
Gilang terus saja menangisi keputusan Melati yang membuatnya kecewa, sampai akhirnya Gilang pun pingsan karena tidak sanggup menerima kenyataan yang kini tengah dihadapinya.
Melati yang melihat Gilang pingsan pun langsung bergegas menghampirinya.
"Kak Gilang, bangun Kak, Melati minta maaf karena sudah menyakiti perasaan Kak Gilang, tapi ini jalan yang terbaik untuk kita Kak, semoga Kak Gilang bisa ikhlas menerima semua kenyataan ini ya," ujar Melati dengan memeluk erat tubuh Gilang yang masih tergeletak di lantai.
Pak Bejo mencoba untuk menggotong tubuh Gilang dengan meminta bantuan kepada Yuda. Sebenarnya Yuda tidak mau membantu, tapi dia merasa tidak enak dengan Melati, sehingga Yuda terpaksa membantu Pak Bejo menggotong tubuh Gilang dan membaringkannya di atas anjang yang berada di kamar Melati.
"Kenapa semuanya menjadi seperti ini Bu? Melati sudah menyakiti Kak Gilang," ujar Melati dengan terus memegang tangan Gilang.
Yuda yang melihat Melati terus menggenggam tangan Gilang pun merasa geram.
"Mel, kamu itu calon Istri aku, tidak seharusnya kamu memegang tangan lelaki lain di depan calon Suami kamu sendiri !!" bentak Yuda, sehingga Melati merasa sedih.
Belum menikah saja Yuda sudah berani membentak ku, padahal selama aku berhubungan dengan Kak Gilang, dia bahkan tidak pernah melakukan hal yang menyakiti perasaanku. Maafkan Melati Kak, mungkin semua ini pantas aku terima karena Kak Gilang terlalu sempurna untukku, semoga Kak Gilang mendapatkan kebahagiaan dari perempuan yang lebih baik dariku ya Kak, batin Melati.
Yuda yang melihat kesedihan di wajah Melati pun mendekatinya, lalu mencoba memegang tangan Melati dengan berjongkok di depan Melati yang masih terlihat duduk di kursi yang berada di samping ranjang yang di tempati oleh Gilang.
"Mel, maafin aku sayang, aku harap kamu mengerti kalau aku sangat cemburu melihatmu terus menggenggam tangan Gilang, tidak ada sedikit pun niat untuk membentak mu sayang," ujar Yuda dengan mengelus punggung tangan Melati.
"Yud, aku harap kamu jangan cemburu lagi kepada Kak Gilang, kamu dengar sendiri kan kalau aku sudah memilihmu untuk menjadi Suamiku," ujar Melati.
"Iya sayang, aku janji tidak akan pernah membentak kamu lagi dan tidak akan cemburu kepada Gilang karena sebentar lagi kamu akan menjadi milikku seutuhnya, tapi kamu harus mau ya menikah denganku sekarang juga, sebentar lagi keluargaku akan datang kemari, dan aku tidak maj kalau sampai kamu berubah pikiran lagi dan membatalkan semuanya," ujar Yuda dengan tersenyum.
__ADS_1
Melati nampak berpikir, keputusan ini sangat berat untuknya, tapi mungkin lebih cepat lebih baik, sehingga Gilang akan secepatnya juga melupakan Melati.
Mungkin aku terkesan egois karena aku memutuskan untuk menikah dengan Yuda dengan kondisi Kak Gilang saat ini, maafin Melati Kak, semua ini Melati lakuin buat Kakak, lupakan Melati Kak, meskipun Melati juga tidak akan mungkin bisa melupakan Kak Gilang, batin Melati dengan meneteskan airmata.
Beberapa saat kemudian Keluarga Yuda telah sampai di Panti Asuhan, Yuda yang mendengar kedatangan keluarganya pun bergegas untuk menghampirinya.
"Pi, Mi, makasih banyak ya kalian semua sudah mau datang ke sini dan dukung Yuda supaya secepatnya menikah dengan Melati," ujar Yuda.
"Papi pasti akan selalu mendukung kamu Yud, karena itu demi kebahagiaanmu juga," ujar Papi Bagas dengan memeluk tubuh Yuda.
"Mami sebenarnya berat buat merelakan kamu menikah dengan Melati, tapi mau gimana lagi, karena itu bisa menjadi peluang untuk Della mendekati Gilang," ujar Mami Ratna.
Akhirnya mereka menghubungi WO untuk bergegas menghias Panti supaya lebih mewah lagi.
Di tempat lain Bu Shintya menerima sebuah amplop yang berisi hasil tes DNA dirinya bersama Melati yang pernah Gilang lakukan.
Gilang belum sempat mengambil hasil tes DNA yang ia lakukan di Rumah Sakit terbaik di Singapura, sehingga akhirnya hasilnya di kirimkan ke rumah Bu Shintya yang masih berada di sana.
Ketika Bu Shintya menerima hasil tes DNA tersebut, beliau merasa begitu penasaran, sehingga berkali-kali mencoba untuk menelpon Gilang untuk ijin membukanya, tapi Gilang tidak dapat di hubungi, sehingga akhirnya Bu Shintya memutuskan untuk membukanya sendiri.
"Sebaiknya aku buka saja amplopnya, Gilang juga pasti tidak akan marah," ujar Bu Shintya dengan membuka amplop hasil tes DNA tersebut.
pada saat beliau membuka amplop tersebut, matanya langsung membulat sempurna karena di sana tertulis hasil tes DNA yang dilakukan oleh Bu Shintya dan Melati.
__ADS_1
"Apa ini? apa mungkin Gilang sudah bertemu dengan anak kandungku, makanya dia melakukan tes DNA untuk memastikannya?" gumam Bu Shintya.
"Subhanallah hasilnya 100% cocok, apa mungkin Melati yang di maksud di surat ini adalah Melati yang sama dengan calon Istrinya Gilang? selama ini aku selalu merasa jika wajah Melati begitu mirip denganku, sebaiknya aku bergegas ke Indonesia saat ini juga supaya bisa mengetahui kebenarannya," ujar Bu Shintya dengan berlinang airmata.
Bu Shintya akhirnya memutuskan untuk pergi ke Indonesia menggunakan pesawat pribadinya saat itu juga, dan beberapa jam kemudian beliau pun sampai di Indonesia.
Akhirnya aku menginjakkan kembali kaki di tanah kelahiranku setelah terakhir kali aku ke sini ketika mengadopsi Gilang. Pada saat itu aku ingin sekali mengadopsi Melati, entah kenapa aku merasa begitu dekat dengannya, apa mungkin benar jika Melati yang Gilang maksud adalah teman masa kecil Gilang, yang saat ini akan menjadi menantuku, batin Bu Shintya kini bertanya-tanya, beliau rasanya ingin secepatnya sampai di Panti Asuhan dan mengetahui semua kebenarannya langsung dari mulut Gilang.
"Seandainya Melati Anak kandungku adalah Melati yang sama dengan calon Istri Gilang, aku pasti akan sangat bahagia, karena gadis tersebut mempunyai hati yang baik sedari kecil, bahkan dia rela mengorbankan dirinya untuk Gilang ketika aku dulu hendak mengadopsinya karena dia ingin melihat temannya sembuh dari penyakit kanker yang pada saat itu di derita oleh Gilang," gumam Bu Shintya yang kini masih terus saja membayangkan pertemuan pertamanya dengan Melati 13 tahun yang lalu. Bu Shintya terlihat tersenyum sekaligus menangis ketika memikirkan semuanya.
Setelah satu jam kemudian akhirnya Bu Shintya kini telah sampai di depan Panti Asuhan. Dan dengan kaki yang gemetar beliau mencoba melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam Panti.
"Sepertinya Bu Mirna dan Pak Bejo sudah melakukan akad Pernikahannya tadi, makanya tempatnya masih di dekor," gumam Bu Shintya.
Ketika Bu Shintya bertemu dengan seorang anak Panti, beliau pun mencoba untuk menanyakan keberadaan Gilang kepada anak tersebut.
"De maaf Ibu mau tanya, Ade lihat Kak Gilang gak?" tanya Bu Shintya.
"Tadi saya dengar Kak Gilang pingsan di kamar Kak Melati, Ibu coba masuk saja ke dalam," jawab Anak tersebut.
"Terimakasih ya Nak," jawab Bu Shintya yang saat ini mencoba masuk ke dalam kamar yang di tunjukkan oleh anak tersebut.
Tok..tok..tok..
__ADS_1
Bu Shintya mencoba mengetuk pintu kamar Melati, dan ternyata Bu Mirna yang membukanya.