Antara Cinta Dan Luka

Antara Cinta Dan Luka
Bab 32 ( Ingatan yang mulai kembali )


__ADS_3

Melati kini masih duduk termenung di dekat jendela kamarnya, dan dia dikagetkan dengan kemunculan Joko yang tiba-tiba di depan jendela, sehingga secara reflek Melati melempar bantal yang sedang dipeluknya.


"Astagfirulloh mas Joko, mas Joko ini kayak jelangkung aja sih, datang gak di jemput pulang gak di antar," ujar Melati yang kini terlihat kesal.


"Aku hanya ingin melihat wajah Bidadari yang sedang termenung di dekat jendela, ada apakah gerangan Tiara cantikku, apakah Adinda sedang memikirkan Kakanda?" ujar Joko.


"Ibu..Bapak.." teriak Melati, sehingga Pak Bejo dan Bu Retno pun langsung masuk ke dalam kamar Melati.


"Ada apa Nak? kenapa teriak-teriak?" tanya Bu Retno.


"Ibu lihat sendiri, tuh di depan Melati ada Alien," tunjuk Melati.


"Lho kok tumben Tiara menggunakan nama Melati?" tanya Bu Retno, sehingga membuat Melati bingung.


"Jadi ini toh Alien yang sudah gangguin anak kesayangan Bapak?" ujar Pak Bejo dengan menjewer telinga Joko.


"Ampun Pak ampun, Joko hanya ingin menemui pujaan hati Joko saja kok," ujar Joko.


"Maaf ya Nak Joko, Tiara sudah mempunyai calon Suami, jadi Bapak harap Nak Joko tidak mengganggu anak Bapak lagi," ujar Pak Bejo dengan melepaskan tangannya yang sudah menjewer kuping Joko.


Joko yang sudah terobsesi dengan Melati pun masih bersikeras akan mengejar cinta Melati.


"Pokoknya selama janur kuning belum melengkung, Joko tidak akan pernah menyerah Pak," jawab Joko dengan memukul pelan dadanya.


"Dasar kepala batu !" ujar Pak Bejo yang Joko balas dengan cengengesan.


Tiba-tiba Melati merasakan sakit di kepalanya sehingga membuat Pak Bejo, Bu Retno dan Joko merasa panik.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Bu Retno.


"Kepala Mel sakit Bu," lagi-lagi Melati menyebut namanya tidak menggunakan nama Tiara lagi.


"Sepertinya Tiara mengingat sesuatu tentang masalalunya Bu, sebaiknya kita segera membawa Tiara ke Dokter saja," ujar Pak Bejo dengan bergegas membantu Bu Retno untuk membopong tubuh Melati menuju mobil mereka.


"Joko ikut yo Pak," ujar Joko yang langsung naik ke bak mobil pick up milik Pak Bejo.

__ADS_1


Akhirnya setelah menempuh perjalanan selama tiga puluh menit, mereka pun sampai di Rumah Sakit.


Melati langsung di bawa masuk ke ruang IGD karena kondisinya yang telah pingsan.


"Maaf Pak, Bu, sebaiknya kalian tunggu di luar ya, supaya Dokter bisa menangani pasien," ujar Perawat dengan menutup pintu IGD.


"Pak bagaimana ini, Ibu takut kalau Tiara sampai kenapa-napa," ujar Bu Retno yang terlihat panik.


"Ibu tenang saja ya, kita do'akan saja semoga Tiara baik-baik saja," ujar Pak Bejo.


"Sebaiknya Bapak segera menghubungi Nak Gilang, bagaimanapun juga Nak Gilang adalah calon Suami Tiara," ujar Bu Retno.


"Pak Bejo sebaiknya jangan memberitahukan kepada Gilang tentang keadaan Tiara saat ini ya, biar Joko yang akan menanggung semua pembayaran perawatan Tiara," ujar Joko.


"Maaf Nak Joko, tapi Nak Gilang berhak mengetahui semuanya, sebab dia adalah calon Suami Tiara," jawab Pak Bejo, sehingga Pak Bejo pun segera menelpon Gilang.


📞"Assalamu'alaikum Pak," ujar Gilang.


📞"Wa'alaikumsalam, Nak Gilang Bapak mau ngasih kabar kalau Tiara tadi sakit kepala, lalu pada saat Bapak membawanya ke Rumah sakit tiba-tiba dia pingsan," ujar Pak Bejo.


📞"Tiara masih ditangani oleh Dokter," jawab Pak Bejo.


📞"Ya sudah sekarang juga saya akan ke Yogya," ujar Gilang, kemudian menutup telponnya setelah mengucapkan Salam.


"Sebaiknya aku menggunakan Helikopter saja supaya sampai ke Yogya lebih cepat dan aku harus mengajak Bu Mirna juga," gumam Gilang.


Kemudian dia menelpon Asistennya supaya memboking Helikopter menuju Yogyakarta, dan Gilang juga langsung menghubungi Bu Mirna untuk ikut dengannya.


Satu jam kemudian Gilang dan Bu Mirna telah sampai di Rumah Sakit tempat Melati di rawat, dan mereka berdua bergegas menuju IGD.


Gilang dan Bu Mirna kini telah sampai di depan pintu IGD, dan alangkah terkejutnya Bu Mirna ketika bertemu dengan Pak Bejo dan Bu Retno, sehingga tubuhnya hampir saja terjatuh karena hilang keseimbangan, untung saja Pak Bejo langsung merangkul tubuh Bu Mirna.


"Mas Bejo," ujar Bu Mirna dengan membulatkan mata serta menutup mulutnya.


"Mirna, kamu tidak kenapa-napa kan?" tanya Pak Bejo yang secara perlahan melepaskan pegangannya dari tubuh Bu Mirna.

__ADS_1


"Mbak Mirna maafkan aku," ujar Bu Retno yang kini memeluk tubuh Bu Mirna dengan erat, lalu menangis dalam pelukannya.


Gilang dan Joko hanya bengong melihat adegan yang terjadi di depan mata kepala mereka, karena mereka berdua tidak mengetahui kisah Bu Mirna, Pak Bejo dan Bu Retno.


"Maaf Pak, bagaimana Pak Bejo dan Bu Retno bisa mengenal Bu Mirna?" tanya Gilang yang sudah merasa penasaran.


Ceritanya panjang Nak Gilang, tapi Bapak dan Ibu sudah sangat berdosa kepada Mirna," ujar Pak Bejo yang kini terlihat menangis juga.


Sudahlah Mas, sebaiknya kita lupakan tentang masalalu kita, karena sekarang yang terpenting adalah kondisi Melati," ujar Bu Mirna dengan meneteskan airmata, karena beliau harus mengingat kembali masalalunya yang kelam dengan Pak Bejo yang ternyata adalah mantan Suaminya.


"Tapi Mbak, aku sudah berdosa kepada Mbak Mirna karena sudah tega merebut Suami Kakakku sendiri," ujar Bu Retno yang terlihat masih menangis.


Gilang dan Joko akhirnya mengerti tentang masalah yang terjadi antara Pak Bejo, Bu Retno dan Bu Mirna, sehingga mereka berdua tidak ingin menanyakan masalah keluarga tersebut, karena itu merupakan sebuah privasi.


"Retno, walau bagaimanapun juga kamu adalah Adikku satu-satunya dan aku sangat menyayangimu, aku sudah mengikhlaskan semuanya, mungkin itu semua adalah garis hidupku dari Allah SWT," ujar Bu Mirna dengan mengelus lembut kepala Bu Retno yang ternyata adalah Adik kandungnya.


Beberapa saat kemudian Dokter terlihat keluar dari IGD, dan mereka langsung menanyakan keadaan Melati.


"Dok bagaimana keadaan calon Istri saya?" tanya Gilang yang terlebih dahulu berbicara, karena Joko sudah bersiap membuka mulutnya juga.


"Sepertinya ingatan pasien secara perlahan mulai kembali, tapi mungkin pasien pernah mengalami kejadian buruk di masalalunya sehingga membuatnya depresi. Apa di sini ada yang bernama Gilang? karena dari tadi pasien mengigau menyebut nama Gilang," tanya Dokter.


"Saya Gilang Dok, tapi bagaimana cara kami membuat perasaan depresi pada Melati hilang?" tanya Gilang.


"Sebaiknya Anda terus berada di sampingnya, dengan begitu pasien akan merasa nyaman dan mendapatkan dukungan," jelas Dokter.


"Terimakasih banyak Dok," ujar Gilang, kemudian Dokter pun berlalu meninggalkan mereka.


"Nak Gilang sebaiknya Nak Gilang masuk duluan ke dalam ya, biar Ibu yang mengurus administrasi Melati," ujar Bu Mirna.


"Gak bisa gitu donk, aku juga kan mau masuk ke dalam," protes Joko, sehingga mendapat pelototan dari semuanya.


"Iya..iya..Joko ganteng ngalah, kamu boleh masuk duluan Gilang," ujar Joko.


"Bu, ini buat mengurus administrasinya, dan tolong pesankan kamar terbaik untuk Melati," ujar Gilang dengan memberikan sebuah kartu ATM kepada Bu Mirna.

__ADS_1


Gilang pun bergegas masuk ke dalam ruang IGD untuk menemui Melati, sedangkan Bu Mirna di antar oleh Bu Retno menuju tempat administrasi.


__ADS_2