Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Birthday Present


__ADS_3

Mem masih sibuk berkeliling, asal comot semua benda yang menurutnya lucu. Sudah hampir dua keranjang penuh belanjaannya, hingga akhirnya aku mengambil troly untuk memudahkan membawanya. Rencananya tidak akan belanja banyak, namun kenyataannya nafsu seorang wanita ketika berada di shopping center tak pernah bisa dielakkan.


"You want to buy panda, i think so cute," Mem tersenyum sambil mengedipkan matanya.


Akupun bergegas mengambil panda. Mumpung disini boleh kali ya beli buat kenang-kenangan pulang ke Indonesia. Seperti Danial dulu yang memberiku sebuah panda berukuran besar. Namun semua itu telah bersemayam indah di masa laluku, terkenang.


Flash back on,


Aku ditinggalkan sendirian di ruang tamu yang didominasi warna putih dan sofa bantal yang berjumlah lima. Sudah lima belas menit berlalu Danial tak balik juga.


"Dan lama banget, katanya ngambil tissue?" aku sedikit berteriak.


Di ruang tengah Danial bersama temannya berdebat kecil. Saling menyalahkan namun tetap tercermin keakraban.


"Udah sana ke depan!" suruh Andi mendorong tubuh Danial.


"Ya tapi masa ngasih kaya gini," Danial masih belum beranjak dari tempatnya berdiri. Ia merasa ini tidak pantas.


"Udah nggak papa, nggak sempet bungkus," tutur Andi dengan sedikit mendorong Danial.


"Rese loe," Akhirnya mau tidak mau Danial ke depan. Membiarkan kadonya hanya dibungkus plastik. Niat hati ingin romantis malah gagal.


Aku melihat Danial membawa sebuah kantong plastik hitam yang berukuran besar, entah apa isinya. Aku hanya mengernyitkan dahi memandangnya, sementara dia nyengir bingung, setengah merasa malu.


"Untukmu," Danial menyerahkan bungkusan itu. Aku membawanya ke sofa dan membukanya. Aku berbunga-bunga, nggak nyangka akan mendapat banyak surprize dari Danial.


"Makasih Dan," akupun memeluknya.


"Maaf nggak sempet bungkus," ujar Danial yang justru malah membuatku merasa unik. Aku malah menyukainya sebab itu beda. Menyukai dia yanga apa adanya, yang nggak usah jaga image untuk terlihat baik dan dipuji.


Hujan diluar membuat keadaan di dalam rumah ikut menggelap. Yang tadinya hanya gerimis berganti dengan gemericik air yang sangat deras. Hawa dingin memenuhi ruangan yang hanya ditinggali berdua.

__ADS_1


"Dan aku pulang dulu," teriak Andi yang sudah di depan rumah. Ia memakai mantelnya dan bersiap melajukan motornya.


"Kenapa pulang? masih hujan juga," Danial melihatnya dari pintu. Memandang Andi yang diguyur hujan.


"Mamaku nyuruh pulang," Andi menyalakan motornya. Sebenarnya hanya tidak ingin mengganggu temannya yang tengah dilanda romansa asmara itu.


"Bye" teriaknya lagi saat motor sudah melesat jauh tidak terlihat.


Aku putar lagu dari ponselku sebab sepi merajai. Danial duduk di sampingku, kita bercerita dan memakan kue yang masih tersisa. Tak sengaja aku menjatuhkan korek api yang berada di atas meja. Aku membungkuk mengambilnya yang diikuti Danial. Tangan kita bersentuhan, refleks aku memandang wajahnya. Kita bersitatap penuh cinta.


Suara air diluar semakin keras, irama jantungku juga terjejas. Seakan detaknya tak bisa dikendalikan. Danial memegang pundakku dan membawaku ke sofa. Terkikisnya jarak diantara kami bersamaan dengan wajahnya yang semakin mendekat. Aku tidak tau lagi, perlahan aku memejamkan mataku.


Kecupan lembut ku rasakan sesaat. Bibir tipis itu menyentuhku. Aku merasakan kenyamanan yang belum pernah ku dapatkan sebelumnya. Aku ikut terbawa suasana dan memberikan first kiss ku padanya. Ia menyesap perlahan dan menyibak rambutku. Beberapa detik berlalu, ciuman itu terlepas sesaat nafasku yang semakin tersengal.


Sejak pertama kali bertemu hingga hubungan kita berjalan sembilan bulan, ini kali pertama dia menyentuhku. Kali pertama dia memberikan kecupan hangat dibibirku.


"Kado spesial," ujarku padanya. Dia hanya tersenyum.


"Tidak ada yang salah," Aku memeluknya erat.


Hujan belum juga mereda, sementara jarum jam terus bergulir. Waktu sudah sore namun seakan sudah malam sebab gelap menyelimuti.


"Aku ingin pulang," ajakku dengan masih dipelukannya.


"Masih hujan," Danial menyisir rambutku dengan jarinya. Rasanya aku tidak ingin mengucapkan perpisahan disaat keromantisan tak mau mereda.


"Tapi sudah sore," aku menatap wajahnya.


"Kamu mau pulang hujan-hujanan?" Danial menoel hidungku. Ia beringsut tidur dipangkuanku.


"Boleh dicoba," aku tersenyum menantang. Aku telusuri wajah yang membuat hatiku selalu bergetar itu. Mengulas hidungnya, pipinya dan semua yang ada diwajahnya yang mampu membuatku jatuh cinta.

__ADS_1


"Aku siap-siap dulu," Danial bangun, ia ingin mengganti bajunya.


Danial sudah bersiap, aku memasukkan ponselku ke dalam tas agar tidak basah. Kita benar-benar berencana menerobos hujan. Danial sudah bersedia dengan jaket bombernya.


"Kamu yakin?" Danial memastikan sekali lagi. Aku hajya mengangguk meyakinkannya.


Sesaat motor melaju pelan, mengibas air yang begitu deras. Kita tertawa menikmati tubuh yang basah. Hal seperti ini sungguh konyol. Hujan selalu punya cerita, entah sedih atau bahagia, selalunya berkesan dan tidak terlupakan.


Begitu indah jika dipertemukan dengan orang yang sama frekuensi. Melakukan hal gila yang jauh dari logika. Tidak perlu menunjukkan kita selalu baik-baik saja. Menjadi diri sendiri dan saling percaya. Melakukan semua hal yang kita suka.


"Kedinginan?" Danial sedikit berteriak, sebab riuh suara air yang berderu dengan mesin.


Aku hanya mengetatkan pelukanku di punggungnya. Dia memandangiku dari spion yang ku balas kedipan mata. Wajah bercucur air tak membuatku merasa dingin. Kegilaan seperti ini sungguh diluar dugaanku. Danial pun mau juga menurutiku. Kita tertawa sepanjang jalan. Tak kisah dengan baju yang basah. Tak peduli jika sakit setelahnya. Tak menghiraukan hujan lagi yang penting kita gembira sekali.


Sampai di depan rumah, aku mengajak Danial mampir. Ibuku heran kenapa hujan malah pulang.


"Harusnya berteduh dulu, kalian ini," Ibu memberikan handuk pada Danial. Kita hanya saling pandang, nyengir nggak jelas, sebab ini memang dengan sengaja kami lakukan.


Ibu menyeduh teh hangat untuk Danial, sementara aku mengganti bajuku. Lalu aku memberikan kaos ku yang kebesaran pada Danial. Usai merapikan dirinya Danial ikut bercengkrama. Rumahku sudah seperti rumahnya, ibuku sudah melayangkan restunya.


"Kalian ini kaya anak kecil, tau hujan malah diterjang," Ibu berlalu dari dapur, menyuguhkan secangkir teh yang uapnya masih menguar.


"Makasih ya buk," Danial meminumnya.


"Tadi tuh kita udah sampai situ buk, terus hujan, ya udah nanggung, aku minta lanjut jalan aja," Aku menunjuk pertigaan yang nggak jauh dari rumahku dengan isyarat.


Ibu hanya geleng-geleng, kemudian meninggalkanku berdua. Malam semakin beranjak, hujan juga sudah mulai mereda. Danial berpamitan pulang.


Flash back off,


"Ok, lets pay!" Ajak majikanku yang membuatku melupakan bahwa aku tengah mengenang masa lalu.

__ADS_1


Aku menjinjing berbagai paper bag dengan macam-macam barang baru sebagai isinya. Belanja kali ini benar-benar menguras isi ATM. Namun begitulah cara termudah meluapkan kesedihan. Berbelanja adalah cuci mata paling ampuh. Akupun sempat tersenyum juga mengingat memori masa lalu yang tiba-tiba berkelebat.


__ADS_2