
Bagas sama sekali tidak menyangka jika Ratna yang selama ini terlihat baik di hadapannya ternyata mempunyai sifat yang sangat jahat.
"Ratna apa benar jika kamu adalah dalang dari penculikan anak kami?" teriak Bagas.
"Papi kok tega banget sih sama Mami, seumur-umur baru kali ini Papi manggil Mami dengan sebutan nama saja, Shintya itu pembohong Pi, mana mungkin dia hamil, dia itu perempuan mandul !!" teriak Ratna.
Plak
Shintya pun mendaratkan tangannya di pipi Ratna.
"Kamu itu seorang Ibu juga Ratna, seharusnya kamu tau bagaimana rasanya kehilangan seorang Anak, aku sudah mengikhlaskan mas Bagas untuk kamu, apa kamu belum puas juga sehingga harus memisahkan aku dengan Putri Kandungku?" tanya Shintya yang sudah geram dengan Ratna.
"Apa kamu punya bukti jika aku yang melakukan semuanya?" tantang Ratna.
"Kamu sebentar lagi akan mendapatkan bukti itu Ratna, karena Bidan yang membantumu menukarkan bayiku dengan bayi yang sudah meninggal kini telah berada di penjara, dan dia telah menyerahkan diri kepada Polisi, dan kamu kenal kan siapa dia?" tanya Shintya menunjuk orang yang telah membuang Melati ke Panti Asuhan.
"Bu Ratna, maafkan saya karena sudah tertangkap oleh anak buah Bu Shintya," ujar Hartono yang dulu adalah kaki tangan Ratna.
"Dasar bodoh kamu hartono, kenapa dulu kamu tidak melenyapkan bayi Shintya sekalian !!" teriak Ratna, sehingga membuat semua orang terkejut mendengarnya.
"Jadi benar Mi kalau Melati adalah Adik Yuda?" tanya Yuda.
"Iya benar Yuda, kamu puas? sekarang Mami sudah gagal untuk menikahkan Della dan tuan Gilang Dirgantara karena kamu tidak dapat menikah dengan Melati sebab kalian masih satu darah," ujar Ratna yang sepertinya sudah hilang kewarasannya akibat semua ambisi dia selama ini.
"Apa kamu belum tau Ratna kalau Gilang Dirgantara adalah Anak Angkatku?" tanya Shintya dengan tersenyum sinis.
"Apa? itu tidak mungkin, Gilang adalah pengusaha muda yang sukses dan banyak harta kekayaannya, jika dia adalah Anak angkatmu jadi selama ini kamu hidup dengan bergelimang harta? padahal dulu aku sengaja mempengaruhi mas Bagas supaya dia tidak memberikan sepeser pun hartanya kepadamu supaya kamu hidup menderita !!" teriak Ratna yang kini mengacak-ngacak rambutnya karena merasa tidak rela jika Shintya kini menjadi kaya raya.
"Apa salahku kepadamu Ratna sampai kamu ingin menghancurkan hidupku? padahal seharusnya aku yang mempunyai perasaan dendam terhadapmu karena dulu kamu sudah mengambil semua yang aku punya, tapi aku sadar jika perasaan dendam dan kebencian hanya akan mengantarkan kita kepada jurang kehancuran," ujar Shintya.
Tiba-tiba Ratna berteriak histeris seperti orang gila, kemudian dia mengambil pisau yang berada di dekat kue pengantin.
__ADS_1
"Aku akan membu*nuhmu Shintya, gara-gara kamu mas Bagas tidak pernah mencintaiku !! teriak Ratna dengan mengarahkan pisau kepada perut Shintya.
Jleb
Pisau pun kini menembus perut, tapi bukan perut Shintya yang terluka, melainkan perut Bagas karena ternyata Bagas menghalanginya, sehingga Bagaslah yang tertusuk pisau oleh Ratna.
"Mas Bagas, maafkan aku mas, aku tidak bermaksud menusukmu," teriak Ratna yang menangis dan kemudian tertawa seperti orang gila.
"Cepat tolong Pak Bagas, kita harus membawanya ke Rumah Sakit," ujar Gilang yang kini menggotong tubuh Pak Bagas dibantu oleh Pak Bejo dan yang lainnya. Sementara Yuda, Della dan Sinta kini memegangi tubuh Ratna karena dia terus saja mengamuk.
Melati, Gilang dan Bu Shintya kini membawa Bagas ke Rumah Sakit, sepajang perjalanan Bagas terus saja meminta maaf kepada Shintya dan Melati.
"Shintya aku mohon maafkan semua kesalahanku, hanya kamu perempuan yang paling aku cintai di Dunia ini. Melati, maafkan semua kesalahan Papi ya Nak, karena selama ini Papi sudah menjadi Ayah yang gagal dalam mendidik Anak-anaknya, semoga kamu hidup bahagia sayang," ujar Bagas yang kemudian menghembuskan nafas terakhirnya.
"Mas bangun mas, aku sudah memaafkan mas Bagas," ujar Shintya.
"Papi, Melati mohon Papi harus bertahan," ujar Melati.
"Mohon maaf, sepertinya nyawa pasien sudah tidak dapat diselamatkan lagi, karena beliau sudah terlalu banyak kehilangan darah," ujar Dokter setelah memeriksa keadaan Bagas.
"Innalilahi waina ilaihi raji'un," ujar Shintya, Melati dan Gilang dengan menangis berpelukan.
Beberapa saat kemudian, Yuda, Della dan Sinta pun kini telah sampai di Rumah Sakit. Sementara Ratna saat ini sudah mendekam di penjara dengan kondisi yang sangat memprihatinkan. Ratna terus saja melukai dirinya sendiri dengan membenturkan kepalanya ke dinding karena dia merasa bersalah sudah melukai Bagas.
"Melati sayang bagaiman keadaan Papi?" tanya Yuda.
"Nyawa Papi tidak dapat tertolong Yud, Papi sudah meninggal dunia," ujar Melati dengan menangis.
"Della dan Sinta yang mendengar perkataan Melati langsung menangis histeris dengan berpelukan, sementara Yuda yang masih tidak percaya dengan kematian Papi nya pun kini menerobos masuk ke dalam ruang IGD.
"Papi, bangun Pi, Papi jangan tinggalin Yuda Pi, bagaimana nasib Yuda dan Adik-adik kalau Papi dan Mami tidak ada di samping kami?" ujar Yuda dengan memeluk jenazah Pak Bagas.
__ADS_1
Shintya yang merasa prihatin dengan kondisi Yuda pun kini berusaha memeluk Yuda. Sedikit pun Shintya tidak menaruh benci terhadap Anak-anak Bagas dan Ratna, sebab mereka sama sekali tidak berdosa.
"Kamu yang sabar ya Nak, ikhlaskan kepergian Papi supaya beliau tenang di alam sana," ujar Shintya.
"Atas nama Papi dan Mami Yuda minta maaf kepada Ibu jika kedua orangtua Yuda sudah melakukan banyak kesalahan terhadap Ibu," ujar Yuda yang kini menangis dalam pelukan Shintya.
"Iya Nak, kamu jangan terlalu banyak pikiran, insyaallah Ibu sudah memaafkan Papi kamu," ujar Bu Shintya dengan mengusap lembut punggung Yuda.
"Terimakasih banyak atas semuanya Bu, pantas saja selama ini Papi tidak dapat melupakan Ibu, karena ternyata Ibu mempunyai kepribadian yang baik," ujar Yuda.
"Saya hanyalah manusia biasa yang mempunyai banyak kesalahan juga, tapi saya akan berusaha mengikhlaskan semua yang telah terjadi dalam kehidupan saya," jawab Bu Shintya.
Yuda nampak tertegun mendengar perkataan Bu Shintya, lalu kemudian dia melihat Melati dan Gilang yang daritadi tidak sadar tengah berpelukan.
Apa aku harus jujur kepada Melati kalau aku tidak pernah menodainya? tapi aku belum sanggup menerima kenyataan jika Melati bersanding dengan lelaki lain meskipun kenyataannya dia adalah Adikku, karena aku sangat mencintainya, batin Yuda kini berada dalam dilema.
Melati baru menyadari jika iya memeluk Gilang ketika Yuda terus saja melihat kepadanya.
"Eh..maaf Kak, Melati kira Kak Gilang Ibu," ujar Melati dengan melepaskan pelukannya dari Gilang.
"Gak apa-apa Mel, Kak Gilang suka kalau Melati peluk," ujar Gilang dengan tersenyum, sehingga membuat Melati malu.
Apa Kak Gilang masih mempunyai kesempatan untuk menikah denganmu sayang? semoga takdir mempersatukan cinta kita, ucap Gilang dalam hati.
Melati kini menghampiri Shintya dan Yuda yang masih berada di samping Jenazah Bagas.
"Kak Yuda yang sabar ya, ikhlaskan kepergian Papi supaya beliau tenang di alam sana, Kak Yuda, Sinta dan Della beruntung karena sempat merasakan kasih sayang Papi," ucap Melati dengan meneteskan airmata.
"Sayang, maafin Ibu juga ya, mulai sekarang insyaallah Ibu akan selalu ada buat Melati," ucap Bu Shintya dengan memeluk tubuh Melati.
"Kenapa kamu panggil aku Kakak Mel? aku gak mau jadi Kakak kamu, tapi aku mau jadi Suami kamu," ujar Yuda yang masih bersikeras dengan pendiriannya, sehingga membuat Melati bingung harus bagaimana menyikapinya.
__ADS_1