Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Gunung Bromo


__ADS_3

Danial Pov,


Aku tidak ingin mengecewakan Dyana, namun aku juga tidak mungkin menjadi durhaka dengan menentang kedua orang tuaku. Sungguh beban sekali pikiran ini. Aku menginginkan semua hal berjalan baik-baik sahaja sebagaimana mestinya. Namun nampaknya kedamaian belum berpihak lagi denganku.


Selepas peristiwa yang kakak alami, aku tidak bisa jika harus mengulanginya. Sebagaimana aku mencintai Dyana, mungkin langkah terbaik adalah melepasnya. Bisakah? Aku tidak ingin membuat kedua orang tuaku juga kecewa. Aku hanya ingin melihat Dyana bahagia. Apa yang harus ku lakukan? Bolehkah aku egois?


"Le, ada Andi dan Dicko diluar," suara ketukan pintu terdengar nyaring.


"Oh, iya buk," aku bangkit dari kasurku, keluar menemui Andi dan Dicko. Sepagi ini mereka sudah berada di ruang tamuku.


Flash back on,


"Hallo nak Andi," suara ibu Danial nyaring di ponselnya.


"Iya buk, ada apa?" Andi menyahuti sopan.


"Bisa bantu tolong menghibur Danial," Ibu Danial menyuarakan permintaannya.


"Emang Danial kenapa buk?" Andi bingung tak tau apa yang terjadi.


"Semalam dia sedikit retak dengan ayahnya, nak Andi kenal Dyana kan?" Ibu Danial mulai menjelaskan maksudnya.


"Iya buk, saya tau, pacar Danial kan?" Andi memastikan dan sudah mulai tau alur kisahnya akan kemana.


"Kamu tau ayah Danial sangat menentangnya, tolong bantu hibur Danial ya," Ibu Danial melakukan ini untuk anaknya.


Di satu sisi dia menginginkan Dyana menjadi menantunya. Namun kehendak ayah Danial yang kekeh tidak bisa dipungkiri lagi. Diapun juga tidak bisa berbuat apa-apa.


Ibu Danial teringat bagaimana Dyana sangat sopan, manis dan cantik. Ketika dia sakit dan dirawat inap, Dyana datang menjenguknya. Ketika di rumah juga ramah dan tidak sungkan membantu. Ibu Danial melihat Dyana memang benar-benar baik, bukan hanya pencitraan. Mungkin insting seorang ibu memang peka. Merasakan dengan hati ketimbang logika. Dia sudah menyayangi Dyana juga tanpa disadarinya.


"Iya buk, saya paham, nanti saya ke rumah ibu deh," Andi memahami kondisi Danial saat ini.


"Makasih ya nak Andi," Ibu Danial mengakhiri panggilannya.


Flash back off,


"Ngapain kalian sepagi ini disini?" aku menguap dan menjatuhkan tubuh di sofa.


"Jalan yuk, ngapain coba dirumah doang," Andi ikut menjatuhkan tubuhnya di samping Danial. Sementara Dicko sudah sejak tadi berperang dengan ponselnya. Kecanduan game telah menguasainya. Dimanapun tempatnya asal kuota lancar dia tak bisa lepas dari handphonenya. Tangannya terlalu sibuk menekan screen untuk menembak.


"Emang mau kemana?" Sebenarnya aku sedikit malas menanggapinya. Namun perasaanku juga perlu dialihkan untuk saat ini.


"Ke Bromo aja yuk," Dicko menimpali walau matanya fokus pada layar.


"Boleh tuh," Andi mengiyakan.


"Gue mandi dulu deh," aku bangkit meraih handuk di kamarku.


Tak lama motor sudah menembus jalanan, beriringan dengan kendaraan lainnya. Andi dan Dicko membawa motor mereka sendiri. Aku juga menyetir sendiri. Pikiranku terbayang Dyana. Bagaimana aku harus menjadi jahat lagi, menyakiti perasaannya lagi, mematahkan harapannya lagi. Aku sungguh lelaki yang mengecewakan.


Kita sudah memasuki area lautan pasir yang luas. Aku melajukan motorku mengelilinginya. Rasanya enggan berhenti. Aku hanya mencoba untuk tenang, menikmati aroma embun pagi dan angin yang menderu. Meski mentalku sangat-sangat terganggu.


Ku tatap puncak gunung Bromo yang tinggi. Rasanya aku dan Dyana memiliki jarak sejauh ini. Kemudian hanya ada kesunyian menyeruap dalam diriku.

__ADS_1


"Eh.. udah disini masih galau aja deh lu," Andi mengiringi motorku yang melaju pelan.


"Berhenti dulu yuk," Dicko yang di belakang berteriak-teriak.


Aku menepikan motorku, melepas helm ku dan bersandar di balik pohon di tepi gunung. Menginjak lautan pasir yang membekas roda-roda motorku.


"Bukannya mau ikut campur urusanmu ya Dan, tapi kalau emang nggak dibolehin, mending aku rasa jangan dilanjutin," Andi menepuk pundakku menyemangati.


"Darimana kamu tau aku ada masalah?" Aku sedikit heran dengan Andi.


"Ah lo, kita sahabatan berapa lama sih, lo tuh kalau mukanya ditekuk kaya ayam tiren gitu, pasti masalahnya karena bucin, nggak ada yang lain yang bisa membuat lo galau selain cinta," Andi bingung mencari alasan.


"Iya Dan, lo kan kalau udah ngebucin bisa galau parah kalau kecewa," Dicko membenarkan sambil mengangguk-angguk.


"Makasih ya, punya sahabat kaya kalian tuh bener-bener bahagia," Aku merasa mereka selalu paham kapan aku membutuhkan mereka.


****


Dyana Pov,


"Kamu kenapa sih yung?" Upil menanyaiku, ketika dia melihatku gusar.


"Ini loh, tumben nggak ada pesan dari Danial, biasanyakan setiap hari mesti ngabarin," Aku bolak-balik mengecek whatsappku.


"Masih tidur kali yung, masih pagi juga," Upil mencoba membuatku berpikir positif.


"Mana mungkin? Emangnya dia nggak kerja apa," aku mulai kesal. Karena nggak biasanya dia seperti ini.


"Kamu posesif banget sih yung," Upil menghabiskan rotinya.


"Ya udah, naik yuk, udah mau buka toko nih!" ajak Lutvi padaku.


Aku meletakkan hp ku di nakas tempat penyimpanan. Sewaktu bekerja semua hp harus dikumpulkan. Seperti biasa aku melakukan rutinitasku. Menyapu, mendisplay, menyetok dan memajang barang baru, melayani pelanggan begitu seterusnya. Hingga waktu istirahat tiba, dengan segera aku mengambil hp ku lalu balik ke asrama.


Aku lihat lagi WA ku, nggak ada pesan satupun dari Danial. Aku semakin penasaran.


"Kenapa sih dia?" aku menggumam.


tok ..tok.. Suara ketukan pintu terdengar, aku menoleh dan ternyata Lutvi yang hanya melongokkan kepalanya saja.


"Ngapain Pil, masuklah," aku menyuruh Upil masuk.


"Kamu udah istirahat?" aku bertanya sambil menyelesaikan menyisir rambutku.


"udah yung, sift pertama juga, cuman tadi aku keluar sebentar," Lutvi duduk disampingku.


"Gimana memberitahunya ya, aku semakin bingung," Lutvi membatin dalam hatinya.


Flash back on,


"Vi, boleh minta tolong nggak?" Danial mengirim pesan.


"Ada apa Dan, kok kamu WA aku?" Lutvi bingung karena tadi Dyana bilang Danial susah dihubungin.

__ADS_1


"Kamu kasih lihat Dyana story WA ku ya," Danial ingin membuat Dyana kecewa dengan sengaja.


"Maksudnya? kamu mau membuat Dyana salah paham sama aku?" Lutvi sedikit kesal. Dia tidak mau Dyana berpikir macam-macam dan malah merusak persahabatan mereka.


"Bukan, bukan itu maksudku, aku sebenarnya nggak berniat untuk buat dia kecewa, tapi.." Danial bingung gimana harus memulainya.


"Tapi apa? jangan buat sahabatku sakit hati lagi," Lutvi membalas pesan Danial bersama emoticon marah.


"Aku beneran minta tolong sama kamu, aku sayang banget sama dia, hingga aku nggak tau bagaimana cara memutuskannya, ayahku tetap kekeh melarang hubungan kami, aku nggak bisa semakin memberi harapan padanya kan? Ini menyakitkan untukku juga Vi" Danial meneteskan air matanya saat mengungkapkan perasaannya, tanpa sepengetahuan Lutvi.


"Aku coba ya," Lutvi membalas pesan terakhir Danial.


Flash back off,


"Aku nggak tega dengan Dyana," Lutvi dilema.


"Haruskah aku memberitahunya? Membuat ia salah paham dan kecewa pada Danial?" kebimbangan melanda hatinya.


"Danial masih belum menghubungimu Na?" Lutvi memulai percakapan.


"Belum nih, nggak tau kemana," Aku berusaha positif thinking.


Lutvi pura-pura rebahan dan scrool layar ponselnya.


"Eh yung, Danial lagi jalan-jalan nih," Lutvi merasa bersalah bersikap seperti itu. Dia menunjukkan ponselnya pada Dyana.


"Kok nggak ada di story ku, dia nge privasi aku ya?" aku bertanya-tanya setelah mengecek ponselku.


"Hmm. nggak tau aku yung," Lutvi meletakkan hp nya. Lutvi merasa bersalah sekali.


"Pesanku nggak di balas yung," aku berusaha tersenyum pada Lutvi. Lutvi hanya diam bingung harus bersikap seperti apa.


"Balik kerja yuk yung, mungkin dia lagi sibuk, nanti juga ngabarin kamu," Lutvi mengalihkan pikiran Dyana untuk beberapa saat.


"Tapi nggak biasanya dia seperti ini tau yung," Dengan enggan aku simpan kembali hp ku.


Aku berjalan beriringan dengan Upil menuju tempat kerjaku.


"Aku nggak tenang yung," Aku masih merasa aneh dengan sikap Danial. Nggak biasanya dia nggak ngebuhungin aku, dan malah ini dia memprivasiku dari storynya. Ini bukan dia yang biasanya.


"Mungkinkah dia tidak ingin aku mengganggunya?" aku menebak.


"Tapi bukankah biasanya aku juga tidak mencampuri urusannya, aku juga nggak melarang dia mau pergi kemana, bersama teman-temannya sekalipun." aku berkutat dengan pikiranku yang semakin penasaran karena tak mendapat jawaban.


"Sudah yung, jangan dipikirin, mungkin dia ingin sendiri," Upil menasehatiku.


"Tapi kita nggak bertengkar kok yung, hubungan kita baik-baik aja," Aku yakin jika tidak terjadi apa-apa diantara kami.


"Sudah, yuk kerja, semangat sayung," Upil memelukku sesaat, dan kembali ke tempat kerjanya.


Dari kejauhan Lutvi melihat Dyana yang hanya termenung di balik etalase. Menopang wajahnya dengan dagu. Terdiam dengan hati yang berkecamuk dan pikiran yang berkelana.


"Maafkan aku yung," Lutvi merasa bersalah karena sudah tau sebenarnya namun nggak berniat memberitahu Dyana.

__ADS_1


"Mungkin ini yang terbaik diantara kalian yung," Lutvi melanjutkan jalannya.


"Mudah-mudahan kalian bisa saling melepas satu sama lainnya," Lutvi merasa terharu dengan kisah percintaan sahabatnya itu.


__ADS_2