Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Menghabiskan Malam Denganmu


__ADS_3

Dyana Pov,


"Kamu naik bus?" Danial menjawabku santai seraya mengangguk.


"Ini sudah malam loh, bus terakhir jam 10.45," aku melirik jam tanganku yang sudah menunjukkan pukul 10.15.


"Kalau ketinggalan bus tidur sama kamu aja," Danial mengendipkan sebelah matanya sambil tersenyum smirk.


"Mesum," wajahku terasa memerah dengan godaannya.


Sembari mengobrol Danial dengan telaten menyuapiku hingga lahapan terakhir. Nasi goreng kesukaanku dengan telur setengah matang. Mantab.


"Maaf ya, aku bikin kamu salah paham dan jarang ngabarin," aku memegang tangan Danial.


"Nggak papa, salahku juga punya rasa cemburu," Danial berkata lembut dan mengusap kembali tanganku.


Ini adalah hal yang paling aku suka dari dia, dia bisa mengontrol emosinya dan berpikiran terbuka. Dia selalu pengertian dan melihat sesuatu dari berbagai sudut pandang. Dia selalu berpikiran positif tentang hal apapun. Berusaha menemukan solusi dengan kepala dingin.


Meski banyak masalah yang menyertai hubungan kita, namun dia sedang berusaha. Begitupun aku yang mencoba setia. Kita sama-sama berusaha menjadi dewasa, yang lebih suka mencari solusi suatu masalah tanpa harus bertengkar lama-lama yang bikin jengah.


"Semoga tanganmu lekas sembuh, aku mengusap-usapnya." Rasanya aku tidak tega melihatnya.


"Sini aku tulisin sesuatu," aku menarik tangannya dan mengambil pena dari sakuku, pena yang biasa aku buat untuk menulis nota dan laporan keuangan.


Setelah selesai menulis beberapa sajak di gips nya dan menggambar simbol ikan, aku masukkan kembali penaku ke saku.


"Ikannya lucu.." Danial tersenyum.


"Semoga kita jodoh ya," aku berharap tulus kepada Danial.


Hampir tengah malam, dia disini, duduk dihadapanku, jauh-jauh dari kotanya menemuiku, dan aku malah membuatnya kecewa dengan kata-kata yang sesak di dengar. Sebab candaan Lutvi dan Rina yang mereka belum tau kebenarannya.


"Makasih ya kamu belain kesini dengan keadaan seperti ini. Maafin aku," untuk kesekian kalinya aku meminta maaf padanya.


"Kamu tenang aja," Danial mengusap kepalaku.


"Makasih udah mempercayaiku." aku mengutarakannya pada Danial yang selalu bersikap tenang.


"Aku mau kasih kabar baik juga sih," Danial tersenyum menatapku.


Aku memandangnya, wajah yang tak pernah bosan untuk dikagumi.

__ADS_1


"Ada apa?" aku masih memandangnya dengan cinta.


"Aku sudah menemukan jalan keluar untuk hubungan kita, aku akan berusaha, berjuang untuk kamu," Danial berkata tegas.


"Benarkah?" mataku berkaca-kaca.


"Kita jalanin dulu ya, semoga kita bisa meluluhkan hati ayahku." Danial meyakinkanku.


Aku memeluknya bahagia, setidaknya ada secercah harapan untuk membina hubungan ini. Aku juga akan mendukungnya dan selalu berada dibelakangnya, untuk menguatkannya.


"Ya udah, kamu pulang, hati-hati." aku menyuruhnya, aku khawatir dia tidak akan mendapat bus terakhir.


"Iya aku pulang, kamu jaga diri baik-baik," Danial melepaskan pegangan tanganku.


"Kamu hati-hati di jalan," aku lambaikan tanganku.


"Buruan masuk gih, udah malam," Danial mengisyaratkan tangannya ke pintu gerbang. Aku tersenyum padanya, dia membalas senyumku. Aku menutup pintu gerbang saat bayangannya sudah tak nampak lagi. Rasanya dia selalu tenang menghadapi apapun, dia tidak seperti lelaki yang sebelumnya bersamaku. Dia punya caranya sendiri untuk mencintaiku.


"Pacaran di bulan Ramadhan, cihh.." Ulya menyindirku yang akan memasuki asrama. Aku hanya mendiamkannya.


"Nggak tau malu," dia berucap lagi yang membuatku kesal.


Ulya menatapku tajam dan dia pergi ke kamar depan, sementara aku memasuki kamarku. Aku banting tubuhku di kasur, aku rebahan kecapekan dan kesal juga pada Ulya.


"Kenapa sih yung?" seru Lutvi yang melihat kemarahanku. Aku hanya geleng-geleng kepala. Lutvi akhirnya diam juga dan bermain dengan ponselnya lagi. Sebab dia tau jika suasana hatiku nggak baik, aku hanya akan diam.


Aku tau, diriku masih banyak kesalahan, banyak dosa, tapi cukup malaikat saja yang mencatat. Sesama pembuat dosa nggak usah ngejudge. Kita beda cara aja untuk melakukannya. Terkadang lingkungan juga mempengaruhi, lebih realistis saja. Toh akupun juga nggak melanggar norma yang berlaku di masyarakat meskipun sedikit menyimpang dari norma agama.


Namun agama membebaskan pemeluknya kan, tergantung orangnya. Baik sih menasehati, tapi semua tergantung manusia, mau pilih ke yang baik atau yang buruk ya terserah yang jalanin. Kalau aku belum baik ya udah, nggak usah ikut campur, kalau kamu baik ya udah pertahanin. Nggak usah nyindir-nyindir karena surga urusan masing-masing. Belum tentu orang akan buruk terus kan, yang baik juga belum tentu baik seluruhnya. Meskipun memang baik untuk menjadi baik dan berbuat baik. Aku buruk di satu sisi bukan berarti aku nggak punya sisi baik juga kan.


Toh, di taman tadi nggak cuma aku, banyak juga pasangan-pasangan lain yang saling bercanda. Apa salahnya, salahnya dimana. Selama norma kesopanan dan adab masih tidak melewati batas.


Malam ini Ulya benar-benar menguras emosi dan menerbitkan kemarahanku. Usai sholat isya', aku berusaha untuk memejamkan mataku, tidak ingin memikirkan perkataan Ulya.


"Selamat malam Danial," pesan terakhirku menutup malam ini.


***


Pagi menjelang, suara bising kendaraan di jalanan tak pernah berhenti sedari malam, dan semakin keras di kala subuh. Sebab toko terletak di persimpangan jalan yang merupakan akses ke kota juga. Sehingga selalu ramai. Sebelah toko adalah pom bensin. Suara kakak perempuan yang terdengar cempreng sudah menggema sejak fajar menyingsing.


"Pertamax, Pertalite, Premium,"

__ADS_1


"Di mulai dari nol ya,"


Setiap hari aku mendengarnya, terkadang suara-suara mereka yang saling bercengkrama seolah menjadi hiburan. Membuatku tak jenak lagi untuk tidur lebih lama. Lagi pula jam buka toko menjadi lebih pagi setengah jam dari biasanya. Hal seperti ini yang membuatku sedikit sebal karena ketika malas kita dipaksa harus tetap rajin.


***


Danial pov,


"Ndi jemput gue di terminal," aku mengirim pesan pada Andi, sahabat yang selalu mau aku repotkan. Dua jam perjalanan balik ke kotaku sangat melelahkan. Sekejap akupun tertidur juga di bus, hingga terbangunkan oleh suara sopir yang memberitahu sudah sampai tujuan.


Aku rasakan nyeri di pergelangan tanganku sebab dingin mulai merasuki. Aku duduk di kedai kopi sembari menunggu Andi.


"Selamat malam juga sayang," aku balas pesan masuk dari Dyana, bersamaan dengan kopi yang baru disuguhkan pelayan. Aku bermain game di ponsel sebab Andi lama sekali tak kunjung datang. Aku bosan menunggu.


Setengah jam berlalu, aku lirik jam tanganku lagi. Andi masih saja belum sampai.


"Hisshh.. nih anak pasti belok-belok," aku menggerutu.


Tiitt..ttiittt..


Akhirnya suara klakson terdengar, Andi dengan santainya nengkreng di motor.


"Lama banget, ngapain aja loh," aku kesal.


"Marah-marah gue tinggalin nih," Andi menyalakan motornya.


"kemana aja sih, liat nih gue udah membeku disini," aku yang cuma pake kaos dan celana pendek saja, sehingga hawa dingin menyusup kulitku.


"Tadi mandi dulu, abis volly sama Dicko dan yang lainnya." Andi menjelaskan.


"Iya mandi nya pake berendam kembang tujuh rupa, makanya lama," aku tepuk bahu Andi.


"Hihh, rese loh, gue nyetir nih,"


"kek prawan loh, mandi 2 jam," aku turun dari motornya. Yang memang sudah sampai dirumahku.


"Ya udah pulang sono," aku dorong motornya pergi.


"yeeee.." Andi ngedumel.


"makasih bro.." aku berteriak dari jendela rumahku seiring motor Andi yang sudah terlihat menjauhi rumahku.

__ADS_1


__ADS_2