
Adikku sudah siap dengan gaun muslim warna birunya. Ayah tiriku sudah menyampirkan sajadah di pundaknya. Ibuku telah menyelesaikan hijabnya dengan menambah aksesoris sakura di pasminanya. Sementara aku sudah menunggu di teras sambil scrool layar handphoneku. Banyak sekali ucapan dari teman-temanku yang sekedar aku baca saja.
Kami beriringan berjalan ke masjid yang jaraknya hanya tersekat tiga rumah saja. Sebelum itu sudah dipastikan kita berfoto dulu, mengabadikan momen lebaran seperti tahun-tahun sebelumnya. Aku berharap senyum yang terukir di foto bukan hanya sekedar gambar. Aku harap keceriaan itu bertahan selamanya.
Keluarga kecilku, keluarga baruku, keluarga yang terbentuk dari kekecewaan pada awalnya, sekarang sudah saling membutuhkan satu sama lainnya. Sekarang semua sudah berjalan seperti semestinya. Hanya rona bahagia yang tersisa. Aku yang perlahan sudah mengukir nama ayah tiriku di hatiku, meski awalnya ada sedikit pertengkaran kecil yang menderu. Aku yang dulu belum bisa menerima sekarang sudah bersikap biasa saja. Perlahan waktu akan merubah semuanya. Merubah hati, sikap dan perilaku, merubah cinta yang dulunya hanya sebiji padi menjadi seluas seluruh tempat yang ada di hati.
Aku, ibu dan adikku berjalan ke tempat makmum perempuan, sementara ayahku berlalu ke kanan menuju tempat makmum laki-laki. Aku hanya berharap semoga di tempat lainnya, ayahku dan keluarganya juga bahagia. Meski sekarang kita sudah jarang saling bertatap muka atau sekedar bercakap lewat telepon saja.
Semua jamaah ramai bertakbir, mengangungkan Tuhan dan Nabi-Nya. Raut wajah ceria terukir di setiap wajah dengan berbagai usia. Usai dua rakaat terlaksana, kita mendengarkan ceramah pak Kyai dengan seksama. Rasanya terbesit kerinduan, memikirkan bagaimana rasanya bila ayah masih satu atap denganku. Bagaimana kita akan merayakan setiap kali hari raya. Hampir lima belas tahun, aku sudah lupa perasaan itu, perasaan kebersamaan. Bayanganku terhenti saat semua orang berdiri dan bersalam-salaman. Sebisa mungkin aku senyum ramah, meski perasaan sedikit gundah.
Makanan sudah dibagikan, beberapa ada yang membawanya pulang, beberapa ada yang makan di teras masjid. Berbaur dengan tetangga dan bercengkrama sekedarnya. Ramai-ramai memotong ayam Lodho dan menyantapnya bersama.
Ketika di rumah, aku sungkem pada ibu dan ayahku, sementara adikku menyalamiku.
"Buk, maafkan semua kesalahanku ya, maaf aku susah diatur, terimakasih sudah menjadi kuat merawatku sendirian, jangan sedih lagi ya buk, aku akan megganti semua air matamu dulu dengan senyuman, kamu harus bahagia dengan ayah sekarang," Ibuku memelukku.
"Maafkan ibu juga ya nak. Kamu juga sudah membanggakan untuk ibu," aku terharu membalas pelukannya. Lalu aku berganti menyalami tangan ayahku.
"Maafkan aku ya yah, terimakasih sudah menganggapku seperti anakmu sendiri."
"Sama-sama, sudah seharusnya seperti itu." Ayahku mengusap punggungku. Aku sangat berterimakasih pada Tuhan telah memberi ayah kedua yang sangat menyayangiku.
Setelah adikku sungkem dengan ayah ibu, dia menyalamiku dan memelukku.
"Jangan nakal loh," aku menyentil keningnya.
"Kakak apaan sih, sakit tau," dia cemberut aku menjulurkan lidahku. Ayah Ibu hanya tersenyum.
Aku meminta maaf pada ayah kandungku hanya via whatsapp. Aku kirim teks padanya.
"Selamat Hari Raya Idul Fitri ya yah, mohon maaf lahir batin," aku send message padanya. Namun tak berharap segera mendapat balasan. Sebab sudah bisa dipastikan tak akan di balas secepat itu. Lalu aku membalas satu persatu pesan teman-temanku.
"Minal Aidzin wal faidzin sayang," pesan Danial menjadi yang paling spesial diantara belasan chat lainnya.
"Minal Aidzin wal faidzin juga sayang," aku membalas chat nya. Tak lama wajahnya sudah muncul dilayar ponselku. Aku bercerita sepatah dua patah kata dan berpamitan pada Danial. Aku akan berkunjung ke rumah sanak saudara dan tetangga.
"Iya nanti sore aku jemput ya, ke rumahku." Danial memberitahu. Aku hanya mengangguk lalu dia mengakhiri panggilannya.
Aku berkunjung ke rumah tetangga dan beberapa saudaraku. Terkadang aku iri, melihat satu keluarga berkumpul lengkap. Haha aku rindu ingin mengulanginya. Mengulangi hal kecil dulu ketika masih tinggal di rumah yang sama, bersama kedua orang tuaku.
***
"Loh, ini Dyana ya, sudah besar ya sekarang," kata salah satu Mak cikku. Memang kita sudah lama jarang bertemu. Aku yang bekerja di luar kota selalu saja belum ada waktu untuk mengunjunginya. Bahkan ketika kakak keponakanku menikahpun aku tak bisa menghadirinya.
__ADS_1
Aku hanya senyum tertunduk malu.
"Iya, udah waktunya nikah," kakak ponakanku menyambar omongan mak cikku.
"Apa si kak, jangan buru-buru deh," aku menyentil pinggangnya.
"Aww.. ciee maluu," semua saudaraku yang berkumpul ikut tertawa menggodaku.
Kita bercengkrama ringan sambil menonton tv, menghabiskan nastar, coklat dan snack lainnya yang sudah disediakan. Hari pertama lebaran kita selalu berkumpul di rumah mak cikku yang tertua. Ibuku anak terakhir dari empat saudara yang semua perempuan. Kakek dan nenek sudah meninggal selepas perceraian kedua orang tuaku.
Usai menyantap opor ayam, beberapa saudara berpamitan pulang termasuk aku. Pukul tiga sore aku sudah selesai bersiap. Aku menunggu Danial di ruang tamu sambil merebahkan tubuhku. Aku beringsut bangun saat ada teman ayahku beserta anaknya yang berkunjung. Aku mengenal anaknya karena seringnya dia ke rumahku.
"Masuk om," aku mempersilahkan dengan tanganku dan tersenyum juga pada Azam.
"Hey Na, apa kabar?" Azam menyapaku lebih dulu.
"Aku baik, kamu sendiri," seraya meletakkan jus orange dihadapannya.
"Sedikit patah hati," Azam menyeringai sambil tertawa. Sementara Ayah Azam mengobrol dengan ayahku di ruang tamu sebelah.
Azam adalah anak teman ayahku. Aku mengenalnya sebab dia sering berkunjung kesini. Dia selalu menemani ayahnya untuk membicarakan bisnis dengan ayahku. Kita seumuran tapi berbeda sekolah.
Tak lama suara motor berhenti di depan rumahku. Aku menebak pasti Danial.
"Bentar ya Zam," aku beranjak dari kursiku menuju teras.
"Masuk yuk," aku menggandeng tangannya.
Danial sedikit terkejut karna ada sesosok lelaki yang sudah menduduki kursi di ruang tamuku.
"Kenalin, dia Azam, anak temen ayahku." aku menunjuknya.
"Danial," dia mengulurkan tangannya pada Azam.
"Azam," membalas uluran tangannya dengan tersenyum.
"Aku seperti pernah melihat lelaki ini, tapi dimana ya?" Azam membatin bertanya-tanya.
"Mau pergi sekarang?" aku bertanya pada Danial.
"Nanti juga nggak papa, kamu kan masih ada temanmu disini," Danial tersenyum.
"Kalau sekarang juga nggak papa kok, ya kan Zam?" aku menanyakan pendapat Azam.
__ADS_1
"Nggak papa juga kok, nanti aku bisa ikut ngobrol sama ayah," Azam memahami.
"Ibu kemana?" Danial mencari ibuku.
"Kayanya masih di dapur, aku bikinin teh dulu ya" aku berinisiatif. Setelah ku pikir-pikir nggak enak juga ninggalin Azam.
"Owh, aku baru ingat, dia kan mantannya Gea," Azam membatin mengangguk-angguk. Azam pernah melihat foto Gea dan lelaki ini di wallpaper handphone Gea, ketika nggak sengaja menyala sebab ada notifikasi masuk.
"Kenapa Zam?" Danial menangkap ekspresi lain saat melihat Azam.
"Nggak kok Dan, kaya pernah melihatmu sebelumnya saja," Azam bingung mencari alasan.
"hahah seterkenal itu ya aku, sampai-sampai wajahku pasaran," Danial ketawa menyeringai.
"Kenapa semua cewek bisa sayang sama dia sampai segitunya," Azam masih berkutat dengan batinnya.
"Sungguh sulitkah Gea menerimaku untuk menggantikannya." Azam melamun berpikir.
"Di minum tehnya," Aku meletakkan nampan di meja, menggeser jus orange Azam yang tinggal separuhnya saja. Lalu menyodorkan secangkir teh untuk mereka berdua. Aku melihat Azam melamun.
"Kenapa loe?" Aku menyenggol lengan Azam yang tersentak kaget.
"Nggak papa kok Na," Azam tersadar dan tertawa.
"Haha iya Dan, wajah loe pasaran kayanya." Azam membalas receh candaan Danial.
Danial menyeringai lalu menyeduh tehnya pelan-pelan. Aku duduk di sampingnya.
"Kamu dulu sekolah dimana Zam?" Danial membuka topik obrolan.
"SMA 5 Bandung," Azam menyeduh tehnya juga.
"Kamu kenal Geara nggak?" Danial refleks bertanya dan menyebut nama yang membuat Azam kaget.
"Uhhukk..uhhukk.." Azam tersedak teh yang tengah diminumnya.
"Bukannya itu nama mantan Danial ya," aku hanya membatin.
"Owh.. hmm.. iya aku per..nah lihat dia, secara dia kan anak osis, ya osis" Azam menjawab terbata-bata.
"Kamu kenal Geara?" Azam bertanya balik.
Danial memandangku, aku hanya mengendikkan bahu.
__ADS_1
"Kenal," Danial menjawab singkat. Aura kecanggungan menguar diantara kami.
"Kenapa aku pake nyebut nama Geara sih," Danial membatin, merasa nggak enak.