Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Gudang Timur


__ADS_3

Uje melajukan motornya saat lampu berubah hijau kembali. Jarak gudang timur dan toko pusat tak jauh. Hanya melewati beberapa pertokoan saja dan terletak diseberang jalan. Sepuluh menit kita sudah sampai di depan gerbang gudang. Pak Satpam dengan sigap membukakan pintu karena sudah kenal dengan Uje.


"Wah, siapa nih Maz?" sapa pak satpam baru yang diapun juga belum mengenalku. Ini kali pertama aku melihatnya.


"Temen dari cabang Blitar pak," Uje memberi tahu dan berjalan masuk.


"Temen apa temen," pak satpam yang bernama Arif itu terkekeh. Aku hanya menyunggingkan senyumku untuk menanggapinya, lalu mengikuti Uje.


Nofia yang mengetahui kedatanganku dan Uje seperti terbakar rasa cemburu. Tadi Rina bilang jika dia juga menyukai Uje, semenjak kepindahan Fajar ke Blitar.


"Haih, semua cowo kok disukai, pepet aja terus sampai dapet," aku kesal dalam batin.


Aku pun ikut berdiri sejajar bersama anak-anak yang lain. Aku membantu bongkar barang muatan dari truk. Kita saling melempar barang dengan tanggap, berharap pekerjaan akan segera selesai. Sementara beberapa cowo yang lain memindah karung besar-besar dengan troly. Jarum jam terus berputar, hampir pukul sembilan malam barang baru selesai dikeluarkan dari truk.


Beberapa dari kita sibuk menata barang dalam rak-rak kayu yang menjulang tinggi. Sebagiannya memberi kode barang dan mencatatnya sebagai laporan. Aku hanya memandangi mereka, rasanya aku sudah penat sekali, mungkin sebab sakitku belum benar-benar pulih. Sehingga tubuhku cepat lunglai. Aku duduk di kursi seraya meraih botol mineral yang tersedia.


Drrt.. drrtt..


Getaran hp di sakuku mengagetkanku, aku sudahi minumku dan meletakkan botolnya di nakas. Sebab penat aku pindah duduk dibawah diantara tumpukan baju, agar aku bisa rebahan sedikit.


"Kamu lagi apa?" Danial memberiku pesan. Dari sedari pagi aku belum mengabarinya. Aku lupa bilang jika mau kembali bekerja. Koordinatorku sudah bising sekali.


"Aku mau balik ke Blitar," jawabku singkat.


"Kok nggak bilang, kan aku bisa anterin," Danial menawarkan.


"Gapapa kok, tadi dianterin ibuk di gudang."


"Kamu nginep situ?"


Belum sempat aku membalas pesan Danial, Uje memanggilku.

__ADS_1


"Hey, balik yuk, udah malem," Ajak Uje menghampiriku yang sedang duduk di antara tumpukan baju yang belum selesai ditata. Beberapa masih berserakan di samping rak.


Sesaat aku akan berdiri, tanganku tak sengaja menyenggol tumpukan baju. Belum sempat aku seimbang, tangan Uje sudah menahan baju yang akan jatuh. Aku menabrak Uje seolah memeluknya karna kaget. Namun tangan Uje tak cukup kuat untuk menahan semuanya, akhirnya semua tumpukan roboh juga.


Sesaat aku sadar akan posisi kami, lalu aku menghindar. Melepaskan tangannya di pinggangku.


"Maaf," aku bingung bertingkah. Aku malu karena ceroboh.


"Oh, sorry, tadi refleks," Uje juga salah bersikap. Lalu dengan sigap dia membereskan tumpukan-tumpukan itu. Aku membantunya juga. Kami hanya diam, atmosfer menjadi senyap.


Tinggal kita berdua yang belum keluar dari gudang. Anak lain sudah kembali lebih awal karena harus berjalan kaki ke toko pusat.


Setengah jam berlalu semua tumpukan baru selesai. Uje mengunci pintu dengan teliti dan mengambil motornya di parkiran. Sementara aku menunggunya di depan gerbang.


"Udah mau balik neng?" tanya pak Arif dengan senyum yang tak bisa dijelaskan. Seperti ada maksud lain yang ia sembunyikan. Namun nampak senyum seperti sedang malu.


Aku sudah mendengar motor Uje, aku menoleh ke belakang dan dia menghampiriku. Setelah pamit pada pak Arif, Uje melajukan motornya. Sepanjang jalan kita mencoba bersikap biasa saja seolah nggak ada apa-apa. Ya memang sebenarnya juga nggak ada apa-apa.


"Laper nggak, mau makan dulu," Uje berhenti di depan warung gado-gado deket toko pusat.


Uje mematikan motornya seraya aku turun. Aku langsung pamit balik ke kamar atas. Begitu juga Uje yang menaiki tangga ke kamarnya.


***


Aku bersihkan tubuhku, rasanya mataku sudah tidak bisa untuk terjaga. Aku rebahkan tubuhku sambil membuka whatsapp.


"arrrgghh .. Danial.." aku menepuk jidatku, karena lupa membalas pesannya, dan hanya membacanya. Ketika aku sedang mengetik, tiba-tiba handphone ku mati.


"Lowbat.. aishh sial banget," aku mengumpat. Aku cari-cari chargerku di tas. Setelah dapat semua colokan sedang terpakai. Akhirnya aku turun ke dapur untuk mengecash nya.


"Sekalian bikin mie aja deh, lapeer.." akupun mengambil mie instant dari kabinet. Aku nyalakan kompor dan merebus air. Aku biarkan ponselku yang sedang mengisi daya.

__ADS_1


Tak lama mie instant rebus dengan telur setengah matang, yang tak ku biarkan kuning telurnya pecah sudah siap di santap. Tak lupa aku tabur bawang goreng sebagai pelengkapnya.


Baru aku akan melahap suapan pertama, Uje dan Fery menghampiriku.


"Makan sendirian," Uje mengagetkanku.


"Mau? bikin sendiri," aku menunjuk kabinet dan melanjutkan makanku. Uje dan Fery tersenyum geleng-geleng melihat tingkahku.


Fery merebus mie sementara Uje menemaniku makan. Uje terus saja berbual tentang cerita-cerita yang tak ku tahu alurnya. Intinya cerita lucu yang membuatku tertawa. Tak lama fery membawa dua mangkok kehadapan Uje.


"Manja banget nggak mau masak sendiri," aku menyindir Uje dengan nada bercanda.


"Kan gue udah punya tukang masak, ngapain repot-repot," Uje merangkul Fery dengan alasan persahabatan. Fery berusaha melepaskan rangkulan ketat Uje.


"Gue ga homo, jauh-jauh loh, idih najis," Fery yang tak nyaman di peluk langsung mengibas-ibas tangannya. Fery yang kelihatannya cucok gitu bisa juga mengusir Uje. Kita bertiga ketawa riang.


Suapan terakhir sudah ku telan, dan aku beranjak mencuci piringku. Malam itu aku nggak jadi membalas pesan Danial. Sebab jarum jam menunjuk pukul sebelas lewat.


"Mungkin Danial juga sudah tidur," pikirku. Aku akan membalas pesannya besok pagi saja.


***


Subuh menjelang, aku mengernyipkan mataku. Alarm ku sudah berisik namun ku snooze dari tadi. Aku bangkit dari matras dan menuju toilet. Aku mandi dan menyiapkan diri untuk berangkat ke Blitar. Aku menunggu pak Rifai yang ternyata dia sudah stand by di depan bersama anak yang akan ikut ke Blitar. Karena ramadhan akan ada tambahan personil.


"Kak, aku akan dipindah ke Blitar." Rina berlari dari koridor kamar saat melihatku akan menuruni tangga. Dia memelukku erat kegirangan. Akupun menyambutnya senang juga.


Pagi itu aku dan Rina semakin akrab padahal baru bertemu. Dia pencerita yang asyik dan aku suka juga mendengar ocehannya. Sepanjang jalan pak Rifai juga menyeringai menghangatkan suasana.


Dua jam perjalanan kita telah tiba di toko Blitar. Seperti biasa Upil menjadi orang pertama yang kerasukan, langsung berlari setelah dia melihatku dan memelukku erat. Padahal hanya beberapa hari saja aku tak masuk kerja.


Drrt..drrtt..

__ADS_1


"Semangat kerjanya," pesan dari Danial menerbitkan senyumku.


"iya sayang, kamu baik-baik ya," aku membalas pesan Danial dan menyelesaikan pekerjaanku.


__ADS_2