
Dyana Pov,
Libur lebaran telah usai, waktu santai telah berakhir. Sudah saatnya untuk beraktivitas lagi, mengumpulkan tenaga untuk melayani pelanggan lagi.
"Hai, gimana kabarmu yung?" Upil yang berlari saat melihatku di gerbang toko pusat langsung memelukku sampai aku kesulitan bernafas.
"Baru juga seminggu nggak ketemu pil?" aku terkekeh.
"Segitunya kamu kangen aku, lepasin sesak tau," aku berusaha menyingkirkan tangannya.
"Nggak mau, aku kangen banget tau yung, sama kripik yang kamu bawa," Upil melihat isi tas tenteng yang ku bawa.
"Huh.. resek lu," Kita tertawa bersama.
Mobil yang mengantarkanku ke kota Blitar sudah siap. Aku menduduki kursi samping kemudi. Aku scroll ponselku seraya menunggu pak Rifai yang masih sibuk dengan barang pesanan.
Semua sudah selesai, dan siap untuk berangkat. Menembus keramaian jalanan yang tak pernah lekang oleh kendaraan. Arus yang cukup padat karena masih seputar hari raya.
Aku memandang keluar jendela, menikmati pemandangan kota yang dikelilingi pohon besar. Tersadar bahwa aku sedang melewati jalan menuju PinKa. Sebuah tempat yang pernah ku datangi dengan Danial.
Flash Back on,
"Kita mau kemana nih?" Aku penasaran pada Danial yang sepagi ini sudah sampai di depan tokoku.
"Tau nggak aku terburu-buru merapikan diri," aku mengeluh padanya, yang hanya ditanggapi senyuman dengan dentuman kaki yang menyangga motornya.
Kita berencana mengisi hari cuti kerja dengan berkencan. Sudah dari seminggu lalu aku menantikan hari ini sebenarnya. Tapi nggak ku sangka kalau Danial akan berangkat sepagi ini. Jarum jam masih menunjukkan pukul 06.30. Entah jam berapa dia berangkat dari rumahnya. Mengingat perjalanan ke tokoku membutuhkan waktu kurang lebih 2 jam. Mungkin sedari subuh dia sudah terjaga dari tidurnya.
Danial selalu saja membuatku berdebar-debar. Tingkah lakunya yang sulit diterka menjadi ketergantungan untukku, mengharapkan hal apa yang akan ia berikan padaku. Hehe aku tersenyum mengingatnya. Banyak kejutan yang ia siapkan untukku. Tingkah lakunya yang slengekan membuatku lebih terkesan padanya. Dia apa adanya, semaunya, dan selalu tak sungkan untuk menegur kesalahanku. Kata-katanya semenyakitkan apapun, mungkin bagi orang lain begitu, tapi selalu saja bisa diterima oleh hatiku.
"Udah ikut aja," Danial membuat teka-teki lagi.
Aku sudah berada di atas motornya. Danial memacu motornya yang entah kemana aku belum tau. Satu jam perjalanan kita belum jua sampai pada tujuan.
"Lama banget, kemana sih?" Aku semakin bete karena Danial tidak mau memberitahu. Di tambah perutku yang sudah keroncongan. Sebab tadi aku nggak sempat hanya untuk meraih sepotong roti. Aku nggak ingin Danial menunggu terlalu lama.
Kita memasuki kawasan pinggiran kota, kendaraan sudah tak seramai di jalan raya. Hanya ada satu dua motor yang lewat. Kebanyakannya ada sepeda dan beberapa orang jalan kaki. Dari jauh aku sudah melihat gerbang masuk dengan tulisan Angsana Resident. Angin yang sejuk dan matahari yang masih malu-malu muncul di permukaan menyapa kedatanganku dan Danial.
__ADS_1
Kita sudah memasuki gerbang dan disambut oleh banyak kedai makan di kanan kirinya yang semua didominasi warna pink, dan biasa disebut orang Pink Village. Danial masih melajukan motornya hingga kita sampai di sekitaran sungai. Danial memarkirkan motornya.
"Suka?" Danial menanyaiku sambil membantu melepas helm ku.
"Suka," aku tersenyum padanya.
Kita berjalan menyusuri jalan yang di kanan kirinya banyak kedai dengan berbagai ciri khas budaya. Angsana Resident merupakan tempat berkumpulnya makanan dan budaya dari berbagai kota dan negara. Alam yang dibangun dengan kesan modern, merupakan tempat wisata terbaru di kota ini. Ada kedai ala-ala western, chineese, dan tradisional jawa.
Puncaknya adalah sepanjang sungai ini dan ada sebuah teater kecil untuk hiburan dan pentas seni. Nah, ini yang dinamakan Pinka atau singkatan dari Pinggir Kali, karena masyarakat jawa yang memanfaatkan sungai sebagai ajang mencari rezeki, melepas penat dengan atraksi-atraksi dan menjaga kelestarian alam agar lebih bermanfaat. Suasananya modern namun tak menghilangkan kesan jawa dan tradisonalnya. Makanya namanya jawa sekali, Pinggir Kali atau modernnya Pinka.
Angsana Resident memiliki banyak tempat yang indah yang bisa dikunjungi. Dan masing-masing memiliki nama dan desain yang unik. Misal pink village yang semuanya berwarna pink, The crackers yang isinya makanan renyah seperti macam-macam jenis keripik, Kampung susu yang isinya macam-macam olahan susu dan susu murni yang bisa kita perah sendiri. Namun aku hanya singgah di Pinka.
Ada sebuah tempat khusus memancing juga, yang ikannya bisa langsung dimasak. Tempat ini sungguh menyenangkan. Ketika hari masih pagi seperti ini banyak orang sudah ramai mengantri untuk sarapan.
"Kamu laper ya, keras banget bunyinya," Danial menertawaiku.
"Tadi siapa yang ngajakin berangkat pagi banget, heh," Aku balik bertanya pada Danial.
"Heheh iya deh pacar, makan yuks" Danial mencubit hidungku.
"Ihh.. apaan sih, nyubit-nyubit," aku cemberut.
"Mau makan apa kamu?" Danial membuka buku menu dihadapannya.
"Terserah kamu aja deh," aku emang nggak tau mau makan apa.
"Gini nih, cewe kalau ditanya terserah," Danial menyindir sambil bercanda.
"Ya terserah aja, sama kaya punyamu aja," aku memasrahkan isi perutku padanya.
"Entar kalau dipesenin yang manis bilangnya kamu mau bikin aku gendut," Danial mengetuk-ngetuk meja.
"Apaan sih," aku tersenyum menanggapinya.
"Nah, gitu donk, kan manis kalau senyum, ga perlu deh pesen gula," Danial mencubit hidungku keras banget.
"Aww...," aku menjerit yang diikuti tolehan kepala orang yang duduk disekitarku. Mereka memandang bingung bertanya-tanya. Aku menunduk malu.
__ADS_1
"Kamu sih," aku mencubit lengan Danial.
"Tuh kan nyalahin aku, cewe emang selalu benar," Danial mencebikkan mulutnya.
"Mbak, iya kamu mbak yang cantik, sini," Danial memanggil pelayan yang menoleh setelah merasa ada yang membutuhkan bantuannya.
"Saya mau pesen nasi pecel dua, es teh dua belas, eh dua gelas mbak, entar kembung kalau kebanyakan, french fries, sama ikan goreng ya mbak, ikannya yang udah mati loh ya mbak, nanti lompat-lompat lagi di piring." Danial emang suka sekali bercanda, sampai mbak nya tersenyum malu dibercandain.
"Kamu tuh ya," aku tendang kakinya.
"Awww. sakit tau sayang, kamu cemburu ya, tenang aja dia emang cantik, tapi cuma kamu bidadari di hatiku,"
"Alah alay, hihh," aku pura-pura bergidik dan kita tertawa.
Tak lama makanan sudah terhidang dan siap disantap. Sambil makan kita banyak mengobrol.
"Ayah kamu gimana?" aku penasaran.
"Dia sehat kok," Danial menikmati makanannya.
"Apa yang harus aku bicarakan pada Dyana jika itu menyangkut ayah," Pikiran Danial meronta kebingungan.
"Sayang, enak nggak ikannya, kamu kan paling suka sama ikan?" Danial menyuapiku. Nampak sekali dia mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Enak kok, kamu tau aja," aku menikmati makanannya.
"Aku tau Dan, masih ada yang kamu sembunyikan, mungkin kamu berpikir tidak ingin membuatku khawatir, tapi dengan kamu seperti itu, aku semakin penasaran, mungkin ayahmu belum bisa diluluhkan," aku seolah bergembira. Aku tidak ingin mengecewakan Danial.
Flash back off,
"Wooii yung nglamun mulu," Upil mengagetkanku.
"Apa sih, rese lu," aku yang tersadar dari kehaluanku memandang kosong. Danial selalu saja ada dan memenuhi otakku dimanapun aku berada.
"Mikir apa sih?" Upil kepo.
"Nggak ada kok, hehe" aku tertawa walau sebenarnya aku masih khawatir dengan hubunganku kedepannya. Akankah Danial benar-benar tidak akan menyerah. Mungkinkah suatu saat nanti ayah Danial akan mau memberikan restunya.
__ADS_1
"Udah ah, nggak usah dipikirin yung," Upil menyelipkan earphone ke telingaku. Dia memutar sebuah lagu, akupun menikmatinya. Upil emang selalu mengerti cara membuatku tenang. Seolah dia bisa membaca pikiranku dan tau apa yang ku rasakan.
Aku dan Upil memejamkan mata menikmati alunan musik klasik di telinga. Menenangkan. Mengusir semua apa yang ada dalam pikiranku, mengosongkannya sejenak.