Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Mitos Jawa


__ADS_3

Aku masih penasaran tentang adat jawa. Dalam keluargaku tak pernah sedikitpun menyinggung persoalan ini. Keluargaku tak menjadikan adat jawa sebagai patokan. Sehingga aku tak mengerti, aku baru mendengar ini dari Danial.


Iseng-iseng aku browsing di google, aku penasaran. Ada beberapa artikel yang menjelaskan.


"Haihh ribet banget orang jawa mau nikah?" aku menggumal.


Aku scrool-scrool layar, membaca dengan seksama. Banyak opini-opini mengitari pikiranku.


"Dilarang menikah di bulan Sura atau Muharram?" Aku mencoba memahami penjelasan yang tertulis di salah satu website.


"Ya lagian nggak bagus juga kalau di penanggalan pertama kalender hijriyah dilakukan hajatan besar, katanya bulan ini keramat dan sering mendatangkan bala musibah yang besar. Masih bisa dimaklumi," aku membenarkan argumenku sambil mengetuk-ngetuk meja.


drrt..drrtt..


"Kenapa kamu nggak angkat telefonku," chat Danial menghentikan aktifitasku.


Memang sedari pagi, Danial menghubungiku. Namun aku abaikan telefonnya. Rasanya aku belum pandai mencerna kejadian kemarin. Sungguh menyiksa. Dia memutuskanku tanpa mau mempertimbangkan perasaanku. Bukankah suatu masalah pasti ada solusi, aku meratap.


"Aku akan berusaha untuk kita." Danial mengirim pesan lagi, namun cuma aku baca. Aku masih malas untuk membalasnya.


Aku lanjutkan aktivitasku, aku scrool layar laptopku, dan tercekat pada salah satu judul artikel. Anak pertama dan anak ketiga nggak boleh menikah di dalam adat jawa. Deg, perasaanku menjadi tak karuan lagi. Aku fokus membaca artikel itu.


"Menurut sebagian masyarakat jawa anak pertama dan anak ketiga tidak boleh menikah karena akan membawa petaka. Mulai dari sering berantem karna perbedaan karakter yang tinggi, kesulitan ekonomi hingga salah satu dari orang tua mempelai atau kerabat akan meninggal."


"Bukankah yang hidup pasti akan mati suatu hari nanti?" aku menggumam sambil menggeleng-gelengkan kepalaku. Lalu aku lanjut membaca lagi.


"Perbedaan karakter yang tinggi adalah anak pertama si sulung yang tegas dan mandiri. Sementara anak ketiga si bungsu yang cenderung manja. Perbedaan karakter yang besar akan sulit menjalin hubungan lebih serius apalagi kalau sulit berkompromi." aku membaca artikel dengan teliti.


"Di dunia mana ada orang yang benar-benar sama satu sama lainnya, perbedaan karakter itu wajar, bukankah hal itu bisa diatasi, buktinya aku sama Danial bisa cocok walau terkadang cekcok." Aku tidak sependapat jika itu dijadikan patokan. Aku scrooll lagi layarku dan membaca dengan seksama.

__ADS_1


"Masyarakat Jawa yang akan melangsungkan pernikahan akan melakukan perhitungan weton jodoh. Weton ini dilakukan untuk mengetahui tingkat kecocokan pasangan. Apabila cocok, rencana pernikahan akan dilangsungkan. Tetapi apabila wetonnya tidak cocok, maka pernikahan sebaiknya dibatalkan. Sampai sekarang masih banyak yang mempercayainya."


"Hah, apaan nih weton jodoh?" aku berpikir bingung. Lalu ku search di pencarian google lagi.


"Dalam primbon Jawa, weton jodoh digunakan untuk menentukan keserasian antara pasangan berdasarkan panduan tanggal lahir.


Dari tanggal lahir tersebut kemudian dipetakan berdasarkan hari dalam kalender Islam dari hari Minggu hingga Senin, lalu kalender Jawa atau pancawarna meliputi, Pahing, Pon, Wage, Kliwon, dan Legi."


Aku mencerna kalimat ini dengan sungguh-sungguh. Aku benar-benar belajar. Aku fokus sampai dering ponselku tak ku tanggapi. Cuma aku lirik sekejap, Danial memanggil. Tapi aku sibuk melanjutkan membaca. Aku abaikan dia.


"Berdasar hari dan pasaran ada tabel angka yang sudah menjadi patokan, dan penjumlahan hari lahir dan hari pasaran disebut nebtu. Sudah ada rumus perhitungan dan prediksi masa depan yang dipercaya turun-temurun oleh masyarakat."


Aku pahami dengan seksama rumusnya, iseng-iseng aku keluarin buku catatan ingin menghitung juga. Sekedar tau aja. Aku nggak percaya sama ramalan, semua itu sudah menjadi kehendak Tuhan. Tapi apa salahnya sekedar mengetahui.


"Danial yang lahir di hari Sabtu Kliwon memiliki nebtu 17 dan aku yang lahir hari Kamis Pahing juga memiliki nebtu 17,"


Aku sibuk menghitung penjumlahan hingga berhasil menemukan prediksinya. Aku coret-coret kertas berharap ramalannya bagus. Walau aku nggak percaya banget tapi ingin tahu. Setelah aku jumlahkan hasilnya adalah sujanan, sangat sedih aku membacanya. Sujanan yang diramalkan berarti akan ada satu pihak yang berselingkuh.


Namun iseng-iseng aku search ramalan jodoh, aku masukkan nama dan tanggal lahirku sama Danial. Ramalan-ramalannya bagus semua. Seperti jatuh pada prediksi yang disebut Ratu yang artinya rumah tangganya sangat disegani orang-orang terdekat bahkan ada yang iri dengan keharmonisannya. Pasangan ini akan bisa memadu kasih indah dan abadi serta selalu dilimpahi kebahagiaan.


"Cieeh.. kaya Habibie dan Ainun donk, uncch.." Aku senyum geli memikirkannya.


"Tuh kan, ramalan gini dipercaya, ga valid. Semua hubungan juga pasti ada ketidakcocokan, tapi gimana kita mau bertahan." aku menggerutu.


"Masa gara-gara kaya gini aku langsung diputusin, pokoknya aku nggak terima," aku mengomel sendiri.


"Beneran kamu mau ngusahain hubungan kita?" Akhirnya aku tanggapi Danial. Aku balas pesannya.


"Maafkan aku kemarin, aku akan berusaha, mencoba mencari jalan keluar, dan membujuk ayahku." Danial menjelaskan.

__ADS_1


Tak lama Danial langsung video call. Aku ragu-ragu mengangkatnya, rasanya untuk melihat wajahnya membuatku terbayang adegan kemarin, dimana dia menghujam perasaanku hanya dengan dua kata 'Kita putus'. Namun jemariku tak bisa sinkron dengan hatiku. Aku menggeser layar hingga muncul wajah Danial didepanku.


"Maafkan aku, aku akan mencari jalan keluar," Danial berbicara. Dia meminta maaf lagi padaku.


"Namun aku masih butuh waktu sendiri Dan, biarkan aku tenang dulu." Aku langsung matikan video call dia. Aku masih belum memikirkannya, harus bagaimana11.


***


Danial Pov


"Aku sungguh lelaki bodoh, bagaimana bisa aku menyakiti orang yang paling ku cintai," aku merutuki diriku sendiri.


Kejadian kemarin seperti kata yang tak Danial sadari telah terucapkan. Pikirannya yang kalut membuat otaknya tak bisa berpikir jernih. Dengan refleks dia memutuskan Dyana begitu saja. Sekarang dia menyesali sudah mengucapkan kata-kata itu.


Sedari pagi Dyana tidak mengangkat telefonku. Aku paham jika dia sangat kesal padaku, bahkan marah.


"Kenapa kamu tidak mengangkat telefonku?" aku kirim pesan padanya dan tak menuai balasan juga.


Aku baringkan tubuhku di kasur, rasanya pikiranku melompat kacau tak tentu arah. Aku merasa tidak nyaman, aku miring ke kanan dan kiri namun tetap tidak jenak. Aku raih handphone ku di nakas dan membuka WA lagi, masih belum dibalas.


"Aku akan berusaha untuk kita." Aku kirim pesan lagi, berharap segera di balas. Tak lama centang dua biru sudah ku lihat. Aku menunggu balasannya namun dia hanya membacanya saja.


"huahh.." aku usap kepalaku kasar. Aku bingung harus apa. Akhirnya aku tarik jaketku dan keluar kamar.


"Le mau kemana?" ibuku berujar saat berpapasan di ruang depan.


"Mau ke rumah Andi buk," aku keluar rumah tergesa-gesa. Aku masukkan kunci motorku dan menghidupkan mesin.


"Hati-hati Le," teriak ibuku. Aku mendengarnya sambil lalu.

__ADS_1


Aku lajukan motorku secepatnya. Dan sampai pada rumah bercat biru yang senantiasa menjadi basecamp sahabat-sahabatku. Rumah Andi.


__ADS_2