Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Pertikaian


__ADS_3

"Kamu jangan berhubungan lagi dengan wanita itu," Ayah Danial berkata ketika sedang sarapan bersama. Danial langsung meletakkan sendoknya. Mama Danial menoleh diantara keduanya.


"Kenapa yah?" Danial bertanya.


"Ayah nggak menyukai dia?" Danial melanjutkan ucapannya.


"Dia anak pertama, kamu tau kan adat keluarga kita, bukannya ayah tidak menyukai dia." Ayah Danial tegas.


Deg.. Danial berdebar. Ia baru saja menemukan orang yang sefrekuensi dengannya. Namun selalu saja ada halangan yang menerpa. Adat menjadi pemicunya.


"Saya mencintai dia yah, kita bisa mencari jalan keluarnya," Danial memohon.


"Jauhi dia segera," Ayah Danial meninggalkan meja makan.


"Tapi yah, kita bisa bicarakan dulu baik-baik,"


"Jangan keras kepala," Ayah Danial membanting pintu kamarnya. Entah kenapa ayah Danial merasa sangat marah. Tidak bisa dibantah ataupun berdiskusi. Danial naik pitam juga, dengan kasar ia meraih kunci motornya.


"Tenang dulu le," Mama Danial meraih tangannya menenangkan. Danial menepisnya dan berjalan keluar. Ia menyalakan mesin motornya dan melaju kencang menuju pantai. Ia menduduki gazebo tempat pertama kali mengajak Dyana berkencan. Ia jauh menerawang akan seperti apa jadinya jika Dyana tau. Pikirannya kalut. Ia baru akan membuka hati setelah luka yang disebabkan orang tuanya. Dan ini harus terulang lagi.


Flash Back on


"Ge, kita nggak bisa melanjutkan hubungan ini," Danial memutuskan Gea.


"Kenapa Dan?" air mata Gea meremang.


"Ayahku nggak merestui hubungan kita," Danial menggenggam erat tangan Gea, enggan melepaskannya.


"Adat lagi ya," Gea terisak, Danial memeluknya.


"Aku tidak bisa mengulang kesalahan kakakku Ge," Danial masih menggenggam tangan Gea, ia rapuh sebagai seorang laki-laki. Ia gagal membahagiakan orang yang ia cintai. Sebaliknya ia tak ingin melihat air mata jatuh dari wanita yang dicintainya, malah ia yang membuat derai tangis itu. Ia kecewa pada dirinya sendiri yang tak bisa menjaga senyum Gea.


Bertahun-tahun Danial mencoba melupakan Gea. Ia mencoba menenangkan hatinya dengan tidak berhubungan dengan wanita. Ia hanya fokus bekerja. Ia kehilangan kendali pada dirinya. Ia merasa pengecut telah membuat Gea tersakiti dan meninggalkannya.


Terkadang Danial pun masih video call hanya untuk menanyakan kabar, berat rasanya untuk melepasnya. Awalnya Gea masih menanggapinya, hingga Gea lelah dan memutuskan untuk benar-benar usai, yang menandakan Danial harus berhenti berharap. Gea tak mau lagi Danial menghubunginya. Dimana Gea tau hubungannya tidak akan sampai pada tujuan, dan itu hanya membuang-buang waktu saja. Setelah itu Danial mencoba mendekati beberapa wanita, namun tidak ada yang sejalan.

__ADS_1


Lalu malam itu, temannya membuat grub di aplikasi whatsapp. Ia scrool-scrool layar dan berhenti pada profil picture wanita berjilbab merah yang tersenyum manis, menurutnya. Ia memberanikan diri mengajaknya berkenalan.


"Ping" kata sapaan itu menjadi chat pertamanya. Ia bingung untuk memulai. Setelah centang dua biru yang menandakan sudah terbaca, tak sabar Danial mengharapkan sebuah balasan.


"Siapa?" perempuan itu membalas singkat.


"Danial," tak sengaja ia tersenyum sendiri. Beberapa menit berlalu belum ada balasan. Danial mengetik lagi.


"Boleh kenalan nggak?" ia menunggu balasan.


"Boleh, aku Dyana,"


Dan beberapa teks balasan berlalu, ia merasa sudah menemukan orang yang tepat hanya dengan obrolan sekejab. Entah mengapa dia berpikir seperti itu. Ia berusaha mendekatinya perlahan-lahan. Ia merasa nyaman hanya dengan berbalas chat walau belum pernah bertemu. Entah perasaan ini datang darimana. Tiba-tiba nyaman dan ingin lebih.


“Selamat pagi, jangan lupa sarapan, nanti mati.” Danial mengirim lagi teks, ia tau lawan bicaranya humoris, sehingga ia sengaja bercanda.


Singkat kata setelah banyak topik dibicarakan, ia tau Dyana belum memiliki pasangan. Ia bertekad untuk mendapatkan Dyana, menjadikan ia miliknya.


Untuk pertama kalinya ia bertemu Dyana dirumahnya. Ia memberanikan diri menjemputnya di pertemuan pertama. Ia sungguh bahagia ketika usahanya tak sia-sia. Ia disambut baik oleh keluarga Dyana, dan tentunya Dyana yang menyatakan mau mencoba membuka hati untuknya.


Flash back off


"Aku akan memperjuangkan Dyana," Danial bertekad.


"Le, ayahmu itu keras," Mamanya mengelus punggungnya.


"Tapi ma, aku udah kehilangan Gea, aku udah berusaha lepasin dia. Sekarang ada Dyana, kenapa ma, selalu saja adat menjadi penghalang kebahagiaanku?" Danial pasrah. Bagaimana jika ia harus menghadapi move on untuk yang kedua kali, tak pernah ia pahami akan sesakit apa lagi.


"Ayahmu itu sangat percaya le sama adat, dia ketua kampung, yang harus menjunjung tinggi leluhur terdahulu. Orang-orang banyak minta tolong ayahmu untuk mencari hari baik pernikahan, apa kata orang nanti. Mengertilah le," Mama Danial menasehati.


"Tapi ma, pasti ada jalan, kita bisa cari jalan lain kan ma, aku cinta sama Dyana," Danial berharap.


Mama Danial mengelus punggung anak lelaki terakhirnya. Ia sungguh kasihan namun tidak ada yang bisa ia lakukan. Ia tau watak suaminya. Lagipula jika harus menentang adat, sungguh berat pantangannya.


"Kamu harapan ayahmu le, kamu bisa melaluinya, lepasin dia." Mama Danial keluar kamar, meninggalkannya dalam kesendirian.

__ADS_1


"Tidak bisakah ini diubah?" Danial berperang dengan jiwanya. Di satu sisi ia ingin bersama Dyana, di sisi lain ia takut jika adat akan membawa malapetaka di kemudian hari. Sebab orang tuanya yang sangat menjunjung tradisi. Ia bingung untuk memilih langkah apa yang harus dilakukan. Ia tak mau menjadi anak durhaka. Namun hatinya juga tak rela melepasnya.


Danial bangkit dari kasurnya, berdiri di depan jendela kaca. Ia memandangi ikan-ikan yang berenang di kolam kecil miliknya. Kolam yang sengaja ia buat karna tau Dyana sangat menyukai ikan. Ia berencana menunjukkannya pada Dyana di hari ulang tahunnya nanti. Dimana ikan-ikannya telah tumbuh membesar. Ia mempersiapkan kejutan ini dengan penuh cinta. Siapa sangka akan ada masalah seperti ini. Masalah yang tak pernah terbayangkan olehnya, sebab yang ia tau, ia telah terpikat pada gadis manis yang sekarang menjadi pujaannya.


"Ini salahku," Danial menyesal dan meninju tembok dengan keras. Darah mengalir di sela-sela jarinya. Ia sudah tak peduli dengan sakitnya.


Flash back on,


"Aku besok mau pulang," Dyana memberitahuku.


"Ngapain, perlu di jemput?" Aku menawarkan diri.


"Nggak usah, aku bisa naik bus,"


"Beneran nggak mau, ngapain pulang?"


"Kakakku besok nikah, aku minta cuti dadakan, jadi aku nggak bisa ketemu kamu juga, aku harus segera balik setelah acara selesai."


Aku berpikir ketika itu, ia anak kedua, jadi aku tidak mempertimbangkan apapun untuk menyatakan perasaanku dan memilikinya. Tidak disangka, aku telah salah persepsi. Dia anak pertama, kakak tirinya yang akan menikah. Aku belum terlalu mengenalnya, namun rasa ingin dekat dengannya yang membuatku ingin memperjuangkannya dan mendapatkannya kala itu. Sehingga aku tidak mempertanyakan silsilah keluarganya.


Setelah kita bersama pada bulan pertama, aku baru mengetahui ia dari keluarga broken home. Cerita-cerita yang ia ungkapkan dalam hidupnya, membuatku semakin ingin menjaganya. Aku ingin mengisi kekosongan dihatinya. Merubah rasa sedihnya selama ini. Menggantikan kasih sayang ayahnya yang telah lama menepi. Membuat ia selalu tersenyum pada dunia. Memberinya kebahagiaan dalam hidupnya. Ia sesederhana itu, bisa membuatku selalu ingin berada di hari-harinya, menghabiskan waktu dengannya.


Dia gadis mandiri yang tak pernah mengeluh, apakah selalu begitu? Anak pertama selalu dituntut lebih kuat dari yang lainnya? Banyak yang ia alami tapi keceriaan tak pernah luput dari wajahnya. Dyana, bagaimana dia bisa tersenyum menceritakan kisah pilunya, dia tertawa walau terluka, membuatku lebih mengaguminya. Dia tidak pernah menunjukkan air matanya di depanku.


"Jalanin aja dulu," dulu Dyana berkata, yang membuatku bersemangat. Niatku ingin memilikinya akhirnya terwujud.


"Kenapa harus adat lagi yang memisahkan kita?" batin Danial terurai lagi. Gejolak luka lama yang selalu terbayang datang lagi, ia menyesal berada dalam perasaan ini. Ia telah jatuh cinta pada keadaan yang salah. Tak tepat waktu.


***


"Kamu anak pertama?" Danial bertanya pada Dyana.


"Iya, kenapa?"


"Gapapa kok, cuman tanya aja," Danial telah bersalah. Ia tak mungkin memberitahukan ini pada Dyana. Di sisi lain ia sangat mencintainya. Ia teringat ketika ia berusaha mendapatkannya.

__ADS_1


"Jalanin aja dulu, sayang itu nggak bisa instant," Dyana berucap padaku, lama kelamaan aku semakin bergantung padanya. Merindukan dia setiap hari, selalu ingin bertemu dan berada disisinya. Beda kota menjadi jarak, hanya via suara yang mengobatinya. Setiap saat ingin berjumpa, selalu menjadi hari yang selalu dinantikan dan tak dapat dilupakan.


Belum juga lama ia menikmati ini bersama Dyana, namun ayahnya kekeh melarangnya. Danial bertekad akan memperjuangkan Dyana apapun caranya. Karena ini dimulai dari kesalahpahaman yang tidak terpikirkan olehnya. Namun ia ingin mengakhirinya dengan keindahan. Begitulah cinta yang tak tau jatuh kepada siapa, seperti apa, dan akan bagaimana perjalanannya. Semoga ia bisa dipersatukan nantinya.


__ADS_2