
Mentari bersinar cerah, tapi redup di hatiku. Aku sudah rapi padahal masih pagi, biasanya aku adalah orang yang sering terlambat absen kerja. Aku naik ke lantai dua. Aku termenung di balkon, menikmati angin yang menyejukkan. Aku banyak berpikir, banyak membayangkan, tentang apa yang belum ku tau jawabannya, perasaan ini sungguh mengusik.
Tentang kak Fariz, membuat tidurku tak nyenyak, hingga pagikupun ikut tak jenak. Dilema. Sekarang aku merasa, seolah aku benar-benar dipermainkan. Apa yang teman-teman gosipkan tentang dia, menyita perhatianku. Dia yang playboy, banyak cewek yang suka, aku yang emang sudah tau sikap dia yang ramah sama cewek-cewek, jadi khawatir, kalau benar dia berpaling.
Awalnya aku wajar saja, toh dia Cuma bercanda, kadang dia menggoda temanku hanya sekedar lucu-lucuan saja. Tapi sekarang aku mulai cemburu, aku merasa nggak terima kalau kita backstreet. Aku selalu berpura-pura di depan semua orang, bahwa kita nggak ada hubungan apa-apa. Hanya kak Lily yang tau, aku harap dia nggak bilang sama orang lain. Aku takut ketahuan koordinatorku, tapi aku juga ingin semua ini menjadi jelas antara aku dan dia. Apalagi Fajar bilang Kak Lily dan Kak Fariz sama-sama suka, lalu bagaimana denganku, ya walau ketika kita berdua dia sangat perhatian padaku.
“Ngapain sendirian disini,” Kak Fariz menghampiriku,
“Kok tau aku disini,” aku menoleh.
“Tadi kelihatan dari tirai kamar,”
Aku ragu mau bertanya soal hubungan kita, mau sampai kapan kaya gini. Aku takut dia marah, mengira aku tak pengertian. Akupun tau juga peraturan disini, dan aku melanggarnya dengan diam-diam seperti ini. Aku salah, aku memiliki cinta untuknya, dikeadaan seperti ini. Jika ketahuan, salah satu diantara kita akan dipindahkan ke cabang lain. Perasaan nggak bisa diarahkan untuk siapa, nggak bisa juga memilih datang dalam keadaan seperti apa dan waktu yang bagaimana.
“Kak, jujur deh sama aku, tentang Ulya dan Kak Lily,” aku to the point minta penjelasan dia.
“Aku nggak ada apa-apa sama Ulya,” dia jawab dengan santai.
“Tapi temen-temen banyak yang bilang, kamu ngasih kado ke dia,”
“Itu Cuma titipan dari temen aku buat dia,”
“Kok bukan temen kamu sendiri yang ngasih, dan ku lihat emang akhir-akhir ini kamu sering nyamperin dia.”
“Beneran, temen aku suka sama Ulya, terus minta bantuin gitu buat deketin dia.”
“Ok deh aku percaya, trus kak Lily?”
“Nggak usah bahas dia ya, kamu nggak percaya sama aku,” dia langsung berubah ekspresi.
"Apa yang dia sembunyikan?" pikiranku bertanya-tanya.
“Bukan nggak percaya, tapi kenapa kamu nggak mau bahas dia, pasti bener ada apa-apanya,” aku jengkel sama Kak Fariz.
__ADS_1
“Kamu ragu sama aku, kamu nuduh aku selingkuh gitu,”
“Aku tanya baik-baik, kok kamu jadi marah, bener ya ada yang kamu sembunyiin dari aku. Kamu masih suka sama dia.”
“Aku bilang nggak usah bahas dia.” Kak Fariz berteriak padaku. Ini pertama kalinya, menurutku dia udah kasar padaku, dia membentakku.
"Siapa yang nuduh kamu selingkuh, aku cuma bertanya." aku teriak juga. Dan akupun pergi meninggalkannya, aku naik pitam juga, nggak bisa dikendaliin lagi.
***
Sudah seminggu sejak pertengkaran itu, Kak Fariz jarang menghubungiku, dia menghindariku. Aku merasa nggak bersalah, tapi dia yang berubah. Lalu selama ini aku dan dia apa, aku tak paham sikapnya, harusnya dikejadian ini aku yang marah bukan malah dia.
Hingga malam itu, aku melihat dia diparkiran, dia membelakangiku. Dia berdiri di depan seorang cewek, dan itu Kak Lily. Aku kecewa, dia berselingkuh dariku. Aku yang begitu percaya, dia hancurkan dengan pengkhianatan.
Aku hancur lagi, aku dipatahkan lagi. Aku rela diam-diam menjalin hubungan ini, aku berharap ini akan bahagia. Namun kekecewaan yang ku temui, sekali lagi.
Besoknya, aku temui Kak Fariz. Dia sedang merapikan stok barang di gudang belakang. Aku berhati-hati agar tak ketahuan orang, aku menghampirinya.
“Aku mau putus,” aku to the point.
“Udahlah kak, kamu beneran suka kan sama Kak Lily, lalu untuk apa ada aku, kamu selingkuh, atau aku yang jadi orang ketiga antara kamu dan kak Lily,”
“Aku sama dia nggak ada hubungan lebih,”
“Aku tau, kalian sama-sama menyukai, Fajar udah ngasih tau semuanya sama aku.”
Aku menangis dihadapannya. Ketegaranku runtuh tak berdaya. Aku tak bisa sekuat biasanya.
“Ok, aku jujur padamu, semuanya,” Kak Faris pasrah.
Aku hanya diam, menunduk dihadapannya, walau kita belum lama berhubungan, tapi aku udah memutuskan untuk berkomitmen dengannya.
“Dulu, aku dan Ari sama-sama suka sama Lily, sampai sekarang aku mungkin belum merelakannya seutuhnya,” Kak Fariz memulai penjelasannya.
__ADS_1
“Deg.. selama ini mungkin aku Cuma pelampiasannya.” Batinku merenungi.
“Kita bertiga sahabatan, aku suka Lily, ya dulu aku begitu menyayanginya, hingga sekarang mungkin, Ari menyukai Lily juga, Ari adalah sahabatku satu-satunya, dia bahkan rela terluka demi menyelamatkanku dari perkelahian geng motor.”
Kak Fariz terperosok dilantai, dia duduk dengan lunglai. Akupun ikut duduk disampingnya.
“Ari bilang, dia sangat menyukai Lily, malam itu dia mau nembak Lily, namun aku menghancurkan semuanya, aku terjebak diperkelahian geng motor yang salah sasaran, saat itu Ari lewat dijalan itu, Ari menyelamatkanku dari tusukan. Ari terluka.”
Kak Fariz menghela nafas, aku semakin terbawa dalam ceritanya.
“Ari terluka parah, hingga harus berada di ICU, semua upaya dilakukan, namun dia tak tertolong.”
“Aku bilang semua pada Lily, Lily bilang dia menyukaiku, akupun sama, masih menyukainya, namun aku dan dia itu mustahil,”
“Lily selalu menolakku, dia merasa bersalah jika harus bahagia diatas kepergian Ari.”
“Lalu aku harus bagaimana, akupun juga merasa seperti itu, walau aku menyukai bahkan menyayanginya, aku juga tak bisa merelakan kepergian Ari, aku tak bisa ketika dia menyelamatkanku, aku malah merebut satu-satunya orang yang akan membuat dia bahagia. Meski Lily tak menyukai Ari, dia merasa tidak pantas jika harus menerimaku,”
“Aku marah waktu itu, aku nggak sadar berbuat demikian, karena cerita ini seperti menguak kisah lama, dan menambah duka.”
“Aku tau, kamu butuh penjelasan, sekarang aku masih berusaha menyayangimu, maafkan aku, tapi aku sungguh-sungguh ingin memulainya denganmu,”
“Aku tau juga kalau Fajar nembak Lily, aku suruh milih antara aku dan Fajar, dia nggak bisa memutuskan keduanya friendzone itu rumit,”
“Lily tau hubungan kita, dan aku memutuskan untuk memulai denganmu, namun dia belum bisa memberi kepastian pada Fajar, dia juga masih menahanku,”
“Namun aku harap, kamu memaafkanku, dan memberikan kesempatan untuk memperbaiki hubungan kita, memulai semua dari awal, aku akan berusaha mencintaimu, aku akan melepas Lily, meski ia menahanku, ini sudah saatnya aku mengakhiri ini dengan Lily” Kak Faris mengakhiri penjelasannya.
Aku menangis, begitu berat apa yang dia rasa, aku paham kenapa Kak Lily menjauhiku juga, karena dia yang paling terluka. Aku sendiripun suka Kak Fariz, dan kenyataannya dia masih berusaha untuk menyayangiku. Aku harus bagaimana, perasaan ini berbaur tak karuan, disatu sisi aku ingin bersamanya, disisi yang lain aku nggak tega sama Kak Lily, saling menyukai tapi tak bisa memiliki.
Aku mengerti kenapa Kak Lily masih menahan Kak Fariz, sebab Kak Lily belum rela ditinggalkan, dia tidak mau membuka hatinya untuk orang lain.
“Aku butuh waktu, karena cintamu masih terbagi kak.”
__ADS_1
Aku meninggalkannya bersama tumpukan barang yang masih berserak. Aku kacau, bimbang, bingung, nggak paham akan diriku sendiri, entah langkah apa yang ku mau. Hubungan ini terlalu rumit. Cinta dan persahabatan yang sulit.