Antara Cinta Dan Luka

Antara Cinta Dan Luka
Bab 22 ( Kepergian Melati )


__ADS_3

Gilang kini masuk ke dalam kamar Melati untuk melihat keadaannya, Melati masih nampak tidur terlelap sehingga Gilang duduk di samping ranjang Melati.


"Sayang, kamu cepat sembuh ya, apa pun yang telah terjadi sama kamu, aku pasti akan menerima kamu apa adanya," ujar Gilang dengan mengusap lembut kepala Melati, lalu mengecup sekilas keningnya.


Bu Mirna yang melihat Gilang dan Melati dari kejauhan, kini meneteskan airmata.


Cobaan apa lagi Ya Allah yang harus Melati dan Gilang lewati, padahal hanya satu bulan lagi mereka berdua akan menikah, batin Bu Mirna.


Setelah beberapa jam duduk di samping Melati, Gilang melangkahkan kaki hendak keluar dari kamar Melati karena dia takut Melati akan kembali histeris jika melihatnya.


"Kak Gilang," ujar Melati dengan suara yang lirih, sehingga Gilang menghentikan langkahnya.


"Kak Gilang maafin Melati Kak, Melati tidak dapat menjaga kehormatan Melati, Melati sudah di jebak, Melati sekarang sudah kotor," ujar Melati yang ternyata sedang mengigau.


Gilang kembali menghampiri Melati kemudian memeluk tubuhnya dengan erat.


"Kak Gilang tau sayang, Melati adalah perempuan yang baik, jadi tidak mungkin Melati berbuat serendah itu. Kamu harus sembuh Mel, Kakak berjanji akan selalu berada di samping Melati dan menerima Melati apa adanya," ujar Gilang dengan meneteskan airmata.


Melati akhirnya terbangun karena merasakan pelukan yang hangat dari seseorang.


"Kak Gilang jangan dekati Melati Kak, Mel sekarang sudah kotor, Kak Gilang sebaiknya pergi dari kehidupan Melati sebelum tertular sial !" teriak Melati mencoba untuk melepaskan diri dari pelukan Gilang.


"Kakak mohon jangan begini Mel, Kakak sangat mencintai Melati, dan Kakak akan menerima Melati apa adanya," ujar Gilang yang tidak ingin melepaskan pelukannya dari Melati.


"Enggak Kak, Melati gak pantas buat Kakak, sebaiknya Kak Gilang cari perempuan lain yang lebih pantas untuk Kak Gilang !" ujar Melati.


"Selamanya hanya Melati yang akan Kak Gilang cintai, karena Melati adalah Cinta pertama dan terakhir untuk Kak Gilang," ujar Gilang, tapi Melati kini kembali pingsan.


"Astagfirulloh Mel, kenapa kamu pingsan lagi sayang?" ujar Gilang yang kini merasa khawatir melihat keadaan Melati.


"Bu bagaimana ini Melati pingsan lagi !" teriak Gilang kepada Bu Mirna, sehingga Bu Mirna bergegas masuk ke dalam kamar Melati.

__ADS_1


"Nak Gilang yang sabar ya, mungkin Melati masih syok dengan semua ini, sebaiknya Nak Gilang istirahat saja, biar Ibu yang menunggu Melati, kasihan Nak Gilang belum beristirahat dari semalam," ujar Bu Mirna.


"Enggak Bu, Gilang akan selalu berada di sini untuk menemani Melati," ujar Gilang dengan merebahkan tubuhnya di Sofa samping tempat tidur Melati.


"Ya sudah kalau Nak Gilang maunya seperti itu, Ibu juga lebih baik menemani kalian tidur di sini," ujar Bu Mirna.


"Maaf ya Bu, Gilang tau kalau Gilang dan Melati belum Muhrim, jadi tidak sepantasnya Gilang seperti ini," ujar Gilang.


"Tidak apa-apa Nak, Ibu sangat mengerti perasaan Gilang saat ini, kamu yang sabar ya, jangan pernah putus berdo'a, Ibu yakin Melati pasti akan cepat sembuh," ujar Bu Mirna.


"Iya Bu Gilang pasti akan selalu mendo'akan Melati," ujar Gilang. Lalu kemudian Bu Mirna dan Gilang pun ikut terlelap bersama Melati.


Adzan Subuh kini telah berkumandang, dan Melati terbangun dari tidurnya. Kemudian dilihatnya Bu Mirna dan Gilang yang kini masih terlelap tidur.


Kak Gilang, Bu Mirna, maafin Melati karena sudah merepotkan kalian berdua, sebaiknya Melati pergi dari kehidupan kalian karena Melati hanya nyusahin dan membawa aib saja, ucap Melati dalam hati, kemudian dia bergegas pergi dari Panti Asuhan tanpa arah dan tujuan.


Melati pun kini memutuskan untuk pergi ke Stasiun, dia akan pergi jauh dari kehidupan Bu Mirna dan Gilang dengan membawa luka dalam dada karena dia merasa kehidupannya kini telah hancur.


Sekarang aku tidak punya arah dan tujuan, aku akan terus mengikuti kata hatiku, lebih baik aku pergi ke tempat yang jauh supaya tidak ada orang yang mengenaliku, batin Melati


Gilang dan Bu Mirna yang sudah terbangun pun sibuk mencari keberadaan Melati yang pergi entah kemana.


"Kemana kamu sayang? kenapa kamu meninggalkan kami Melati?" ujar Gilang yang kini terlihat prustasi sehingga terus saja mengacak-ngacak rambutnya.


"Kamu yang sabar Nak, Melati pasti akan baik-baik saja," ujar Bu Mirna.


"Tapi sekarang keadaan Melati sedang tidak baik Bu, Gilang takut kalau terjadi sesuatu yang buruk kepada Melati," ujar Gilang.


"Kalau begitu kita terus do'akan Melati, supaya dia baik-baik saja dimana pun ia berada," ujar Bu Mirna.


"Bu, apa ini surat dari Melati?" tanya Gilang yang kini melihat secarik kertas di atas nakas samping tempat tidur Melati.

__ADS_1


"Sebaiknya Nak Gilang coba baca," ujar Bu Mirna.


Assalamu'alaikum Bu, Kak Gilang, maaf Melati pergi tanpa pamit terlebih dahulu kepada kalian. Melati tidak mau jika terus menyusahkan Ibu dan Kak Gilang. Semoga Kak Gilang mendapatkan perempuan yang lebih baik dari Melati ya, lupakan Melati yang kotor ini karena Melati sendiri merasa jijik dengan tubuh Melati. Ibu juga jaga kesehatan ya, maaf Melati gak bisa membantu Ibu untuk menjaga adik-adik, Salam sayang Melati.


Itulah kata-kata terakhir yang dituliskan oleh Melati sebelum pergi dari Panti Asuhan tempat dia tinggal selama delapan belas tahun lamanya.


......................


Melati kini telah sampai di Kota Yogyakarta.


Tanpa arah dan tujuan kini Melati melangkahkan kakinya dari Stasiun.


Ketika Melati hendak menyebrang jalan tiba-tiba ada mobil yang menabraknya.


Brug


Tubuh Melati kini tersungkur di atas aspal.


"Pak gimana ini kita sudah nabrak orang, tadi Ibu kan sudah bilang kalau Bapak ngantuk kita istirahat dulu, Bapak sih ngeyel," cerocos Bu Retno Istri dari Pak Bejo pengemudi mobil yang sudah menabrak Melati.


"Yo wes Bu kita turun saja, terus kita bawa orang yang telah kita tabrak ke Rumah Sakit," ujar Pak Bejo.


Bu Retno dan Pak Bejo pun kini mengangkat tubuh Melati ke dalam mobil pick up yang mereka tumpangi.


"Pak gadis iki ayu tenan ya, tapi kalau di bawa ke Rumah Sakit Ibu takut kalau Bapak nanti di Penjara," ujar Bu Retno.


"Ya sudah kalau begitu kita bawa saja Gadis ini ke rumah kita, sepertinya lukanya juga tidak terlalu parah, dan dia hanya mengalami luka di kepalanya saja," ujar Pak Bejo.


"Tapi Ibu takut jika gadis ini kenapa-napa Pak," ujar Bu Retno.


"Mudah-mudahan saja dia tidak kenapa-napa Bu, kelihatannya dia hanya pingsan," ujar Pak Bejo yang kini memeriksa denyut nadi Melati.

__ADS_1


Akhirnya Melati dibawa ke rumah Pak Bejo dan Bu Retno.


__ADS_2