Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Ketenangan


__ADS_3

Danial Pov,


Rasanya nggak tega melihat Dyana seperti ini. Meski terluka bagaimana ia bisa bersikap seperti biasanya.


"Kakimu masih sakit?" Aku sangat khawatir padanya.


"Udah nggak kok, kan hanya sedikit terkilir, Lutvi sudah menyapu minyak semalam, udah mendingan," Dyana menganggap masalah ini sepele.


"Bagaimana dia bisa menjadi kuat seperti itu?" Aku heran. Betapa sulitnya menjadi dia. Namun aku juga nggak bisa berbuat apa-apa sekarang.


"Andai kita bisa bersama, aku akan menikahimu secepatnya Na," aku bergumam.


"Sesuatu yang diawali dengan dengan hal nggak baik, nggak akan berakhir baik Dan."


"Aku cukup paham, selagi kamu masih bersama kedua orang tuamu, bahagiakan mereka. Karena aku nggak bisa bersama kedua orang tuaku, jadi aku juga nggak banyak berharap dari mereka." Dyana tersenyum padaku.


"Aku tau, kamu sedewasa itu, aku bangga pernah memilikimu," Aku hanya berharap semua akan baik-baik saja untuknya kedepannya.


"Maafkan aku," hanya kalimat itu yang bisa ku ucapkan padanya. Aku nggak bisa berkata-kata dihadapannya. Ketika semua ucapannya terdengar pasrah di telingaku. Dia wanita, yang hanya bisa menerima, tanpa banyak penolakan dan tanpa pamrih. Hatinya benar-benar sudah dikuatkan oleh keadaan yang ia jalani selama ini.


"Andai aku bisa menjagamu seterusnya, akan aku pastikan kamu nggak akan pernah menangis Na," aku kecewa dengan diriku sendiri, hanya bisa membatin.


"Tapi aku juga nggak bisa memilih orang tuaku ataupun Dyana, aku harus belajar melepas diantara salah satunya."


***


Dyana Pov,


"Kakimu masih sakit?" Nampak Danial sangat khawatir padaku.


Aku menahan sakit di kakiku, karena aku nggak sanggup lagi menerima perhatian Danial yang seterusnya hanya kesemuan belaka. Sebisa mungkin aku menutupi perasaanku dan hanya tersenyum.


"Kita nggak tau kedepannya, kalau Tuhan menjodohkan orang tuamu bisa apa," aku tersenyum pada Danial. Aku hanya bercanda mencoba menghibur diriku sendiri. Danial hanya diam mematung.


"Pulang yuk," Aku mengajaknya pulang. Aku nggak bisa menahan terlalu lama untuk tidak menangis.


"Kamu akan mendapat yang lebih baik dariku, aku yakin itu, lelaki yang bisa membahagiakanmu seutuhnya." Danial menggenggam tanganku erat. Aku hanya bisa tersenyum untuk memudarkan kecewaku. Ketika dia lelaki yang ku mau, malah dia yang mendorongku untuk memilih lelaki selain dirinya.


"Kamu juga akan mendapat yang lebih baik dariku, yang pastinya akan direstui orang tuamu," aku menolehnya, memberikan senyum termanis yang aku punya.


"Banyak hal indah bersamamu, melupakanmu tidak akan secepat itu Dan, ini tidak mudah, tidak mudah hanya sekedar kata-kataku ini," batinku mengenang.

__ADS_1


"Aku janji akan selalu menemanimu dan menghubungimu," Danial tidak akan meninggalkanku begitu saja. Setidaknya untuk sementara aku masih bisa menahannya, meskipun itu artinya membuat hatiku terluka, untuk berpura-pura tidak mengharapkannya.


"Nggak usah berjanji, janji yang nggak ditepati hanya akan melukai." Aku mematikan harapanku. Mungkin seiring berjalannya waktu semua akan baik-baik saja.


"Kita menjalin hubungan baik-baik, jadi kita putus juga baik-baik," Danial meyakinkanku, bahwa tidak ada yang berubah diantara kita. Aku hanya tersenyum padanya.


"Mana mungkin nggak berubah?" aku hanya membatinnya.


"Aku tau kamu Na, lebih dari yang kamu tau, aku tau kamu berpura-pura. Aku mengenalmu daripada kamu mengenal dirimu sendiri." Danial membatin.


Danial mengelus puncak kepalaku, rasanya ketenangan menjalar ditubuhku. Walau selepas kata pisah yang menjarah. Mungkin ini memang jalan terbaik untuk kita berdua. Melepaskan satu sama lainnya. Mencoba masing-masing dengan kisah baru bersama orang asing nantinya.


"Udah ayuk pulang," aku mengajaknya. Akhirnya Danial mengalah dan mengantarkanku ke asrama. Sepanjang jalan air mataku nggak mampu ku bendung lagi. Dengan sendirinya ia mengalir membasahi pipi dan bibirku.


Kita hanya diam berpaku dengan pikiran masing-masing. Memecah keindahan senja yang bertolak belakang dengan suasana hati. Kita sama-sama bertekad melepaskan walau perasaan saling mengikat. Kita nggak boleh jadi egois untuk hubungan ini.


"Mungkin ini pembelajaran, salah satu fase pendewasaan, bahwa kita harus ikhlas dengan apa yang ditakdirkan." dalam hatiku berbicara.


"Mungkin ini jalan terbaik untuk kita, bahwa sesuatu yang dipaksa juga nggak akan baik pada akhirnya," Danial berpikir serupa.


Aku cepat-cepat mengusap air mataku saat kita memasuki gerbang asrama. Aku turun dari motornya.


"Jangan menangis," Danial mengusap air mataku.


"Siapa yang nangis coba?" aku tersenyum padanya. Namun mataku yang sembab nggak bisa berbohong.


"Aku pulang, maafkan aku sekali lagi, menjadi pengecut untukmu," Danial memegang tanganku lembut.


"Semua akan baik-baik saja kok," Aku mengedipkan mataku, berusaha setegar karang walau dihantam gelombang. Aku memasuki asrama sesaat setelah Danial keluar dari gerbang.


****


"Kamu kenapa, pulang-pulang kok cemberut aja," Suara ibuku membuka pintu setengahnya.


Aku hanya menoleh dan membaringkan tubuhku lesu. Aku nggak bersemangat melakukan aktivitas apapun. Ibuku memasuki kamarku, ia duduk disebelahku. Aku bangkit dan menidurkan kepalaku dipangkuannya.


"Buk aku putus dengan Danial," aku memulai curhatanku.


"Loh, kenapa, kok bisa putus?" ibuku penasaran sambil mengelus kepalaku.


"Sejauh yang ibu lihat kalian baik-baik saja," ibu berbicara lembut.

__ADS_1


"Nggak direstui buk, katanya adat jawa, lusan," aku mengutarakan kejadiannya.


"Kalau keluarga kita nggak terlalu memusingkan begituan," kata ibuku yang memang masih muda, kita terlihat seperti adik kakak kata para tetangga. Sehingga aku bisa leluasa menceritakan kisahku, sharing tentang pengalamanku dan saling bertukar pikiran. Ibuku sangat pengertian dan paham sekali apa mauku. Aku juga terbuka tentang hal apapun padanya, termasuk masalah percintaanku.


Ibuku lebih open minded dan mengerti sekali pergaulanku. Pernah suatu kali ibuku bilang padaku.


"Sebenarnya ibu nggak terlalu suka kalau kamu keluar, dijemput laki-laki, tapi ya namanya ibu pernah muda, ibu tau pergaulan anak zaman sekarang, asal hati-hati dan jaga kepercayaan ibu ya,"


Sehingga apapun masalahku, siapa teman-temanku ibuku mengetahui semuanya, aku selalu memberitahunya.


"Aku sedih buk, aku sayang sama dia," aku mulai berkaca-kaca.


"Kalau nggak direstui ya nggak usah, ibu juga nggak mau kalau nantinya kamu menikah sama dia kamu malah sengsara." Ibuku memberikan pemahaman padaku.


"Terpenting itu kalau keluarganya juga bisa menerima kamu," Ibuku sabar sekali denganku.


"Masalahnya cuma karena adat lusan itu buk, kalau aku dirumahnya ibunya juga welcome denganku."


"Aku sahabatan buk sekarang sama dia," aku melanjutkan kalimatku yang terjeda.


"Malah bagus kan, itu namanya dewasa," Ibu tersenyum padaku.


"Kalau di keluarga kita, anak pertama dan terakhir itu pasangan yang serasi, tapi kalau emang kamu nggak dibolehin, yang sabar ya,"


"Anak ibu cantik, pasti nanti banyak yang mengantri," ibuku sedikit bercanda.


"Bukan masalah itu buk, masalahnya tuh di sini," aku menunjuk hatiku.


"Nanti juga bisa adaptasi, seiring berjalannya waktu hatimu akan damai kembali, ikhlas ya dear," Ibu meyakinkanku.


"Kalau kamu mau nangis sekencang-kencangnya, lakukan, luapkan semua amarahmu, jangan ditahan," ibuku tau sekali cara menghiburku.


"Kalau jodoh nggak akan kemana, nanti juga balik,"


"Tapi kalau nggak balik, dia nyasar kali," ibuku tertawa. Akupun ikut menunggingkan senyumku.


"Aku hanya berharap, kedepannya semua berjalan baik seperti seharusnya," aku membatin.


Setelah berbicara dengan ibu, rasanya aku tenang. Aku mulai bisa berpikir. Apa yang harus aku lakukan selanjutnya. Selama Danial masih senantiasa disisiku, lama-kelamaan aku pasti bisa terbiasa dengan perubahan status kita. Jujur berat jika harus membiarkan dia langsung menghilang. Aku perlu waktu untuk terbiasa dengan tidak sering komunikasi dengannya. Lambat laun aku pasti bisa mengikhlaskannya.


"Maaf Dan aku masih menahanmu untuk tidak pergi.."

__ADS_1


__ADS_2