
"Kenapa Tuhan? Kenapa harus aku yang melalui kerumitan ini," Aku menangis bersama deburan ombak yang menyapu hingga tepian pantai.
Ya, aku disini, duduk terdiam seorang diri. Merenungi takdir yang begitu sulit. Dipatahkan oleh keluarga, diabaikan oleh teman dan dihancurkan oleh cinta. Namun aku harus dipaksa tetap bertahan oleh keadaan dengan sebuah senyuman yang memudarkan seluruh rasa kecewa.
Bagimana aku bisa percaya dengan laki-laki, bagaimana aku bisa membuka hati kembali, jika kisah cintaku yang pertama harus pupus, dan itu masih ku anggap wajar. Namun kisah kedua dan seterusnya mengapa juga harus putus? Apakah itu normal?
Lelaki pertama yang ku jadikan teladan, sudah mematahkan hatiku untuk pertama kalinya. Seorang ayah yang sangat ku banggakan ternyata tega meninggalkan. Begitu sulit untuk membuka hati bagi seorang laki-laki. Lalu ketika aku mencobanya meski membutuhkan waktu yang cukup lama, kebahagiaan itu hanya hadir sementara, hingga akhirnya aku dipatahkan lagi.
Sebisa mungkin aku sabar, berpura-pura tegar sebab aku nggak mau terlihat lemah dihadapan orang yang sangat ku cintai. Aku tidak mau membuatnya kecewa walau artinya aku yang terluka. Aku selalu mengalah untuk kebahagiaan orang lain, dan seringnya melupakan kebahagiaanku sendiri. Aku menjaga hati seseorang dikala hatiku juga sudah dibuang.
Aku yang broken home, harus merasakan broken heart lagi, bagaimana Tuhan? Bagaimana aku bisa membuka hatiku kembali untuk laki-laki? Bagaimana aku bisa mempercayai bahwa cinta yang hadir kembali tidak akan lagi melukai. Bahwa ketika aku memutuskan membuka hati dan menerima seorang laki-laki, itu artinya aku sudah mengumpulkan keberanian sebanyak yang aku mampu hadapi. Dan aku harus kecewa lagi?
Angin yang menyapu rambutku, melambai kesejukan di kulitku, sesaat harusnya tempat ini terasa indah, harusnya tempat ini bukan hanya sekedar tempat singgah dikala gundah. Namun aku tak bisa merasakan keindahan itu, yang ada hanya kegalauan yang menerpaku.
Debur ombak menyamarkan tangisku, membantai seluruh suara bertanya yang terngiang dalam kepalaku, namun tak pernah ada jawaban yang menenangkan. Sekelebat yang terlihat hanya memori rusak di masa silam, memori kesedihan. Tidak pernah aku memiliki kesenangan yang berlangsung lama, seolah aku tidak pantas untuk merasakan bahagia.
Semudah itukah Tuhan membagi-bagikan sepotong ingatan? Engkau hadir dalam lingkaran bifurkasi tak karuan. Menempatkanku pada dua pilihan yang harus segera mendapat keputusan. Bahwa maju berarti hancur dan mundur pun aku telah melebur. Bersama rasa sakit, kecewa, pedih dan entah apalagi kata untuk menjelaskannya.
"Dan, kamu adalah prolog yang bahagia, namun menjadi epilog yang penuh luka.." Hatiku lirih berkata seiring jatuhnya air mata. Seperti membimbangkan hati untuk memilih melepaskan namun sulit untuk melupakan.
__ADS_1
Terlalu banyak elegi yang sudah terlewati, bisakah aku bertahan sekali lagi? Hatiku sudah retak, sudah dirusak oleh kepercayaan dan harapanku sendiri. Sebab dia yang ku sangkakan akan berjuang, tidak akan menyerah di tengah jalan. Ternyata sudah mengangkat tangan dan menjatuhkan perasaan ke dasar jurang. Sementara aku juga tidak mungkin mengedepankan rasa egoisku.
Seperti inikah takdir? Yang menurutku berbuat semaunya tapi disisi lain mungkin Tuhan punya skenario barunya. Tuhan memberi yang kita butuh bukan yang kita ingin, tapi aku butuh dia. Atau ini cara Tuhan menyadarkanku, untuk bergantung pada Penciptanya bukan ciptaannya?
Otakku berdiskusi, memikirkan semua kemungkinan yang terjadi. Apa selanjutnya? Apa yang harus aku lakukan seterusnya? Aku sungguh patah lagi? Oh entahlah.. rasanya aku bingung menjelaskannya lagi, tentang apa yang aku alami.
Namun aku paham, aku juga tidak bisa memaksakan sesuatu yang mungkin memang bukan untukku. Mungkin perpisahan ini akan menjadi cerita baru yang lebih baik lagi. Mungkin memang aku tak bisa menjadi orang terakhir di kisah percintaanmu. Yang walau bagaimanapun aku tetap berdoa kepada Tuhan. Semoga Dia menjodohkan kita di dalam kedamaian.
Aku masih duduk disini, hingga senja pulang keperaduannya. Hingga malam mulai menjelang menggantikan matahari dengan bulan. Entah aku enggan beranjak dari tempatku. Masih ingin menenangkan diriku di kesunyian yang kelam. Menikmati kesendirian dan ketenangan.
Drrt..drtt..
"Aku beli makan diluar, mau dibawain apa?" aku berbohong padanya. Aku nggak mau membuat Upil merasakan sedihku.
"Cepetan pulang, udah malam," aku hanya membaca pesan Upil dan beranjak kembali ke asrama.
Tadi sore aku sengaja keluar dari asrama. Aku tidak bilang siapa-siapa akan kemana. Aku sengaja meminta cuti selama tiga hari. Aku ingin menenangkan diriku, untuk tidak bekerja.
Tanpa tau arah dan tujuan aku hanya melajukan motorku. Mengikuti arus jalanan yang nggak tau kemana, hingga akhirnya setelah berputar-putar aku memutuskan ke pantai. Tak banyak orang, karena bukan weekend. Hanya satu dua orang yang datang tapi tak lama. Aku sengaja berjalan ke tempat sepi. Tempat yang tidak akan diganggu siapapun. Tempat singgah hanya untuk berdiam diri. Kali ini aku benar-benar patah hati.
__ADS_1
****
Beberapa hari berlalu rasanya sepi sekali tanpa Danial. Tak ada pesan pengingat darinya. Tak ada gombalannya. Tak ada suaranya yang serak itu. Kita memutuskan untuk menata hati masing-masing. Membuat jeda untuk sementara, agar bisa memulihkan luka. Hingga kita siap untuk bercanda lagi walaupun sudah beda statusnya.
Setiap aku melewati tangga menuruni toko, aku teringat dia. Bahwa pernah suatu kali dia berdiri menungguku di bawah sana. Memandangkan senyumnya yang menawan dan membuatku terkesan. Dengan lambai satu tangannya yang pelan, aku menuju ke arahnya. Lalu di tangan satunya ada setangkai bunga tulip putih yang ia sembunyikan di balik punggungnya, sebelum akhirnya ia berikan padaku. Bunga yang melambangkan kesucian cinta, kelopaknya yang tertutup dan terlihat sederhana, namun indah dipandang mata. Kemudian kita bergandengan tangan menuju parkiran, berlalu pergi melepaskan kesuntukan oleh kerjaan. Menghabiskan sisa hari bersama sebelum harus dipisahkan oleh jarak lagi. Kini semua itu tinggal kenangan.
"Yung, ngapain sih ngelamun disini sendirian?" Upil menepuk bahuku.
"Aku hanya memikirkan sesuatu," aku menolehnya yang mengambil duduk disampingku.
"Tentang?" Upil penasaran.
"Mungkinkah Danial yung?" Upil membatin.
"Nggak papa kok, bahas yang lain yuk," sebisa mungkin aku mengalihkan pembicaraan.
"Maafkan aku yung, aku nggak bisa berbuat apa-apa untuk membantumu, tanpa kesalahpahaman ini, kamu akan semakin kecewa, bahwa mengetahui dia meninggalkanmu dalam keadaan cinta namun tak bisa bersama, setidaknya dengan begini kamu bisa menjadikan alasan untuk menjauhinya, agar kamu sadar dia telah berubah, dia tidak percaya padamu lagi sehingga tidak ingin berbagi kebahagiaan denganmu" Itu yang hati Lutvi pikirkan, namun itu tak sejalan dengan pikiran Dyana.
Lutvi mengira dengan Danial memprivasi story nya akan menimbulkan kecurigaan dan membuat Dyana merasa bahwa Danial tidak terbuka dengannya dan sudah tidak mempercayainya. Namun bagi Dyana mungkin itu hanya karena Danial punya privasinya, tidak semua hal yang Danial lakukan ia harus tau. Karena Dyana sangat menghargai privasi seseorang. Meskipun sedikit kecewa sebab itu nggak seperti biasanya. Sedikit kecewa bahwa ia bukan orang yang diajak berbagi kebahagiaan seutuhnya. Sedikit yang ia sembunyikan sudah menaruh kesakitan. Namun tetap masih menyayanginya. Apa yang hati rasa tidak bisa dikontrolnya. Yang ia tau, ia cuma cinta. Tanpa syarat. Tanpa Alasan.
__ADS_1
Mungkin akan sedikit posesif jika aku terus menuntut dia ada disampingku. Selalu menghubungiku. Selalu mencari tau apa hal yang ia lakukan. Makanya, aku hanya menerima dan berusaha mengerti jika ia ada menyembunyikan sesuatu dariku. Sebab cinta tak bisa mengontrol apa kata dalam emosi dan perasaannya. Ingin benci, nggak bisa. Sebab seolah ia tak pernah memiliki rekam jejak yang jelek di hati. Walau berkali-kali menyakiti.