Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Konsekuensi


__ADS_3

Ada kala disaat kita bahagia, di tempat lain seseorang sedang terluka. Semua memiliki kesempatan yang berbeda-beda. Kapan untuk bahagia, bagaimana menghadapi ketika terluka, dimana harus bersabar akan semuanya, kepada siapa dia menjadi kuat, dan apa yang membuatnya bertahan, semua hanya pertanyaan-pertanyaan yang jawabannya ambigu. Setiap orang punya cara masing-masing untuk melaluinya. Semua tergantung orangnya.


Belum lama aku berbaikan dengan kak Fariz, rintangan selalu saja ada. Dia akan dipindahkan ke toko cabang yang lain. Aku tidak masalah jika harus LDR, namun cara ini begitu tidak mengenakan.


Disaat aku dan kak Fariz bersedih, Ulya dan Riska adalah orang yang sangat berbahagia. Aku mendengar pernyataan itu saat mereka ngobrol di dapur asrama. Aku yang ingin mengambil botol air tak sengaja mendengarnya. Sungguh menghujam ketika orang yang ku anggap teman malah menusukku dari belakang.


Begitu inginnya Ulya akan posisiku, jika dia bilang baik-baik, dengan rela hati aku akan memberikannya. Dan untuk Riska, cinta bertepuk sebelah tangannya membuat banyak hati terluka. Bahkan secara tidak sadar dia juga melukai dirinya sendiri. Dia tau kak Fariz nggak akan menerimanya, maka itu Riska selalu berusaha merusak hubunganku dengan kak Fariz. Dia tidak terima bahwa kak Fariz hanya menganggapnya teman. Padahal dengan apa yang dia lakukan kak Fariz juga tidak akan bersamanya.


“Aku seneng banget deh Dyana dipanggil ke kantor,” Ulya menyeringai.


“Haha, kayanya dia dimarahin abis-abisan, denger-denger kak Fariz di pindah ke toko cabang.” Riska tertawa bahagia.


“Kalau aku nggak bisa memilikinya, aku juga nggak akan biarkan Dyana segampang itu untuk bahagia.” Riska melanjutkan kata-katanya.


“Biar rasain tuh mereka,” Ulya senang sekali.


Ulya sungguh sudah memprediksikan semuanya. Dia tahu tentang teman Kak Fariz yang menyukainya. Lalu dia manfaatkan kesempatan ini ketika temannya minta tolong kak Fariz untuk mendekatinya. Karena temannya itu, Kak Fariz jadi sering mengunjunginya. Ulya berpura-pura tidak tahu apa-apa. Sebenarnya Ulya tak menyukai teman Kak Fariz, namun dengan rencananya agar berhasil, dia berlagak menerima teman kak Fariz.


Dia pandai berbicara sehingga membuat kak Fariz tak sengaja bilang kalau sedang dekat dengan Dyana. Kak Fariz nggak menaruh curiga, sebab ia menjadikan Ulya temannya juga. Dengan begitu Ulya hanya menunggu kesempatan untuk mendapatkan bukti. Sehingga dia bisa lapor koordinator secepatnya.


Malam itu Ulya mendapati Kak Fariz dan Dyana di balkon, dengan sigap dia mengeluarkan ponselnya dan memotretnya. Dia nggak menyangka rencananya akan berhasil secepat ini.


***


“Aku besok harus segera pindah,” kak Fariz berpamitan padaku.


“Nggak bisa ya kalau nggak pindah?” tanyaku datar padahal aku sendiri sudah tau jawabannya.


“Udah perintah, kita kan masih bisa ketemu kalau cuti,” kak Fariz menenangkanku.

__ADS_1


Aku sedih melepasnya, aku sudah terbiasa akan kehadirannya. Kenyamanan yang dia berikan, setiap hari bisa melihat senyumnya, mendengar suaranya, semuanya harus berubah. Tak akan lagi ada seperti itu. Perbedaan kota menciptakan jarak yang semakin jauh. Aku menangis. Kak Fariz mengusap air mataku, dia mengelus kepalaku lembut.


Esoknya, ku lihat dia keluar dari gerbang dengan tas ransel yang biasa dia bawa pas cuti pulang. Aku lihat dari lantai atas dia berjalan ke halte. Dia menoleh padaku, samar-samar ku lihat dia tersenyum. Kita hanya beda kota, namun aku merasa bahwa aku akan kehilangan dia selamanya. Entah mengapa bayangan negatif selalu saja ada. Mungkin aku yang terlalu banyak pikiran, karena aku terlanjur sayang. Sangat sayang.


Ini adalah konsekuensi yang harus kita terima, kesalahan yang harus dipertanggungjawabkan. Sebab kita ketahuan diam-diam menjalin kisah. Aku juga salah disini dan aku harus siap. Aku berusaha menjalani hari seperti biasa. Setiap malam kita berkabar via whatsapp. Dia senantiasaa menjadi teman bicaraku. Aku yang banyak mengeluh senantiasa dia yang memahamiku.


Hingga bulan berlalu dengan LDR-an, hubunganku mulai tidak nyaman. Kak Fariz mulai jarang menghubungiku. Aku tanyakan ke teman-temannya, juga tidak ada yang tau. Sikapnya berubah, aku masih berpikir positif, mungkin karena kesibukan toko yang tidak sama.


***


Senyap menyelimuti langit-langit kamarku. Aku kepikiran sesuatu, sejak kepindahannya ke toko cabang, kak Fariz berbeda. Pikiranku mulai berkeliaran, aku berprasangka. Beberapa hal telah berubah. Jarak membatasi komunikasi kita. Dia tidak seperhatian dulu.


Setelah lama mengajaknya cuti bersama, akhirnya dia menyetujuinya. Aku ingin penjelasan langsung darinya. Dia mengajakku ngobrol di Gellato, sebuah caffe yang biasa aku datangi dengan dia. Dia menjemputku di asrama. Malam itu dia melajukan motornya pelan, penuh keheningan. Tak ada percakapan diantara kami. Semua senyap bersama angin yang dingin, bersama jalanan basah bekas hujan sore hari. Kendaraan lalu lalang melintasi keramaian kota Blitar.


Pikiranku entah berlari kemana. Ku tatap dia yang hanya fokus pada jalanan, memandang jauh ke depan. Dia menggenggam tanganku tanpa ada sepatah kata keluar dari bibirnya. Aura yang tak biasa, kecanggungan, kebingungan, semua berkecamuk bertanya-tanya. Namun tak mampu bersuara. Ku peluk tubuhnya, aku rindu bersamanya, rindu kehangatan darinya. Hingga dia mematikan mesin motornya, kita sampai di tempat tujuan.


“Ada hal yang mau aku bicarain,” Dia to the point memulai percakapan. Setelah barista menyuguhkan dua cangkir kopi. Dia masih orang yang sama, yang sangat menyukai espresso.


“Ada apa?” Aku menatapnya bingung.


“Aku mau kita temenan,”


Deg.. rasanya tubuhku lunglai mendengarnya. Sepatah kata yang menghujam setelah lama tak bertemu.


“Maksud kamu?” aku minta penjelasan.


“Ya, iya kita temenan aja,” tersirat kak Fariz ingin mengakhiri hubungan ini.


“Kamu nggak pernah terbuka sama aku, kalau kamu ada masalah, kasih tau aku, jangan kaya gini?” aku berharap aku salah dengar. Aku masih berusaha tenang.

__ADS_1


“Apakah ada salahku?” aku menanyakan ketidakpahamanku.


“Aku mau kita temenan aja..” kak Fariz mengulanginya, untuk yang ketiga kalinya.


“Kenapa?” aku menunggu jawabannya.


“Aku rasa aku bisa melupakan perasaanku untuk Lily, tapi nyatanya aku tidak bisa.”


“Bukankah kamu bilang mau mencoba denganku?” aku memastikannya.


“Aku telah berusaha, tapi sejauh ini, aku belum bisa sepenuhnya menerima kamu, maafkan aku.”


"Tuhan apakah ini karma untukku yang memaksakan kak Fariz untuk mencintaiku dan menyuruhnya melepas kak Lily?" pikiranku mengecam otakku.


Kak Fariz menunduk, sambil menggenggam tanganku. Selama ini mungkin aku yang memaksakan perasaanku. Dia yang ingin mencoba denganku, aku tunggui dengan sabar. Aku percaya suatu saat aku bisa meembuat dia mencintaiku. Namun keadaan berbicara lain. Selama ini kenyamanan yang dia buat untukku, belum sepenuhnya dari hatinya. Mungkinkah aku hanya sebuah pelampiasan baginya, dikala dia begitu mencintai orang lain yang tak bisa bersamanya. Dia memberikan kasih itu padaku hanya untuk memperbaiki perasaannya. Melampiaskan amarahnya dengan berpura-pura menyayangiku. Apakah aku jahat lebih dulu? atau dia yang sudah jahat membuat harapan palsu?


“It’s ok, mungkin kita hanya cocok untuk berteman, teman cerita saja, bukan sebuah ikatan apalagi komitmen, mungkin dari awal aku yang terlalu memaksakan,” aku berusaha tersenyum.


"Aku yang terlalu berharap tinggi." aku melanjutkan pernyataanku.


“Besok aku mau ke pusara Ari,” Kak Fariz menggenggam tanganku.


“Aku temani kamu,” aku menawarkan diri. Ternyata masa lalunya masih mengikutinya sampai detik ini.


Aku berusaha mengganggap ini semua baik-baik saja. Entah bagaimana hancurnya hatiku, aku tetap memedulikan kebahagiaan dia. Cinta sungguh lucu. Haha aku ketawa dengan air mata membasahi pipiku. Bagaimanapun perasaan cintaku nggak bisa membuatku benci padanya.


Setelah dia membayar bill, kita pergi. Dia mengantarkanku ke asrama.


“Setidaknya kita masih bisa berteman,” aku tersenyum simpul.

__ADS_1


Aku menenangkan dia yang merasa bersalah. Aku sendiri tak peduli akan diriku sendiri. Bodoh, mungkin itu yang dikatakan orang tentangku, sebab aku begitu menyayanginya.


Selepas kepergiannya, aku tak bisa menahan tangisku. Perasaanku saat ini nggak bisa dilukiskan. Aku selalu berusaha membuat orang lain bahagia. Bahkan tanpa memikirkan diriku sendiri. Aku selalu berpura-pura kuat akan apapun. Aku selalu berkata hal yang bertentangan dengan naluriku. Aku selalu memendam semuanya sendiri. Aku yang terlalu cinta hingga tak apa tersakiti. Puaskah?


__ADS_2