
Sebentar lagi rekreasi tahunan, semua karyawan toko pusat dan toko cabang wajib ikut. Padahal aku tidak berpikir untuk berpartisipasi. Aku belum siap untuk bertemu kak Fariz dan Kak Lily untuk saat ini. Sudah pasti mereka akan mengikuti agenda tahunan ini.
Rasanya cemburuku masih saja menaungi. Ini keputusanku untuk mundur, tapi nyatanya aku masih belum bisa melupakannya, yang ada hanya membohongi perasaan dan berulang kali menyatakan bahwa aku sudah melepasnya. Dalam hati masih terbersit secercah harapan ingin memilikinya.
"Eh, rekreasi tahun ini kemana ya?" Lutfi menanyaiku.
"Ada beberapa option sih, tapi nanti mau di meeting kan lagi."
"Emang pilihannya apa aja?" Upil kepo badai.
"Haha rahasia, entar kalau udah fix aku kasih tau deh," aku menjulurkan lidahku.
"yelah yung, bocorin napah?" Upil merengek.
"Rahasia.." aku julurkan lidahku lagi dan berlari ke lantai atas. Upil mengejarku. Kita emang paling kompak kalau masalah bikin orang kesel. Betapa indahnya persahabatan ini. Hingga kita berhenti karena menabrak seseorang, dan itu Ulya.
Aku yang akhir-akhir ini sering dapat tugas langsung dari koordinator, membuat beberapa orang tidak senang. Seperti Ulya misalnya, dia selalu saja mencari masalah denganku. Kejadian dia melaporkanku ke koordinator tetap tak membuat dia puas. Ada aja hal sepele yang dia permasalahin sama aku. Dia langsung menampakkan muka masam ketika aku tak sengaja menabraknya. Lalu dia cepat-cepat pergi meninggalkan Aku dan Lutfi.
"Nenek lampir, cih.." Upil kesal.
"Udahlah nggak usah ditanggapi," aku menenangkan Upil.
Upil tau semua soal Ulya yang mencoba mendekati kak Fariz, agar aku salah paham dan tidak fokus sama kerjaku, makanya dia kesal banget. Upil juga tau kalau Ulya yang membocorkan hubunganku pada koordinator sehingga kak Fariz dipindahkan. Namun aku nggak nyalahin Ulya juga, karena ini konsekuensi, akupun juga salah. Sepandai-pandai bangkai ditutupi, pasti akan tercium juga baunya. Aku menyadari itu. Memang aku yang salah sudah jatuh cinta tak tepat pada waktunya.
Seraya aku mengecek stok barang di gudang, tak ku sangka kak Fariz juga disana. Dia membawa tumpukan baju yang langsung ia letakkan ke tepi setelah melihatku lalu dia menghampiriku. Nggak ada orang lain selain aku dan dia, gudang yang sepi semakin senyap, dengan tumpukan rak barang yang menjulang tinggi, dan cahaya yang tak seluruhnya masuk dari jendela, membuat seisinya redup, serta menambah canggung suasana.
"Dyana?" Dia menyebut namaku. Sebisa mungkin aku tersenyum.
"Loh, kakak disini, kapan datangnya, kok aku nggak tau?"
"Barusan sampai, sama mobil di bawah, ambil beberapa barang disini untuk pesanan di kota Kediri." Dia menjelaskan.
Sebisa mungkin aku bersikap biasa. Bagaimanapun aku nggak bisa menjadi pengecut untuk menghindari dia. Aku harus siap menghadapinya kapanpun itu, bahwa kita memang hanya cocok untuk menjadi teman.
"Rekreasi kamu ikut kan?" kak Fariz bertanya lagi.
"Haha iya lah, gratis kok nggak ikut," Aku mencoba mencairkan suasana yang beku. Serasa oksigen sangat terbatas disini.
"Dyana maafin aku ya,"
"Sudahlah kak, udah lewat juga, aku duluan ya, masih banyak laporan yang harus ku kerjain." aku meninggalkan kak Fariz sendirian.
"Ah sudahlah" aku menarik nafas dalam-dalam dan membuka pintu. Aku sudah tidak peduli, begitu aku meyakinkan diriku.
__ADS_1
***
Hari H telah tiba, kita yang di toko cabang harus pergi ke toko pusat dulu untuk absen, dan setelahnya kita berangkat ke Kota Batu sama-sama. Rekreasi kali ini, kita sepakat memilih Kota Batu Malang untuk melepas penat.
Malang yang memiliki udara sejuk dan hawa dingin, dengan apel menjadi ciri khasnya, sangat nyaman untuk merilekskan pikiran. Kota yang berada di pegunungan, masih asri dengan berbagai pepohonan dan banyaknya perkebunan menambah suasana romantis. Pemandangan indah dari ketinggian sangat memikat hati. Bagi beberapa temanku, rekreasi kali ini sungguh menyenangkan, namun hampa untukku.
"Pergi tidur dulu sana, besok capek diperjalanan," Upil mengingatkanku, ketika aku sedang melamun di balkon.
Balkon di toko pusat memiliki pemandangan yang menakjubkan. Apalagi pernah suatu kali, ketika kak Fariz belum dipindahkan, koordinatorku menyuruhku dan kak Fariz untuk mengambil pesanan yang sudah ditunggu pemesan namun tak kunjung sampai. Akhirnya kita berdua disuruh ke toko pusat. Lalu kak Fariz menunjukkanku tempat ini, karena dulu aku cuma seminggu disini sebelum dipindah ke Blitar, jadi aku belum explore tempat-tempat di toko pusat ini.
Aku terjaga sepanjang malam, hingga waktu subuh tiba aku tak tidur. Setelah semua siap, sudah mandi dan sholat, kita berangkat. Aku satu bus dengan Kak Fariz juga, dia duduk bersebelahan dengan kak Lily. Rasanya kenapa aku selalu dipertemukan dengan mereka, walau aku meyakinkan perasaan ini tak boleh terus tumbuh, kadang masih merasa cemburu.
Semua teman-temanku menyanyi riang di dalam bus. Ada juga yang menggitar. Aku berusaha menikmati suasana. Anggap aja ini liburan untuk melepas semua kesedihan, menyudahi tangisan, dan menjadi awal untuk melupakan lalu menghadirkan kebahagiaan.
"Drtt..drtt.. liburan nggak ajak-ajak." pesan masuk dari Danial, tanpa sadar ada perasaan bahagia membacanya.
"Kalau ngajak kamu rugi, makannya banyak," aku kasih emoticon ngakak, aku dan dia emang garing banget kalau chatingan.
"Entar bawain foto ya?"
"Aneh nih anak," aku cuma membatin.
"Kok foto?" Aku balas chat dia.
Aku tertawa, dia emang paling humoris, sangat bisa mengalihkan perhatianku. Pukul tujuh kita sampai di hotel, kita membersihkan badan lalu sarapan sama-sama.
Aku mencari kesenanganku sendiri, jika aku sedang melihat kak Fariz dan Kak Lily, cepat-cepat ku alihkan pandanganku, sibuk mencari hal lain. Aku jalan bersama Anas, Fajar dan Lutfi. Kita coba berbagai permainan yang memacu adrenalin. Dari jet coster, roll coster, histeria, dan memasuki rumah hantu juga. Kita bersenang-senang, seolah lupa akan beban yang selalu mengusik jiwa.
Ketika di Selecta, taman yang dipenuhi berbagai macam bunga nan indah, kita banyak bertemu dengan teman dari cabang lain. Sungguh indah bertemu teman baru. Aku berusaha membuat sibuk diriku untuk bersenang-senang.
"Dyana ya?" Sapa seseorang ketika aku sedang menikmati angin di atas bukit. Aroma tanah yang sejuk, pohon yang rindang, dan langit berkabut namun indah. Membuatku tak sadar ada seseorang berdiri disampingku. Aku menoleh ke arah suara itu.
"Siapa ya?" aku bingung.
"Fans kamu," dia senyum, aku ketawa.
"Haha serasa artis akunya,"
"Uje," dia mengulurkan tangannya.
"Nggak perlu ku kasih tau kan, udah tau juga namaku," aku senyum dan memandang jauh.
"Sejuk ya disini," ujarku lagi memberitahu.
__ADS_1
"Kamu kenapa disini?" aku bertanya lagi.
"Aku kagum sama kamu, dulu aku ingin sekali bisa mengenalmu, tapi kamu udah dipindah duluan,"
"Dulu?" aku memastikan.
"Iya, dulu aku diam-diam memperhatikanmu di toko pusat, belum sempat dapat nomor telfonmu, kamu udah dipindah, aku berusaha mendapatkan nomormu, aku tanya teman-teman belum ada yang punya, aku tungguin kamu nggak pernah ke toko pusat lagi,"
"oh.." aku senyum bingung dan salah tingkah.
"Malah aku dapat kabar, kamu udah ada yang memiliki."
"Apakah dia akan menyatakan perasaannya?" aku membatin menunggu kelanjutan ceritanya.
"Nggak salah aku kagum sama kamu, kamu wanita yang tegar, aku udah tau semua kisahmu dengan Fariz, ku harap kamu bersabar ya, kamu akan mendapatkan yang lebih baik lagi,"
"Sudah lewat, aku sudah ikhlas." kataku menyahutinya.
"Aku cuma ingin mengungkapkan perasaan. Aku selalu terganggu jika belum menyatakannya padamu, bahwa aku kagum denganmu. Sekarang aku lega, aku sudah bicara denganmu,"
"It's Ok, kadang gitu, kalau kita suka sama orang belum tentu orang itu suka sama kita, apalagi bisa memilikinya." Aku tersenyum.
"Dan maaf juga, untuk saat ini, aku belum ingin terikat dengan seseorang."
"Aku paham Dyana," Dia menyadari itu.
"yuk turun, bentar lagi malam," Dia mengajakku menuruni bukit.
Akhirnya aku jalan turun dengan Uje. Setidaknya aku ada teman bicara saat ini. Setelah sampai hotel aku balik ke kamarku. Aku melewatkan makan malam. Aku rebahkan tubuhku di kasur. Aku mengistirahatkan tubuhku yang seharian berperang emosi terpendam.
Hp ku bergetar, pesan dari Danial.
"Kapan kita bisa ketemu?"
"Aku masih bingung nih, belum ada cuti," Beberapa kali aku selalu membuat alasan untuk berjumpa dengannya.
"Ayoklah,"
"Aku pikirkan dulu," Dia selalu mengajakku bertemu, hingga aku ketiduran memikirkannya.
***
Semua yang di bus senyap ketika perjalanan pulang. Semua penat setelah 2 hari menghabiskan waktu untuk explore Kota Batu. Perasaanku sudah mulai tenang. Aku melawan semua emosi yang berkecamuk, seiring berjalannya waktu, luka itu akan sembuh sendiri.
__ADS_1