
Jadwal hari ini adalah PAP, semacam pelatihan untuk domestic worker sebelum dijemput oleh majikan. Aku dan beberapa teman yang beda kota denganku diantarkan ke sebuah gedung bertingkat. Kita menuju lantai tiga yang terdapat banyak lorong dan ruangan.
Masing-masing ruangan terdapat nomor, dan aku memasuki kelas 25A seperti yang tertulis di Id card ku. Kita disambut oleh seorang laki-laki yang ternyata adalah pengajar di pelatihan kali ini. Berdasar logat bicaranya ku tebak ia orang Sunda. Suaranya kalem dan orangnya humoris.
Selama pelatihan aku simak dengan fokus agar bisa mendapat surat kelulusan. Di sela-sela pembelajaran kita juga bermain game. Suasana kelas sangat heboh dan menakjubkan. Berbekal sedikit pelatihan aku meyakinkan diriku bahwa aku sudah siap untuk pekerjaan baru yang benar-benar bukan passionku ini. Ketika sore menjelang barulah kita kembali ke asrama.
Keesokan harinya aku ke MOM untuk mengurus work permitku. Lalu kembali ke kantor untuk dijemput oleh majikan. Setidaknya sejauh ini aku cukup disibukkan sehingga sedikit banyak mengesampingkan Danial. Mungkin ini langkah awal dari move on yang bisa ku lakukan.
****
Danial Pov,
Drtt.. drttt .
Ponselku terus saja berdering, membuat telingaku merasa berisik. Aku raih ponsel di nakas dan menggeser tombol hijau.
"Hallo,, siapa?" Mataku yang masih terpejam sebab kantuk masih terasa membuatku tak tau siapa yang menggangguku di pagi hari.
"Loe masih tidur?" suara Lutvita memekak.
"Vita? ngapain ganggu aja pagi-pagi," aku menyandarkan tubuhku di ranjang.
"Hari ini Dyana berangkat," Lutvita memberitahuku.
"Berangkat kemana? ke Blitar?" Aku yang belum paham semakin bingung.
"Ke Singapura, mungkin sekarang dia sudah di bandara," Lutvita geram.
"Maksud loe?" Aku menjadi merasa bersalah. Inikah sebab dia ingin bertemu minggu lalu, aku masih belum paham dan malah menolaknya.
Flash back on,
Weekend selalu ramai pengunjung yang datang Menjadi hari tersibuk dan melelahkan. Banyak orang beramai-ramai berwisata, entah dengan kekasihnya atau keluarganya. Di tengah kesibukanku bekerja ada sebuah pesan dari Dyana.
__ADS_1
"Bisakah kita bertemu," pesan dari Dyana.
"Sebenarnya aku sangat ingin menemuimu Na," aku membatin.
"Aku nggak bisa, aku sibuk bekerja," Aku menolak ajakan Dyana, semakin sering bertemu, semakin susah untukku melupakanmu.
"Oh, ya udah, maaf ya mengganggumu," Tersirat kekecewaan di pesan Dyana.
"Maafkan aku," hanya itu yang bisa ku lontarkan untuk membalas pesannya.
Flash back off,
"Sekarang aku menyesalinya tidak menemuimu, kenapa kamu pergi sejauh itu," aku khawatir padanya.
"Jam berapa dia terbang?" Suara Lutvi belum lagi menjawabku.
"Mungkin sekarang dia sudah di dalam pesawat," Lutvi terdengar lesu.
"Ada pesan Vi, aku lihat dulu ya," aku mengecek whatsappku.
"Aku pamit.. selamat tinggal.. aku selalu mendoakanmu. Akan ku bawa terbang perasaanku. Akan ku jatuhkan rinduku. Semoga kamu bahagia. Aku minta maaf masih mengganggumu. Terimakasih pernah menguatkan aku. Kamu terindah yang pernah menyemangati aku. Selamat tinggal. Semoga kelak bisa berjumpa lagi . Meski sudah ke lain hati." pesan dari Dyana sungguh membuatku sedih.
"Apa aku akan benar-benar kehilanganmu Na?" batinku menahannya.
"Vi, Dyana udah pergi," aku menggumam ke Lutvi yang telponnya masih tersambung.
"Disaat terakhirpun kamu nggak bisa bertemu dengannya Dan," Lutvi nampak kecewa juga.
Lutvi merasa adanya kesalahpahaman yang tercipta kemarin memang benar-benar menjauhkan mereka. Lutvi berniat agar mereka saling menjelaskan sebab Dyana sudah bertekad ingin pergi jauh bahkan keluar negara. Lutvi tidak ingin terjadi kesalahpahaman, kalaupun harus berpisah semua harus jelas.
"Aku berharap kamu baik-baik saja. Semoga penerbanganmu menyenangkan." cuma itu yang bisa ku utarakan pada Dyana.
"Rasanya aku sungguh mengecewakan menjadi laki-laki." jawabku pada Lutvita.
__ADS_1
"Sudahlah Dan, kamu juga harus move on, mudah-mudahan Dyana juga baik-baik saja." Lutvita menyemangati Danial.
Niat hati ingin menghindar namun bayangannya selalu mengikuti. Di setiap terbangun dan terpejam, dia selalu pertama kali terlintas dalam pikiranku.
"Aku harus menemukan hobby baru untuk mengalihkan perhatianku." Aku bertekad move on, sebab dipaksakanpun hanya akan menyakitkan.
"Kamu yang sabar ya," Lalu Lutvita menutup teleponnya.
****
Dyana Pov,
Hari yang bikin penasaran telah tiba, aku sudah berada di rumah seorang asing yang menjemputku beberapa jam yang lalu dari kantor agency. Senyum ramah terukir ketika pertama kali bertemu. Dua malaikat kecil yang masih belajar berbicara berkicau ria membuat keteganganku memudar. Wajah lucu nan imut itu sedikit menghiburku sebab aku sendiri disini. Sedikit cengkrama untuk saling mengenal keluarga baru yang akan menjadi tempatku menghabiskan waktu dua tahun ke depan. Setidaknya ini lebih mudah dari yang ku bayangkan.
"Kesan awal yang baik, semoga seterusnya akan selalu baik," aku membatin.
Semua fasilitas telah disediakan dari mulai peralatan mandi, peralatan tidur dan makanan. Pekerjaan juga sedikit telah dijelaskan. Rasanya aku bahagia karena merasa diterima. Semua kembali kepada nasib. Tapi aku meyakini jika kita selalu berbuat baik, kita pasti juga akan dipertemukan dengan orang baik. Allah selalu bersama kita.
Banyak berita yang ku baca tentang domestic worker, banyak pengalaman dari teman yang diceritakan kepadaku, semua itu aku ambil pelajarannya. Entah suka maupun duka, mengeluh pun harus tetap dikerjakan, disitulah profesionalisme dalam pekerjaan. Dan mungkin Tuhan memberkatiku. Sebab aku memilih majikan yang seagama denganku. Semua yang terjadi seakan merubahku menjadi lebih baik.
Aku semakin banyak ilmu ketika ikut sekolah. Majikanku memasukkanku ke sekolah agar bisa merawat anaknya dengan baik. Sebab dia spesial, seorang non verbal autism. Adalah bagian dari autisme dimana orang tersebut tidak belajar cara berbicara. Diperkirakan bahwa 25% hingga 50% anak-anak yang didiagnosis dengan gangguan spektrum autisme (ASD) tidak pernah mengembangkan bahasa lisan di luar beberapa kata atau ucapan. Aku belajar bagaimana merawat malaikat kecil nan cantik itu.
Kesabaran dan keikhlasan serta rasa kemanusiaan yang mulai bertumbuh
membuatku membuka mata dan pikiran. Bahwa ketika terpurukpun masih ada secercah harapan untuk diambil hikmahnya.
Aku tidak menyesali keputusanku meski terkadang dipandang sebelah mata. Aku disini menjadi banyak bersyukur ketika bisa bermanfaat untuk manusia lain. Membantu merawat dan mendidik, bertemu orang baru yang yang memberi ilmu pengetahuan, mempelajari apa yang tidak pernah ku kenal sebelumnya, sungguh anugrah aku berada di kesempatan ini.
Psikolog yang ramah menjelaskan dengan telaten tentang non verbal autism. Feeds therapist yang sabar mengajari bagaimana mengenalkan jenis makanan berbeda, sebab ia pemilih. Teacher yang mendidik dan memberi tips bagaimana mengajarinya agar dapat mengontrol dirinya sungguh memberi pengalaman baru. Bertemu orang dengan berbagai profesi yang mau berbagi pengalaman adalah hal terindah yang ku dapatkan, di kala situasiku sedang dikecewakan.
Pengalaman yang mengharukan ketika majikan bercerita bagaimana bisa mendapatkan keturunan pertamanya setelah menunggu tiga tahun. Karena Hydrosalpinx yang menyulitkannya untuk bisa hamil membuatnya harus melakukan progam In fitro fertilization atau IVF. Dan setelah tiga kali proses baru berhasil. Sungguh luar biasa.
Menyenangkan ketika bisa beradaptasi dengan berbagai macam orang baru yang memiliki karakter berbeda. Menyelami kehidupan dengan berbagai macam keadaan. Sungguh Allah telah memiliki rencana yang lebih indah.
__ADS_1