Antara Cinta Dan Adat Jawa

Antara Cinta Dan Adat Jawa
Happy Birthday


__ADS_3

Lokasi apartemen majikanku yang berada dikawasan hutan Coney Island membuat banyak kicauan burung terdengar. Sinar mentari menyusup kamarku, membuat mataku silau hingga akhirnya mau tidak mau harus bangun.


Seperti biasanya, aku hanya mengulangi aktivitas yang kemarin ku lakukan. Pergi sekolah, membersihkan rumah, terkadang menemani bepergian. Bermain di taman bawah untuk sekedar melepas penat. Memikmati suara anak kecil yang berlarian, berteriak bersama temannya, main perosotan dan ayunan.


Entah kenapa, semenjak tidak bersama Danial, banyak yang ku rasa hilang dari kehidupanku. Atau mungkin karena aku yang senantiasa kesepian tanpa kasih sayang seorang ayah, lalu tiba-tiba dipertemukan dengan dia. Merasa mendapat kembali penerangan walau akhirnya harus gelap lagi.


Aku mengalihkan seluruh perhatianku. Dengan berada disini, melakukan hal yang nggak pernah ada dalam list kehidupanku sebelumnya. Perlahan aku bisa mulai ikhlas menjalaninya. Rasanya move on paling tepat itu emang bener harus pindah negara. Jika tetap stay di tempat dimana rasa menyakitkan itu muncul, terlalu sulit untukku menerima dan melupakan.


Bertemu anak kecil yang senantiasa ceria menerbitkan semangatku lagi. Rasanya bahagia sekali ikut tertawa bersama mereka. Terkadang melihatnya menangis yang malah membuatku gemas sebab wajah mereka yang imut. Perlahan aku hibur dan tenangkan mereka sehingga berhenti bersedih. Aku mendapat ketenangan sendiri dari hal itu.


Membayangkan kalau aku punya anak nanti, mungkin akan lucu sedemikiannya. Aku tidak akan pernah membuat mereka merasakan seperti aku. Akan ku pastikan senyumnya tak akan luntur dari wajah polosnya. Akan ku pastikan air mataku yang jatuh saat ini, tidak akan pernah jatuh dari mata indahnya, kalaupun ada hanya air mata bahagia. Memang benar waktu akan membuat segalanya menjadi biasa saja, walau awalnya sulit dan sakit.


"Later we going to Oasis Terrace," seru Madamku ketika aku masih berbaur dengan bunyi vacum cleaner.


"Oh, okay, I'm finish my work first, and then we can go," Aku sibukkan diriku dengan berbagai alat kebersihan. Dulunya aku yang kerja dengan berteman nota dan pulpen, sekarang benar-benar berbeda. Namun aku tidak menyesalinya ketika disini akupun bisa belajar dan mendapat ilmu dari salah satu sekolah spesial di Singapura.


Memang yang namanya patah hati bisa mengubah semua rencana dan pemikiran. Mengambil langkah yang tak pernah terpikirkan sebelumnya.


Sekitar pukul dua belas aku dan madamku sudah berjalan di taman bawah. Sembari berbincang hal-hal yang menyenangkan dan juga kehidupanku sebelum disini. Kita melewati jembatan yang menghubungkan plaza dan apartemen yang aku tinggali.


Masih ramai seperti biasanya, banyak juga orang yang hanya sekedar berjalan-jalan atau nongkrong dengan temannya. Suara riuh tawa berjejer di pelataran depan sebelum memasuki pintu plaza. Ada juga yang mendorong troly penuh dengan bahan-bahan makanan. Beberapa sibuk memarkirkan sepeda dan menguncinya. Sementara aku dan madamku memasuki salah satu kedai yang menjual berbagai macam buku, beberapa alat elektronik dan juga alat tulis kantor.


"Exactly, i want to buy present for you." madamku mengajakku ke bagian elektronik.


"For me?" Aku bingung, hadiah untuk apa pikirku.


"Yaa.. today is your birthday right?" madamku tersenyum dan memilih earphone.


"Ahh, you know my birthday mem?" aku sedikit terkejut dan tersenyum padanya.


"I don't know what you like," Madamku masih sibuk melihat-lihat earphone.


"I saw you like watch movie, so choose which one you like?" madamku menyuruhku memilih earphone. Katanya biar lebih seru kalau nonton drama.


"I'm touched." aku teringat akan sesuatu. Mataku mulai berkaca-kaca.


"Why? What happen?" tanya madamku saat melihatku ingin menangis.


"Oh, I only remember something," kataku mengalihkan perhatiaannya. Aku menyuruh madamku memilihkan satu earphone untukku. Aku tidak bisa memilih, rasanya tidak enak hati.

__ADS_1


Ketika orang lain mengingat hari ulang tahunku. Orang yang ku anggap penting bahkan tak pernah mengucapkan selamat kepadaku. Entah lupa atau memang tidak tahu. Tiba-tiba aku juga teringat Danial. Waktu dulu, di ulang tahunku yang ke dua puluh satu. Sangat spesial.


Flash back on,


Suara rolling door sudah diturunkan. Setelah terkunci aku pergi menuju balkon. Teman-temanku sudah balik ke asrama. Rasanya penat sekali setelah bertempur dengan pelanggan. Aku ditinggalkan sendiri karena harus menata uang di brankas terlebih dahulu. Aku nggak tega melihat mereka yang sudah kelelahan seharian, jika harus menungguku selesai. Aku menyuruh mereka turun duluan.


Aku scrool layar ponselku, melepas penat dengan bersandar di bangku taman. Balkon kecil yang memiliki taman bunga di bagian depan sisi pagar. Terdapat sebuah bangku memanjang yang biasanya digunakan beberapa pelanggan laki-laki bersantai, sebab malas menemani belanja para perempuan yang selalunya membutuhkan waktu tidak cukup hanya satu jam saja. Apalagi kalau ada sale besar-besaran.


Suara dering ponsel yang sengaja ku buat berbeda, membuatku tahu bahwa Danial yang sedang memanggil.


"Ya, aku baru selesai kerja," sesaat wajahnya sudah tertampil di layar.


"Minta cuti ya tanggal empat," Danial ingin mengajakku jalan-jalan.


"Yah, aku nggak bisa, tanggal itu sudah ada dua orang yang cuti."


"Aku tengok kalender lagi deh mana yang kosong," jelasku padanya.


"Usahain ya, aku pengen ketemu kamu," Danial memohon.


"Iya deh, gampang," aku tersenyum menggodanya.


"Nyari angin, aku penat banget rasanya, pengen cepet dinafkahin aja deh kayanya," aku tertawa.


"Mau?" seru Danial tersenyum smirk.


"Sama kamu." Aku semakin tertawa lebar.


"Tunggu aku halalin kamu," Danial memgernyitkan sebelah matanya.


"Yakin? hah?"


"Iyalah, nanti kita beli rumah impian kamu, beli mobil kesukaanmu," Danial meyakinkan.


"Nggak usah gombal,"


"Kamu tuh ngeremehin aku ya," Danial tidak terima.


"Tapi aku nggak bisa masak," aku pura-pura cemberut.

__ADS_1


"Tapi kamu bisa make up,"


"Nanti kamu nggak kenyang, gimana?"


"Nanti cari makanan di foodcourt, grab juga banyak,"


"Aku tuh nyari pendamping hidup, bukan orang yang bisa di suruh-suruh." seru Danial lagi.


"ututu..tuu.. makin cinta," aku bertingkah manja untuk mengejeknya.


"Rencana nggak papa kan ya," aku menyeringai.


"Semoga jadi kenyataan sayang," Danial juga berharap.


"Ya udah kamu balik gih ke asrama,"


"Masih ingin disini," aku merajuk.


"Kalau kamu kedinginan aku nggak bisa pakein jaket ke kamu,"


"Lebay deh."


"Nanti kalau kamu sakit gimana, nggak kasian motor aku apa, malam-malam begino suruh berlari ke tempatmu,"


"Ya nggak papa, katanya cinta," aku menjulurkan lidahku.


"Kamu ya, tau aja kalau aku nggak tegaan,"


Kita berdua tertawa menghadap layar ponsel. Nasib LDR ya gini, pacaran virtual, ciumnya pakai emoticon, dipeluknya online.


Aku tengok jam udah pukul setengah sebelas, akhirnya aku turun ke asrama. Berganti kostum dan bersiap tidur.


Flash back off,


"You want white color or black color?" Mem membuatku tersadar dari lamunan, menanyakan warna mana yang ku suka.


"I think black color also can," aku tersenyum.


Rasanya sekarang seperti bodoh, mengingat hal yang membuat tertawa. Ketika dilamun cinta serasa otak nggak bisa berpikir jernih. Bagaimana dulu aku dan dia bisa ngehalu sedemikian rupa. Membayangkan kita akan sampai menikah, yang pada akhirnya malah dipaksa berpisah. Aku hanya tersenyum ketika mengingat kenangan dulu, setidaknya kita pernah memiliki kenangan yang bahagia.

__ADS_1


__ADS_2