
Bu Mirna kini terlihat mondar-mandir karena Melati belum juga pulang padahal hari sudah semakin sore.
Sudah berkali-kali Bu Mirna mencoba untuk menelpon melati, tapi handphonenya selalu berada di luar jangkauan, sehingga akhirnya Bu Mirna menghubungi Gilang.
📞"Assalamu'alaikum Bu," ujar Gilang.
📞"Wa'alaikumsalam Nak Gilang," ujar Bu Mirna.
📞"Ibu kenapa suaranya terdengar panik?" tanya Gilang.
📞"Ibu khawatir sama Melati karena sejak semalam pergi ke acara Perpisahan yang di adakan oleh Sekolahnya, sampai saat ini Melati belum pulang juga," ujar Bu Mirna.
📞"Gilang juga daritadi sudah mencoba menghubungi Melati, tapi nomornya diluar jangkauan. Kalau begitu sekarang juga Gilang akan berangkat ke Indonesia Bu," ujar Gilang.
📞"Tapi bagaimana dengan pekerjaan Nak Gilang di Singapura?" tanya Bu Mirna.
📞"Ibu tidak perlu khawatir, yang penting kita segera menemukan Melati, kalau masalah pekerjaan biar Asisten Gilang yang handle," ujar Gilang.
📞"Kalau begitu hati-hati ya Nak, maaf Ibu sudah merepotkan Nak Gilang," ujar Bu Mirna.
📞"Ibu jangan ngomong seperti itu, sudah kewajiban Gilang untuk menjaga serta melindungi calon Istri Gilang, kalau begitu Gilang tutup dulu ya Bu teleponnya, Assalamu'alaikum," ujar Gilang.
📞"Wa'alaikum salam," jawab Bu Mirna, lalu telepon pun kini terputus.
Gilang kini bergegas menuju Indonesia dan dia langsung menggunakan Jet pribadi supaya bisa sampai lebih cepat. Tidak memerlukan waktu lama Gilang pun kini telah sampai di Indonesia.
Setelah menelpon Bu Mirna menanyakan alamat hotel tempat menginap Melati, Gilang pun bergegas menuju hotel tersebut.
"Maaf Tuan apa ada yang bisa kami bantu?" tanya resepsionis Hotel.
"Saya mencari calon Istri saya yang bernama Melati, apakah semalam dia menginap di hotel ini?" tanya Gilang.
"Sebentar Tuan saya cek dulu," ujar resepsionis.
Setelah beberapa saat akhirnya resepsionis itu berkata kalau Melati memang menginap di hotel tersebut di kamar nomor 99, dan sampai saat ini Melati belum cek out dari hotel.
Gilang pun langsung menuju kamar nomor 99, kamar tersebut tidak di kunci dan saking paniknya Gilang pun langsung masuk.
__ADS_1
Setelah sampai di kamar tersebut, Gilang terkejut ketika melihat isi kamar yang hancur berantakan, karena sebelumnya Melati menghancurkan semua yang ada di hadapannya, bahkan cermin pun kini terlihat pecah dan banyak darah berceceran di sana.
"Melati..Melati..kamu dimana sayang?" Gilang pun kini berteriak memanggil nama Melati karena Gilang tidak melihatnya di kamar tersebut.
Sesaat kemudian Gilang mendengar kucuran shower dari dalam kamar mandi. Gilang akhirnya mencoba mengetuk pintu kamar mandi tersebut, tapi sama sekali tidak ada jawaban, sehingga Gilang kini memutuskan untuk masuk karena merasa khawatir pada Melati.
Gilang sangat terkejut ketika membuka pintu kamar mandi, di bawah kucuran shower Melati tergeletak pingsan, sehingga Gilang bergegas menggendongnya dan memakaikan jaket yang dia pakai supaya Melati tidak kedinginan.
Sepanjang perjalanan menuju Panti Gilang pun merasa khawatir karena Melati belum juga sadarkan diri.
"Apa yang sudah terjadi sama kamu sayang? kenapa kamu bisa seperti ini," gumam Gilang yang kini sangat mencemaskan Melati.
Setelah sampai di Panti, Gilang langsung membawa Melati ke dalam kamarnya, dan Bu Mirna pun bergegas mengganti pakaian Melati.
Bu Mirna merasa terkejut karena ketika dia mengganti baju Melati banyak bekas tanda kepemilikan di sana.
"Astagfirulloh, siapa yang sudah tega melakukan semua ini sama kamu Nak," gumam Bu Mirna dengan berlinang airmata.
Gilang akhirnya kembali masuk ke dalam kamar Melati setelah Bu Mirna selesai mengganti baju Melati.
"Sayang cepetan bangun, jangan buat Kak Gilang khawatir," ujar Gilang dengan terus menggenggam erat tangan Melati. lalu Gilang mencoba mendekatkan kayu putih ke dekat hidung Melati supaya ia cepat sadar.
"Pergi kamu, pergi dari sini, kamu orang jahat, kamu sudah menghancurkan hidupku !" teriak Melati sehingga Gilang kini merasa heran dengan sikap Melati.
Bu Mirna yang mendengar Melati berteriak pun bergegas kembali ke kamar Melati.
"Melati sayang, kamu kenapa Nak," ujar Bu Mirna yang kini mencoba mendekati Melati.
"Pergi kalian dari hadapanku, kamu jahat, kamu jahat !" tunjuk Melati kepada Gilang yang kini terlihat menangis sehingga Bu Mirna mengajak Gilang keluar dari kamar Melati.
"Gilang sebaiknya kita keluar dulu Nak, biarkan Melati tenang dulu," ajak Bu Mirna.
"Tapi kenapa dengan Melati Bu? kenapa dia seperti tidak mengenali Gilang?" tanya Gilang.
"Ibu juga tidak tau apa yang sebenarnya telah terjadi kepada Melati, tapi tadi ketika Ibu mengganti baju Melati, Ibu melihat banyak tanda bekas kecupan di tubuhnya," ujar Bu Mirna dengan tertunduk sedih.
Gilang yang kaget mendengar penuturan Bu Mirna pun langsung menjatuhkan tubuhnya di lantai.
__ADS_1
"Siapa yang sudah tega melakukan semua itu kepada Melati Bu?" ujar Gilang yang kini masih menangis dan mengepalkan kedua tangannya menahan amarah di dalam dadanya yang sudah membuncah.
"Yang tau jawabannya hanya Melati Nak, tapi Ibu takut Melati kenapa-napa karena ketika kita mendekatinya dia selalu histeris," ujar Bu Mirna.
"Kalau gitu sekarang Gilang mau panggil Psikiater buat periksa kondisi Melati Bu," ujar Gilang, kemudian dia pun segera menelpon seorang Psikiater untuk mengobati Melati.
Beberapa saat kemudian Dokter yang Gilang panggil pun kini telah sampai di Panti.
"Maaf Tuan apa ada yang bisa saya bantu?" tanya Dokter Dina.
"Dok tolong periksa calon Istri saya, karena sepertinya dia mengalami trauma sehingga tidak mau di dekati oleh siapa pun," ujar Gilang.
"Kalau begitu saya akan mencoba berkomunikasi dengan pasien," ujar Dokter Dina kemudian dia pun langsung masuk ke kamar Melati.
"Pergi kamu, pergi !" Melati kembali berteriak ketika melihat Dokter Dina.
"Nona Melati tenang dulu ya, saya tidak akan menyakiti Nona," ujar Dokter Dina yang kini sudah lebih dekat dengan Melati.
"Apa yang sebenarnya sudah terjadi dengan Nona?" tanya Dokter Dina secara perlahan.
"Hidup saya sudah hancur Dokter, lelaki baji*ngan itu sudah menodai saya, saya sudah kotor," ujar Melati dengan menangis histeris, sehingga Gilang dan Bu Mirna yang mendengar perkataan Melati dari luar pun langsung meneteskan airmata.
"Siapa nama lelaki itu Nona?" tanya Dokter Dina.
"Pergi kamu, pergi, dasar lelaki baji*ngan, kamu sudah menghancurkan hidupku !" lagi-lagi Melati berteriak tanpa mau mengatakan siapa lelaki yang sudah menodainya, sehingga Dokter Dina segera menyuntikan obat penenang supaya Melati bisa istirahat.
Dokter Dina akhirnya keluar dari kamar Melati, Gilang dan Bu Mirna pun sudah tampak menunggunya di depan pintu.
"Dok, bagaimana keadaan Melati sekarang?" tanya Gilang yang nampak khawatir.
Dokter Dina pun menjawab pertanyaan Gilang setelah beberapa kali menghembuskan nafas kasar.
"Sepertinya Nona Melati mengalami Depresi atas kejadian yang telah menimpanya," jawab Dokter Dina.
"Apa Melati masih dapat disembuhkan Dok?" tanya Bu Mirna.
"Nona Melati perlu dukungan dari orang-orang terdekat, saya tidak dapat memastikan kesembuhannya karena sepertinya Nona Melati begitu terpukul dengan kejadian tersebut, tapi kita harus berusaha sebisa mungkin, dan ini obat yang harus diberikan kepada Nona Melati, sekarang dia sedang tidur karena saya barusan sudah menyuntikan obat penenang," jelas dokter Dina.
__ADS_1
Akhirnya Dokter Dina pun berpamitan setelah menjelaskan semuanya kepada Gilang dan Bu Mirna serta memberikan obat untuk Melati.