
Hari terakhir bekerja sebelum cuti satu minggu untuk hari raya adalah saat yang paling ditunggu. Semua karyawan antusias dan bersemangat menyelesaikan tugas di hari terakhir. Banyak rak stok yang sudah kosong. Beberapa pajangan hanya tinggal beberapa saja yang tersisa.
Semua tempat tugas mengalami kesibukan. Toko tutup lebih awal satu jam dari biasanya, namun bukan berarti tugas kita sudah selesai. Kita harus membereskan beberapa baju yang berserakan. Membungkus etalase dengan kain lebar untuk menghalau debu. Seminggu ini tidak akan ada aktivitas di dalam toko ini. Memastikan semua stok yang tersisa aman. Menata rapi beberapa pajangan agar tak nampak kacau.
Suasana di kasir semakin sibuk saja, menghitung nota secepat kilat yang aku bisa, merekap laporan keuangan, menata uang secara rapi agar mudah disetorkan pada atasan, membuat perhitungan serinci mungkin, jangan sampai ada kesalahan.
Suara takbir berkumandang di seluruh penjuru kota. Suasana haru menghiasi perpisahan karena sebagian teman-teman ada yang resign sesudah hari raya, beberapa ada yang kembali bekerja namun harus dipindah ke cabang lainnya. Sudah menjadi tradisi di toko ini, setiap tahunnya personil akan selalu diganti.
Semua saling berpelukan, berjabat tangan, dan bermaaf-maafan. Hal inilah yang akan dirindukan, kebersamaan akan persahabatan yang terukir dari hati mendalam. Setahun sudah dibersamakan melalui suka dukanya pertemanan.
Ulya memelukku dan meminta maaf padaku, akupun juga terharu. Haha, yang dulunya bermusuhan sekarang saling merasa kehilangan. Malam ini derai tangis air mata perpisahan mengiringi setiap hati insan yang penuh dengan kecintaan.
Mobil jemputan dari toko pusat sudah datang. Biasanya semua karyawan toko cabang yang berdomisili satu kota dengan toko pusat akan dijemput kembali ke toko pusat, sebelum akhirnya pulang ke rumah masing-masing. Sementara yang berdomisili di sekitar toko cabang akan pulang sendiri bersama goodie bag yang berisi bingkisan hari raya.
Di tempat ini aku banyak belajar, akan tanggung jawab, mengenal cinta dan patah hati, arti persahabatan dan kekeluargaan. Semua ini benar-benar proses menuju kedewasaan. Sangat menyenangkan.
"Aku di perjalanan pulang," aku kirim teks ke Danial, dia berjanji akan menjemputku di toko pusat dan mengantarkanku pulang. Aku sudah izin sebelumnya pada ibuku. Dia membolehkannya sebab dia percaya dengan Danial. Lampu hijau sudah ku dapat dari orang tuaku.
Sesampainya di toko pusat, aku sudah melihat Danial dari kaca mobil, dia berdiri di samping motornya. Setelah berpamitan dan bersalaman dengan Umi aku keluar menuju gerbang. Sesekali aku berpelukan dengan beberapa teman dari berbagai cabang yang ku temui seraya aku berjalan.
"Sudah lama?" Aku menanyai Danial.
"Belum kok, mau langsung pulang atau jalan-jalan dulu," Danial menawarkan.
__ADS_1
"Ke kota boleh deh," aku menaiki motornya. Kita menyusuri jalanan yang tak berujung. Menikmati malam ini. Menuju pusat kota yang memiliki ikon burung garuda yang nampak gagah dari segala penjuru.
Alunan takbir yang menggema serta jalanan yang ramai dipenuhi kendaraan mengusir semua hawa dingin yang menerpa. Angin malam sudah tak terhiraukan lagi. Tidak ku sangka malam ini aku akan menghabiskan malam takbir dengan Danial.
Lewat tengah malam kita sampai di kota, alun-alun dipenuhi dengan orang-orang yang bertakbir. Aku mengambil duduk di kursi kayu bersama Danial. Mendengarkan suara-suara yang memuji Keagungan Tuhannya.
"Indah ya," aku menunjuk ke atas sambil berucap mengagumi keindahan langit yang penuh dengan bintang.
Danial menolehku dan meremas tanganku. Rasanya hal seperti ini telah lama sekali tak dilakukannya. Rasanya kerinduan ini sudah menemukan tuannya.
"Aku bahagia deh bisa menghabiskan malam ini denganmu," Danial meluahkan perasaannya.
"Bagaimana kabar ayahmu?" aku bertanya pada Danial, rasa takut masih selalu membayang di benakku.
"Benarkah aku bisa menggantungkan harapan dan percaya padamu Dan," aku membatin pilu.
Suara kembang api mengudara membuyarkan lamunanku. Malam takbir di kotaku selalu saja meriah disetiap tahunnya. Benar-benar perayaan megah, menyambut hari raya yang sudah ditunggu lama, yang hanya terjadi setahun sekali saja.
"Pulang yuk," Danial mengajakku pulang, dia menggandeng tanganku menuju parkiran.
Pukul satu Danial membawaku pulang, keadaan di kampungku ramai sekali. Banyak orang masih berlalu lalang di persimpangan jalan. Ibuku menunggu di depan rumah sambil bercengkrama dengan tetangga.
"Makasih ya Le, sudah dianterin pulang," ibuku menyambut Danial.
__ADS_1
"Sama-sama buk," Danial menyalami tangan ibuku.
"Saya sekalian mau pamit pulang," Danial meminta izin undur diri.
"Tidak mampir dulu," ibuku menawarkan. Danial hanya tersenyum dan berlalu.
Aku memeluk ibuku dan mengajaknya masuk rumah. Aku rebahkan tubuhku di kursi. Ibu dan Adikku membuka beberapa tas yang aku bawa, oleh-oleh untuk mereka.
Aku berbaring di kasurku, memandangi atap kamarku yang berwarna biru. Waktu cepat sekali berlalu, hari raya sudah tiba. Hari yang paling ditunggu oleh seluruh umat muslim. Hari raya kesekian kalinya tanpa seorang ayah kandung bersamaku. Tiba-tiba perasaan pilu menyerbuku.
Rasanya sudah lama aku tak menikmati rebahan di balik selimutku dan tidur dengan bantalku Resiko anak rantau, selalu saja pulang dalam hitungan hari. Apalagi tempat kerjaku masih mengharuskanku bekerja di hari terakhir puasa. Rasanya lama sekali sehingga aku sudah lupa bagaimana nikmatnya berbuka puasa bersama keluarga.
Mungkin hanya dua jam aku tertidur. Adzan subuh sudah menggema, ibu membangunkanku. Seketika mataku berkaca-kaca setelah ibu keluar dari tanganku. Sekelebat bayangan kenangan masa lalu kembali mengusikku.
Dulu sebelum bercerai, ayah yang selalu membangunkanku, sementara ibu sibuk memanaskan opor ayam. Mebungkus nasi dan lauknya untuk dibawa ke masjid. Ada juga Ayam Lodho yang nggak boleh ketinggalan, salah satu tradisi merayakan hari lebaran di kampungku.
Ayahku menggendongku dan memandikanku ketika aku kecil. Ibu menyiapkan baju baru yang menjadi idaman anak kecil seusiaku dulu. Semua kue khas lebaran dari nastar hingga kripik-kripik sudah tertata rapi di dalam toples diatas meja.
Namun sekarang semua sudah berubah, entah sudah berapa kali lebaran ayah tak pernah ada disampingku lagi. Sikapnya saja sudah banyak berubah bahkan untuk sekedar menghubungiku dia sering lupa.
Momen seperti ini selalu menjadi momen dimana aku sangat merindukannya. Merindukan kebersamaan yang dulu, ketika kita bisa saling bercengkrama, menceritakan berbagai hal yang menyenangkan. Ayah dan ibu yang selalu dipenuhi rona bahagia. Hingga akhirnya kejadian itu ada, membunuh semua senyum dan melahirkan pertengkaran yang sudah tidak bisa lagi diselamatkan. Dan ketok palu di pengadilan yang menyelesaikan semuanya. Perpisahan yang menjadi jalan satu-satunya diantara mereka.
Hari Raya seolah membuka luka lama untukku, disaat keluarga lain bersuka cita merayakannya, dalam lubuk hati terdalam, ada secercah harapan yang sia-sia, bahwa ayah ibuku mustahil untuk merayakan bersama. Mereka sudah bahagia dengan keluarga baru masing-masing. Tersisa aku yang selalu susah untuk terlupa, meski bibirku mengutarakan senyum dengan indahnya.
__ADS_1