Antara Cinta Dan Luka

Antara Cinta Dan Luka
Bab 34 ( Sebagian ingatan yang kembali )


__ADS_3

Gilang kini sudah berada di dalam ruang perawatan Melati, dan Melati masih terlihat pingsan, tapi dia masih saja mengigau dengan menyebut nama Gilang.


"Kak Gilang," ucap Melati dengan lirih.


"Mel, Kakak sudah berada di sini, dan akan selalu berada di samping Melati, sekarang Melati cepetan bangun ya, jangan buat Kak Gilang khawatir," ujar Gilang dengan mengelus lembut kepala Melati.


Semoga saja Melati tidak mengingat tentang kejadian yang membuat Melati depresi, batin Gilang.


Beberapa saat kemudian Melati mulai membuka matanya, dan dia langsung memeluk Gilang yang saat ini tengah duduk di pinggir ranjang pesakitan nya.


"Kak Gilang, Melati kangen," ujar Melati dengan memeluk tubuh Gilang dari belakang.


Degg


"Aku tidak sedang berhalusinasi kan?" gumam Gilang.


"Kakak kenapa baru datang, padahal Kakak kan sudah janji kalau libur kuliah akan menemui Melati," ujar Melati dengan meneteskan airmata.


Gilang yang merasa tidak percaya pun kini membalikan tubuhnya secara perlahan.


"Mel, Alhamdulillah kamu sudah sadar sayang," ujar Gilang yang terlihat bahagia.


"Kak ini di mana? kenapa Melati di infus?" tanya Melati.


"Alhamdulillah Melati akhirnya ingat sama Kakak," ujar Gilang dengan meneteskan airmata.


"Kenapa Kakak menangis? Melati memangnya pernah melupakan Kakak ya?Melati perasaan tidak pernah melupakan Kakak, dan hal yang terakhir kali Melati ingat ketika kita berdua berada di Bandara pada saat Kakak akan kembali ke Singapura," ujar Melati.


Sepertinya sebagian ingatan Melati belum pulih, tapi Alhamdulillah Melati sudah mengingatku, batin Gilang.


"Melati istirahat ya, jangan terlalu banyak yang dipikirkan, Kak Gilang takut kalau Melati nanti sakit lagi," ujar Gilang yang kini membantu Melati untuk berbaring.

__ADS_1


"Kak, jangan tinggalin Melati lagi ya, Kakak gak boleh kemana-mana," pinta Melati dengan memegang erat tangan Gilang.


"Iya sayang, Kakak pasti akan selalu berada di samping Melati, dan sebentar lagi kita bakalan Menikah," ujar Gilang dengan tersenyum.


Aku sebaiknya segera Menikahi Melati sebelum dia mengingat kembali kejadian buruk yang menimpanya, batin Gilang.


Beberapa saat kemudian Melati pun dipindahkan ke kamar Perawatan terbaik yang Rumah sakit tersebut punya, dan akhirnya Bu Mirna dan yang lainnya pun kini sudah diperbolehkan masuk ke dalam kamar perawatan Melati untuk menjenguknya.


Bu Mirna yang melihat Melati telah sadar pun langsung berhambur memeluknya.


"Sayang, Alhamdulillah akhirnya kamu sudah sadar juga," ujar Bu Mirna.


"Iya Alhamdulillah Bu, tapi Mel belum mengingat semuanya, bahkan Mel gak ingat kenapa Mel bisa sampai di Rumah Sakit," ujar Melati.


"Lalu apa Melati masih mengingat kami?" tanya Bu Retno yang kini menghampiri dan memeluk Melati juga.


"Maaf ya Bu, Melati tidak mengingat Ibu dan Bapak, tapi Melati merasakan kehangatan dan nyaman saat berada dalam pelukan Ibu," ujar Melati yang kini merangkul tubuh Bu Retno dan Pak Bejo.


"Huwa..aku tidak rela Tiara cantikku tidak mengingat mas Joko," ujar Joko dengan menangis seperti anak kecil.


"Kak Gilang siapa pemuda yang menangis itu?" tanya Melati.


"Dia fans berat kamu Mel," ujar Gilang dengan cengengesan melihat tingkah Joko yang saat ini menangis sambil guling-guling di lantai seperti anak kecil.


"Nak Joko bangun, malu dilihatin sama oranglain," ujar Bu Retno.


"Enggak, pokoknya Joko gak mau bangun sebelum Tiara mengingat Joko," rengek Joko.


"Mas Joko maaf ya kalau Melati tidak mengingat mas Joko, terimakasih banyak karena mas Joko sudah menyukai Melati, mas Joko mau kan menjadi teman Melati?" tanya Melati.


"Kok cuma jadi temen sih Mel?" ujar Joko.

__ADS_1


"Maaf ya mas Joko, Melati sudah mempunyai calon Suami, dan sebentar lagi kami akan Menikah, kami mohon do'a restunya ya mas, Melati yakin mas Joko nanti akan menemukan gadis yang lebih


baik segala-galanya dibandingkan dengan Melati," ujar Melati.


"Iya deh gak apa-apa, yang penting mas Joko masih bisa dekat dengan Melati, meskipun tanpa bisa memiliki," ujar Joko dengan mengelap airmata dan ingusnya menggunakan ujung baju yang dipakainya sehingga membuat semua orang yang berada di sana menertawakan kekonyolan Joko.


"Melati sayang, kalau begitu Ibu dan Bapak pulang dulu ya, sekarang kan udah ada Nak Gilang yang menemani Melati," ujar Bu Retno.


"Iya Bu, terimakasih banyak ya, karena selama ini Ibu dan Bapak sudah merawat Melati," ujar Melati dengan memeluk tubuh Bu Retno.


"Mbak Mirna apa mau ikut istirahat juga ke rumah kita?" tanya Bu Retno, tapi Bu Mirna hanya diam mematung.


Aku tidak sanggup kalau harus kembali ke rumah yang pernah menjadi saksi hancurnya rumah tanggaku, batin Bu Mirna yang kemudian terlihat meneteskan airmata.


"Maaf ya mbak, Retno tau jika perbuatan kami tidak mudah untuk dimaafkan, tapi Retno dan mas Bejo juga sudah mendapatkan hukuman karena bayi kami dulu meninggal dunia saat dilahirkan, dan sampai saat ini kami juga tidak dikaruniai Anak dalam rumah tangga kami," ujar Bu Retno dengan memeluk tubuh Bu Mirna.


"Maaf ya Retno, mbak gak akan sanggup jika harus melihat kembali rumah yang telah menjadi saksi kehancuran rumah tangga Mbak dan mas Bejo dulu, meskipun mbak sudah mencoba mengikhlaskan semuanya, tapi luka di dalam hati mbak sangat sulit untuk disembuhkan karena mbak hanyalah manusia biasa," ujar Bu Mirna dengan masih meneteskan airmata, sehingga membuat Bu Retno dan Pak Bejo pun ikut menangis.


"Seandainya aku bisa mengulang waktu, mungkin aku tidak akan melakukan hal bodoh sehingga menyebabkan kehancuran rumah tangga kita Mirna," ujar Pak Bejo.


"Sudahlah mas, penyesalan tidak dapat mengubah apa pun, aku hanya bisa mendo'akan semoga kalian berdua hidup bahagia," ujar Bu Mirna dengan menahan sesak di dalam dadanya.


"Kalau begitu kami permisi dulu," ujar Pak Bejo dengan menarik lembut tubuh Bu Retno supaya bergegas pergi dari sana, karena Pak Bejo juga tidak sanggup jika harus berlama-lama melihat mantan Istrinya yang telah dia khianati.


"Joko kamu juga sebaiknya ikut kami pulang, supaya Melati bisa beristirahat," ajak Pak Bejo, sehingga akhirnya mereka bertiga pulang setelah sebelumnya mengucapkan Salam.


Setelah kepergian Pak Bejo dan Bu Retno, Bu Mirna kini mendudukkan tubuhnya di Sofa, lalu beliau menangis dengan menutup wajahnya dengan menggunakan tangan.


Melati yang melihat Bu Mirna menangis pun merasa Iba, dan dia langsung menatap Gilang untuk meminta penjelasan tentang semua yang terjadi kepada Bu Mirna, Bu Retno dan Pak Bejo.


"Nanti aku jelasin semuanya ya sayang, sekarang biarkan Bu Mirna menumpahkan semua beban yang ada dihatinya, supaya beliau merasa lebih tenang," ujar Gilang dengan berbisik di telinga Melati, karena tidak enak jika sampai terdengar oleh Bu Mirna.

__ADS_1


__ADS_2