Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Kampung Coklat


__ADS_3

Mentari memyilaukan mataku, memaksaku terbangun dari tidur nyaman. Hujan diluar membuat malas tubuhku untuk beranjak. Aku berjalan ke kamar sebelah, melihat jadwal piketku.


"Bersihin kamar cowok.. hufft malas sekali," aku menggumam kesal. Aku antri di kamar mandi. Biasanya anak cowok belum bangun jam segini.


Tiga puluh menit berlalu, aku naik ke kamar cowok. Aku intip dari jendela, semua masih berbalut selimut tebal.


"Haihh.. malasnya," Aku ketuk pintunya menggunakan sapu.


"Siapa sih?" salah satu suara menyahut dengan nada malas.


"Bangun, aku mau piket, udah siang ini!" aku gedor terus pintunya. Hujan lebat memang nyaman untuk memejamkan mata. Aku terperanjat ketika seseorang membuka pintu.


"Kamu?" aku terperanjat.


"Dyana?" Kak Fariz menyapaku.


"Kok disini?"


"Semalem aku mau pulang, terus kehujanan, akhirnya nginep disini,"


Setelah itu kecanggungan tercipta diantara kami, walau aku mencoba sebisa mungkin untuk biasa. Namanya juga pernah sama-sama jadi untuk mengalihkan semuanya tetap saja perlu waktu.


"Bangun-bangun," aku menyelonong masuk dan mengabaikan kak Fariz seraya melempar guling ke cowok-cowok di kamar yang masih sedang tidur.


"Hoaam.. rese banget sih Na," Fendi bangun sambil mengucek matanya. Akibat aku buat bising, semua terbangun dan menunggu diluar agar aku bisa membersihkan kamar mereka.


Semua turun ke bawah melaksanakan piket masing-masing, kecuali kak Fariz yang menungguiku.


"Mending kakak turun juga deh, entar kena masalah lagi," Aku membelakanginya. Terkadang aku masih berdebar didekatnya. Meskipun sudah ada Danial yang menggantikannya. Tetapi ini bukan perasaan seperti dulu, hanya sekedar kecanggungan sehingga detak jantungku juga ikut tak beraturan.


"Sekarang kita emang udah beda ya," Kak Fariz meraih tanganku.


"Maksudnya?" aku bingung dan melepaskan tangannya.


"Kamu menjaga jarak denganku," nada suaranya rendah.


Kak Fariz menginginkan kita layaknya sahabat, seperti dulu. Namun ini resiko yang harus di terima, bahwa tidak ada persahabatan antara cewek dan cowok yang murni.


Kalau dia nggak jatuh cinta sama kita, ya kitanya yang akan terperangkap olehnya. Lalu setelah mengetahui perasaan masing-masing, semua menjadi berubah. Kecanggungan.


"Kita kan emang nggak boleh deket-deket," aku mulai mengabaikannya. Aku fokus mengelap cermin, nampak wajahnya kusut.


"Sudahlah kak, yang lalu biar berlalu, yang teman biar jadi teman, toh pilihanmu juga kan, aku tidak mempermasalahkannya, jaga dia untukku, dia wanita sama sepertiku, aku paham sekali rasanya." Aku buru-buru menyelesaikan piketku.


"Kamu itu hanya kebanyakan merasa bersalah kak, sama aku, sama kak Ari. Padahal aku sudah merelakannya. Tidak perlu khawatir lagi. Aku ikhlas kok, kamu tau kan kalau aku emang nggak bisa benci sama orang. Walau sesakit apa yang pernah ku terima. Karena aku tulus, tapi kalau tak berbalas baik, aku juga nggak pamrih kok. Berbahagialah dengan kak Lily. Toh sekarang aku juga sudah punya Danial. Aku menjelaskan dengan bijak." dan berlalu meninggalkannya.


"kalau dulu kita nggak menjalin kisah, mungkin kita masih bisa jadi sahabat sampai sekarang kak," aku menggumam dalam batin. Untuk berpura-pura kuat, berpura semua baik-baik saja, memang sulit.


"Semua yang aku rasakan terlalu rumit untuk sekarang."


Kak Fariz sedih di keadaan ini juga. Dulu semua baik-baik saja. Namun kebimbangan selalu menghantuinya. Dia menginginkan keduanya, tapi ia tau itu tidak mungkin bisa. Dia egois jika menginginkan Lily dan Dyana berada dalam hidupnya. Betapa ia telah menyakiti Dyana, namun Dyana dengan mudah memaafkannya. Perasaan bimbang menyelimuti hatinya. Ia tidak tau mana yang lebih penting dan benar-benar mencuri hatinya. Masih labil. Perasaan bingung tak bisa dijelaskan.


Dan pada akhirnya dia benar-benar memilih Lily dan mengikatnya. Semoga kelak Dyana bahagia.


***


"Hari yang melelahkan," hufft aku menggumam dan merebahkan tubuhku. Hari ini toko ramai sekali.


Drrt..drtt..


"Udah istirahat?" Danial perhatian sekali.


"Baru masuk kamar aku, capek," aku mengeluh.


"Nanti telfon ya,"

__ADS_1


"Oke deh, aku ke kamar mandi dulu," aku tersenyum.


Usai membersihkan tubuhku, aku raih ponselku. Tak lama namanya tertera dilayar, aku senang sekali.


"Jalan yuk!" seru Danial.


"Kemana?" aku senang sendiri memikirkannya.


"Kemana gitu, wisata yang deket dari tokomu?"


"Hah, kamu mau kesini?" aku kaget mendengarnya.


"Kalau bisa, kenapa nggak?" Danial balik bertanya.


"Aku nggak tau tempat disini," aku bingung.


"Kampung coklat aja deh," Danial menyarankan.


"Boleh sih, kapan tapi?"


"Kamu kapan bisa cuti, entar aku jemput,"


"Aku tanya koordinatorku dulu deh,"


Secepat kilat aku langsung send message ke koordinatorku. Aku meminta izin cuti. Alhasil setelah lama merayu-rayu aku diizinkan cuti pada akhir bulan.


Obrolan bersama Danial berlangsung cukup lama. Aku antusias sekali dengan topik yang ia bicarakan. Dia memang paham bagaimana membuatku selalu tidak kesepian. Hal-hal sederhana yang ia lakukan bisa bernilai tinggi di dalam hatiku. Bisa melambungkan khayalanku. Ya, aku terlalu bangga memilikinya saat ini.


Seminggu berlalu, Pagi ini Danial menjemputku. Aku bingung karna ini pertama kalinya dia menjumpaiku di toko. Setelah selesai merias diri, aku tunggu dia lama sekali.


"Nanti aku tunggu di samping toko ya, di Warung Cik Lin," aku takut jika dia menjemputku di toko. Aku malas jika harus terkena ocehan-ocehan yang nggak penting nantinya.


"Kenapa disitu? aku jemput di toko aja," Danial memang selalu tidak bisa dibantah. Aku hanya bisa menunggunya datang. Lelakiku yang gentleman dan bertanggung jawab.


"Wah, nekat nih anak," lantas aku keluar.


"Ciee mau kencan nih ye.." Upil yang berada di lantai bawah mengetahuinya. Aku tersipu.


"Hehe apaan sih," Upil menyenggol-nyenggol lenganku.


"Iya deh, aku kenalin," Aku melirik Upil, seolah paham isyarat dia.


"Dan, kenalin ini Upil, sahabat baikku."


"Lutfi," Upil menjulurkan tangannya dan disambut Danial.


Lepas berkenalan, kita berangkat mengikuti isyarat GPS. Kita berdua sama-sama nggak tau jalan. Perjalanan indah di tengah hamparan sawah, juga angin yang menyejukkan membuat hati serasa tenang. Daun-daun berguguran di jalan tersapu angin, membawa cerita.


"Eh.. belok kemana, kanan apa kiri?" Danial menanyaiku, ketika kita berada di persimpangan.


"Kiri.. eh kayanya kanan, kamu lihat deh," aku bingung baca gps.


"gini nih kalau cewe suruh baca gps, ga jelas." Danial memberhentikan motornya dan aku balikin hpnya.


"Kita ke kiri," Danial berucap sambil mencubit pinggangku.


"aww.." aku menjerit dan akhirnya kita malah tertawa.


Setelah membeli tiket, kita masuk dan explore setiap sudutnya. Entah kencan yang ke berapa kali dengannya, namun aku tak pernah merasa bosan. Dia selalu membawaku berpetualang ke zona yang tak pernah ku lalui sebelumnya. Tentang apa yang ia pikirkan, tentang bagaimana ia menjalani hidup, tentang perilakunya yang menyadarkanku sebagiannya. Aku yang tak pernah merasa seperti ini serasa menemukan orang yang tepat untuk mengobrol dan berkeluh kesah.


Sembari berayun di kursi kayu, banyak hal yang diceritakan. Pelan-pelan aku mulai memahami sisi lain dari dirinya. Kita berfoto ria untuk mengabadikan momen layaknya pasangan lainnya. Biasanya ketika bertemu, kita selalu menghabiskan banyak waktu untuk kuliner. Mencicipi makanan-makanan khas yang ada disini dan membeli oleh-oleh sekedar untuk pengingat bahwa kita pernah menghabiskan waktu berdua di tempat ini.


Kita memberi makan ikan koi, berkeliling menikmati hamparan sawah, ya bangunan ini berada diperkampungan di tengah sawah sehingga pemandangannya sangat natural. Kita mengamati lukisan-lukisan indah di atas kanvas, membaca sejarah yang menjadi awal mula didirikannya kampung coklat, semua hal yang ku lalui bersamanya sungguh bermakna.


Aku nge-vlog di hp Danial, ketika sedang asyiknya beriuh bercanda, ada WA masuk. Tanpa sepengetahuan Danial aku buka.

__ADS_1


"Aku udah izinin kalau kamu ga ikut ujian, kamu tau tak, harus nunggu sebulan lagi biar bisa ikut ujian, kamu melepas peluang ini gitu aja? Peluang yang udah lama kamu tunggu."


Deg.. aku baru tau kalau dia rela meninggalkan ujiannya hanya untuk ketemu aku dan membuatku merasa senang hari ini.


Danial Pov..


"Bagaimana aku akan menjelaskan semuanya padanya, aku sangat menyayanginya, tapi orang tuaku?" Aku menatap kosong di tengah hamparan sawah yang hijau. Gemericik air di kolam ikan memecah kesunyian, namun berbeda dengan keadaan sesungguhnya.


Dia sangat bahagia, aku tidak ingin menghilangkan senyum itu dari wajahnya. Aku ingin menjaganya, membuatnya tidak pernah menitikkan air mata. Entah apa yang harus ku lakukan, aku bimbang.


Danial nampak memikirkan sesuatu. Raut wajahnya berubah sendu.


"Kamu mikirin apa?" Dyana membuka obrolan.


"Nggak ada kok, lihat deh ikannya laper," Aku mengalihkan perhatiannya, aku tabur benih makanan dan ikannya berkumpul.


"Aku tau kok kamu batalin ujian itu, kenapa kamu nggak bilang?" Dyana merasa bersalah.


"ujian apaan sih?" aku tertawa sambil mengelus kepalanya.


"Aneh-Aneh aja deh." aku berusaha menenangkannya.


"Aku tau kok, kamu mau berpura-pura lagi," Dyana mengembalikan hpku, aku baca pesan itu.


"Sudahlah, nggak usah khawatir, bulan depan masih ada waktu." Danial menggenggam tanganku.


"Tapi aku tau betapa kamu antusias akan ujian ini ketika cerita dulu, ini sesuatu yang sangat kamu inginkan." Dyana menunduk.


"Kamu tenang ya, aku tau kamu kesulitan untuk bisa cuti kerja, makanya mumpung ada kesempatan, nggak boleh dilewatin." nampak sekali Dyana khawatir.


"Tapi aku bisa cuti di bulan depan, nggak harus ngorbanin ujianmu?"


"Nggak usah dipikirin, ini demi ketemu masa depanku," aku mencubit hidungnya. Bagian diwajahnya yang membuatku gemes.


"Bulan depan aku juga masih bisa ujian." Aku melanjutkan kataku.


"Rasanya aku ingin waktu berhenti saat ini," Dyana menyender dibahuku. Kita menikmati senja berdua. Indah sekali, ketika gelap mulai menghampiri, aku bersamanya. Dia seolah jadi penerang dalam hatiku. Kekalutan yang ku rasakan serasa menguap beberapa saat.


"Rasanya aku juga, ingin selalu bersamamu, dalam keindahan ini," Dyana menyahutiku dan menggenggam erat tanganku.


"Semoga kita bisa menua bersama ya, ini permintaan." Dyana menolehku. Aku hanya bisa membias senyum menanggapinya.


"Entah bagaimana endingnya nanti," batinku berisik sendiri.


Aku mengantarkan Dyana kembali ke toko. Senyumnya menjadi pelepas kami. Aku berpamitan pulang padanya. Dia memelukku, rasanya aku tidak ingin melepaskannya.


"Beneran kamu nggak mau mampir dulu? aku beliin minum di atas," Dyana menahanku.


"Sudah malam, aku pulang ya, kamu masuk istirahat," aku mengelus kepalanya.


"Kamu hati-hati dijalan ya,"


Aku lajukan motorku pulang. Jalanan kota yang sepi membuat semakin sunyi. Dyana tetap menjadi hal yang memenuhi pikiranku.


Danial pov end..


***


"Ciee yang baru pulang kencan," Upil langsung mendakwaku ketika aku buka pintu kamar.


"Haha apaan sih, tidur sana," aku tersipu malu ketika semua temanku di asrama menggodaku.


"ciee mana nih oleh-olehnya," Dina meminta pajak dariku.


Akhirnya malam itu berlalu dengan canda tawa yang memenuhi kamarku. Mereka memaksaku bercerita tentang hari ini. Kulit kacang berserakan dan entah berapa plastik snack yang sudah terbuka. Berapa kaleng kosong yang menyampah. Sungguh indah persahabatan itu. Lalu semua kelelahan dan tertidur pulas bersama mimpi masing-masing.

__ADS_1


__ADS_2