. Tawar." Danial mengembalikan kalengnya padaku.


"Enak tau, namanya juga susu murni." Aku meyakinkannya.


"Bagiku aneh, kayak iklannya tuh gambar naga, di produknya gambar beruang, eh dalamnya susu sapi. Nggak nyambung," Akhirnya kita tertawa.


"Nih buat kamu," Danial memberiku coklat.


"Loh kok ada coklat?" aku tak tau kapan dia beli.


"Tadi beli di minimarket,"


"Iya donk, kan aku bisa sulap," Danial mencubit hidungku.


awww.. aku merepek.


Tak lama ketika kita asyik mengobrol, seorang lelaki paruh baya menghampiri kami. Wajah tersenyum namun berkesan tegas membuatku merasa ketir. Dia menyalamiku, aku tunjukkan kesopananku dengan menyambut tangannya. Ia ayah Danial.


"Adakah aku tidak diterima?" entah mengapa perasaanku seperti itu. Ketika ayah Danial menanyakan keluargaku.


"Kamu anak ke berapa?" Ayah Danial tak bertanya namaku.


"Anak pertama," Aku menjawab dengan senyuman.


"Nama ayahmu siapa?" aku tersekat untuk menjawabnya. Nama siapa yang harus aku sebut, ayah kandungku atau ayah tiriku. Disisi lain aku tinggal dengan ayah tiriku, jika aku bilang ayah kandungku, hubungan kami sudah semakin merenggang. Aku merasa malu jika ayahnya mengetahui aku dari keluarga broken home. Aku bingung untuk menjelaskan.


"Hermawan," akhirnya nama ayah tiriku ku sebut.


"Ayah kandungku bernama Wicaksono," aku menjelaskan kemudian. Raut wajah yang sedari tadi ramah mulai berubah, mungkin itu hanya dari sudut pandangku. Perasaanku yang terlalu sensitif.


"Ya udah lanjutin," ayah Danial tersenyum dan akhirnya masuk ke dalam rumah, membiarkan kami melanjutkan obrolan. Aku merasa sedikit lega. Aku masih belum bisa menafsirkan ekspresinya. Mungkin aku yang terlalu banyak terbawa perasaan.


Danial mengantarkanku pulang ketika senja mulai nampak. Pemandangan sepanjang jalan sungguh indah. Banyak pohon di kanan kirinya. Aku melihat gunung dan langit merona. Seolah alam yang menyatu dengan sangat baik. Suara motornya membelah jalanan yang sepi. Penduduk di perkampungan kebanyakan masih bekerja di waktu ini. Sehingga tak banyak juga yang berlalu lalang.

__ADS_1


Aku memeluk Danial dari belakang. Suasana romantis yang tercipta tepat pada waktunya. Aku merasa percaya dia akan menjadi satu-satunya. Kala cinta menggoda memang otakpun tak memakai logika. Aku berharap ini bukan mimpi, seandainya mimpi aku tidak ingin bangun lagi. Untuk pertama kalinya aku merasa ada laki-laki yang tulus dan serius padaku. Bukan hanya modus yang berakhir pada hubungan yang pupus.


"Makan dulu ya," Danial menolehku.


"Nasi goreng," aku tersenyum.


"Mana ada kedai nasi goreng jam segini? Biasanya di Kotaku, kedai nasi goreng hanya buka di malam hari."


"Pokoknya nasi goreng, kalau nggak ada nggak usah makan," aku mengarut.


"Aku laper tau," Danial jengkel, tapi dia udah tau banget kalau makan aku maunya cuma nasi goreng.


"Ya udah kamu makan dulu aku temenin," aku meluahkan ideku.


"Masak makan sendiri nggak enak tau," di mengelus tanganku.


Akhirnya kita muter-muter nyari kedai nasi goreng. Setelah berkeliling ada kedai di pinggir jalan yang masih mau buka. Danial memberhentikan motornya di depan penjual yang masih memasang spanduknya.


"Disini mau?" Dia menolehku memastikan, karena sepanjang perjalanan cuma ini yang ada. Itupun masih mau buka.


"Mau aja, gapapa lagi."


"Beneran, di pinggir jalan?" Danial ragu-ragu.


"Iya, kenapa harus malu coba, aku bukan cewe yang gengsian kok,"


"Pokoknya nasi goreng, dimanapun asal sama kamu aku pasti mau," aku melanjutkan bualanku.


Danial tersenyum. Dia memegang tanganku dan mengelusnya. Sederhana namun menuai banyak cerita.


"Bang nasi goreng dua ya," Danial memesan.


"Tunggu sebentar ya," abang penjualnya masih sibuk dengan spanduknya.


Tak lama bunyi spatula yang berbaur dengan nasi di pan bergemerincing. Abangnya lihai menuang saos dan kecap serta berbagai macam bumbu-bumbu. Partnernya dengan lincah mengiris sayuran. Ini adegan yang paling aku suka, melihat cara memasaknya. Beberapa menit berlalu bau harum menguar, nasi goreng kita sudah siap bersama dengan segelas ice lemon tea.


Usai makan Danial mengantarkanku pulang. Ibuku menyambut di teras rumah, seraya mengobrol dengan tetanggaku.


"Mampir dulu," ibuku menyeriangi.


"Terimakasih buk. Sudah sore, saya mohon pamit, kapan-kapan saya silaturahmi lagi." Danial menyalami ibuku. Aku cuma tersenyum disamping ibuku. Lalu Danial memacu motornya pergi. Aku melambaikan tangan padanya. Tak lupa aku kirim teks ke dia.


"Hati-hati di jalan," bersama emoticon smile ku tekan enter. Selalu begitu pesanku pada Danial selepas kita berjumpa dan dia mengantarku pulang.


"Udah akrab gitu, kapan nih undangannya," tetanggaku memperhatikanku. Aku cuma tersenyum dan menyenggol lengan ibuku. Aku tersipu malu lalu masuk ke dalam rumah.


"Hari ini sungguh indah, semoga apa yang ku semogakan segera tersemogakan." batinku mengharap, banyak khayalan yang terbang dipikiranku hingga aku terlelap.

__ADS_1


__ADS_2