Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Menyerah


__ADS_3

Danial Pov,


Rintik hujan mulai turun, seakan mengerti sekali perasaanku. Di tengah hamparan padang pasir yang luas, dimana aku memandang semua hanya jauh dan kosong. Seperti apa yang hatiku sedang alami. Aku merasa sangat kehilangan, jika Dyana tidak lagi menempati dan mengisi relung nurani.


Aku dengan sengaja membuatnya kesal, kecewa dan salah paham. Berharap dengan begitu dia membenciku dan memutuskanku. Rasanya lebih sakit jika dia meninggalkanku disaat kita saling mencintai. Lebih baik dia membenciku sehingga aku bisa menerima bila dia melepaskanku. Wajar jika dia akan pergi dariku setelah sikapku ini.


Aku serasa tak sanggup untuk mengucapkan kata pisah yang sebenarnya kita sangat ingin menikah. Entah kenapa keluargaku belum bisa terbuka tentang adat dan budaya. Padahal di era sekarang ini, banyak juga tradisi yang mulai tidak dilakukan lagi. Mungkin ini yang namanya bedo deso mowo coro, atau beda desa beda peraturannya.


Beberapa kisah yang aku dengar dari kawanku yang diluar kota, ada juga yang mengizinkan pernikahan lusan. Atau ketika anak pertama bertemu dengan anak terakhir, itu adalah pasangan yang sangat serasi yang dalam istilah jawa adalah bukak tutup. Banyak kontradiksi tentang adat, semua kembali pada kepercayaan masing-masing. Dan keluargaku masih sangat menjaga tradisi tersebut.


"Kamu kemana sih, kok nggak hubungin aku?" pesan Dyana memecah keheningan. Yang hanya aku lihat dari notifikasi saja.


Aku yang dengan sengaja membiarkan hujan mengguyur tubuhku, berharap akan membasuh seluruh lukaku, seketika tersadar.


"Masih seperhatian itukah Dyana padaku?" aku membatin.


Aku mengabaikan pesannya. Aku memang pengecut. Aku belum berani menghadapi kenyataan. Aku harusnya dengan tegas mengutarakan perpisahan bukan malah semakin meninggikan harapan. Menggantungkannya di ketinggian lalu menjatuhkannya tanpa perasaan.


"Kalau kamu masih sibuk dengan temanmu aku paham kok," pesan dari Dyana lagi. Kali ini aku buka pesannya dan hanya membacanya. Aku memandangi profil picture nya. Menyelami setiap lekuk wajahnya, aku usap layar ponselku seolah sedang menyentuh wajahnya. Senyum manis yang terukir disana, yang ku harap tak akan pernah sirna, namun kini aku mematahkannya.


"Benarkah aku sudah menyerah sekarang?" aku bertanya pada diriku sendiri. Seolah keputusanku ini bukan aku yang membuatnya. Aku tak percaya pada diriku yang akhirnya mengalah oleh keadaan.


"Diluar hujan, hati-hati kalau pulang," pesan darinya lagi, yang terabaikan.


Sekejap hawa dingin menyeruap, aku mengambil jaket yang tersampir di motorku. Seketika bayangan Dyana berkelebatan dipikiranku.


"Inikan jaket Dyana," Aku memeluk jaketnya teringat sesuatu.


Flash back on,


"Aku anterin ya," aku menawarkan untuk mengantar Dyana kembali ke tokonya.


"Tapi aku bisa naik bus kok," Dyana menolak.


"Udah, gapapa aku jemput di rumah," aku kekeh ingin mengantarnya.

__ADS_1


"Lagian kita kan jarang ketemu," Aku masih membujuknya.


"Aku tuh nggak mau ngrepotin kamu, kan tokoku jauh," Dyana memang selalu seperti itu, tidak mau melibatkan orang lain, jika dia bisa sendiri.


"Udah, sama aku aja, nggak boleh nolak."


"Iya deh, aku tungguin di rumah kalau kamu maksa," hingga akhirnya Dyana mengiyakan.


"Dan hujan nih, berteduh dulu yuk," Dyana mengajak berhenti namun aku tak menemukan ada sebuah tempat yang bisa digunakan untuk berteduh. Sepanjang jalan hanya ada pepohonan di kanan kirinya.


"Nanggung nih, udah basah juga," aku tetap melajukan motorku biar segera sampai di tokonya.


Dyana bersembunyi di balik punggungku, sehingga hujan tak begitu membuatnya basah. Rasanya kehangatan berdesir di tubuhku. Setiap momen yang ku lalui bersama Dyana selalu saja berkesan dihatiku.


Aku menghentikan motorku di pom bensin dekat tokonya. Kita numpang ke toilet. Aku suruh Dyana membersihkan sedikit tubuhnya. Seraya dia ke toilet, aku membelikan minuman untuknya. Kebetulan di dekat pom ada sebuah caffe.


"Nih, minum dulu," aku menyodorkan teh hangat padanya.


"Makasih," Dyana mengambilnya dan duduk di sampingku.


"Tapi masih gerimis loh," Dyana mencoba menahanku.


"Udah nggak papa, entar kemaleman," Aku menangkup wajahnya untuk menenangkannya.


"Iya deh," Dyana mengangguk lalu melepas jaketnya.


"Pakai ini, punya kamu basah banget," Dyana memberikan jaket bomber nya padaku.


"Cuma basah sedikit aja kok," aku menolak.


"Lepas jaketmu, entar aku cuciin," Dyana menarik resleting jaketku. Akhirnya aku melepaskannya dan mengganti dengan jaketnya.


"Kamu hati-hati ya, jangan ngebut," Dyana perhatian sekali. Aku pulang bersama dengan jaket Dyana, rasanya lumayan menghangatkan.


Flash Back off,

__ADS_1


"Woii.. malah ngelamun," Dicko mengagetkanku.


"Ehh iya.. ii.. yaa. mau kemana kita?" Aku kaget.


"Turun yuk," Andi mengajak kembali ke perkampungan untuk berteduh. Kita memesan mie rebus sesaat setelah sampai di sebuah kedai makan. Kita berteduh dan beristirahat.


Hampir tengah malam aku baru sampai di rumah. Aku mengabaikan pesan-pesan dari Dyana. Aku sedang merangkai kata apa yang tak akan membuatnya sakit meski kita harus berpisah. Aku benar-benar tidak bisa mempertahankan hubungan ini di tengah ketidakadaan restu dari orang tuaku.


Hujan di luar semakin deras terdengar. Aku merenung di jendela. Mengamati keadaan luar yang sepi dan beraroma basah. Sunyi senyap tidak ada satupun kendaraan. Seolah alam telah menyatu dengan perasaanku, memahami kegalauanku.


"Le, kamu belum tidur?" Suara ibu dari balik pintu yang setengah terbuka.


"Belum buk, belum bisa tidur," Aku menoleh pada ibuku. Menyadari bahwa wajahnya semakin sayu. Kulitnya yang mengeriput termakan usia yang semakin bertambah.


"Nampaknya aku harus benar menyerah sekarang," batinku tersadar ketika memandang wajah yang semakin menua. Pilihan yang sangat sulit namun harus diputuskan dengan segera. Karena menunda perpisahan berarti memperdalam kecewa nantinya.


"Sebenarnya ibu sangat menyukai Dyana, namun ibu nggak bisa melakukan apa-apa Le," Ibu duduk di kasurku. Aku mengikutinya. Membaringkan kepalaku di pangkuannya.


"Aku paham kok buk, aku akan melepas Dyana," aku mengelus tangan ibuku.


"Le, kamu yang sabar ya, cukup kakakmu saja yang mengecewakan ayah," Ibu mengelus kepalaku pelan. Aku hanya terdiam, menari-nari dengan kebimbangan.


"Ayahmu sangat menjunjung tinggi warisan leluhur, dia adalah seorang ketua kampung, tidak mudah juga bagi ayahmu, ayahmu juga ingin kamu bahagia" ibu mulai bercerita.


"Setelah kejadian kakakmu, ayahmu sangat malu. Bahkan hingga sekarang kakakmu belum mau pulang. Ya walaupun semua sudah ditakdirkan, tapi kalau bisa menjaga tradisi, lebih baik mengikutinya. Ibu hanya berharap kakakmu akan selalu baik-baik saja."


"Ibu juga nggak menyalahkanmu, karena cinta nggak bisa memilih, perasaanmu tiba-tiba saja terjatuh di hati Dyana, ibu sangat paham. Sebenarnya itu juga tergantung kepercayaan, jika kita percaya kebaikan akan datang maka hanya hal baik yang datang, menikah itukan ibadah. Namun disisi lain kita hidup di Jawa, kita sudah menjalani tradisi ini dari jaman dulu, dari sebelum kamu lahir juga. Ibu tau ini jaman sudah berganti, modernisasi sudah merabak." Ibu masih mengelus lembut kepalaku, memberi pengertian padaku.


"Ternyata ibu paham sekali, aku telah berprasangka." aku membatin, mataku berkaca-kaca, seolah air mata sudah tidak mampu ku bendung lagi, namun sebisa mungkin aku menahannya. Aku tidak ingin membiarkan ibu semakin sedih jika melihatku menangis.


"Iya buk, aku akan berteman dengan Dyana," mungkin ini jalan satu-satunya untukku agar masih bisa menjaga Dyana. Sebelum dia menemukan lelaki terbaik yang akan menggantikanku. Yang tidak akan pernah membiarkan dia menangis dan terluka.


"Sudah malam, pergi tidur ya Le," ibuku memindahkan kepalaku. Aku terbangun duduk dan tersenyum pada ibuku.


"Ibu keluar dulu," Setelah kepergiannya. Air mataku terjatuh dengan sendirinya. Baru kali ini aku benar-benar jatuh cinta pada seorang gadis dan tidak mau kehilangannya. Namun keadaan tidak pernah mengizinkan. Rasaku ke Dyana melebihi perasaanku ketika bersama Geara dulu.

__ADS_1


"Dyana, maafkan aku menyerah." Dan sebisa mungkin ku pejamkan mataku di tengah kalut yang tidak bisa membuatku tenang.


__ADS_2