
Danial Pov,
"Semangat kerjanya," Aku mengirim teks pada Dyana, dia berencana kembali bekerja hari ini. Meskipun pikiranku masih dihantui tentang foto itu serta diwarnai rasa cemburu, namun aku tetap harus perhatian ke dia. Mengingat aku yang memutuskan dia duluan. Menyadari aku yang telah salah sebelumnya. Semoga saja itu tidak seperti yang ku kira.
"iya sayang, kamu baik-baik ya," Dyana membalas pesanku. Senyumku memancar seketika, hatiku mulai lega. Mungkin foto itu bukan apa-apa. Hanya kebetulan.
Kemudian aku bersiap untuk bekerja. Hari ini aku meminta izin untuk bekerja setengah hari. Aku berencana ke Blitar, memberikan surprise ke Dyana.
"Buk aku berangkat kerja dulu ya," aku pamitan dan menyalami tangan ibuku. Sementara ayahku sudah sedari pagi keluar rumah. Tetanggaku mengadakan kenduri aqiqahan anaknya yang baru lahir.
Aku memutar motorku dipertigaan, aku sengaja lewat jalan pintas meskipun agak terjal agar segera sampai di tempat kerja. Jika melewati jalan raya akan butuh waktu sekitar 30 menit. Sebab rumahku berada dibalik gunung, namun akses masuk dan fasilitas sudah cukup bagus dan memadai.
Rumahku berada di kawasan pariwisata. Berada di pesisir pantai yang banyak ditumbuhi cemara di sekelilingnya, dan itu merupakan salah satu ciri khasnya. Akupun juga bekerja di pantai. Bertugas di bagian tiket masuk pariwisata. Pantai yang dikelilingi beberapa gunung disisinya sungguh memaparkan kemegahan yang haqiqi.
Momen bulan ramadhan tak ramai orang, sehingga aku bisa bekerja setengah hari saja. Aku sudah tidak sabar untuk menemui Dyana. Walau baru saja bertemu namun rasa rinduku masih membeku di tempatnya. Sepanjang jalan aku senyum sendiri membayangkan akan seperti apa reaksi dia mengetahuiku menjumpainya. Aku sudah melupakan foto itu, tepatnya sementara melupakan, sebelum mendapat penjelasannya. Mungkin saja itu ketidaksengajaan.
"Bukankah aku harus mempercayainya?" aku bersikukuh dengan pendirianku untuk tidak berprasangka buruk lagi.
Tiba-tiba aku kehilangan fokus menyetirku karena bersimpangan dengan mobil pick up pengangkut barang pasar. Biasanya jarang ada mobil yang lewat sini karena jalanannya yang sempit dan terjal.
Aku terjatuh diantara semak belukar. Aku gunakan tanganku untuk menahan tubuhku agar tidak jatuh terlalu dalam ke jurang. Motorku tersasang diantara ranting pepohonan. Sehingga tidak jatuh terlalu dalam ke jurang.
Aku bangkit dari jatuhku, tanganku serasa ngilu. Mobil pick up yang melihatku langsung berhenti. Dua orang lelaki turun dari samping kanan dan kirinya. Mereka berlari agar bisa segera menolongku.
"Maaf tadi saya tak melihat ada motor di tikungan," kata salah seorang lelaki yang mungkin sopirnya, sebab ku lihat dia turun dari sisi kanan.
"Kamu baik-baik saja," kata salah satunya juga
"Pergelangan tanganku sedikit ngilu," aku merintih.
"Saya antar kamu ke rumah sakit ya," mereka memapahku ke mobil pick up. Setelah itu mereka mencoba menarik motorku, karena tak dalam sangat jatuhnya akhirnya bisa diatasi. Mereka menaikkan ke atas mobil pick up setelah menumpuk beberapa keranjang barang agar ada tempat kosong.
__ADS_1
Aku menahan sakit dan nyeri selama perjalanan. Aku menggunakan tanganku untuk menahan tubuhku, yang menyebabkan benturan keras karena tekanan berat dari tubuhku. Sekarang kondisinya agak sulit untuk digerakkan.
Sesampainya di rumah sakit, dokter ortopedi memeriksaku. Dia menanyakan bagaimana kronologis kejadiannya. Dia memeriksa tanganku dengan hati-hati.
"Ini patah pergelangan tangan ringan, dimana tulang masih berada di posisinya, tapi kita harus memastikan dengan melakukan CT scan." dokter menyarankan.
"Baiklah dok," aku ikuti prosedur rumah sakit. Setelah hasil CT scan keluar dokter menjelaskan padaku diagnosanya.
"Saya akan pasang gips agar posisi pergelangan tanganmu tetap terjaga." ucap dokternya.
Dokter pun memasuki ruang penyimpanan dan mengambil peralatan. Setelah selesai membalut dan memasang gips nya dokter memberiku obat pereda rasa sakit juga. Tanganku kini terbalut dengan gips.
Setelah membayar biaya administrasi aku pulang. Aku minta izin tidak bekerja. Sementara motorku diantarkan ke bengkel. Kondisinya tidak parah, hanya saja bagian depan motor sedikit pecah.
"Ndi jemput aku di Rumah Sakit Medika," aku menelpon Andi.
"Kenapa loe?" Andi mengangkat teleponnya sambil melahap mie instantnya.
"Hah, loe nggak apa-apa kan? kok bisa? gimana ceritanya? parah nggak?" Andi nyerocos panjang lebar sampai lupa akan mie nya. Aku menjauhkan hp ku dari telinga. Andi bising banget.
"Bisa nggak jemput gue?" aku tanya lagi setelah dia diam.
"Gue berangkat," Andi meraih kunci motornya dan melaju secepat kilat.
"Bisa-bisanya loe jatuh sampe kaya gini Dan?" Andi mengintrogasiku setelah menemuiku di ruang tunggu.
"Biasalah, luka kecil aja," aku tenang.
"Terus loe jadi ke Blitar?" Andi menanyaiku khawatir.
"Jadilah, cuman gini doang, entar gue naik bus aja." aku berencana untuk tetap pergi. Andi hanya geleng-geleng lalu dia mengantarkanku pulang.
__ADS_1
***
Andi tak langsung pulang setelah mengantarku. Orang tuaku sedang tidak ada di rumah. Mereka pergi menjenguk pamanku, dan berencana menginap.
"Mending loe istirahat deh," Andi menyarankan.
"Nggak papa, gue mau ketemu dia," aku kekeh membujuknya. Akhirnya Andi mengalah dan mau mengantarku ke terminal bus.
Aku menunggu bus datang lumayan lama. Hingga akhirnya ada satu yang memiliki rute ke tempat Dyana. Aku langsung menaikinya, dan memilih duduk di pojok belakang.
Aku bersandar seraya menatap jendela. Aku menenangkan pikiranku. Memejamkan mata berusaha mengistirahatkan sejenak tubuhku. Nyeri dipergelangan tanganku masih terasa.
Dua jam perjalanan sudah ku tempuh. Bus berhenti di halte yang tak jauh dari toko Dyana. Aku berjalan menyusuri keramaian kota. Dan berdiri di depan sebuah bangunan berlantai tiga dengan banyak poster brand ternama di sekelilingnya. Inilah tempat Dyana bekerja. Aku berencana membeli nasi goreng dulu sebelum bertemu dengannya.
Aku menunggunya di taman dekat tokonya.Taman air mancur yang baru diresmikan pemerintah kota. Aku bisa melihat banyak orang berlalu keluar memasuki pintu toko yang dijaga dua satpam berseragam biru dongker itu. Ramai sekali, aku membayangkan betapa sibuknya Dyana hari ini.
Dia tidak mengetahui kedatanganku. Aku ingin memberinya surprise. Sekaligus memastikan keadaanya. Sudah benar-benar sembuh dari sakitnya atau belum. Dan menanyakan foto agar aku tidak terus kepikiran.
Aku duduk di taman memandang kolam ikan dengan air mancur yang terpancar di tengah kolam. Banyak lampu-lampu juga menghiasi pinggir kolam. Membias ekor ikan yang kesana kemari, nampak selalu senang. Aku raih rokok dari sakuku dan mementikan korek api, menyalakannya. Aku bersantai seraya menunggu jam tutup toko.
Aku lihat jam tanganku sudah pukul delapan malam, sebentar lagi Dyana akan selesai bekerja. Aku habiskan nescaffe ku dan membuang kalengnya ke tempat sampah. Aku berjalan mencari kedai nasi goreng. Dyana sangat menyukainya.
"Bang nasi goreng satu, dibungkus, pedes ya," aku memesan satu porsi pada abang penjualnya.
"Telurnya dicampur apa dipisah mas?" tanya abangnya.
"Dipisah, setengah matang ya,"
Setelah menunggu akhirnya pesananku sudah siap. Aku kembali ke toko Dyana. Aku memasuki parkiran toko, menunggu di sebuah bangku di pojok. Aku melihat banyak teman Dyana yang saling bercengkrama sebelum berucap selamat tinggal. Sambil sibuk memakai helm, ada yang sudah siap tancap gas, memakai jaket dan juga membenarkan lipstiknya. Rasanya semua kepenatan mereka hilang seketika dijam pulang
"Yooii aku duluan ya," salah satu wanita berteriak ke temannya.
__ADS_1
Tak jauh dari situ, di tangga, Dyana menuruninya pelan bersama temannya, yang ku tau itu Lutvi, teman akrabnya yang suka banyak bicara. Namun aku terkejut ketika aku melihat sesosok lain, lelaki yang tak asing bagiku. Aku pernah melihat dia sebelumnya. Dyana nampak akrab sekali.