Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Gerbang Keberangkatan


__ADS_3

Hari keberangkatan tertulis tanggal delapan belas. Seolah ini semua sudah menjadi alur yang menyatu. Pertama kali aku bertemu Danial tepat di hari ke delapan belas di bulan baru. Dan sekarang aku akan meninggalkannya di tanggal yang sama.


"Apakah ini memang seharusnya? Seolah semua kebetulan. Apakah ini artinya aku harus benar-benar move on. Mungkin ini sudah ketentuan? Rasanya semua yang ku lalui selalu ada kaitannya dengannya." Aku menggumam.


Aku berpamitan pada ibuku, meninggalkan dia yang mulai menua untuk pergi merajut mimpi-mimpiku.


"Buk, aku harap ibuk sehat selalu," aku berkaca-kaca.


"Kamu jaga diri ya nduk," ibuku mulai meneteskan air mata.


"Aku pamit ya buk, doakan sulungmu ini, maafkan semua salah yang pernah aku buat sama ibu," aku mencium kaki ibuku. Meminta restu untuk keberangkatanku. Tangisnya mulai pecah, begitupun aku yang langsung memeluknya.


"Aku akan rindu sama ibu, tunggu aku pulang," aku menyalaminya dan menciuminya. Pipinya, tangannya, tak luput dari jangkauan bibirku.


"Kamu baik-baik ya, sholatnya dijaga," ibu mengelus kepalaku.


"Baik buk, pasti," Dengan berat hati aku melangkahkan kaki keluar dari pintu. Raut wajah kesedihan namun penuh harapan menghiasi wajah ibuku.


"Assallamuallaikum ibu," Ibuku menjawab salamku seraya melepas pelukannya padaku.


Aku menaiki mobil dan melambaikan tangan dari balik kaca. Aku memposisikan dudukku senyaman mungkin karena perjalanan ke bandara membutuhkan waktu kurang lebih empat jam. Senyuman ibu yang perlahan memudar seraya menjauhnya mobil melaju, samar-samar air matanya juga ikut berderai. Akupun menangis juga sepanjang perjalanan. Hatiku berasa sesak.

__ADS_1


Aku sudah memasuki sebuah gedung yang luas. Gedung perantara yang akan membawaku meninggalkan negeri tercinta. Aku berjalan sambil menyeret koper merahku. Berdoa di dalam hati semoga semua baik-baik saja selanjutnya. Aku menduduki kursi tunggu berjajar dengan orang-orang yang ingin terbang jauh juga, setelah menyelesaikan check in dan menitipkan bagasi.


Aku mainkan ponselku untuk mengusir kejemuan. Sedikit berfoto untuk kenang-kenangan dan mengirimkan sebuah pesan juga kepada Danial.


"Aku pamit.. selamat tinggal.. aku selalu mendoakanmu. Akan ku bawa terbang perasaanku. Akan ku jatuhkan rinduku. Semoga kamu bahagia. Aku minta maaf masih mengganggumu. Terimakasih pernah menguatkan aku. Kamu terindah yang pernah menyemangati aku. Selamat tinggal. Semoga kelak bisa berjumpa lagi . Meski sudah ke lain hati."


Aku ketikkan beberapa kalimat selamat tinggal untuknya. Aku tekan enter seraya ku dengar pengumuman singkat dari pengeras suara. Sudah waktunya boarding.


"Your attention please, passengers of Garuda Indonesia on flight number GA854 to Singapura please boarding from gate 8, Thank you."


Aku berdiri dan ikut berlalu bersama orang-orang yang ingin menaiki pesawat. Hatiku deg-degan sebab ini pertama kalinya aku naik pesawat. Aku melangkahkan kakiku seraya berdoa, aku disambut oleh pramugari nan cantik jelita, dan tentunya ramah. Dia memberi secarik kertas yang harus diisi. Aku mencari nomor tempat dudukku. Aku rebahkan tubuhku setelah menemukannya.


If you are seated next to an emergency exit, please read carefully the special instructions card located by your seat. If you do not wish to perform the functions described in the event of an emergency, please ask a flight attendant to reseat you.


We remind you that this is a non-smoking flight. Smoking is prohibited on the entire aircraft, including the lavatories. Tampering with, disabling or destroying the lavatory smoke detectors is prohibited by law.


If you have any questions about our flight today, please don’t hesitate to ask one of our flight attendants, Thank you." Bersamaan dengan tangan pramugari yang lihai mempraktekkannya.


Aku mengencangkan sit belt ku. Aku memandang jauh ke luar jendela. Melihat awan dari dekat. Merajut harapan dan menerbangkannya setinggi langit. Berharap tidak akan pernah dijatuhkan lagi.


"Semoga kamu baik-baik saja Dan," aku tersenyum hambar. Mengingat tidak akan lagi ada pertemuan dalam waktu dekat. Dan juga belum tau juga nantinya akan seperti apa.

__ADS_1


"Bisakah kita masih berjumpa?" batinku membayangkan.


Seorang pramugari cantik berdiri disampingku. Dengan troly yang dipenuhi berbagai makanan dan minuman. Aku tersenyum kepadanya saat ia menawarkanku makanan.


"Would you like some food?" Sapanya dengan ramah.


"Oh, fried rice it's ok," jawabku membalas senyumnya. Dia mengambilkan nampan yang berisi sekotak nasi goreng dan meletakkan di depanku. Bersama dengan jus orange, buah dan yogurt.


"Thank you," Dia berlalu dan aku menikmati makananku.


Mungkin sudah sekitar satu jam berlalu. Pesawat sudah akan landing. Aku menenangkan diriku. Berfokus pada tujuan dan menyingkirkan Danial dari pikiranku untuk sementara.


"Susah sekali melupakanmu," Aku berdehem.


"Ladies and Gentlemen, we shortly will be landing at Changi International Airport in Singapore. The local time now is 20 minutes past 11 a.m. The time in Jakarta is 1 hours ahead of Singapore. Please fasten your seat belt against your seatback into the outbreak position and locks your table securely. Place your phone back and video monitor in place also keeps your window safes open during this time. Passenger who are Using laptop and other entertainment devices, please switch them off now. We would like to remind you that carrying narcotics and drugs in Indonesia is the violation of the law, Thank you."


Sesaat setelah pre landing announcement, aku sudah menjejakkan kakiku di negara orang. Aku sudah sampai di Changi dengan perasaan berdebar. Aku berjalan keluar di sepanjang lorong menuju meja petugas untuk menunjukkan visaku. Setelah mendapat stempel aku menuju baggage claim untuk mengambil koperku.


Aku berjalan mengikuti anak panah bertuliskan exit. Duduk sebentar menunggu dijemput oleh orang agensi. Tak lama orang agensi sudah membawaku menyelami gedung-gedung yang berdiri kokoh. Gedung pencakar langit yang didominasi kaca. Tempat yang tak pernah ku bayangkan akan ku menginjakkan kakiku disini. Disini aku sendirian hanya mengandalkan keberuntungan yang ku miliki.


Tak lama orang agensi sudah membawaku ke sebuah rumah sakit untuk melakukan medical check up. Sebelum akhirnya aku bisa rebahan di asrama untuk mengganti bajuku dan beristirahat. Beberapa teman yang masih asing sibuk bercengkrama. Aku hanya melempar senyum dan berusaha memejamkan mataku. Tidak ingin mempedulikan hal yang lainnya.

__ADS_1


__ADS_2