
Beberapa bulan berlalu, namun rasanya aku masih belum rela melepasnya. Entah kenapa perasaan ini begitu terpaku padanya. Setiap hari hanya bisa menyulam rindu yang tak mungkin bertemu. Memikirkan kita benar-benar tidak bisa menjadi pasangan lagi. Mengecewakan. Terkadang aku hanya bisa menangis dalam diam. Aku hanya mengingat Danial disela-sela kerjaku.
"Besok pagi kita adakan meeting ya," koordinatorku mengakhiri evaluasi hari ini. Agenda untuk besok adalah membahas pertukaran tempat tugas yang baru. Setelah membunyikan jargon dengan lantang, semua berkemas dan bergegas pulang.
Aku berjalan ke arah balkon, setelah memastikan rolling door telah terkunci. Menghirup angin dalam-dalam, merasakannya menyusup ke dalam kulitku. Sejuk. Memandang langit yang sepi tanpa bintang. Seperti pikiranku yang tak bisa menghilangkan Danial dari sana. Sunyi.
"Yung, kamu akhir-akhir ini kok pendiem," Upil yang menangkap perubahan perilakuku merasa khawatir.
"Kamu nggak mau cerita sama aku?" Upil mendesakku untuk terbuka.
"Aku putus dari Danial," Hal yang sebenarnya Upil tau, namun ia memilih bungkam.
"Yang sabar ya yung, kalau jodoh nggak kemana kok," Upil mengelus punggungku.
"Haha klasik, semua bilangnya juga kalimat itu, hanya kata-kata penghibur." jawabku dengan ketawa. Upil merasakan kesedihan di setiap nada bicaraku.
"Kamu pernah nggak sih ada orang yang spesial dihatimu?" tanyaku pada Upil.
"Pastinya ada lah yung, cuman setelah dia pergi, hidup harus terus berjalan," Upil menolehku.
"Perlahan tanda-tanda keberadaannya akan terhapus oleh kehidupan yang sunyi ini. Jarak dan kenangan yang indah itu akan memudar, layu secara perlahan. Dalam perputaran waktu, kita berlari mengelilingi lingkaran, akankah dia akan menunggumu dan kembali padamu, ataukah kamu yang akan mati dibunuh harapanmu sebab ia tak pernah berniat untuk kembali. Semua itu hanya hatimu yang bisa mengatasi yung.." Upil mengenangkan kisahnya dahulu. Ketika ia juga harus dipaksa berhenti mencintai seseorang. Dipaksa terluka oleh keadaan.
"Akankah kamu terus terpaku pada masa lalu, atau keluar dari zona nyaman dan menatap masa depan, pikirkanlah baik-baik yung.." Upil menasehatiku.
"Kamu benar Pil, bagaimanapun aku mau memaksakan untuk bersama dengannya, memang sudah tidak mungkin, hmm.." Aku tersenyum.
"Sabar yung, yang hilang pasti tergantikan." Upil membalas senyumku.
"Rasanya kenapa kisahku selalu gagal, kenapa percintaanku selalu diambang kemalangan," Aku memandang jauh.
"Nggak cuma kamu kok yung, aku juga begitu," Upil menyahutiku.
"Emang gimana kisahmu yung, aku selalu cerita sama kamu, baru sadar kalau kamu nggak pernah cerita soal cintamu," aku penasaran.
"hehe.. nanti aja kalau udah nikah aku ceritain," Upil hanya tersenyum.
__ADS_1
"Loh, kamu udah ada rencana mau nikah toh?" Aku menyenggol lengannya.
"Udah donk, masa mau sendiri terus," Upil yakin.
"Dihh, tega banget, aku lagi galau situ mau nikah.. huhh.." aku pura-pura ngambek.
"Ya udah, entar aku comblangin sama temannya pacarku,"
"Haha loe kira gue barang dagangan mau loe obral," kita tertawa bersama.
"Lantas gimana sama Fajar?" Aku penasaran.
"Haha sempat jadi idola di mataku," Lutvi terbahak.
"Loh kan gitu, ada cakep dikit pepet terus,"
"Haha memandang cowok ganteng itu menyehatkan mata yung," Lutvi mengernyitkan dahinya.
Dan malam itu aku sedikit tercerahkan, karena Upil senantiasa menghiburku. Kita tertawa bersama seolah tidak pernah ditempa masalah.
***
Selama meeting aku belum bisa berkonsentrasi penuh, pikiranku masih terbagi. Bagaimana Danial sekarang? Masih sendiri atau sudah punya pasangan? Apa yang dia lakukan ketika sudah tidak bersamaku? Akankah setiap malam dia akan pergi ke kedai kopi? Tidak meneleponku seperti biasanya. Ataukah ia akan nongkrong dengan teman-temannya dan mencari gebetan? Ahh.. sungguh menyebalkan ketika aku overthinking.
"Dyana, kamu siap jika harus menghandle mukena dan grosir?" koordinatorku menyuruhku.
"Dyana?" seru koordinatorku lagi.
"Dyana?" koordinatorku mengulangi panggilannya. Upil yang duduk disampingku menyenggol lenganku.
"Ahh.. iya saya siap," jawabku yakin, meski aku belum memikirkan keseluruhannya.
"Oke, kalau begitu meeting hari ini selesai, Dyana dan Anas kalian harus memiliki tugas double karena personil baru akan datang bulan depan." seru koordinatorku.
Usai meeting kita sarapan bersama. Aku membantu membagikan nasi kotak, sementara Anas membagikan jus mangga. Aku dan Anas selain mendapat tugas double tapi juga menjadi pengawas. Sebab beberapa senior telah resign. Setelah kenyang, kita kembali ke tempat tugas yang baru dengan partner baru. Kita diskusi kilat dan mempelajari apa yang harus dimengerti terlebih dahulu. Mengingat tempat stok dan kode harga. Nampaknya aku harus menyibukkan diriku lagi untuk melupakan Danial.
__ADS_1
Aku fokus dan bekerja sungguh-sungguh. Mengisi otakku dengan kode harga yang umumnya terdiri dari empat huruf. Aku menata ulang stok dibantu Rina. Hingga tengah hari waktu toko siap dibuka, aku sudah menyiapkan diriku untuk bertempur dengan pelanggan.
Ketika jam istirahat sore tiba, aku segera mengambil handphone ku dan bergegas rebahan di asrama. Iseng-iseng aku lihatin story teman-temanku. Aku scrool layar untuk mengisi kegabutanku. Salah satu story temanku membuatku penasaran.
"Lama nggak ada kabar?" aku chat temanku yang dulu satu partner di tempat kerjaku. Sudah lama kita jarang berkabar, semenjak ia resign yang belum ku tahu alasannya. Dia termasuk salah satu teman dekatku juga.
"Aku baik, kamu? Masih kerja di Blitar kah?" tanyanya tak lama setelah pesanku terkirim.
"Hmm.. baik sih, tapi lagi patah hati," aku sungguh bosan, bingung mau cerita ke siapa soal perasaanku.
"Aku masih di Blitar juga, kamu dimana?" balasku lagi.
"Aku di Hongkong," terdapat balasannya bersama emoticon sad.
"Really? Aku nggak percaya deh," aku terkejut.
"Iya, ada masalah keluarga, jadinya kabur deh nyari ketenangan," jawabnya lagi.
"Masalah? What happen?" aku penasaran.
"Semua karena kakakku dan suaminya, ada pokoknya. Dan akhirnya mamaku sakit, aku perlu uang banyak," aku turut kasihan padanya.
"Btw, patah hati kenapa? putus lagi," Temanku menebak, dan itu benar.
"Iya nih, lagi bingung banget sekarang." aku balas pesannya.
"Bikin sibuk dirimu, apa kesini aja sama aku, hehe," ajak temanku yang bernama Wina itu.
"haha.. emang bisa?" aku sedikit tergiur.
"Bisalah, daripada bingung-bingung," Dia membalas dengan emoticon tertawa.
"Aku mau balik kerja dulu nih," Aku mengakhiri percakapanku.
Sepanjang pekerjaanku aku jadi kepikiran, gimana ya kalau aku ke luar negeri. Membunuh semua kenangan disini, karena setiap tempat dan sudut yang terlihat oleh mataku, hanya ada Danial di dalam bayanganku. Sebegini aku punya perasaan padanya, menyebalkan, menyakitkan.
__ADS_1
Tiba-tiba aku kepikiran dengan temanku, dia bekerja di Brunei di toko juga. Apa aku tanya sama dia aja ya? Aku jadi penasaran dan mencari-cari informasi ke luar negeri.
"Apa aku ke luar negeri aja ya?" Aku merenungkannya.