
Gilang kini menurunkan kursi mobil yang di duduki oleh melati, dan Melati pun sudah gemetaran melihat yang Gilang lakukan.
"Kak Gilang mau ngapain?" tanya Melati yang kini posisinya sudah terlentang, sehingga dia replek menutupi tubuhnya dengan tangan.
"Bukannya kamu merasa kotor? jadi aku akan membersihkan kotoran yang menempel pada tubuhmu," ujar Gilang lalu kemudian menci*um bibir Melati.
Melati yang merasa jika Gilang sudah kehilangan akal sehat nya pun kini mencoba bangkit dan mendorong tubuh Gilang yang kini mengungkung tubuhnya.
"Hentikan Kak, jangan seperti ini, kita bukan muhrim !!" teriak Melati dengan menangis.
Gilang yang melihat Melati menangis pun langsung memeluk tubuhnya dengan erat.
"Maafin Kak Gilang Mel, Kakak khilaf, Kakak tidak bermaksud menyakiti Melati, tapi Kakak tidak mau kalau Melati merasa kotor dan jijik terhadap tubuh Melati sendiri, makanya Kak Gilang mencoba membuktikan pada Melati kalau Kakak tidak pernah menganggap Melati kotor apalagi jijik," ucap Gilang.
Melati kini masih menangis dalam pelukan Gilang, lalu akhirnya Melati pun angkat suara.
"Maafin Melati jika sudah membuat Kak Gilang kecewa."
"Jika memang Melati tidak mau membuat Kak Gilang kecewa, Melati harus mau ya menikah dengan Kak Gilang sekarang juga supaya tidak ada yang dapat memisahkan kita lagi,"
Melati terlihat berpikir lalu kemudian dia menganggukan kepalanya.
"Terimakasih ya sayang," ucap Gilang.
"Tapi Kak sekarang kan sudah malam, KUA nya juga sudah tutup kan?" tanya Melati.
Gilang pun kini menepuk dahinya karena dia sampai lupa waktu.
"Ya sudah, kalau begitu kita pulang ke Panti Asuhan saja ya, Kak Gilang punya kejutan untuk Melati," ajak Gilang, dan Gilang pun melajukan kembali mobilnya menuju Panti Asuhan.
Gilang sengaja menutup mata Melati menggunakan kain, dan kini gilang merangkulnya menuju taman yang berada di Panti Asuhan.
Setelah sampai Gilang pun membuka penutup mata Melati.
__ADS_1
"Kak, kapan Kakak mempersiapkan semua ini?" tanya Melati.
"Tadi Kakak menyuruh Anak buah Kakak supaya mempersiapkan semua ini untuk pernikahan kita besok, bukannya konsep seperti ini yang selalu Melati impikan untuk Pernikahan kita?" tanya Gilang.
"Iya Kak, semuanya terlihat indah, Melati dulu selalu bermimpi jika kelak Melati akan menikah dengan Pangeran yang baik hati, dan sepertinya tuhan telah mengabulkan do'a Melati," ucap melati dengan memeluk tubuh Gilang.
Taman di Panti Asuhan kini disulap menjadi tempat yang indah dengan konsep kerajaan, karena Melati selalu bermimpi akan menikah seperti Putri dalam negri dongeng.
Bu Shintya yang melihat Melati dan Gilang berpelukan pun kini tersenyum bahagia.
"Sepertinya Melati dan Gilang memang sudah ditakdirkan berjodoh, semoga kalian berdua selalu bahagia Nak," gumam Bu Shintya.
"Aku baru ingat, sepertinya untuk membuktikan Melati masih perawan atau tidak aku mempunyai satu cara, karena Melati takut jika harus diperiksa oleh Dokter," ujar Bu Shintya yang saat ini melangkahkan kaki untuk menghampiri Melati dan Gilang.
"Sayang, maaf ya Ibu ganggu kalian berdua," ucap Bu Shintya.
"Ibu, maaf ya tadi kami meninggalkan Ibu," ujar Gilang yang merasa tak enak hati.
"Iya Bu, Alhamdulillah Melati sudah menerima Gilang," ujar Gilang.
"Melati sayang, apa kamu masih mempunyai kekuatan menggerakan benda dengan pikiranmu?" tanya Bu Shintya.
"Darimana Ibu tau kalau Melati mempunyai kelebihan? apa Kak Gilang yang memberitahu Ibu?" Melati balik bertanya.
"Bukan Nak, tapi semua keluarga kita mempunyai kekuatan tersebut termasuk Ibu, tapi kekuatan itu akan menghilang setelah kita menikah dan melepas kesucian kita," jelas Bu Shintya.
"Jadi jika Melati sudah tidak suci lagi berarti Melati saat ini sudah tidak mempunyai kekuatan tersebut?" tanya Melati.
"Iya sayang, makanya untuk membuktikan semua itu coba Melati keluarkan kekuatan yang Melati miliki, kalau memang Melati masih memilikinya berarti selama ini Yuda telah berbohong," ujar Bu Shintya.
"Tapi Melati takut Bu," ucap Melati dengan memeluk tubuh Ibunya.
"Mana Melati yang dulu? Melati yang Kak Gilang kenal adalah perempuan pemberani, bahkan dia menjadi pahlawan untuk semua orang," ujar Gilang, sehingga membuat Melati semangat.
__ADS_1
Melati kini mencoba mengeluarkan kekuatan pikirannya kepada bunga yang berada di hadapannya, tapi Bunga tersebut tidak bergerak sama sekali sehingga Melati menangis.
"Yuda pasti sudah menodai Melati Bu, karena Melati tidak bisa mengeluarkan kekuatan yang Melati punya."
"Ibu sekarang tanya, dulu waktu Melati mengetahui jika Yuda sudah menodai Melati apa Melati merasakan sakit pada bagian bawah Melati?" tanya Bu Shintya.
"Melati tidak merasakan apa-apa, tapi di tubuh Melati terdapat tanda kecupan, dan Melati sudah tidak memakai sehelai benang pun. Melati juga melihat noda merah di sprei, jadi Melati tidak dapat berpikir dengan jernih waktu itu karena Melati merasa ketakutan," cerita Melati
"Kamu jangan menangis Nak, maaf jika Ibu sudah mengingatkan Melati tentang kejadian buruk itu. Melati sekarang coba keluarkan kekuatan Melati sekali lagi ya, lawan ketakutan Melati karena kekuatan itu tidak akan muncul ketika kita ketakutan, sebaiknya Melati baca Basmalah dulu ya, Ibu yakin Melati pasti bisa," jelas Bu Shintya.
Melati pun kini membaca Basmallah, kemudian dia mencoba Menata bunga menggunakan kekuatannya, dan ternyata berhasil.
"Alhamdulillah, Ibu yakin jika Yuda sudah berbohong karena Jennifer juga tadi bilang kalau Yuda sudah berbohong, bisa saja noda merah itu adalah obat merah kan?" ujar Bu Shintya.
"Tapi Melati tidak yakin Bu," ucap Melati.
"Melati jangan sedih ya, biar Kak Gilang yang membuktikannya sendiri, apa mau kalau Kak Gilang membuktikannya sekarang?" tanya Gilang.
"Ekhem..ingat kalian itu belum muhrim," ujar Bu Mirna yang tiba-tiba sudah berada di belakang mereka bertiga.
"Astagfirulloh Bu, ngagetin aja sih," ujar Gilang yang kini memegang dadanya karena merasa terkejut.
"Maaf Ibu sengaja, he..he," ujar Bu Mirna dengan terkekeh.
"Ibu kenapa ada di sini? ini kan malam pertama Ibu?" tanya Melati sehingga membuat Bu Mirna tersenyum malu.
"Sudah jangan digodain terus Bu Mirna nya, kasihan nanti beliau malu, tapi kayaknya deg-degan lagi ya Bu karena sudah 20 tahun tidak berjumpa," goda Bu Shintya.
"Aduh, gak Ibu, gak Anak, sama aja pada iseng," ujar Bu Mirna dengan kembali masuk ke dalam Panti karena merasa malu.
"Gimana Mel, mau Kakak buktikan sekarang?" goda Gilang.
"Ini lagi ya godain Melati terus, ayo masuk sekarang udah hampir pagi, jadi sebaiknya kita istirahat dulu buat acara Pernikahan kalian besok," ajak Bu Shintya dengan menggandeng tubuh Melati dan Gilang untuk masuk ke dalam Panti.
__ADS_1